Candi Bercorak Hindu Budha

Candi Sewu merupakan komplek candi Buddha terbesar setelah candi Borobudur, sementara candi Roro Jonggrang merupakan candi bercorak Hindu. Menurut legenda rakyat setempat, seluruh candi ini berjumlah 999 dan dibuat oleh seorang tokoh sakti bernama, Bandung Bondowoso hanya dalam waktu satu malam saja, sebagai prasyarat untuk bisa memperistriAnak Nusantara dapat menikmati keindahan candi bercorak Budha ini di sebelah selatan candi. Disana terdapat Banaspati berukuran besar dengan lajur yang tegak lurus, berhiaskan sulur dan makara. Hal tersebut merupakan hasil kesenian Jawa terbaik pada masa Hindu-Budha. Makara yang ada menghadap ke luar dan ke dalam.Artikel dan Makalah tentang Relief Candi Bercorak Hindu Budha, Pengertian, Peninggalan, Sejarah, Contoh, Gambar, Fungsi - Relief adalah seni pahat-timbul pada dinding candi yang terbuat dari batu.Pada candi bercorak Hindu, relief tersebut biasanya melukisan cerita atau kisah yang diambil dari kitab-kitab suci maupun sastra (bias cerita utuh, bias pula hanya cuplikan), misalnya MahabharataCandi bercorak Hindu di Indonesia selanjutnya adalah Candi Cetho, yang diduga dibangun pada akhir era kerajaan Majapahit. Kompleks Candi ini nggak hanya menjadi lokasi ziarah umat Hindu tetapi juga menjadi area pemujaan. Para penganut kepercayaan Kejawen juga kerap menjadikan Candi Cetho sebagai lokasi pertapaan. 8.Candi Sewu merupakan komplek candi Buddha terbesar setelah candi Borobudur, sementara candi Roro Jonggrang merupakan candi bercorak Hindu. Menurut legenda rakyat setempat, seluruh candi ini berjumlah 999 dan dibuat oleh seorang tokoh sakti bernama, Bandung Bondowoso hanya dalam waktu satu malam saja, sebagai prasyarat untuk bisa memperistri

Candi Kalasan, Candi Budha Tertua Penuh Relief Indah

Pada umumnya candi digunakan sebagai tempat pemujaan dewa dan dewi pemeluk agama Hindu dan Budha. Selain itu candi juga dapat dimanfaatkan sebagai istana, gapura, tempat pemandian, dan lain sebagainya. Sekilas, candi Hindu dan Budha serupa. Namun ternyata, terdapat perbedaan candi Hindu dan Budha dari berbagai aspek.Candi Hindu: Candi Budha: Fungsi: Secara umum candi Hindu berfungsi sebagai makam para raja Hindu yang pernah berkuasa. Dengan cara memakamkan abu jenazah para raja di candi. Secara umum candi Budha berfungsi sebagai tempat ibadah atau tempat pemujaan para dewa baik untuk keluarga kerajaan ataupun untuk masyarakat di zaman itu. Struktur: 312. Candi Tridharma. Candi di Jawa Barat selanjutnya adalah candi tridharma. Pembangunan dari Candi Tridharma dilakukan pada tahun 2000 dan rencananya candi ini akan difungsikan sebagai tempat ibadah bagi umat Budha. Namun, karena berbagai alasan candi ini tidak selasai dibangun sampai tuntas.Candi adalah istilah dalam Bahasa Indonesia yang merujuk kepada sebuah bangunan keagamaan tempat ibadah peninggalan purbakala yang berasal dari peradaban Hindu-Buddha. Bangunan ini digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewi ataupun memuliakan Buddha.Akan tetapi, istilah 'candi' tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja, banyak situs-situs purbakala non-religius

Candi Kalasan, Candi Budha Tertua Penuh Relief Indah

Relief Candi Bercorak Hindu Budha, Pengertian, Peninggalan

Perbedaan Candi Hindu Dan Budha - Tentu anda yang tinggal di indonesia sudah tahu bahwa di Indonesia memiliki beraneka ragam candi didalamnya, seperti : candi borobudur, candi prambanan, dan lainnya.Dimana candi - candi ini menjadi ciri khas sendiri seorang wisatawan yang senang berkunjung kesini. Namun tahukah anda bahwa candi itu berbeda - beda pula jenisnya, karena candi ini dapatSedangkan untuk Candi Pawon, Candi Mendot, Candi Sewu dan Candi Kalasan bukan merupakan candi bercorak Hindu melainkan bercorak Budha peninggalan Mataram Kuno Dinasti Sailendera. Kunci jawaban: Candi di bawah ini yang bercorak Hindu adalah …. Candi Dieng.3. Candi Sukuh. Candi hindu ini juga berada di Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasinya nggak jauh kok dari Candi Cetho yaitu candi sukuh. Candi bercorak hindu hasil peninggalan kerajaan Majapahit ini punya halaman yang terdiri tiga teras yang kalau dilewati. Selain itu, di candi hindu ini juga terkenal dengan tempat pemujaan yang dinamai Lingga dan Yoni.Pada artikel penulis cilik ini, aku akan jelaskan perbedaan candi yang bercorak hindu dan candi yang bercorak budha yang ada di Indonesia. Tabel Perbedaan candi Hindu dan Budha. Berikut ini adalah Perbedaan candi Hindu dan Budha yang aku buat dalam bentuk tabel, untuk mempermudah kamu memahaminya.Candi Hindu memiliki relief yang menceritakan kisah Ramayana, Mahabharata, Garudeya, dan kisah-kisah Hindu lainnya. Sedangkan relief pada candi Budha menggambarkan kisah-kisah Buddha seperti Jataka, Lalitavistara, dan lain-lain.

Baground Hijau Daun Kelebihan Air Raksa Sebagai Pengisi Termometer Amalan Nabi Yusuf Bakmi Bintang Gading Alam Sutera Kisah Nabi Nuh Lengkap Baju Sasirangan Status Sahabat Lucu Saya Terima Nikahnya Dan Kawinnya The Meg Sub Indo Flora Fauna Dan Alam Benda Dracula Untold Sub Indo

Candi Prambanan

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian "Prambanan" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain, lihat Prambanan (disambiguasi). Candi PrambananCandi Prambanan.Situs Warisan Dunia UNESCOTipeBudayaKriteriai, ivNomor identifikasi642Kawasan UNESCOAsia PasifikTahun pengukuhan1991 (sesi ke-15) Cagar budaya IndonesiaPrambananPeringkatNasionalKategoriKawasanNo. regnasCB.19LokasikeberadaanBokoharjo, Prambanan, Sleman, DI YogyakartaTahunpenetapan1 Juni 199813 Oktober 2014SKpenetapanSK Menteri No.157/M/1998SK Menteri No.278/M/2014Pemilik Negara IndonesiaPengelolaBPCB Jawa Tengah & BPCB YogyakartaKoordinat7°45′07″S 110°29′21″E / 7.7520153°S 110.4892787°ELokasi Candi Prambanan di perbatasan Sleman, DI Yogyakarta & Klaten, Jawa TengahNama sebagaimana tercantum dalamSistem Registrasi Nasional Cagar Budaya

Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang (bahasa Jawa: ꦕꦤ꧀ꦝꦶ​ꦥꦿꦩ꧀ꦧꦤꦤ꧀, translit. Candhi Prambanan) adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wisnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah. Berdasarkan prasasti Siwagrha nama asli kompleks candi ini adalah Siwagrha (bahasa Sanskerta yang bermakna 'Rumah Siwa'), dan memang di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menujukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan.

Kompleks candi ini terletak di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta dan Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah[1] kurang lebih 17 kilometer timur laut Yogyakarta, 50 kilometer barat daya Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di perbatasan antara Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.[2] Letaknya sangat unik, Candi Prambanan terletak di wilayah administrasi desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, sedangkan pintu masuk kompleks Candi Prambanan terletak di wilayah adminstrasi desa Tlogo, Prambanan, Klaten.

Candi ini adalah termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil.[3] Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia.[4]

Menurut prasasti Siwagrha, candi ini mulai dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan, dan terus dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, pada masa kerajaan Medang Mataram.

Etimologi

Nama Prambanan, berasal dari nama desa tempat candi ini berdiri , diduga merupakan perubahan nama dialek bahasa Jawa dari istilah teologi Hindu Para Brahman yang bermakna "Brahman Agung" yaitu Brahman atau realitas abadi tertinggi dan teragung yang tak dapat digambarkan, yang kerap disamakan dengan konsep Tuhan dalam agama Hindu. Pendapat lain menganggap Para Brahman mungkin merujuk kepada masa jaya candi ini yang dahulu dipenuhi oleh para brahmana. Pendapat lain mengajukan anggapan bahwa nama "Prambanan" berasal dari akar kata mban dalam Bahasa Jawa yang bermakna menanggung atau memikul tugas, merujuk kepada para dewa Hindu yang mengemban tugas menata dan menjalankan keselarasan jagat.

Nama lain dari Prambanan dapat berarti 5 (lima) gunung yang dalam bahasa Khmer/Kamboja 5 (lima) adalah Pram dan banam adalah gunung (ប្រាំភ្នំ). Hal ini menggambarkan 5 puncak gunung dari Himalaya di India. Mengingat pada saat yang sama dalam kronik Khmer bahwa Bangsa Jawa pernah menjajah Khmer selama 200 tahun dan Jayawarman ke 2 yang pernah di Jawa merupakan pahlawan yang membebaskan Khmer dari dominasi Jawa.

Nama asli kompleks candi Hindu ini adalah nama dari Bahasa Sanskerta; Siwagrha (Rumah Siwa) atau Siwalaya (Alam Siwa), berdasarkan Prasasti Siwagrha yang bertarikh 778 Saka (856 Masehi). Trimurti dimuliakan dalam kompleks candi ini dengan tiga candi utamanya memuliakan Brahma, Siwa, dan Wisnu. Akan tetapi Siwa Mahadewa yang menempati ruang utama di candi Siwa adalah dewa yang paling dimuliakan dalam kompleks candi ini.

J. Gronemen (1887) berpendapat bahwa nama Prambanan berasal dari kata ramban:

“ mengumpulkan dedaunan (untuk keperluan rumah tangga atau obat-obatan), [pra-ramban-an] masih menjadi tempat, lazimnya di hutan, di mana dedaunan itu diramu. Penjelasan seperti ini mengenai nama puning-puning reruntuhan itu, yang niscaya pada satu kesempatan ditemukan di hutan seperti itu, juga termuat dalam kamus yang disusun Roorda; [sebuah penjelasan] yang begitu sederhana dan alamiah sehingga kita tidak perlu mencari penjelasan yang lain." (Groneman 1887:1427 dalam Jordaan, 1996)[5] ”

Sejarah

Pembangunan Candi Prambanan di antara kabut pagi.

Prambanan adalah candi Hindu terbesar dan termegah yang pernah dibangun di Jawa kuno, pembangunan candi Hindu kerajaan ini dimulai oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan sebagai tandingan candi Buddha Borobudur dan juga candi Sewu yang terletak tak jauh dari Prambanan. Beberapa sejarawan lama menduga bahwa pembangunan candi agung Hindu ini untuk menandai kembali berkuasanya keluarga Sanjaya atas Jawa, hal ini terkait teori wangsa kembar berbeda keyakinan yang saling bersaing; yaitu wangsa Sanjaya penganut Hindu dan wangsa Sailendra penganut Buddha. Pastinya, dengan dibangunnya candi ini menandai bahwa Hinduisme aliran Saiwa kembali mendapat dukungan keluarga kerajaan, setelah sebelumnya wangsa Sailendra cenderung lebih mendukung Buddha aliran Mahayana. Hal ini menandai bahwa kerajaan Medang beralih fokus dukungan keagamaanya, dari Buddha Mahayana ke pemujaan terhadap Siwa.

Bangunan ini pertama kali dibangun sekitar tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan dan secara berkelanjutan disempurnakan dan diperluas oleh Raja Lokapala dan raja Sri Maharaja Dyah Balitung Maha Sambu. Berdasarkan prasasti Siwagrha berangka tahun 856 M, bangunan suci ini dibangun untuk memuliakan dewa Siwa, dan nama asli bangunan ini dalam bahasa Sanskerta adalah Siwagrha (Sanskerta:Shiva-grha yang berarti: 'Rumah Siwa') atau Siwalaya (Sanskerta:Shiva-laya yang berarti: 'Ranah Siwa' atau 'Alam Siwa').[6] Dalam prasasti ini disebutkan bahwa saat pembangunan candi Siwagrha tengah berlangsung, dilakukan juga pekerjaan umum perubahan tata air untuk memindahkan aliran sungai di dekat candi ini. Sungai yang dimaksud adalah sungai Opak yang mengalir dari utara ke selatan sepanjang sisi barat kompleks candi Prambanan. Sejarawan menduga bahwa aslinya aliran sungai ini berbelok melengkung ke arah timur, dan dianggap terlalu dekat dengan candi sehingga erosi sungai dapat membahayakan konstruksi candi. Proyek tata air ini dilakukan dengan membuat sodetan sungai baru yang memotong lengkung sungai dengan poros utara-selatan sepanjang dinding barat di luar kompleks candi. Bekas aliran sungai asli kemudian ditimbun untuk memberikan lahan yang lebih luas bagi pembangunan deretan candi perwara (candi pengawal atau candi pendamping).

Beberapa arkeolog berpendapat bahwa arca Siwa di garbhagriha (ruang utama) dalam candi Siwa sebagai candi utama merupakan arca perwujudan raja Balitung, sebagai arca pedharmaan anumerta dia.[7]

Kompleks bangunan ini secara berkala terus disempurnakan oleh raja-raja Medang Mataram berikutnya, seperti raja Sri Maharaja Dyah Daksa dan Sri Maharaja Dyah Tulodong, dan diperluas dengan membangun ratusan candi-candi tambahan di sekitar candi utama. Karena kemegahan candi ini, candi Prambanan berfungsi sebagai candi agung Kerajaan Mataram, tempat digelarnya berbagai upacara penting kerajaan. Pada masa puncak kejayaannya, sejarawan menduga bahwa ratusan pendeta brahmana dan murid-muridnya berkumpul dan menghuni pelataran luar candi ini untuk mempelajari kitab Weda dan melaksanakan berbagai ritual dan upacara Hindu. Sementara pusat kerajaan atau keraton kerajaan Mataram diduga terletak di suatu tempat di dekat Prambanan di Dataran Kewu.

Ditelantarkan

Sekitar tahun 930-an, ibu kota kerajaan berpindah ke Jawa Timur oleh Sri Maharaja Mpu Sindok, yang mendirikan Wangsa Dinasti Isyana. Penyebab kepindahan pusat kekuasaan ini tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi sangat mungkin disebabkan oleh letusan hebat Gunung Merapi yang menjulang sekitar 20 kilometer di utara candi Prambanan. Kemungkinan penyebab lainnya adalah peperangan dan perebutan kekuasaan. Setelah perpindahan ibu kota, candi Prambanan mulai telantar dan tidak terawat, sehingga pelan-pelan candi ini mulai rusak dan runtuh.

Bangunan candi ini diduga benar-benar runtuh akibat gempa bumi hebat pada abad ke-16. Meskipun tidak lagi menjadi pusat keagamaan dan ibadah umat Hindu, candi ini masih dikenali dan diketahui keberadaannya oleh warga Jawa yang menghuni desa sekitar. Candi-candi serta arca Durga dalam bangunan utama candi ini mengilhami dongeng rakyat Jawa yaitu legenda Rara Jonggrang. Setelah perpecahan Kesultanan Mataram pada tahun 1755, reruntuhan candi dan sungai Opak di dekatnya menjadi tanda pembatas antara wilayah Kesultanan Yogyakarta (Jogja) dan Kasunanan Surakarta (Solo).

Penemuan kembali Reruntuhan candi Siwa di Kompleks Candi Prambanan segera setelah ditemukan.

Penduduk lokal warga Jawa di sekitar candi sudah mengetahui keberadaan candi ini. Akan tetapi mereka tidak tahu latar belakang sejarah sesungguhnya, siapakah raja dan kerajaan apa yang telah membangun monumen ini. Sebagai hasil imajinasi, rakyat setempat menciptakan dongeng lokal untuk menjelaskan asal-mula keberadaan candi-candi ini; diwarnai dengan kisah fantastis mengenai raja raksasa, ribuan candi yang dibangun oleh makhluk halus jin dan dedemit hanya dalam tempo satu malam, serta putri cantik yang dikutuk menjadi arca. Legenda mengenai candi Prambanan dikenal sebagai kisah Rara Jonggrang.

Pada tahun 1733, candi ini ditemukan oleh CA. Lons seorang berkebangsaan Belanda. Candi ini menarik perhatian dunia ketika pada masa pendudukan Britania atas Jawa. Ketika itu Colin Mackenzie, seorang surveyor bawahan Sir Thomas Stamford Raffles, menemukan candi ini. Meskipun Sir Thomas kemudian memerintahkan penyelidikan lebih lanjut, reruntuhan candi ini tetap telantar hingga berpuluh-puluh tahun. Penggalian tak serius dilakukan sepanjang 1880-an yang sayangnya malah menyuburkan praktik penjarahan ukiran dan batu candi. Kemudian pada tahun 1855 Jan Willem IJzerman mulai membersihkan dan memindahkan beberapa batu dan tanah dari bilik candi. Beberapa saat kemudian Isaäc Groneman melakukan pembongkaran besar-besaran dan batu-batu candi tersebut ditumpuk secara sembarangan di sepanjang Sungai Opak. Arca-arca dan relief candi diambil oleh warga Belanda dan dijadikan hiasan taman, sementara warga pribumi menggunakan batu candi untuk bahan bangunan dan fondasi rumah.

Pemugaran

Pemugaran dimulai pada tahun 1918, akan tetapi upaya serius yang sesungguhnya dimulai pada tahun 1930-an. Pada tahun 1902-1903, Theodoor van Erp memelihara bagian yang rawan runtuh. Pada tahun 1918-1926, dilanjutkan oleh Jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) di bawah P.J. Perquin dengan cara yang lebih sistematis sesuai kaidah arkeologi. Sebagaimana diketahui para pendahulunya melakukan pemindahan dan pembongkaran beribu-ribu batu secara sembarangan tanpa memikirkan adanya usaha pemugaran kembali. Pada tahun 1926 dilanjutkan De Haan hingga akhir hayatnya pada tahun 1930. Pada tahun 1931 digantikan oleh Ir. V.R. van Romondt hingga pada tahun 1942 dan kemudian diserahkan kepemimpinan renovasi itu kepada putra Indonesia dan itu berlanjut hingga tahun 1993[8].

Upaya restorasi terus menerus dilakukan bahkan hingga kini. Pemugaran candi Siwa yaitu candi utama kompleks ini dirampungkan pada tahun 1953 dan diresmikan oleh Presiden pertama Republik Indonesia Sukarno. ada bagian candi yang direstorasi, menggunakan batu baru, karena batu-batu asli banyak yang dicuri atau dipakai ulang di tempat lain. Sebuah candi hanya akan direstorasi apabila minimal 75% batu asli masih ada. Oleh karena itu, banyak candi-candi kecil yang tak dibangun ulang dan hanya tampak fondasinya saja.

Kini, candi ini termasuk dalam Situs Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO, status ini diberikan UNESCO pada tahun 1991. Kini, beberapa bagian candi Prambanan tengah direstorasi untuk memperbaiki kerusakan akibat gempa Yogyakarta 2006. Gempa ini telah merusak sejumlah bangunan dan patung.

Peristiwa kontemporer Pagelaran Sendratari Ramayana di Prambanan. Pementasan pertama Sendratari Ramayana di panggung terbuka Roro Jonggrang, Prambanan (1961). Pemandangan Prambanan dikala malam yang disoroti lampu dari arah panggung terbuka Trimurti. Dokumentasi pemeran utama Sendratari Ramayana, Rama (Tunjung Sulaksono) dan Sinta (Sumaryaning) bersama Charlie Chaplin dan GPH Suryohamijoyo di PanggungTerbuka Roro Jonggrang (1961).

Pada awal tahun 1990-an pemerintah memindahkan pasar dan kampung yang merebak secara liar di sekitar candi, menggusur kawasan perkampungan dan sawah di sekitar candi, dan memugarnya menjadi taman purbakala. Taman purbakala ini meliputi wilayah yang luas di tepi jalan raya Yogyakarta-Solo di sisi selatannya, meliputi seluruh kompleks candi Prambanan, termasuk Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan Candi Sewu di sebelah utaranya. Pada tahun 1992 Pemerintah Indonesia membentuk badan usaha milik negara, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko. Badan usaha ini bertugas mengelola taman wisata purbakala di Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, serta kawasan sekitarnya. Prambanan adalah salah satu daya tarik wisata terkenal di Indonesia yang banyak dikunjungi wisatawan dalam negeri ataupun wisatwan mancanegara.

Tepat di seberang sungai Opak dibangun kompleks panggung dan gedung pertunjukan Trimurti yang secara rutin menggelar pertunjukan Sendratari Ramayana. Panggung terbuka Trimurti tepat terletak di seberang candi di tepi Barat sungai Opak dengan latar belakang Candi Prambanan yang disoroti cahaya lampu. Panggung terbuka ini hanya digunakan pada musim kemarau, sedangkan pada musim penghujan, pertunjukan dipindahkan di panggung tertutup. Tari Jawa Wayang orang Ramayana ini adalah tradisi adiluhung keraton Jawa yang telah berusia ratusan tahun, biasanya dipertunjukkan di keraton dan mulai dipertunjukkan di Prambanan pada saat bulan purnama sejak tahun 1960-an. Sejak saat itu Prambanan telah menjadi daya tarik wisata budaya dan purbakala utama di Indonesia.

Setelah pemugaran besar-besaran tahun 1990-an, Prambanan juga kembali menjadi pusat ibadah agama Hindu di Jawa. Kebangkitan kembali nilai keagamaan Prambanan adalah karena terdapat cukup banyak masyarakat penganut Hindu, baik pendatang dari Bali atau warga Jawa yang kembali menganut Hindu yang bermukim di Yogyakarta, Klaten dan sekitarnya. Tiap tahun warga Hindu dari provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta berkumpul di candi Prambanan untuk menggelar upacara pada hari suci Galungan, Tawur Kesanga, dan Nyepi.[9][10]

Pada 27 Mei 2006 gempa bumi dengan kekuatan 5,9 pada skala Richter (sementara United States Geological Survey melaporkan kekuatan gempa 6,2 pada skala Richter) menghantam daerah Bantul dan sekitarnya. Gempa ini menyebabkan kerusakan hebat terhadap banyak bangunan dan kematian pada penduduk sekitar. Gempa ini berpusat pada patahan tektonik Opak yang patahannya sesuai arah lembah sungai Opak dekat Prambanan. Salah satu bangunan yang rusak parah adalah kompleks Candi Prambanan, khususnya Candi Brahma. Foto awal menunjukkan bahwa meskipun kompleks bangunan tetap utuh, kerusakan cukup signifikan. Pecahan batu besar, termasuk panil-panil ukiran, dan kemuncak wajra berjatuhan dan berserakan di atas tanah. Candi-candi ini sempat ditutup dari kunjungan wisatawan hingga kerusakan dan bahaya keruntuhan dapat diperhitungkan. Balai arkeologi Yogyakarta menyatakan bahwa diperlukan waktu berbulan-bulan untuk mengetahui sejauh mana kerusakan yang diakibatkan gempa ini.[11][12] Beberapa minggu kemudian, pada tahun 2006 situs ini kembali dibuka untuk kunjungan wisata. Pada tahun 2008, tercatat sejumlah 856.029 wisatawan Indonesia dan 114.951 wisatawan mancanegara mengunjungi Prambanan. Pada 6 Januari 2009 pemugaran candi Nandi selesai.[13] Pada tahun 2009, ruang dalam candi utama tertutup dari kunjungan wisatawan atas alasan keamanan.

Kompleks candi

Model arsitektur rekonstruksi kompleks candi Prambanan, aslinya terdapat 240 candi berdiri di kompleks ini.

Pintu masuk ke kompleks bangunan ini terdapat di keempat arah penjuru mata angin, akan tetapi arah hadap bangunan ini adalah ke arah timur, maka pintu masuk utama candi ini adalah gerbang timur. Kompleks candi Prambanan terdiri dari:

3 Candi Trimurti: candi Siwa, Wisnu, dan Brahma 3 Candi Wahana: candi Nandi, Garuda, dan Angsa 2 Candi Apit: terletak antara barisan candi-candi Trimurti dan candi-candi Wahana di sisi utara dan selatan 4 Candi Kelir: terletak di 4 penjuru mata angin tepat di balik pintu masuk halaman dalam atau zona inti 4 Candi Patok: terletak di 4 sudut halaman dalam atau zona inti 224 Candi Perwara: tersusun dalam 4 barisan konsentris dengan jumlah candi dari barisan terdalam hingga terluar: 44, 52, 60, dan 68

Maka terdapat total 240 candi di kompleks Prambanan.

Aslinya terdapat 240 candi besar dan kecil di kompleks Candi Prambanan.[14] Tetapi kini hanya tersisa 18 candi; yaitu 8 candi utama dan 8 candi kecil di zona inti serta 2 candi perwara. Banyak candi perwara yang belum dipugar, dari 224 candi perwara hanya 2 yang sudah dipugar, yang tersisa hanya tumpukan batu yang berserakan. Kompleks candi Prambanan terdiri atas tiga zona; pertama adalah zona luar, kedua adalah zona tengah yang terdiri atas ratusan candi, ketiga adalah zona dalam yang merupakan zona tersuci tempat delapan candi utama dan delapan kuil kecil.

Penampang denah kompleks candi Prambanan adalah berdasarkan lahan bujur sangkar yan terdiri atas tiga bagian atau zona, masing-masing halaman zona ini dibatasi tembok batu andesit. Zona terluar ditandai dengan pagar bujur sangkar yang masing-masing sisinya sepanjang 390 meter, dengan orientasi Timur Laut - Barat Daya. Kecuali gerbang selatan yang masih tersisa, bagian gerbang lain dan dinding candi ini sudah banyak yang hilang. Fungsi dari halaman luar ini secara pasti belum diketahui; kemungkinan adalah lahan taman suci, atau kompleks asrama Brahmana dan murid-muridnya. Mungkin dulu bangunan yang berdiri di halaman terluar ini terbuat dari bahan kayu, sehingga sudah lapuk dan musnah tak tersisa.

Candi Prambanan adalah salah satu candi Hindu terbesar di Asia Tenggara selain Angkor Wat. Tiga candi utama disebut Trimurti dan dipersembahkan kepadantiga dewa utama Trimurti: Siwa sang Penghancur, Wisnu sang Pemelihara dan Brahma sang Pencipta. Di kompleks candi ini Siwa lebih diutamakan dan lebih dimuliakan dari dua dewa Trimurti lainnya. Candi Siwa sebagai bangunan utama sekaligus yang terbesar dan tertinggi, menjulang setinggi 47 meter.

Candi Siwa Candi Siwa, candi utama di kompleks candi Prambanan yang dipersembahkan untuk dewa Siwa. Arca Durga Mahisasuramardini di ruang utara candi Siwa.

Halaman dalam adalah zona paling suci dari ketiga zona kompleks candi. Pelataran ini ditinggikan permukaannya dan berdenah bujur sangkar dikurung pagar batu dengan empat gerbang di empat penjuru mata angin. Dalam halaman berpermukaan pasir ini terdapat delapan candi utama; yaitu tiga candi utama yang disebut candi Trimurti ("tiga wujud"), dipersembahkan untuk tiga dewa Hindu tertinggi: Dewa Brahma Sang Pencipta, Wishnu Sang Pemelihara, dan Siwa Sang Pemusnah.

Candi Siwa sebagai candi utama adalah bangunan terbesar sekaligus tetinggi di kompleks candi Rara Jonggrang, berukuran tinggi 47 meter dan lebar 34 meter. Puncak mastaka atau kemuncak candi ini dimahkotai modifikasi bentuk wajra yang melambangkan intan atau halilintar. Bentuk wajra ini merupakan versi Hindu sandingan dari stupa yang ditemukan pada kemuncak candi Buddha. Candi Siwa dikelilingi lorong galeri yang dihiasi relief yang menceritakan kisah Ramayana; terukir di dinding dalam pada pagar langkan. Di atas pagar langkan ini dipagari jajaran kemuncak yang juga berbentuk wajra. Untuk mengikuti kisah sesuai urutannya, pengunjung harus masuk dari sisi timur, lalu melakukan pradakshina yakni berputar mengelilingi candi sesuai arah jarum jam. Kisah Ramayana ini dilanjutkan ke Candi Brahma.

Candi Siwa di tengah-tengah, memuat lima ruangan, satu ruangan di setiap arah mata angin dan satu garbagriha, yaitu ruangan utama dan terbesar yang terletak di tengah candi. Ruangan timur terhubung dengan ruangan utama tempat bersemayam sebuah arca Siwa Mahadewa (Perwujudan Siwa sebagai Dewa Tertinggi) setinggi tiga meter. Arca ini memiliki Lakçana (atribut atau simbol) Siwa, yaitu chandrakapala (tengkorak di atas bulan sabit), jatamakuta (mahkota keagungan), dan trinetra (mata ketiga) di dahinya. Arca ini memiliki empat lengan yang memegang atribut Siwa, seperti aksamala (tasbih), camara (rambut ekor kuda pengusir lalat), dan trisula. Arca ini mengenakan upawita (tali kasta) berbentuk ular naga (kobra). Siwa digambarkan mengenakan cawat dari kulit harimau, digambarkan dengan ukiran kepala, cakar, dan ekor harimau di pahanya. Sebagian sejarawan beranggapa bahwa arca Siwa ini merupakan perwujudan raja Balitung sebagai dewa Siwa, sebagai arca pedharmaan anumerta dia. Sehingga ketika raja ini wafat, arwahnya dianggap bersatu kembali dengan dewa penitisnya yaitu Siwa.[15] Arca Siwa Mahadewa ini berdiri di atas lapik bunga padma di atas landasan persegi berbentuk yoni yang pada sisi utaranya terukir ular Nāga (kobra).

Tiga ruang yang lebih kecil lainnya menyimpan arca-arca yang ukuran lebih kecil yang berkaitan dengan Siwa. Di dalam ruang selatan terdapat Resi Agastya, Ganesha putra Siwa di ruang barat, dan di ruang utara terdapat arca sakti atau istri Siwa, Durga Mahisasuramardini, menggambarkan Durga sebagai pembasmi Mahisasura, raksasa Lembu yang menyerang swargaloka. Arca Durga ini juga disebut sebagai Rara Jonggrang (dara langsing) oleh penduduk setempat. Arca ini dikaitkan dengan tokoh putri legendaris Rara Jonggrang.

Di dalam buku terkenal Thomas Raffles, The History of Java (1817) terdapat gambar Candi Induk Prambanan dengan keterangan "candi induk di Jongrangan". Dalam nama jongrangan ini dikenal nama lokal lainnya yang populer untuk kompleks percandian ini, yaitu Loro Jonggrang, yang berarti "Gadis Semampai". Loro Jonggarang adalah tokoh utama dalam sebuah cerita rakyat Jawa.

Candi Brahma dan Candi Wishnu

Dua candi lainnya dipersembahkan kepada Dewa Wisnu, yang terletak di sisi utara dan satunya dipersembahkan kepada Brahma, yang terletak di sisi selatan. Kedua candi ini menghadap ke timur dan hanya terdapat satu ruang, yang dipersembahkan untuk dewa-dewa ini. Candi Brahma menyimpan arca Brahma dan Candi Wishnu menyimpan arca Wishnu yang berukuran tinggi hampir 3 meter. Ukuran candi Brahma dan Wishnu adalah sama, yakni lebar 20 meter dan tinggi 33 meter.

Candi Wahana Candi Garuda, salah satu candi wahana

Tepat di depan candi Trimurti terdapat tiga candi yang lebih kecil daripada candi Brahma dan Wishnu yang dipersembahkan kepada kendaraan atau wahana dewa-dewa ini; sang lembu Nandi wahana Siwa, sang Angsa wahana Brahma, dan sang Garuda wahana Wisnu. Candi-candi wahana ini terletak tepat di depan dewa penunggangnya. Di depan candi Siwa terdapat candi Nandi, di dalamnya terdapat arca lembu Nandi. Pada dinding di belakang arca Nandi ini di kiri dan kanannya mengapit arca Chandra dewa bulan dan Surya dewa matahari. Chandra digambarkan berdiri di atas kereta yang ditarik 10 kuda, sedangkan Surya berdiri di atas kereta yang ditarik 7 kuda.[16] Tepat di depan candi Brahma terdapat candi Angsa. Candi ini kosong dan tidak ada arca Angsa di dalamnya. Mungkin dulu pernah bersemayam arca Angsa sebagai kendaraan Brahma di dalamnya. Di depan candi Wishnu terdapat candi yang dipersembahkan untuk Garuda, akan tetapi sama seperti candi Angsa, di dalam candi ini tidak ditemukan arca Garuda. Mungkin dulu arca Garuda pernah ada di dalam candi ini. Hingga kini Garuda menjadi lambang penting di Indonesia, yaitu sebagai lambang negara Garuda Pancasila.

Candi Apit, Candi Kelir, dan Candi Patok

Di antara baris keenam candi-candi utama ini terdapat Candi Apit. Ukuran Candi Apit hampir sama dengan ukuran candi perwara, yaitu tinggi 14 meter dengan tapak denah 6 x 6 meter. Disamping 8 candi utama ini terdapat candi kecil berupa kuil kecil yang mungkin fungsinya menyerupai pelinggihan dalam Pura Hindu Bali tempat meletakan canang atau sesaji, sekaligus sebagai aling-aling di depan pintu masuk. Candi-candi kecil ini yaitu; 4 Candi Kelir pada empat penjuru mata angin di muka pintu masuk, dan 4 Candi Patok di setiap sudutnya. Candi Kelir dan Candi Patok berbentuk miniatur candi tanpa tangga dengan tinggi sekitar 2 meter.

Candi Perwara Candi Perwara

Dua dinding berdenah bujur sangkar yang mengurung dua halaman dalam, tersusun dengan orientasi sesuai empat penjuru mata angin. Dinding kedua berukuran panjang 225 meter di tiap sisinya. Di antara dua dinding ini adalah halaman kedua atau zona kedua. Zona kedua terdiri atas 224 Candi Perwara yang disusun dalam empat baris konsentris. Candi-candi ini dibangun di atas empat undakan teras-teras yang makin ke tengah sedikit makin tinggi. Empat baris candi-candi ini berukuran lebih kecil daripada candi utama. Candi-candi ini disebut "Candi Perwara" yaitu Candi Pengawal atau Candi Pelengkap. Candi-Candi Perwara disusun dalam empat baris konsentris baris terdalam terdiri atas 44 candi, baris kedua 52 candi, baris ketiga 60 candi, dan baris keempat sekaligus baris terluar terdiri atas 68 candi.

Masing-masing Candi Perwara ini berukuran tinggi 14 meter dengan tapak denah 6 x 6 meter, dan jumlah keseluruhan Candi Perwara di halaman ini adalah 224 candi. Kesemua Candi Perwara ini memiliki satu tangga dan pintu masuk sesuai arah hadap utamanya, kecuali 16 candi di sudut yang memiliki dua tangga dan pintu masuk menghadap ke dua arah luar.[17] Jika kebanyakan atap candi di halaman dalam zona inti berbentuk wajra, maka atap candi perwara berbentuk ratna yang melambangkan permata.

Aslinya ada banyak candi yang ada di halaman ini, akan tetapi hanya sedikit yang telah dipugar. Bentuk candi perwara ini dirancang seragam. Sejarawan menduga bahwa candi-candi ini dibiayai dan dibangun oleh penguasa daerah sebagai tanda bakti dan persembahan bagi raja. Sementara ada pendapat yang mengaitkan empat baris Candi Perwara melambangkan empat kasta, dan hanya orang-orang anggota kasta itu yang boleh memasuki dan beribadah di dalamnya; baris paling dalam hanya oleh dimasuki kasta brahmana, berikutnya hingga baris terluar adalah barisan candi untuk ksatriya, waisya, dan sudra. Sementara pihak lain menganggap tidak ada kaitannya antara Candi Perwara dan empat kasta. Barisan candi perwara kemungkinan dipakai untuk beribadah, atau tempat bertapa (meditasi) bagi pendeta dan umatnya.

Arsitektur

Penampang candi Siwa

Arsitektur candi Prambanan berpedoman kepada tradisi arsitektur Hindu yang berdasarkan kitab Wastu Sastra/Kitab Silpastra. Denah candi megikuti pola mandala, sementara bentuk candi yang tinggi menjulang merupakan ciri khas candi Hindu. Prambanan memiliki nama asli Siwagrha dan dirancang menyerupai rumah Siwa, yaitu mengikuti bentuk gunung suci Mahameru, tempat para dewa bersemayam. Seluruh bagian kompleks candi mengikuti model alam semesta menurut konsep kosmologi Hindu, yakni terbagi atas beberapa lapisan ranah, alam atau Loka.

Seperti Borobudur, Prambanan juga memiliki tingkatan zona candi, mulai dari yang kurang suci hingga ke zona yang paling suci. Meskipun berbeda nama, tiap konsep Hindu ini memiliki sandingannya dalam konsep Buddha yang pada hakikatnya hampir sama. Baik lahan denah secara horisontal maupun vertikal terbagi atas tiga zona:[18]

Bhurloka (dalam Buddhisme: Kamadhatu), adalah ranah terendah makhluk yang fana; manusia, hewan, juga makhluk halus Hantu dan iblis. Di ranah ini manusia masih terikat dengn hawa nafsu, hasrat, dan cara hidup yang tidak suci. Halaman terlar dan kaki candi melambangkan ranah bhurloka. Bwahloka (dalam Buddhisme: Rupadhatu), adalah alam tegah, tempat orang suci, resi, pertapa, dan dewata rendahan. Di alam ini manusia mulai melihat cahaya kebenaran. Halaman tengah dan tubuh candi melambangkan ranah bwahloka. Swahloka (dalam Buddhisme: Arupadhatu), adalah ranah trtinggi sekaligus tersuci tempat para dewa Hapsara Hapsari Bidadari bersemayam, juga disebut swargaloka. Halaman dalam dan atap candi melambangkan ranah swahloka. Atap candi-candi di kompleks Prambanan dihiasi dengan kemuncak mastaka berupa ratna (Sanskerta: permata), bentuk ratna Prambanan merupakan modifikasi bentuk wajra yang melambangkan intan atau halilintar. Dalam arsitektur Hindu Jawa kuno, ratna adalah sandingan Hindu untuk stupa Buddha, yang berfungsi sebagai kemuncak atau mastaka candi.

Pada saat pemugaran, tepat di bawah arca Siwa di bawah ruang utama candi Siwa terdapat sumur yang didasarnya terdapat pripih (kotak batu). Sumur ini sedalam 5,75 meter dan peti batu pripih ini ditemukan di atas timbunan arang kayu, tanah, dan tulang belulang hewan korban. Di dalam pripih ini terdapat benda-benda suci seperti lembaran emas dengan aksara bertuliskan Baruna (dewa laut) dan Parwata (dewa gunung). Dalam peti batu ini terdapat lembaran tembaga bercampur arang, abu, dan tanah, 20 keping uang kuno, beberapa butir permata, kaca, potongan emas, dan lembaran perak, cangkang kerang, dan 12 lembaran emas (5 diantaranya berbentuk kura-kura, ular naga (kobra), padma, altar, dan telur).[19]

Relief

Relief di Prambanan menampilkan Shinta tengah diculik Rahwana yang menunggangi raksasa bersayap, sementara burung Jatayu di sebelah kiri atas mencoba menolong Shinta. Panil khas Prambanan, singa di dalam relung diapit dua pohon kalpataru yang masing-masing diapit oleh sapasang kinnara-kinnari atau sepasang margasatwa. Ramayana dan Krishnayana

Candi ini dihiasi relief naratif yang menceritakan epos Hindu; Ramayana dan Krishnayana. Relif berkisah ini diukirkan pada dinding sebelah dalam pagar langkan sepanjang lorong galeri yang mengelilingi tiga candi utama. Relief ini dibaca dari kanan ke kiri dengan gerakan searah jarum jam mengitari candi. Hal ini sesuai dengan ritual pradaksina, yaitu ritual mengelilingi bangunan suci searah jarum jam oleh peziarah. Kisah Ramayana bermula di sisi timur candi Siwa dan dilanjutkan ke candi Brahma temple. Pada pagar langkan candi Wisnu terdapat relief naratif Krishnayana yang menceritakan kehidupan Krishna sebagai salah satu awatara Wishnu.

Relief Ramayana menggambarkan bagaimana Shinta, istri Rama, diculik oleh Rahwana. Panglima bangsa wanara (kera), Hanuman, datang ke Alengka untuk membantu Rama mencari Shinta. Kisah ini juga ditampilkan dalam Sendratari Ramayana, yaitu pagelaran wayang orang Jawa yang dipentaskan secara rutin di panggung terbuka Trimurti setiap malam bulan purnama. Latar belakang panggung Trimurti adalah pemandangan megah tiga candi utama yang disinari cahaya lampu.

Lokapala, Brahmana, dan Dewata

Di seberang panel naratif relief, di atas tembok tubuh candi di sepanjang galeri dihiasi arca-arca dan relief yang menggambarkan para dewata dan resi brahmana. Arca dewa-dewa lokapala, dewa surgawi penjaga penjuru mata angin dapat ditemukan di candi Siwa. Sementara arca para brahmana penyusun kitab Weda terdapat di candi Brahma. Di candi Wishnu terdapat arca dewata yang diapit oleh dua apsara atau bidadari kahyangan.

Panil Prambanan: Singa dan Kalpataru

Di dinding luar sebelah bawah candi dihiasi oleh barisan relung (ceruk) yang menyimpan arca singa diapit oleh dua panil yang menggambarkan pohon hayat kalpataru. Pohon suci ini dalam mitologi Hindu-Buddha dianggap pohon yang dapat memenuhi harapan dan kebutuhan manusia. Di kaki pohon Kalpataru ini diapit oleh pasangan kinnara-kinnari (hewan ajaib bertubuh burung berkepala manusia), atau pasangan hewan lainnya, seperti burung, kijang, domba, monyet, kuda, gajah, dan lain-lain. Pola singa diapit kalpataru adalah pola khas yang hanya ditemukan di Prambanan, karena itulah disebut "Panel Prambanan"

Museum Prambanan

Di dalam kompleks taman purbakala candi Prambanan terdapat sebuah museum yang menyimpan berbagai temuan benda bersejarah purbakala. Museum ini terletak di sisi utara Candi Prambanan, antara candi Prambanan dan candi Lumbung. Museum ini dibangun dalam arsitektur tradisional Jawa, berupa rumah joglo. Koleksi yang tersimpan di museum ini adalah berbagai batu-batu candi dan berbagai arca yang ditemukan di sekitar lokasi candi Prambanan; misalnya arca lembu Nandi, resi Agastya, Siwa, Wishnu, Garuda, dan arca Durga Mahisasuramardini, termasuk pula batu Lingga Siwa, sebagai lambang kesuburan.

Replika harta karun emas temuan Wonoboyo yang terkenal itu, berupa mangkuk berukir Ramayana, gayung, tas, uang, dan perhiasan emas, juga dipamekan di museum ini. Temuan Wonoboyo yang asli kini disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Replika model arsitektur beberapa candi seperti Prambanan, Borobudur, dan Plaosan juga dipamerkan di museum ini. Museum ini dapat dimasuki secara gratis oleh pengunjung taman purbakala Prambanan karena tiket masuk taman wisata sudah termasuk museum ini. Pertunjukan audio visual mengenai candi Prambanan juga ditampilkan disini.

Candi lain di sekitar Prambanan

Candi dan situs purbakala di sekitar Dataran Kewu Candi Sewu, candi Buddha yang masuk dalam lingkungan Taman Purbalaka Prambanan, dikaitkan dengan legenda Rara Jonggrang

Dataran Kewu atau dataran Prambanan adalah dataran subur yang membentang antara lereng selatan kaki gunung Merapi di utara dan jajaran pegunungan kapur Sewu di selatan, dekat perbatasan Yogyakarta dan Klaten, Jawa Tengah. Selain candi Prambanan, lembah dan dataran di sekitar Prambanan kaya akan peninggalan arkeologi candi-candi Buddha paling awal dalam sejarah Indonesia, serta candi-candi Hindu. Candi Prambanan dikelilingi candi-candi Buddha. Masih di dalam kompleks taman wisata purbakala, tak jauh di sebelah utara candi Prambanan terdapat reruntuhan candi Lumbung dan candi Bubrah. Lebih ke utara lagi terdapat candi Sewu, candi Buddha terbesar kedua setelah Borobudur. Lebih jauh ke timur terdapat candi Plaosan. Di arah barat Prambanan terdapat candi Kalasan dan candi Sari. Sementara di arah selatan terdapat candi Sojiwan, Situs Ratu Baka yang terletak di atas perbukitan, serta candi Banyunibo, candi Barong, dan candi Ijo.

Dengan ditemukannya begitu banyak peninggalan bersejarah berupa candi-candi yang hanya berjarak beberapa ratus meter satu sama lain, menunjukkan bahwa kawasan di sekitar Prambanan pada zaman dahulu kala adalah kawasan penting. Kawasan yang memiliki nilai penting baik dalam hal keagamaan, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Letak candi-candi Hindu dan Buddha yang berdampingan satu sama lain dalam jarak yang cukup dekat ini menunjukkan bahwa toleransi beragama sejak zaman dulu sudah ada dan hal ini menjadi simbol bagi kehidupan beragama yang damai dan harmonis di Indonesia. [20].

Diduga kuat bahwa pusat kerajaan Medang Mataram terletak disuatu tempat di dataran ini. Kekayaan situs arkeologi, serta kecanggihan dan keindahan candi-candinya menjadikan Dataran Prambanan tak kalah dengan kawasan bersejarah terkenal lainnya di Asia Tenggara, seperti situs arkeologi kota purbakala Angkor, Bagan, dan Ayutthaya.

Lihat pula

Borobudur Situs Ratu Baka Rara Jonggrang Arsitektur Indonesia Candi

Galeri

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Prambanan.

Arca Siwa Mahadewa di Prambanan

Arca Brahma di Prambanan

Arca Wishnu di Prambanan

Arca Ganesha di Prambanan

Panil Dewata diapit dua Apsara di Candi Wishnu

Usaha rehabilitasi akibat gempa bumi Mei 2006

Sendratari Ramayana di panggung terbuka Trimurti Prambanan

Referensi

^ Prambanan, dari Mataram Kuno ke Indonesia Raya ^ Prambanan Temple Compounds – UNESCO World Heritage Centre ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-10-06. Diakses tanggal 2012-01-30. ^ Prambanan Temple ^ Jordaan, Roy [Ed]. (1996). Memuji Prambanan. Jakarta, Indonesia: Yayasan Obor. ^ Prasasti Siwagrha, Museum Nasional Indonesia ^ Soetarno, Drs. R. second edition (2002). "Aneka Candi Kuno di Indonesia" (Ancient Temples in Indonesia), pp. 16. Dahara Prize. Semarang. ISBN 979-501-098-0. ^ Mengenal Candi Siwa dan Parambanan Dari Dekat, Penerbit Kanisius ^ http://fotokita.net/browse/photo/521224606164_4362834/tag/8/perayaan Nyepi di Prambanan ^ http://berita.liputan6.com/sosbud/200103/10186/class='vidico' Nyepi di Candi Prambanan ^ IOL (2006). "World famous temple complex damaged in quake". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-05-25. Diakses tanggal 2006-05-28. ^ Di sản thế giới tại Indonesia bị động đất huỷ hoại (Vietnam) ^ Yogyakarta Online Candi Nandi Selesai Dipugar ^ Ariswara; English translation by Lenah Matius. third edition (1993). "Prambanan", pp. 8. Intermasa. Jakarta. ISBN 979-8114-57-4. ^ Ariswara; English translation by Lenah Matius. third edition (1993). "Prambanan", pp. 11–12. Intermasa. Jakarta. ISBN 979-8114-57-4. ^ Ariswara; English translation by Lenah Matius. third edition (1993). "Prambanan", pp. 26. Intermasa. Jakarta. ISBN 979-8114-57-4. ^ "Prambanan: A Brief Architectural Summary" (dalam bahasa English). Borobudur TV. Diakses tanggal 2011-10-31. ^ Konservasi Borobudur (in Indonesian) ^ "Candi Lara Jonggrang". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-02-09. Diakses tanggal 2012-01-30. ^ UNESCO Cultural Heritages and Symbol of Indonesian Peace and Religious Harmony, Hary Gunarto, International Journal of Current Multidisiplinary Studies. May 2019, pp. 993-997. Pranala luar

Lihat pula

Kompleks Candi Prambanan

Pranala luar

(Indonesia) Panduan Pariwisata Yogyakarta dan sekitarnya (Indonesia) Paduan wisata Prambanan (Inggris) Prambanan Temple Compounds di situs web UNESCO World Heritage Centre (Inggris) Situs web resmi Candi Prambanan (Indonesia) Paket wisata jogjalbs Cagar budaya peringkat nasional di IndonesiaKategoriBenda

Arca Bhairawa Arca Buddha Dipangkara Arca Prajnyaparamita Bendera Pusaka Biola WR Supratman Bokor emas cerita Ramayana Arca Harihara Mahkota Sultan Siak Kakawin Nagarakretagama Naskah Proklamasi Lukisan penangkapan Diponegoro Prasasti Ciaruteun Prasasti Cidanghiang Prasasti Jambu Prasasti Kebonkopi I Prasasti Muara Cianten Prasasti Pasir Awi Prasasti Yupa Teks ProklamasiBangunan

Benteng Belgica Benteng Duurstede Benteng Marlborough Benteng Van der Wijck Benteng Vastenburg Gedung Dwi Warna Gedung Merdeka Gedung Perundingan Linggarjati GPIB Immanuel Jakarta GPIB Sion Jakarta Hotel Majapahit Hotel Savoy Homann Candi Jabung Kantor Pos Besar Bandung Lawang Sewu Masjid Agung Surakarta Monumen Pers Nasional Museum Asi Mbojo Museum Geologi Bandung Gedung Kebangkitan Nasional Museum Nasional Museum Sumpah Pemuda Observatorium Bosscha Pesanggrahan Ngeksiganda Rumah Pengasingan Bung Hatta Rumah Pengasingan Bung Karno Rumah Rasuna Said Eks Rumah Raden saleh RSUP dr. Kariadi Rumah Tjong A Fie Rumah W. R. Soepratman Stasiun YogyakartaStruktur

Makam Imam Bonjol Tugu Jong Soematra Tugu Muda Tugu Lilin Tugu PahlawanSitus

Benteng Oranje Benteng Victoria Candi Ceto Candi Jawi Candi Penataran Fort Rotterdam GPIB Immanuel Semarang Istana Bung Hatta Leang Timpuseng Liang Bua Makam Kyai Mojo Masjid Agung Demak Masjid Istiqlal Masjid Raya Al-Ma’shun Museum Kirti Griya Stasiun Radio AURI Gunung Padang Pugung Raharjo Stadion Sriwedari Museum KA Ambarawa Gua SunyaragiKawasan

Bawomataluo Borobudur Candi Arjuna Candi Gedong Songo Candi Prambanan Keraton Surakarta Candi Muaro Jambi Kota Lama Sawahlunto Sangiran Trowulan lbsTopik Daerah Istimewa YogyakartaGubernur: Hamengkubawana X  · Wakil Gubernur: Paku Alam XArsitektur bersejarah Bank BNI 1946 Yogyakarta Hotel Toegoe Kantor Pos Besar Yogyakarta Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Kotagede Makam Ratu Mas Malang Ndalem Brontokusuman Ndalem Jayadipuran Ndalem Pujokusuman Pemakaman Imogiri Pasarean Mataram Pasarean Giri Gondo Pura Pakualaman Rumah Tradisional Yusuf Sudirman Situs Kerto Situs Warungboto Taman Sari Yogyakarta Tugu Yogyakarta Watu NgelakCandi Dataran Kewu Candi Barong Candi Banyunibo Candi Gebang Candi Ijo Candi Kalasan Candi Kedulan Candi Kimpulan Candi Prambanan Candi Sambisari Candi Sari Situs Ratu BakaMonumen dan museum Monumen Jogja Kembali Monumen Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia Monumen Perjuangan TNI AU Museum Benteng Vredeburg Museum Biologi Museum Anak Kolong Tangga Museum Gunung Merapi Museum Padepokan Sumber Karahayon Museum Perjuangan Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman Museum Sejarah Purbakala Pleret Museum SonobudoyoTransportasi Bandara Adisucipto Bandar Udara Internasional Yogyakarta Pelabuhan Tanjung Adikarta Stasiun Lempuyangan Stasiun Maguwo Stasiun Tugu Stasiun Wates Terminal Giwangan Trans JogjaObjek wisata alam Air Terjun Sri Gethuk Curug Pulosari Gua Cerme Gua Pindul Gua Selarong Gunung Merapi Kaliurang Kaliadem Gunung Nglanggeran Pantai Baron Pantai Indrayanti Pantai Kesirat Pantai Krakal Pantai Kukup Pantai Glagah Pantai Wohkudu Pegunungan Menoreh Puncak Suroloyo ParangtritisTempat ibadah Masjid Gedhe Kauman Masjid Jogokariyan Masjid Syuhada Gereja Santo Antonius Kotabaru GPIB Marga Mulya Yogyakarta (eks Indische Kerk) Kelenteng Fuk Ling Miau Kelenteng PoncowinatanWisata belanja, hiburan,hotel, dan kuliner Hartono Mall Jalan Malioboro Jogja City Mall Kampung Ketandan Kebun Binatang Gembira Loka Kasongan Malioboro Mall Pasar Beringharjo Pasar Ngasem Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta Plaza Ambarrukmo Purawisata Ramai Mall Kampung Internasional Sosrowijayan Wetan Taman Budaya Yogyakarta Taman Pelangi Taman Pintar Yogyakarta Wisata Gudeg WijilanPendidikan Daftar sekolah di Yogyakarta Daftar perguruan tinggi di Yogyakarta Universitas Gadjah Mada Universitas Islam Indonesia Universitas Mercu Buana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Universitas Negeri Yogyakarta Institut Seni Indonesia YogyakartaOlahraga GOR Among Raga Persiba Bantul Persig Gunung Kidul Persikup Kulon Progo PS Protaba Bantul PSIM Yogyakarta PSS Sleman Sleman United Stadion Maguwoharjo Stadion Mandala Krida Stadion Sultan Agung Stadion TridadiMiliter dan kepolisian Polda DIY Korem 072/Pamungkas Yonif 403 Kikavser 2 Pangkalan TNI AL Yogyakarta Pangkalan Udara Adisutjipto Prajurit KratonKebudayaan Bahasa Jawa Yogyakarta Budaya Jawa Gamelan Javanese Court GamelanMakanan dan minuman tradisional khas Yogyakarta Alen-alen Ampyang Awug-awug Bakmi Jawa Bakpia Pathuk Bir Jawa Brongkos Carang Gesing Cemplon Cenil Cethil Gaplek Gathot Geblek Geplak Gudeg Manggar Gudeg Nangka Grontol Growol Gudangan Jadah Jadah Manten Jenang Gempol Jenang Sungsum Kipo Kopi Jos Lempeng Legendar Lempeng Tela Lotek Mangut Lele Mata Kebo Miedes Mie Lethek Mie Pentil Mendut Nasi Kucing Onde-onde Ongol-ongol Peyek Kacang Peyek Jingking Peyek Tumpuk Sagon Kotagede Sate Klathak Sega Abang Tempe Benguk Tempe Garit Tempe Gembus Tempe Kara Timus Thiwul Tumpeng Ungrung Wajik Walang Goreng Wedang Ronde Wedang Secang Wedang Uwuh YangkoFestival dan pesta rakyat Biennale Jogja Jogja Java Carnival Merti bumi tunggul arum SekatenMedia Jogja TV Kedaulatan Rakyat Mataram Surya Visi RBTV Jogja (afiliasi dengan Kompas TV) Radar Jogja Radio Retjo Buntung Tribun JogjaTopik lainnya Kesultanan Mataram Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat Kadipaten Paku Alaman Hamengkubuwana Paku Alam Sejarah DIY Lambang DIY Garis Imajiner Yogyakarta Alas MentaokLihat pula: KategoriProyek  · Portal lbsCandi Hindu di IndonesiaPulau Jawa

Candi Abang · Candi Asu · Situs Adan-Adan · Candi Banjarsari · Candi Barong · Candi Bojongmenje · Candi Cangkuang · Candi Ceto · Candi Dawangsari · Kompleks Candi Dieng (Candi Arjuna · Candi Bima)  · Candi Gambar Wetan · Candi Gatotkaca · Candi Gebang · Candi Gedong Songo · Candi Gunungsari · Candi Gunung Gangsir · Candi Gunung Wukir · Candi Ijo · Candi Jawi · Candi Kadisoka · Candi Keblak · Candi Kedaton · Candi Kedulan · Candi Kethek · Candi Kidal · Candi Kimpulan · Kompleks Kepurbakalaan Liyangan · Candi Losari · Situs Mantup · Situs Menggung · Candi Merak · Candi Morangan · Candi Miri · Candi Mirigambar · Candi Ngempon · Candi Ngetos · Candi Penataran · Cagar Budaya Gunung Penanggungan (Petirtaan Belahan · Petirtaan Jalatunda · Gapura Jedong · Candi Kendalisodo · Candi Selokelir) · Candi Plumbangan · Candi Prambanan · Candi Pringapus · Candi Rimbi · Candi Sambisari · Candi Sawentar · Candi Singasari · Petirtaan Sumberbeji · Candi Surawana · Candi Simping · Candi Sukuh · Trowulan · Candi Watu Gudhig

Pulau Bali

Candi Gunung Kawi · Pura Bratan · Pura Besakih · Pura Gede Perancak · Pura Luhur · Petirtaan Tirta Empul · Garuda Wisnu Kencana · Pura Tanah Lot

Pulau Sumatra

Candi Lesung Batu

Pulau Kalimantan

Candi Agung

lbsSitus Warisan Dunia IndonesiaUntuk nama situs resmi, lihat artikel masing-masing atau Daftar Situs Warisan Dunia di Indonesia.Jawa

Candi Borobudur · Candi Prambanan · Situs Manusia Purba di Sangiran · Taman Nasional Ujung Kulon

Sumatra

Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera · Tambang Batu Bara Ombilin, Sawahlunto

Bali dan Nusa Tenggara

Taman Nasional Komodo · Lanskap kultur Provinsi Bali

Papua

Taman Nasional Lorentz

Tentatif

Taman Nasional Betung Kerihun  · Taman Nasional Bunaken  · Kepulauan Raja Ampat  · Taman Nasional Taka Bonerate  · Taman Nasional Wakatobi  · Kepulauan Derawan  · Permukiman Tradisional Tana Toraja  · Situs Bawomataluo  · Candi Muara Takus  · Candi Muarajambi  · Trowulan - Bekas Ibukota Kerajaan Majapahit  · Situs Gua Prasejarah di Maros-Pangkep  · Situs Gua Karst Prasejarah Sangkulirang Mangkalihat  · Kota Tua Jakarta  · Kota Lama Semarang  · Pemukiman Tradisional Nagari Sijunjung  · Landskap Alam dan Sejarah Kepulauan Banda  · Pusat Kota Bersejarah Yogyakarta · Kebun Raya Bogor

Koordinat: 7°45′08″S 110°29′30″E / 7.75222°S 110.49167°E

Pengawasan otoritas LCCN: n90669908 VIAF: 140851169 WorldCat Identities (via VIAF): 140851169 Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Candi_Prambanan&oldid=18054076"

Citra Anggraini: Candi Bercorak Hindu Budha Di Indonesia

Candi Bercorak Hindu Budha : candi, bercorak, hindu, budha, Citra, Anggraini:, Candi, Bercorak, Hindu, Budha, Indonesia

Perbedaan Caandi Hindu Dan Candi Buddha

Candi Bercorak Hindu Budha : candi, bercorak, hindu, budha, Perbedaan, Caandi, Hindu, Candi, Buddha

Citra Anggraini: CANDI BERCORAK HINDU BUDHA DI INDONESIA

Candi Bercorak Hindu Budha : candi, bercorak, hindu, budha, Citra, Anggraini:, CANDI, BERCORAK, HINDU, BUDHA, INDONESIA

Jual Carta Candi Yang Bercorak Hindu Dan Budha - Kota Tangerang - Cv.sirnabayamandirancan | Tokopedia

Candi Bercorak Hindu Budha : candi, bercorak, hindu, budha, Carta, Candi, Bercorak, Hindu, Budha, Tangerang, Cv.sirnabayamandirancan, Tokopedia

Candi - Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas

Candi Bercorak Hindu Budha : candi, bercorak, hindu, budha, Candi, Wikipedia, Bahasa, Indonesia,, Ensiklopedia, Bebas

Kerajaan Bercorak Hindu Di Indonesia Yang Pertama Kali Adalah

Candi Bercorak Hindu Budha : candi, bercorak, hindu, budha, Kerajaan, Bercorak, Hindu, Indonesia, Pertama, Adalah

Kliping Candi Hindu Dan Budha

Candi Bercorak Hindu Budha : candi, bercorak, hindu, budha, Kliping, Candi, Hindu, Budha

Peninggalan – Peninggalan Sejarah Yang Bercorak Hindu-Budha Di Indonesia | Richisland

Candi Bercorak Hindu Budha : candi, bercorak, hindu, budha, Peninggalan, Sejarah, Bercorak, Hindu-Budha, Indonesia, Richisland

Candi Kalasan, Candi Budha Tertua - Kompasiana.com

Candi Bercorak Hindu Budha : candi, bercorak, hindu, budha, Candi, Kalasan,, Budha, Tertua, Kompasiana.com

Contoh Candi Bercorak Hindu – Rasanya

Candi Bercorak Hindu Budha : candi, bercorak, hindu, budha, Contoh, Candi, Bercorak, Hindu, Rasanya

CANDI, PRASASTI DAN SENI DARI KERAJAAN HINDU-BUDHA | Kaulawatakkambing

Candi Bercorak Hindu Budha : candi, bercorak, hindu, budha, CANDI,, PRASASTI, KERAJAAN, HINDU-BUDHA, Kaulawatakkambing