Saluran Air Pada Porifera

TIPE SALURAN AIR PADA PORIFERA 19. CONTOH PORIFERA 20. BAGIAN - BAGIAN TUBUH PORIFERA 21. SPONGES Kartun dan sponges sungguhan 22. SIKLUS HIDUP 23. MANFAAT PORIFERA :1. Spongia dan Hippospongia digunakan sebagai spons mandi2. Zat kimia yang dikeluarkan memiliki potensi untuk mengobati kanker kulit3.Berdasarkan sistem saluran air yang terdapat pada Porifera, hewan ini dibedakan atas tiga tipe tubuh, yaitu tipa Ascon, tipe Sycon, dan tipe Rhagon. a. Tipe Ascon Tipe ascon merupakan tipe Porifera yang mempunyai sistem saluran air sederhana. Air masuk melalui pori yang pendek, lurus ke spongocoel (rongga tubuh) lalu keluar melalui oskulum.Pada pengamatan yang dilakukan di Laboratorium pada filum Porifera secara morfologi, diketahui bahwa spons memiliki saluran air sebagai tempat keluar dan masuknya air, memiliki epidermis yang berada di lapisan dinding sel pinacocyte yang berfungsi untuk melindungi tubuh bagian dalam, terdapat pori-pori diseluruh tubuhnya sehingga dinamakanMenjelaskan ciri-ciri Porifera. Menjelaskan struktur tubuh Porifera. Membedakan berbagai tipe saluran air pada Porifera. Menjelaskan cara perkembangbiakan pada Porifera. Menjelaskan dasar pengelompokan Porifera. Menyajikan contoh peran Porifera bagi kehidupan1. SEL KOANOSIT koanosit berfungsi untuk menyaring air yang masuk ke dalam tubuh porifera. SEL - SEL PADA PORIFERA 12. 2. SEL PINAKOSIT Berbentuk pipih dan berdinding tebal Pinakosit berfungsi sebagai pelindung bagian-bagian tubuh yang lain. SEL - SEL PADA PORIFERA 13. 3.

Pengertian Porifera, Ciri-Ciri, Reproduksi dan Klasifikasi

Fungsi Saluran Air Porifera. Arus air memainkan peran paling vital dalam fisiologi porifera. Dinding tubuh porifera terdiri dari dua lapisan epiteloid pinakoderm luar dan koanoderm bagian dalam. Pinakoderm terdiri dari sel-sel porosit yang mengandung bukaan yang disebut ostia.Tipe-tipe Saluran Air pada Porifera. Dengan berdasarkan dari sistem saluran air yang dimilki oleh Porifera, Di mana pada jenis hewan ini bisa dibedakan menjadi tiga tipe tubuh, yakni sebagai berikut. Asconoid. Pada tipe ini merupakan salah satu tipe yang sangat sederhana yang ada pada porifera.Tubuh suatu porifera dihubungkan oleh saluran-saluran yang terbuka dan membentuk pori-pori. Pori-pori inilah yang membuat filum ini disebut porifera, yang diambil dari kata porus (lubang kecil) dan faro (membawa/mengandung) jadi, dapat di artikan porifera sebagai hewan yang berlubang-lubang. Di air laut, porifera memiliki 10.000 spesies.Tipe-Tipe Saluran Air Pada Porifera Sistem saluran pada hewan Porifera bertindak seperti halnya sistem sirkulasi pada hewan tingkat tinggi. Sistem ini melengkapi jalan bebas untuk pemasukan makanan ke dalam tubuh dan untuk pengangkutan zat buangan keluar tubuh.

Pengertian Porifera, Ciri-Ciri, Reproduksi dan Klasifikasi

PORIFERA | perikanan harapan.q

Tipe syconoid, ostium dihubungkan dengan saluran bercabang ke spongosol, contohnya pada Scypha sp. Tipe leuconoid (rhagon), merupakan tipe yang paling kompleks dimana air masuk melalui ostium menuju rongga-rongga bulat yang saling berhubungan, masuk ke spongosol dan keluar melalui oskulum, contohnya pada Spongila sp. Klasifikasi PoriferaPorifera dari kelas calcarea memiliki tubuh yang tersusun oleh spikula kalsium karbonat. Spikula berbentuk lurus dan terdapat 3-4 kaitan. Saluran air pada porifera ini memiliki tipe askonoid, sikonoid, dan leukonoid. Tubuh porifera pada umumnya berwarna pucat, berbentuk seperti vas atau silinder. Porifera ini banyak dijumpai hidup di laut dangkal.3. Salah satu tipe saluran air pada Porifera adalah leucon, yaitu …. a. Ostium dihubungkan dengan saluran bercabang-cabang ke rongga yang dilapisi sel leher. b. Tipe saluran air pada porifera yang paling sederhana. c. Ostium berhubungan dengan spongosol. d. Ostia keluar melalui oskulum. e.Saluran air pada porifera terbagi dalam tiga bentuk, yaitu sikon, askon, dan leukon. Askon adalah tipe saluran air pada porifera yang paling sederhana, berbentuk seperti jambangan bunga, pendek, tidak bercabang, dan tidak berlekuk-lekuk.Porifera bersifar hermaprodit, yaitu ovum dan sperma diproduksi oleh satu induk yang sama. Akan tetapi sperma tidak membuahi sel telur dari individu yang sama. Pembuahan terjadi antara sperma dan sel telur dari individu yang berlainan. 5. Sistem Sirkulasi Air. Sistem kanal atau saluran air pada porifera dibedakan atas tiga tipe sebagai berikut

Kurobas Cup 2015 Eng Sub Loncat Jongkok Reset Modem Indihome Subscene 2 Days 1 Night Citra Aloe Vera Jung Hye Sung Instagram Pt Keong Nusantara Abadi Pekerjaan Yang Menghasilkan Barang Reproduksi Lumut Kerak Adji Bayu Cipta Baground Hijau Daun

PORIFERA

I.                   PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Porifera berarti pori-pori atau pore bearers (Yunani, poros = pori atau saluran : latin , feres = memiliki).  Melalui pori-pori dan saluran-saluran ini, air diserap oleh sel khusus yang di namakan sel leher (collar cell), yang dalam banyak hal menyerpai cambuk. Ini lebih pantas dinamakan koanosit  (choanochyte : choane = cerobong).

Filum hewan ini lebih dikenal sebagai spons. Spons merupakan bersel banyak (metazoan) yang primitif, dikatakan demikian karena kumpulan sel-selnya belum terorganisir dengan baik dan belum mempunyai organ maupun jaringan sejati. Walaupun porifera tergolong hewan, namum kemampuan geraknya sangat kecil dan hidupnya bersifat sesil (Aslan, dkk,.  2012).

Beberapa jenis Porifera seperti Spongia dan Hippospongia dapat digunakan sebagai spons mandi. Zat kimia yang dikeluarkannya memiliki potensi sebagai obat penyakit kanker dan penyakit lainnya. Karena Filum Porifera memiliki nilai ekonomis yang cukup penting, hal inilah yang melatar belakangi dilakukannya praktikum Avertebrata Air khususnya Filum Porifera.

B. Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari praktikum ini yaitu kita dapat mengetahui filum porifera secara morfologi dan anatomi serta dapat mengetahui dan dapat mengklasifikasikan Filum Porifera. Manfaat praktikum yaitu sebagai bahan masukan untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta jenis-jenis mengenai Filum Porifera.

 

 

II.               

TINJAUAN PUSTAKA

A.  Klasifikasi

Menurut Suwignyo (2005) klasifikasi porifera yaitu sebagai berikut :

Kingdom  :  Animalia                                                                                                             Phylum  :  Porifera                                                                                                                        Class  :  Demospongia                                                                                                             Ordo  :  Dictioceratida                                                                                                                        Family  :  Dictioceratidaceaer                                                                                                 Genus  :  Spongila                                                                                                                   Species  :  Spongilla sp. 

                                 

           Gambar 1. Morfologi Spons (Spongilla sp.)

B.       Morfologi dan Anatomi

               Pada dasarnya dinding tubuh porifera  terdiri atas 3 lapisan sel yaitu Pinacocyte/Pinacoderm seperti epidermis berfungsi untuk melindungi tubuh bagian dalam. Bagian sel pinacocyte dapat berkontraksi/berkerut, sehingga seluruh tubuh hewan dapat mengecil/membesar.  Mesoshyl/mesoglea, terdiri dari zat semacam agar (gelatinous protein marix) yang mengandung bahan   tulang /sel amoebocyte.  Choanocyte, yang melapisi rongga atrium/spongocoel.  Bentuk choanochyte agak lonjong, ujung yang satu melekat pada mesohyl dan ujung satu berada di spongoel  serta dilengkapi dengan flagellum yang dikelilingi kelepak dari fibril.  Getaran pada lapisan choanocyte menghasilkan arus air didalam spongocoel keosculum sedangkan fibril berfungsi sebagai alat penangkap makanan (Suwignyo dkk, 1997 dalam Aswan, 2007).

Ukuran tubuh porifera sangat bervariasi, dari sebesar kacang polong sampai setinggi 90 cm dan lebar 1 m. Bentuk tubuh spons juga bermacam-macam, beberapa simetri radial, tetapi kebanyakan berbentuk tidak beraturan dengan pola bervariasi.  Genus Leucosolenia adalah salah satu jenis spons yang bentuknya sangat sederhana seperti kemampuan jambangan kecil yang berhubungan satu sama lain pada bagian pangkalnya, hidup di laut menempel pada batu karang di bawah batas air surut terendah. Di dalam setiap individu yang berbentuk seperti jambangan tersebut terdapat rongga yang di sebut spongocoel atau atrium. Pada permukaan tubuh terdapat lubang atau pori-pori (asal nama porifera), yang merupakan lubang air masuk ke spongocoel, untuk akhirnya keluar melalui osculum (Aslan, dkk., 2012).

Porifera belum memiliki system organ, tetapi memiliki system saluran air yang berperan dalam pengambilan makanan. Berdasarkan saluran airnya, Porifera dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut.

Tipe asconoid, memiliki satu saluran air yang sederhana. Tipe syconoid, memiliki dua saluran air yang disebut saluran inkuren dan saluran radial. Tipe leuconod memiliki saluran air yang kompleks.

 

C. Habitat dan Penyebaran

Dari kurang lebih 9.000 spesies spons, hanya sekitar 100 yang hidup di perairan tawar. Penyebarannya sangat luas, ditemukan mulai dari perairan tropis samapi di bawah tutupan es kutub selatan. Habitat dari filum Porifera ditemukan di perairan laut dan tawar (Famili Spongilidae) yang menetap pada suatu tempat tanpa mengadakan perpindahan (Adum, 2012)

Umumnya, hewan-hewan anggota filum Porifera hidup di laut, dan hanya beberapa yang hidup di air tawar. Hewan-hewan itu tidak aktif, tidak bertangkai (tumbuh pada pangkalnya). Bunga karang mempunyai ruang sentral atau ruang gasrtal yang berfungsi sebagai kloaka. Ruang itu dikelilingi oleh dinding yang ditembus oleh sejumlah saluran yang tersusun majemuk. Ruang gastral itu terbuka pada ujung tubuh bunga karang. Muara ruang sentral disebut oskulum. Butir-butir makanan mikroskopis melewati  saluran -saluran itu dan masuk keruang gastral dengan bantuan gerakan-gerakan flagellum sel daripada dinding ruang gastral tersebut (Aslan, dkk., 2012).

Pada phylum Porifera ada yang hidup di air tawar dan ada yang hidup di air laut. Tapi umumnya kebanyakan hidup di laut, ada yang hidup di laut dangkal seperti Scypha, Lecosolenia, Cerantina, Clathrina, Sycon gelatinosum,   Euspongia mollisima, Hypospongia equina, Heliclona dan Spongilla corteri, serta ada yang hidup dilaut dalam seperti Euplectella, Hyalonema dan Pheronema (Rohana, 2003).

Beberapa dari filum Porifera, hidup pada kedalaman 3-10 meter dengan  berbeda ukuran, bentuk, warna, dan jumlah cabang per koloninya. Pada kedalaman 10 m dibandingkan jenis yang tumbuh pada kedalaman 3 m, maka ukurannya lebih panjang, jumlah cabangnya sedikit (2-3 cabang), bentuk beraturan, dan warna lebih tua (abu-abu tua). Hal ini menguatkan dugaan bahwa semakin dalam tempat tumbuhnya, maka semakin besar dan panjang ukurannya. Pada perairan yang lebih dalam sponge cenderung memiliki bentuk tubuh yang lebih simetris dan lebih besar sebagai akibat dari lingkungan yang lebih stabil dibandingkan dengan jenis yang sama yang hidup pada perairan yang lebih dangkal (Suharyanto, 2008).

D. Reproduksi dan Daur Hidup

Porifera berkembang biak secara aseksual maupun seksual. Reproduksi aseksual terjadi dengan cara pembentukan tunas (budding) atau pembentukan sekelompok-sekelompok esensial, terutama amebocyte, kemudian dilepaskan. Porifera mempunyai kemampuan melakukan regenerasi yang tinggi. Reproduksi seksual terjadi baik pada sepon yang hermaprodit maupun dieoceus. Kebanyakan porifera hermaprodit, namun sel telur dan sperma diproduksi pada waktu yang berbeda (Dahuri, 2003).

Perkembangbiakan spons terjadi secara seksual dan aseksual. Dengan cara aseksual, spons menghasilkan tunas dan apa yang disebut gamul (gammules). Tunas ini dapat lepas dan membentuk hewan terpisah atau tetap menempel. Dalam perkembangbiakan seksual, sel telur dan spermatozoa berasal dari sel-sel amoeba yang berkeliaran di lapisan tengah, seperti pada lapisan sikon. Larva berenang-renang sebentar yang memungkinkan mereka untuk menyebar, kemudian terhambat dan melalui banyak perubahan, akhirnya membuat ostium dan sebuah oskulum yang penting untuk proses makan dan tumbuh (Romimohtarto dan Juwana, 2007).

Porifera mempunyai kemampuan melakukan regenerasi yang tinggi. Bagian tubuh Spons yang terpotong atau rusak, akan mengalami regenerasi menjadi utuh kembali. Kemampuan melakukan regenerasi ada batasnya, misalnya potongan spons leuconoid harus lebih besar dari 0,4 mm dan mempunyai beberapa sel choanocyte supaya mampu melakukan regenerasi menjadi spons baru yang kecil. Tubuh Spons  yang telah rusak akibat dimakan oleh predator maupun oleh aktifitas manusia, secara perlahan-lahan akan kembali seperti semula melalui proses regenerasi (Suwignyo, dkk., 2005).

E. Makanan dan Kebiasaan Makan

Porifera hidup secara heterotrof. Makanannya adalah bakteri dan plankton, makanannya juga berupa partikel zat organik atau makhluk hidup kecil yang masuk bersama melalui pori-pori tubuhnya.  Makanan akan ditangkap oleh flagel pada koanosit.  Dengan demikian pencernaannya terjadi secara intraselluler. Setelah dicerna, zat makanan dikeluarkan melalui osculum bersama sirkulasi air (Aswan, 2007).

Makanan Porifera berupa zat-zat organic dan semua organisne kecil seperti palankton. Porifera tidak mempunyai alat pencernaan khusus, sistem pencernaannya bersifat intraseluler.  Zat makanan yang diambil oleh sel-sel koanosit yang diteruskan ke spongosoel mengikuti aliran air ke oskulum    (Fakhry, 2004).

Spons adalah organisme penyaring makanan (filter feeder). Ia memperoleh makanan dalam bentuk partikel organik renik, hidup atau tidak, seperti bakteri, mikroalga dan detritus, yang masuk melalui pori-pori arus masuk yang terbuka dalam air, dan di bawa ke dalam rongga lambung atau ruang-ruang bercambuk. Makanan dari porifera terdiri dari partikel yang sangat kecil 80% partikel yang kurang dari 5 nm, dan 20% terdiri atas bakteri, dinoflagellata dan nannoplakton. Partikel makanan ditangkap oleh fibril kelepak pada choanocyte. Partikel yang berukuran antara 5 nm – 50 nm dimakan dan dibawa oleh amebocyte. Pencernaan dilakukan secara intraseluler seperti pada protozoa dan hasil pencernaannya disimpan dalam archeocyte (Romimohtarto dan Juwana 2007).

F. Nilai Ekonomis

Secara ekonomis porifera tidak banyak memberikan keuntungan pada manusia, namun diantara beberapa Porifera  ada yang menguntungkan yaitu Spons yang berspikula dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk membersihkan badan. Spons menghasilkan senyawa bioaktif yang berfungsi sebagai pertahanan diri. Senyawa tersebut ternyata berpotensi sebagai bahan obat-obatan. Spesies Petrosia contegnatta mengahsilkan senyawa bioaktif yang berkhasiat sebagai obat anti kanker, sedangkan obat anti-asma diambil dari Cymbacela. Spons    Luffariella variabilis menghasilkan senyawa bastadin, asam okadaik, dan monoalid yang bernilai jual sangat tinggi (Fakhry, 2008).

Beberapa jenis Spons seperti spons jari berwarna orange,                  Axinella connabina, diperdagangkan untuk menghias akuarium air laut, ada kalanya diekspor ke Singapura dan Eropa.  Jenis spons dan famili Clionidae mampu mengebor dan menembus batu karang dan cangkang molusca sehingga mampu membantu pelapukan pemecahan batu karang dan cangkang moloska yang berserakan di tepi pantai.  Spons juga di paka sebagai alat membersihkan tubuh, mencuci dan lain-lain (Suwignyo, dkk., 2005).

Sampai saat ini pemanfaatan biota laut di Indonesia masih belum optimal terutama di bidang farmasi. Beberapa senyawa yang memiliki aktifitas farmakologi sudah berhasil diisolasi dari spons. Didemnin B merupakan senyawa hasil isolasi dari Trididemnum solidum dilaporkan mempunyai aktivitas antitumor dan antivirus. Dalam spons Luffariella variabilis terdapat senyawa Luffariellolida yang berkhasiat antiinflamasi Callyspongia sp. merupakan salah satu jenis spons yang banyak tumbuh di perairan wilayah Indonesia. Spons ini adalah salah satu biota laut yang mengandung berbagai metabolit sekunder yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat dari spons ini dilaporkan memiliki aktivitas antikanker, antimikroba dan antiparasit (Endang, dkk., 2005).

 

III.            

METODE PRAKTIKUM

A.  Waktu dan Tempat

Praktikum ini di laksanakan pada hari Jum’at tanggal 2 November 2012 pukul 14.00-16.00 WITA dan bertempat di Laboratorium Produksi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelauatan Universitas Haluoleo Kendari.

B.  Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada    Tabel 1.

Tabel 1.  Alat dan bahan dan kegunaannya.

No.   Alat dan Bahan                                              Kegunaan

1.   Alat

       – Baki (dissecting pan)                Tempat menyimpan objek yang akan   diamati

       – Pisau Bedah (scalpel)                Untuk mengiris objek

       – Buku identifikasi                       untuk mengidentifikasi organisme

       – Pinset (forceps)                          Untuk mengangkat dan memindahkan objek

       – Alat Tulis                                   Untuk menulis

       – Buku Gambar                             Untuk Menggambar

2.   Bahan

       – Spons (Spongilla sp.)                  Sebagai bahan yang diamati

       – Formalin                                       Untuk mengawetka

C. Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada praktikum ini yaitu sebagai berikut :

Melakukan pengamatan pada organisme yang telah di mbil dari perairan yaitu spons. Meletakkan organisme pada baki kemudian mengidentifikasi bagian-bagian organisme tersebut. Menggambar bentuk secara morfologi dan anatomi bagian-bagian organisme yang telah diidentifikasi dan diberi keterangan pada buku gambar. IV.            

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :                                                                                                                              

Pengamatan Bentuk Morfologi Pada Filum Porifera

                       

                          

Keterangan :

Saluran air Pori-pori Epidermis Colar cell

                              Gambar 2.  Morfologi Spons (Spongilla sp.)

Pengamatan Bentuk Anatomi Pada Filum Porifera

Keterangan :

Osculum Pori-pori Epidermis Spcula Choanocyte Water  flow Paternal cavity

Gambar 3.  Anatomi Spons (Spongilla sp.)

B. Pembahasan

Porifera berasal dari bahasa latin yaitu porus yang berarti lubang kecil atau pori dan ferre yang berarti mempunyai. Jadi, porifera merupakan hewan yang memiliki pori pada tubuhnya.

            Pada pengamatan yang dilakukan di Laboratorium pada filum Porifera secara morfologi, diketahui bahwa spons memiliki saluran air sebagai tempat keluar dan masuknya air, memiliki epidermis yang berada di lapisan dinding sel pinacocyte yang berfungsi untuk melindungi tubuh bagian dalam, terdapat      pori-pori diseluruh tubuhnya sehingga dinamakan porifera yang berfungsi sebagai tempat masuknya air, serta memiliki colar cell. Bagian  luar dari morfologi sponge terdapat banyak lubang-lubang kecil yang disebut pori (ostia) berfungsi sebagai tempat masuknya air menuju spongosoel, selain terdapat ostia pada bagian luar sponge juga terdapat dinding yang terdiri dari satu lapisan sel pipih yang disebut pinakosit, sel ini dapat melakukan gerakan kembang, kempis sehingga memungkinkan seluruh tubuh spons dapat beruba ukuran baik besar maupun kecil, sedangkan sel yang terbentuk tabung kecil yang menghubungkan oatium dengan spongosoel diantara ostium dan spongosoel (Sugiarti, S. 2004).

Pada pengamatan tentang anatomi Spons, terlihat adanya osculum yang berfungsi sebagai tempat keluarnya air. Selain osculum juga terlihat pori-pori memiliki saluran yang menghubungkannya ke spongosol.  Air akan mengalir dari ostium (pori-pori) yang banyak terdapat di permukaan tubuhnya melalui saluran, masuk ke spongosol dan akhirnya mengalir keluar melalui osculum. Hal senada juga diungkapkan dalam pendapat lain yang menjelaskan bahwa ciri utama dari Filum Porifera yaitu memiliki lubang (pori) yang banyak dan membentuk suatu sistem saluran. Air dan makanan yang larut di dalamnya diambil oleh hewan tersebut masuk melalui lubang pori, kemudian masuk kedalam rongga tubuh. Setelah makanan diserap, air yang berlebihan dikeluarkan melalui lubang yang disebut osculum. Filum Porifera memiliki tubuh yang berpori yang berbentuk tabung, dimana pori tersebut berguna untuk tempat masukknya air, selain itu porifera juga memiliki oskulum yang berfungsi sebagai tempat keluarnya air. Selain itu, Spons juga memiliki spcula, water flow sebagai saluran air, serta paternal cavity.

 

V.   SIMPULAN DAN SARAN

A.  Simpulan

Berdasarkan hasil pengamatan maka dapat di simpulkan sebagai berikut :

Klasifikasi filum porifera, yakni : Kingdom  :  Animalia, Phylum  :  Porifera, Class  :  Demospongia, Ordo  :  Dictioceratida,     Family :  Dictioceratidaceaer, Genus  :  Spongila, Species  :  Spongilla sp.  Morfologi Filum Porifera adalah hewan yang berpori-pori yang memiliki ostia, oskulum dan spongocoel. Pada morfologi dari filum ini nampak adanya lubang keluar (osculum), lubang masuknya air (spongocoel) dan pori-pori (ostium). Anatomi dari Filum Porifera, yaitu terdapat osculum yang terlihat dengan jelas. Selain osculum juga terlihat rongga tubuh (spongosol) dan ostium. Setiap ostium memiliki saluran yang menghubungkan ke spongosol, spicula, choanocyte, water flow dan paternal cavity.

B.  Saran

Adapun saran untuk praktikum selanjutnya agar bahan yang akan digunakan, lebih baik disiapkan oleh Laboratorium agar kami sebagai praktikan lebih mudah menjalani praktikum ini.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Aswan,  2007. Pengaruh Substrat yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Spons  (clly spongia aerzusa) dengan Metode Transplantasi. Universitas Haluoleo. Kendari. 87 Hal.

Adum, Rusyana. 2012. Zoologi Invertebrat. Alfabeta : Bandung. 281 Hal.

Aslan,. Ira,. Rahmadani. 2012. Penuntun Praktiukum Avertebrata Air. Jurusan       Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelauatan, Universitas Haluoleo.           Kendari. 29 Hal.

Dahuri. 2003. Isolation And Structure Determination Of Bisdemilaapthamine        From Bunaken Marine Park Sponge Aaptos sp. Indonesian Jurnal of         chemistry. 3 : 156-159

Endang., Abdul., Ryany Sekarini. 2005. Identifikasi Senyawa Antioksi dan Dalam            Spons Callyspongia Sp Dari Kepulauan Seribu. 2 : 127-133

Fakhry. 2008. Laporan Avertebrata Air. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,     Universitas Hassanudin. Makassar. 25 Hal.

Romihmohrtato.k dan juwana. 2007. Biologi Laut. Djambatan. Jakarta. 549 Hal.

Sugiarti, S. 2004. Invertebrata Air. Lembaga Sumberdaya Informasi IPB. Bogor.

Suwignyo. 2005. Avertebrata Air Jilid I.  Swadaya.  Jakarta. 345 Hal.

Rohana, S. 2003. Biologi Umum. Yhudistira. Jakarta. 178 Hal.

Suharyanto.  2008. Distribusi dan Persentase Tutupan Sponge (Porifera) pada        Kondisi Terumbu Karang dan Kedalaman yang Berbeda di Perairan Pulau  Barranglompo, Sulawesi Selatan. 9 : 209-212

I.                   PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Porifera berarti pori-pori atau pore bearers (Yunani, poros = pori atau saluran : latin , feres = memiliki).  Melalui pori-pori dan saluran-saluran ini, air diserap oleh sel khusus yang di namakan sel leher (collar cell), yang dalam banyak hal menyerpai cambuk. Ini lebih pantas dinamakan koanosit  (choanochyte : choane = cerobong).

Filum hewan ini lebih dikenal sebagai spons. Spons merupakan bersel banyak (metazoan) yang primitif, dikatakan demikian karena kumpulan sel-selnya belum terorganisir dengan baik dan belum mempunyai organ maupun jaringan sejati. Walaupun porifera tergolong hewan, namum kemampuan geraknya sangat kecil dan hidupnya bersifat sesil (Aslan, dkk,.  2012).

Beberapa jenis Porifera seperti Spongia dan Hippospongia dapat digunakan sebagai spons mandi. Zat kimia yang dikeluarkannya memiliki potensi sebagai obat penyakit kanker dan penyakit lainnya. Karena Filum Porifera memiliki nilai ekonomis yang cukup penting, hal inilah yang melatar belakangi dilakukannya praktikum Avertebrata Air khususnya Filum Porifera.

B. Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari praktikum ini yaitu kita dapat mengetahui filum porifera secara morfologi dan anatomi serta dapat mengetahui dan dapat mengklasifikasikan Filum Porifera. Manfaat praktikum yaitu sebagai bahan masukan untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan serta jenis-jenis mengenai Filum Porifera.

 

 

II.               

TINJAUAN PUSTAKA

A.  Klasifikasi

Menurut Suwignyo (2005) klasifikasi porifera yaitu sebagai berikut :

Kingdom  :  Animalia                                                                                                             Phylum  :  Porifera                                                                                                                        Class  :  Demospongia                                                                                                             Ordo  :  Dictioceratida                                                                                                                        Family  :  Dictioceratidaceaer                                                                                                 Genus  :  Spongila                                                                                                                   Species  :  Spongilla sp. 

                                 

           Gambar 1. Morfologi Spons (Spongilla sp.)

B.       Morfologi dan Anatomi

               Pada dasarnya dinding tubuh porifera  terdiri atas 3 lapisan sel yaitu Pinacocyte/Pinacoderm seperti epidermis berfungsi untuk melindungi tubuh bagian dalam. Bagian sel pinacocyte dapat berkontraksi/berkerut, sehingga seluruh tubuh hewan dapat mengecil/membesar.  Mesoshyl/mesoglea, terdiri dari zat semacam agar (gelatinous protein marix) yang mengandung bahan   tulang /sel amoebocyte.  Choanocyte, yang melapisi rongga atrium/spongocoel.  Bentuk choanochyte agak lonjong, ujung yang satu melekat pada mesohyl dan ujung satu berada di spongoel  serta dilengkapi dengan flagellum yang dikelilingi kelepak dari fibril.  Getaran pada lapisan choanocyte menghasilkan arus air didalam spongocoel keosculum sedangkan fibril berfungsi sebagai alat penangkap makanan (Suwignyo dkk, 1997 dalam Aswan, 2007).

Ukuran tubuh porifera sangat bervariasi, dari sebesar kacang polong sampai setinggi 90 cm dan lebar 1 m. Bentuk tubuh spons juga bermacam-macam, beberapa simetri radial, tetapi kebanyakan berbentuk tidak beraturan dengan pola bervariasi.  Genus Leucosolenia adalah salah satu jenis spons yang bentuknya sangat sederhana seperti kemampuan jambangan kecil yang berhubungan satu sama lain pada bagian pangkalnya, hidup di laut menempel pada batu karang di bawah batas air surut terendah. Di dalam setiap individu yang berbentuk seperti jambangan tersebut terdapat rongga yang di sebut spongocoel atau atrium. Pada permukaan tubuh terdapat lubang atau pori-pori (asal nama porifera), yang merupakan lubang air masuk ke spongocoel, untuk akhirnya keluar melalui osculum (Aslan, dkk., 2012).

Porifera belum memiliki system organ, tetapi memiliki system saluran air yang berperan dalam pengambilan makanan. Berdasarkan saluran airnya, Porifera dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut.

Tipe asconoid, memiliki satu saluran air yang sederhana. Tipe syconoid, memiliki dua saluran air yang disebut saluran inkuren dan saluran radial. Tipe leuconod memiliki saluran air yang kompleks.

 

C. Habitat dan Penyebaran

Dari kurang lebih 9.000 spesies spons, hanya sekitar 100 yang hidup di perairan tawar. Penyebarannya sangat luas, ditemukan mulai dari perairan tropis samapi di bawah tutupan es kutub selatan. Habitat dari filum Porifera ditemukan di perairan laut dan tawar (Famili Spongilidae) yang menetap pada suatu tempat tanpa mengadakan perpindahan (Adum, 2012)

Umumnya, hewan-hewan anggota filum Porifera hidup di laut, dan hanya beberapa yang hidup di air tawar. Hewan-hewan itu tidak aktif, tidak bertangkai (tumbuh pada pangkalnya). Bunga karang mempunyai ruang sentral atau ruang gasrtal yang berfungsi sebagai kloaka. Ruang itu dikelilingi oleh dinding yang ditembus oleh sejumlah saluran yang tersusun majemuk. Ruang gastral itu terbuka pada ujung tubuh bunga karang. Muara ruang sentral disebut oskulum. Butir-butir makanan mikroskopis melewati  saluran -saluran itu dan masuk keruang gastral dengan bantuan gerakan-gerakan flagellum sel daripada dinding ruang gastral tersebut (Aslan, dkk., 2012).

Pada phylum Porifera ada yang hidup di air tawar dan ada yang hidup di air laut. Tapi umumnya kebanyakan hidup di laut, ada yang hidup di laut dangkal seperti Scypha, Lecosolenia, Cerantina, Clathrina, Sycon gelatinosum,   Euspongia mollisima, Hypospongia equina, Heliclona dan Spongilla corteri, serta ada yang hidup dilaut dalam seperti Euplectella, Hyalonema dan Pheronema (Rohana, 2003).

Beberapa dari filum Porifera, hidup pada kedalaman 3-10 meter dengan  berbeda ukuran, bentuk, warna, dan jumlah cabang per koloninya. Pada kedalaman 10 m dibandingkan jenis yang tumbuh pada kedalaman 3 m, maka ukurannya lebih panjang, jumlah cabangnya sedikit (2-3 cabang), bentuk beraturan, dan warna lebih tua (abu-abu tua). Hal ini menguatkan dugaan bahwa semakin dalam tempat tumbuhnya, maka semakin besar dan panjang ukurannya. Pada perairan yang lebih dalam sponge cenderung memiliki bentuk tubuh yang lebih simetris dan lebih besar sebagai akibat dari lingkungan yang lebih stabil dibandingkan dengan jenis yang sama yang hidup pada perairan yang lebih dangkal (Suharyanto, 2008).

D. Reproduksi dan Daur Hidup

Porifera berkembang biak secara aseksual maupun seksual. Reproduksi aseksual terjadi dengan cara pembentukan tunas (budding) atau pembentukan sekelompok-sekelompok esensial, terutama amebocyte, kemudian dilepaskan. Porifera mempunyai kemampuan melakukan regenerasi yang tinggi. Reproduksi seksual terjadi baik pada sepon yang hermaprodit maupun dieoceus. Kebanyakan porifera hermaprodit, namun sel telur dan sperma diproduksi pada waktu yang berbeda (Dahuri, 2003).

Perkembangbiakan spons terjadi secara seksual dan aseksual. Dengan cara aseksual, spons menghasilkan tunas dan apa yang disebut gamul (gammules). Tunas ini dapat lepas dan membentuk hewan terpisah atau tetap menempel. Dalam perkembangbiakan seksual, sel telur dan spermatozoa berasal dari sel-sel amoeba yang berkeliaran di lapisan tengah, seperti pada lapisan sikon. Larva berenang-renang sebentar yang memungkinkan mereka untuk menyebar, kemudian terhambat dan melalui banyak perubahan, akhirnya membuat ostium dan sebuah oskulum yang penting untuk proses makan dan tumbuh (Romimohtarto dan Juwana, 2007).

Porifera mempunyai kemampuan melakukan regenerasi yang tinggi. Bagian tubuh Spons yang terpotong atau rusak, akan mengalami regenerasi menjadi utuh kembali. Kemampuan melakukan regenerasi ada batasnya, misalnya potongan spons leuconoid harus lebih besar dari 0,4 mm dan mempunyai beberapa sel choanocyte supaya mampu melakukan regenerasi menjadi spons baru yang kecil. Tubuh Spons  yang telah rusak akibat dimakan oleh predator maupun oleh aktifitas manusia, secara perlahan-lahan akan kembali seperti semula melalui proses regenerasi (Suwignyo, dkk., 2005).

E. Makanan dan Kebiasaan Makan

Porifera hidup secara heterotrof. Makanannya adalah bakteri dan plankton, makanannya juga berupa partikel zat organik atau makhluk hidup kecil yang masuk bersama melalui pori-pori tubuhnya.  Makanan akan ditangkap oleh flagel pada koanosit.  Dengan demikian pencernaannya terjadi secara intraselluler. Setelah dicerna, zat makanan dikeluarkan melalui osculum bersama sirkulasi air (Aswan, 2007).

Makanan Porifera berupa zat-zat organic dan semua organisne kecil seperti palankton. Porifera tidak mempunyai alat pencernaan khusus, sistem pencernaannya bersifat intraseluler.  Zat makanan yang diambil oleh sel-sel koanosit yang diteruskan ke spongosoel mengikuti aliran air ke oskulum    (Fakhry, 2004).

Spons adalah organisme penyaring makanan (filter feeder). Ia memperoleh makanan dalam bentuk partikel organik renik, hidup atau tidak, seperti bakteri, mikroalga dan detritus, yang masuk melalui pori-pori arus masuk yang terbuka dalam air, dan di bawa ke dalam rongga lambung atau ruang-ruang bercambuk. Makanan dari porifera terdiri dari partikel yang sangat kecil 80% partikel yang kurang dari 5 nm, dan 20% terdiri atas bakteri, dinoflagellata dan nannoplakton. Partikel makanan ditangkap oleh fibril kelepak pada choanocyte. Partikel yang berukuran antara 5 nm – 50 nm dimakan dan dibawa oleh amebocyte. Pencernaan dilakukan secara intraseluler seperti pada protozoa dan hasil pencernaannya disimpan dalam archeocyte (Romimohtarto dan Juwana 2007).

F. Nilai Ekonomis

Secara ekonomis porifera tidak banyak memberikan keuntungan pada manusia, namun diantara beberapa Porifera  ada yang menguntungkan yaitu Spons yang berspikula dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk membersihkan badan. Spons menghasilkan senyawa bioaktif yang berfungsi sebagai pertahanan diri. Senyawa tersebut ternyata berpotensi sebagai bahan obat-obatan. Spesies Petrosia contegnatta mengahsilkan senyawa bioaktif yang berkhasiat sebagai obat anti kanker, sedangkan obat anti-asma diambil dari Cymbacela. Spons    Luffariella variabilis menghasilkan senyawa bastadin, asam okadaik, dan monoalid yang bernilai jual sangat tinggi (Fakhry, 2008).

Beberapa jenis Spons seperti spons jari berwarna orange,                  Axinella connabina, diperdagangkan untuk menghias akuarium air laut, ada kalanya diekspor ke Singapura dan Eropa.  Jenis spons dan famili Clionidae mampu mengebor dan menembus batu karang dan cangkang molusca sehingga mampu membantu pelapukan pemecahan batu karang dan cangkang moloska yang berserakan di tepi pantai.  Spons juga di paka sebagai alat membersihkan tubuh, mencuci dan lain-lain (Suwignyo, dkk., 2005).

Sampai saat ini pemanfaatan biota laut di Indonesia masih belum optimal terutama di bidang farmasi. Beberapa senyawa yang memiliki aktifitas farmakologi sudah berhasil diisolasi dari spons. Didemnin B merupakan senyawa hasil isolasi dari Trididemnum solidum dilaporkan mempunyai aktivitas antitumor dan antivirus. Dalam spons Luffariella variabilis terdapat senyawa Luffariellolida yang berkhasiat antiinflamasi Callyspongia sp. merupakan salah satu jenis spons yang banyak tumbuh di perairan wilayah Indonesia. Spons ini adalah salah satu biota laut yang mengandung berbagai metabolit sekunder yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat dari spons ini dilaporkan memiliki aktivitas antikanker, antimikroba dan antiparasit (Endang, dkk., 2005).

 

III.            

METODE PRAKTIKUM

A.  Waktu dan Tempat

Praktikum ini di laksanakan pada hari Jum’at tanggal 2 November 2012 pukul 14.00-16.00 WITA dan bertempat di Laboratorium Produksi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelauatan Universitas Haluoleo Kendari.

B.  Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini dapat dilihat pada    Tabel 1.

Tabel 1.  Alat dan bahan dan kegunaannya.

No.   Alat dan Bahan                                              Kegunaan

1.   Alat

       – Baki (dissecting pan)                Tempat menyimpan objek yang akan   diamati

       – Pisau Bedah (scalpel)                Untuk mengiris objek

       – Buku identifikasi                       untuk mengidentifikasi organisme

       – Pinset (forceps)                          Untuk mengangkat dan memindahkan objek

       – Alat Tulis                                   Untuk menulis

       – Buku Gambar                             Untuk Menggambar

2.   Bahan

       – Spons (Spongilla sp.)                  Sebagai bahan yang diamati

       – Formalin                                       Untuk mengawetka

C. Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada praktikum ini yaitu sebagai berikut :

Melakukan pengamatan pada organisme yang telah di mbil dari perairan yaitu spons. Meletakkan organisme pada baki kemudian mengidentifikasi bagian-bagian organisme tersebut. Menggambar bentuk secara morfologi dan anatomi bagian-bagian organisme yang telah diidentifikasi dan diberi keterangan pada buku gambar. IV.            

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :                                                                                                                              

Pengamatan Bentuk Morfologi Pada Filum Porifera

                       

                          

Keterangan :

Saluran air Pori-pori Epidermis Colar cell

                              Gambar 2.  Morfologi Spons (Spongilla sp.)

Pengamatan Bentuk Anatomi Pada Filum Porifera

Keterangan :

Osculum Pori-pori Epidermis Spcula Choanocyte Water  flow Paternal cavity

Gambar 3.  Anatomi Spons (Spongilla sp.)

B. Pembahasan

Porifera berasal dari bahasa latin yaitu porus yang berarti lubang kecil atau pori dan ferre yang berarti mempunyai. Jadi, porifera merupakan hewan yang memiliki pori pada tubuhnya.

            Pada pengamatan yang dilakukan di Laboratorium pada filum Porifera secara morfologi, diketahui bahwa spons memiliki saluran air sebagai tempat keluar dan masuknya air, memiliki epidermis yang berada di lapisan dinding sel pinacocyte yang berfungsi untuk melindungi tubuh bagian dalam, terdapat      pori-pori diseluruh tubuhnya sehingga dinamakan porifera yang berfungsi sebagai tempat masuknya air, serta memiliki colar cell. Bagian  luar dari morfologi sponge terdapat banyak lubang-lubang kecil yang disebut pori (ostia) berfungsi sebagai tempat masuknya air menuju spongosoel, selain terdapat ostia pada bagian luar sponge juga terdapat dinding yang terdiri dari satu lapisan sel pipih yang disebut pinakosit, sel ini dapat melakukan gerakan kembang, kempis sehingga memungkinkan seluruh tubuh spons dapat beruba ukuran baik besar maupun kecil, sedangkan sel yang terbentuk tabung kecil yang menghubungkan oatium dengan spongosoel diantara ostium dan spongosoel (Sugiarti, S. 2004).

Pada pengamatan tentang anatomi Spons, terlihat adanya osculum yang berfungsi sebagai tempat keluarnya air. Selain osculum juga terlihat pori-pori memiliki saluran yang menghubungkannya ke spongosol.  Air akan mengalir dari ostium (pori-pori) yang banyak terdapat di permukaan tubuhnya melalui saluran, masuk ke spongosol dan akhirnya mengalir keluar melalui osculum. Hal senada juga diungkapkan dalam pendapat lain yang menjelaskan bahwa ciri utama dari Filum Porifera yaitu memiliki lubang (pori) yang banyak dan membentuk suatu sistem saluran. Air dan makanan yang larut di dalamnya diambil oleh hewan tersebut masuk melalui lubang pori, kemudian masuk kedalam rongga tubuh. Setelah makanan diserap, air yang berlebihan dikeluarkan melalui lubang yang disebut osculum. Filum Porifera memiliki tubuh yang berpori yang berbentuk tabung, dimana pori tersebut berguna untuk tempat masukknya air, selain itu porifera juga memiliki oskulum yang berfungsi sebagai tempat keluarnya air. Selain itu, Spons juga memiliki spcula, water flow sebagai saluran air, serta paternal cavity.

 

V.   SIMPULAN DAN SARAN

A.  Simpulan

Berdasarkan hasil pengamatan maka dapat di simpulkan sebagai berikut :

Klasifikasi filum porifera, yakni : Kingdom  :  Animalia, Phylum  :  Porifera, Class  :  Demospongia, Ordo  :  Dictioceratida,     Family :  Dictioceratidaceaer, Genus  :  Spongila, Species  :  Spongilla sp.  Morfologi Filum Porifera adalah hewan yang berpori-pori yang memiliki ostia, oskulum dan spongocoel. Pada morfologi dari filum ini nampak adanya lubang keluar (osculum), lubang masuknya air (spongocoel) dan pori-pori (ostium). Anatomi dari Filum Porifera, yaitu terdapat osculum yang terlihat dengan jelas. Selain osculum juga terlihat rongga tubuh (spongosol) dan ostium. Setiap ostium memiliki saluran yang menghubungkan ke spongosol, spicula, choanocyte, water flow dan paternal cavity.

B.  Saran

Adapun saran untuk praktikum selanjutnya agar bahan yang akan digunakan, lebih baik disiapkan oleh Laboratorium agar kami sebagai praktikan lebih mudah menjalani praktikum ini.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Aswan,  2007. Pengaruh Substrat yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Spons  (clly spongia aerzusa) dengan Metode Transplantasi. Universitas Haluoleo. Kendari. 87 Hal.

Adum, Rusyana. 2012. Zoologi Invertebrat. Alfabeta : Bandung. 281 Hal.

Aslan,. Ira,. Rahmadani. 2012. Penuntun Praktiukum Avertebrata Air. Jurusan       Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelauatan, Universitas Haluoleo.           Kendari. 29 Hal.

Dahuri. 2003. Isolation And Structure Determination Of Bisdemilaapthamine        From Bunaken Marine Park Sponge Aaptos sp. Indonesian Jurnal of         chemistry. 3 : 156-159

Endang., Abdul., Ryany Sekarini. 2005. Identifikasi Senyawa Antioksi dan Dalam            Spons Callyspongia Sp Dari Kepulauan Seribu. 2 : 127-133

Fakhry. 2008. Laporan Avertebrata Air. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,     Universitas Hassanudin. Makassar. 25 Hal.

Romihmohrtato.k dan juwana. 2007. Biologi Laut. Djambatan. Jakarta. 549 Hal.

Sugiarti, S. 2004. Invertebrata Air. Lembaga Sumberdaya Informasi IPB. Bogor.

Suwignyo. 2005. Avertebrata Air Jilid I.  Swadaya.  Jakarta. 345 Hal.

Rohana, S. 2003. Biologi Umum. Yhudistira. Jakarta. 178 Hal.

Suharyanto.  2008. Distribusi dan Persentase Tutupan Sponge (Porifera) pada        Kondisi Terumbu Karang dan Kedalaman yang Berbeda di Perairan Pulau  Barranglompo, Sulawesi Selatan. 9 : 209-212

Share this:Like this:Like Loading...

3 Tipe Saluran Saluran Air Pada Porifera Dengan Gambarnya - Brainly.co.id

Saluran Air Pada Porifera : saluran, porifera, Saluran, Porifera, Dengan, Gambarnya, Brainly.co.id

3 Tipe Saluran Air Pada Porifera

Saluran Air Pada Porifera : saluran, porifera, Saluran, Porifera

Sebut Dan Jelaskan Tipe Saluran Air Pada Porifera - Sebutkan Itu

Saluran Air Pada Porifera : saluran, porifera, Sebut, Jelaskan, Saluran, Porifera, Sebutkan

Steller: Create Beautiful Social Media Stories

Saluran Air Pada Porifera : saluran, porifera, Steller:, Create, Beautiful, Social, Media, Stories

3 Tipe Saluran Air Pada Porifera

Saluran Air Pada Porifera : saluran, porifera, Saluran, Porifera

Fillum 1 : PORIFERA (PHORUS = LUBANG KECIL, FERRE

Saluran Air Pada Porifera : saluran, porifera, Fillum, PORIFERA, (PHORUS, LUBANG, KECIL,, FERRE

Porifera Fix

Saluran Air Pada Porifera : saluran, porifera, Porifera

Phylum Porifera | Rosalia Rosellus

Saluran Air Pada Porifera : saluran, porifera, Phylum, Porifera, Rosalia, Rosellus

Pertemuan 2 (Porifera) | Sponge | Sexual Reproduction

Saluran Air Pada Porifera : saluran, porifera, Pertemuan, (Porifera), Sponge, Sexual, Reproduction

Phylum Porifera

Saluran Air Pada Porifera : saluran, porifera, Phylum, Porifera

Filum Porifera

Saluran Air Pada Porifera : saluran, porifera, Filum, Porifera