Proses Masuknya Islam Ke Andalusia

Dikatakan demikian, karena penguasaan Islam terhadap semenanjung Iberia lebih khusus Andalusia (Spanyol), telah menunjukkan bahwa Islam telah tersebar ke negara Eropa. Mulai dari tahapan awal proses masuknya Islam, dimana wilayah Spanyol diduduki oleh khalifah-khalifah dalam setiap dinasti-dinasti yang didirikan dalam setiap periodenya.Namun, sebelumnya penulis akan memaparkan terlebih dahulu bagaimana proses masuknya Islam di Spanyol. Sejarah Masuknya Islam ke Spanyol. Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid (705-715 M),[4] salah seorang Khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus.Al-Andalus (bahasa Arab: الأندلس, translit. al-andalus‎) adalah nama dari bagian Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang diperintah oleh orang Islam, atau orang Moor antara tahun 711 dan 1492. Al-Andalus juga sering disebut Andalusia, tetapi penggunaan ini memiliki keambiguan dengan wilayah administratif di Spanyol modern Andalusia.. Masa kekuasaan Islam di Iberia dimulai sejakPeriode pertama adalah periode awal masuknya Islam ke Andalusia. Periode ini ditandai oleh upaya umat Islam menyebarluaskan agama Islam dan bahasa Arab dengan cara damai, tanpa meninggalkan buktiProses Peradaban Islam Masuk di Barat; Dalam beberapa literatur diungkapkan bahwa proses masuknya peradaban Islam di dunia barat melalui dua cara sebagai berikut: Andalusia (Spanyol). Islam pertama kali masuk ke Spanyol pada tahun 711 M. melalui jalur Afrika Utara.

Sejarah Perkembangan Islam di Spanyol

Islam yang pernah berkuasa di Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) dalam rentang waktu antara tahun 756 dan 1031. Faktor Masuknya Islam di Andalusia a. Faktor Internal Faktor Internal adalah kemauan kuat para penguasa Islam untuk mengembangkan dan membebaskan menjadi wilayah Islam. Andalusia atau Semenanjung Iberia (SpanyolMASUKNYA ISLAM KE SPANYOL ATAU ANDALUSIA 1. Kemajuan Ilmu Pengetahuan di Dunia bagian Barat (Spanyol) 2. MASUKNYA ISLAM KE SPANYOL Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat 3 (tiga) pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana.Dikatakan demikian, karena penguasaan Islam terhadap semenanjung Iberia lebih khusus Andalusia, telah menunjukkan bahwa Islam telah tersebar ke negara Eropa. Mulai dari tahapan awal proses masuknya Islam, dimana wilayah Spanyol diduduki oleh khalifah-khalifah dalam setiap dinasti-dinasti yang didirikan dalam setiap periodenya.Dikatakan demikian, karena penguasaan Islam terhadap semenanjung Iberia lebih khusus Andalusia, telah menunjukkan bahwa Islam telah tersebar ke negara Eropa. Mulai dari tahapan awal proses masuknya Islam, dimana wilayah Spanyol diduduki oleh khalifah- khalifah dalam setiap dinasti-dinasti yang didirikan dalam setiap periodenya.

Sejarah Perkembangan Islam di Spanyol

Al-Andalus - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Proses Masuknya Islam di Nusantara agak unik bila dibandingkan dengan masuknya Islam ke daerah-daerah lain, karena Islam masuk ke Nusantara dibawa lagsung oleh para pedagang dan muballigh secara damai, sedangkan Islam masuk ke daerah lain pada umumnya banyak lewat penaklukan, seperti masuknya Islam ke Irak, Persia, Mesir, Afrika Utara sampai ke Andalusia.BAB II ISI A. Proses masuknya Islam ke Spanyol Islam pertama kali masuk ke Spanyol pada tahun 711 M melalui jalur Afrika Utara. Spanyol sebelum kedatangan Islam dikenal dengan nama Iberia/ Asbania, kemudian disebut Andalusia, ketika negeri subur itu dikuasai bangsa Vandal. Dari perkataan Vandal inilah orang Arab menyebutnya Andalusia. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasaiMasuknya Islam ke Spanyol yaitu setelah Abdur Rahman ad-Dakhil (756M) berhasil membangun pemerintahan yang berpusat di Andalusia dan pertengahan abad ke -9 M Islam telah meliputi seluruh Spanyol.Banyak sejarawan berpendapat, Islam masuk ke Asia Tenggara melalui suatu proses damai. Proses islamisasi nisbi berlangsung selama berabad-abad dan berjalan gradual. Sebagai fenomena sosial, agama Islam pertama kali muncul di Jazirah Arab pada abad ke-7 Masehi. Nabi Muhammad adalah sosok yang mula-mula memperkenalkan agama Islam kepada Mekah.Proses transmisi keilmuan ini khususnya terjadi di sejumlah tempat seperti Andalusia, Sicilia, dan Suriah yang pernah menjadi bagian dari peradaban Islam. Wilayah-wilayah itu kemudian membangun dasar-dasar ilmu yang memberi pondasi pemikiran Eropa pada Abad Pertengahan.

Baground Hijau Daun Kelebihan Air Raksa Sebagai Pengisi Termometer Printer Hp 415 Amalan Nabi Yusuf Bakmi Bintang Gading Alam Sutera Kisah Nabi Nuh Lengkap Baju Sasirangan Status Sahabat Lucu Saya Terima Nikahnya Dan Kawinnya The Meg Sub Indo Flora Fauna Dan Alam Benda

ISLAM DI SPANYOL (Asal-usul dan Perkembangan)

Dalam sejarah tercatat banyak hal tentang perkembangan peradaban Islam khususnya abad ke-7 M hingga abad ke-13 M. Sejarah peradaban Islam telah dicatat dalam sejarah, bahwa pada masa tersebut Islam pernah mengalami masa kejayaan. Kejayaan Islam ini diperlihatkan dengan berbagai kemajuan-kemajuan dalam banyak bidang seperti bidang ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, teknologi dan masih banyak yang lainnya. Kemajuan-kemajuan itu terjadi baik dari Daulah Islam di Timur (Daulah Abbasiah) yang berpusat di Baghdad maupun Islam di Barat (Daulah Umayyah) yang berpusat di Cordova.

Di masa khilafah Bani Umayyah telah mencapai keberhasilan ekspansi ke berbagai daerah, baik di Timur maupun di Barat dengan wilayah kekuasaan Islam yang benar-benar sangat luas. Pada zaman khalifah al-Walid Ibn al-Malik, salah satu khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, umat Islam mulai menaklukan semenanjung Iberia. Semenanjung Iberia adalah nama tua untuk wilayah Spanyol dan Portugal. Sejak awal abad 5 Masehi (tahun 406 M), wilayah tersebut dikuasai oleh bangsa Vandals, maka dinamakan Vandalusia. Namun, sejak tahun 711 M, semenanjung Iberia dan wilayah selatan Prancis jatuh ke dalam kekuasaan Islam, diperintah oleh pembesar-pembesar Arab dan Barbar. Sejak itulah, wilayah ini dikenal dengan Andalusia.

Spanyol merupakan tempat paling utama dan jembatan emas bagi Eropa dalam menyerap peradaban Islam dan hasil-hasil kebudayaan Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial, perekonomian, maupun peradaban antarnegara. Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol berada di bawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-negara tetangga Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains. Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat ini banyak berhutang budi kepada khazanah ilmu pengetahan Islam yang berkembang di periode klasik.

Di lain tempat, antara laut Tengah dan laut Lonia terdapat salah satu pulau terbesar yang bernama Sisilia, Islam di Sisilia berkuasa selama kurang lebih tiga abad (827-1091). Keseluruhan pemerintahan Islam di Sisilia di bawah kekuasaan tiga dinasti, yaitu Dinasti Aghlabiyah (827-909 M), disusul Dinasti Fathimiyah (909-948 M), dan akhirnya Dinasti Kalbiyyah (948-1091).

Kekuasaan Islam pada dua daerah ini telah memberi pengaruh yang sangat besar terhadap peradaban, teknologi dan industri, ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan, sehingga para rakyatnya dapat mencapai puncak peradaban. Delapan abad Islam berkuasa di Spanyol dan tiga abad di Sisilia, telah mengubah wajah peradaban ketika itu.

Namun demikian, perputaran jarum sejarah tidak selamanya menunjukkan arahnya ke dunia Islam. Selang beberapa waktu kemudian dunia Islam mengalami disintegrasi dan stagnansi roh ilmiah intelektual, kemunduran dinamika intelektual Muslim disebabkan oleh nilai-nilai ijtihad tidak teraflikasi lagi, yang distimuli al-Qur’an di tengah-tengah kehidupan umat Islam. Untuk itu fenomena ini hendaknya memberikan nuansa sekaligus pemicu agar umat Islam kembali kepada semangat intelektual Qur’ani. Olehnya itu penulis merasa perlu untuk mengkaji lebih lanjut sejarah peradaban Islam di Spanyol dan Sisilia.

Adapun batasan penulisan makalah ini, penulis akan membahas asal-usul masuknya Islam di Andalusia dan perkembangan peradaban dan pemerintahan politik di Andalusia (Spanyol).

ASAL-USUL MASUKNYA ISLAM DI SPANYOL (ANDALUSIA)

Sebelum menaklukkan Spanyol, umat Islam terlebih dahulu menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari Dinasti Bani Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara terjadi pada zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Afrika Utara dipimpin oleh seorang gubernur, yaitu Hasan Ibn Nu’man Al-Ghassani. Pada masa khalifah Al-Walid, Hasan Ibn Nu’man kemudian diganti oleh Musa bin Nusyair.[1] Tampaknya, tujuan umat Islam menguasai Afrika Utara adalah membuka jalan untuk mengadakan ekspedisi lebih besar ke Spanyol, karena dari Afrika Utara itulah, ekspedisi ke Spanyol lebih mudah dilakukan.

Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid (705-715  M), salah seorang khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di Damarkus.[2] Di zaman Al-Walid itu, Musa Ibn Nushair memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Penaklukan atas wilayah Afrika Utara itu pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu provinsi dari Khilafah Bani Umayah memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa Al-Walid).[3] Setelah kawasan Afrika Utara dikuasai, umat islam mulai memusatkan perhatiannya untuk menaklukan Spanyol. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum Muslimin dalam penaklukan wilayah Spanyol.

Sebelum penaklukan Spanyol oleh Islam, kondisi kawasan tersebut sungguh sangat memprihatinkan, terutama ketika masa pemerintahan Raja Ghotic yang melaksanakan pemerintahannya dengan tangan besi. Kondisi ini menyebabkan rakyat Spanyol menderita dan tertekan. Mereka sangat merindukan kedatangan kekuatan Ratu Adil sebagai sebuah kekuatan yang mampu mengeluarkan mereka dari situasi saat itu. Pada akhirnya mereka menemukan momentum ketika kedatangan Islam di Spanyol.

Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan ke sana. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair.[4]

Tharif ibn Malik dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Pengintaian pertama dilakukan pada bulan juli 710 M oleh Tharif. Tharif ibn Malik adalah orang kepercayaan Musa ibn Nushair, gubernur terkemuka di Afrika Utara.[5] Tharif  menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa, kemudian mendarat di semenanjung kecil di ujung paling selatan benua Eropa, semenanjung tersebut diberi nama jazirah Tharif. Tharif bersama balatentara berkekuatan seratus pasukan kaveleri dan empat ratus pasukan infanteri,[6] mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian.[7] Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan melihat adanya konflik penguasa di kerajaan Spanyol Gotik Barat, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn Nushair  pada tahun 711 M mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad.[8]

Thariq ibn Ziyad lebih banyak di kenal sebagai penakluk Spanyol, Karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan sebagian orang Arab yang dikirim Khalifah Al-Wahid. Pasukan itu kemudian menyeberangi Selat dibawah pimpinan Thariq Ibn Ziyad.[9] Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, di kenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya terus menaklukan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada, dan Todelo (ibu kota kerajaan Goth saat itu).[10] 

Kemenangan pertama yang di capai oleh Thariq ibn Ziyad membuka jalan untuk penaklukan wilayah yang luas lagi . Cemburu atas keberhasilan letnannya yang tak terduga dan fenomenal, Musa ibn Nushair bersama 10.000 tentara yang terdiri atas orang Arab dan Arab Suriah bergerak menuju Spanyol pada bulan Juni 712 M.[11] Musa ibn Nushair merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat menyeberangi selat itu dan satu per satu kota yang dilewatinya dapat ditaklukkannya. Setelah Musa berhasil menaklukan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merinda serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothik, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian Utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navarre.[12]

Pada penaklukan spanyol (Andalusia), para penduduk sepantasnya merasa terkesan oleh toleransi yang ditawarkan kaum muslim begitu perlawanan aktif telah berhenti. Mayoritas penduduk Spanyol (Andalusia) memeluk Islam secara bebas, terutama mereka yanag di masa sebelumnya telah tertindas di bawah pemerintahan elit penguasa yang terdiri atas orang-orang khatolik Roma. Perkawinan campuran dianjurkan dan dalam waktu yang relatif singkat, ajaran Islam yang sederhana dan lugas tersebar luas.[13]

Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada pemerintahan Khalifah Umar ibn Abdil Aziz tahun 99H/717M. Sasaran yang ditunjuk ialah daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah, tetapi usahanya gagal dan terbunuh pada tanggal 102 H. Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada Abd Al-Rahman ibn Abdullah Al-Ghafiqi. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordesu, Poiter, dan kota Tours, akan tetapi penyerangan ke Prancis gagal dan tentara yang dipimpinnya mundur kembali ke Spanyol.

Sesudah itu, masih juga terdapat penyerangan-penyerangan seperti ke Avirignon tahun 734 M, ke Lyon tahun 743 M, dan pulau yang terdapat di Laut Tengah. Majorca, Corsia, Sardinia, Creta, Rhodes, Cyprus dan sebagian dari Sicilia juga jatuh ke tangan Islam di Zaman Bani Umayah.[14] Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum Muslim yang gerakannya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan menyebar jauh menjangkau Prancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia.[15]

Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yang menguntungkan.

Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol sendiri. Pada masa Spanyol ditaklukkan oleh Islam kondisi sosial, ekonomi, politik sangat menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terbagi-bagi menjadi beberapa negara kecil, serta penguasa Gothic yang bersikap tidak toleran terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama Kristen. Yang tidak bersedia disiksa dan dibunuh secara brutal.[16] Rakyat dibagi-bagi ke dalam sistem kelas, sehingga keadaannya diliputi kemelaratan, ketertindasan dan ketiadaan persamaan hak. Dalam kondisi itu, kaum tertindas menanti kedatangan juru pembebas, dan juru pembebasnya mereka temukan dari orang Islam.[17]

Hal yang menguntungkan tentara Islam lainnya adalah tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang. Selain itu, Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.[18]

Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang, dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan penuh percaya diri. Yang tak kalah penting adalah ajaran Islam bersifat toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum Muslim itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.[19]

PERKEMBANGAN ISLAM DI SPANYOL

      Sejak pertama kali Islam di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan islam di sana, Islam memainkan peranan yang sangat besar. Masa itu berlangsung lebih dari tujuh setengah abad. Sejarah panjang yang dilalui umat islam di Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu:

Periode pertama (711-755M)

Pada periode ini, spanyol berada dibawah pemerintahaan para wali yang diangkat  oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini Andalusia secara politis belum stabil, masih terjadi perbutan kekuasaan antar elit penguasa, atau  masih adanya ancaman musuh Islam dari penguasa stempat.[20] Stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari luar maupun dari dalam.[21]

Ganguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elit penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Di samping itu, terdapat perbedaan pandangan antara Khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa, merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi 20 kali pergantian wali (gubernur). Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat. Perbedaan etnis ini seringkali menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak ada figur yang tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk jangka waktu yang agak lama.[22]

Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dar 500 tahun, akhirnya mereka mampu mengusir Islam dari bumi Spanyol.[23]

Karena seringnya terjadi konflik  internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd Rahman Al-Dakhil ke Spanyol pada tahun 138H/755M.[24]

Periode kedua (755-912M)

Pada periode ini, Sponyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan islam yang ketika itu dipegang oleh Khalifah  Abbasyiah di Bagdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I, yang memasuki spanyol tahun 138H/755M dan diberi gelar Al- Dakhil (Yang Masuk ke Spanyol). Dia adalah keturunan bani Umayyah yang lolos dari kejaran bani Abbasiyah.[25]

Pada periode ini, umat islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Abd Al Rahman Al Dakhil mendirikan masjid cardova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam dikenal berjasa dalam menegakkan hukum islam dan Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol, sedangkan Abd Al Rahman Al Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu.[26]

Pemikiran filsafat juga mulai masuk pada periode ini, terutama pada zaman Abdurrahman Al Aushat Ia mengundang para ahli dari dunia Islam lainnya datang ke Spanyol, sehingga kegiatan ilmu pengetahuan di Spanyol mulai semarak.

Periode ketiga (912-1013 M)

Periode ini berlangsung mulai dari pemerintah Abd Arrahman ke 3 yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya “raja-raja kelompok” yang dikenal dengan sebutan Muluk Al-Thawaif. Pada periode ini, spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah, penggunaan gelar khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman ke 3, bahwa Al Muktadir, khalifah daulah bani Abbasiyah di Bagdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri.[27]

Khalifah-khalifah besar  yang memerintah pada periode ini ada tiga  orang, yaitu: Abd Al-Rahman Al-Nasir (912-961 M), Hakam II (961-967 M) dan Hisyam II (976-1009 M).[28]

Pada periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kejayaan, menyaingi kejayaan daulah Abbasiyah di Baghdad. Abd Al Rahman Al-Nasir mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran, pembangunan kota berlangsung cepat.

Awal dari kehancuran khalifah Bani Umayyah di Spanyol adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Oleh karena itu, kekuasaan aktual berada di tangan para pejabat. Pada tahun 981 M, Kalifah menunjuk Ibn Abi ‘Amir sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak. Dia seorang yang ambisius yang berhasil menancapkan kekuasaannya dan melebarkan wilayah kekuasaan Islam dengan menyingkirkan rekan-rekan dan saingannya. Atas keberhasilannya, ia mendapat gelar Al-Manshur Billah. Ia wafat pada tahun 1002 M dan digantikan oleh anaknya Al-Muzaffar, yang masih mempertahankan keberhasil dan keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah wafat pada tahun 1008 M, dalam beberapa tahun saja, negara yang tadinya makmur, kemudian dilanda kekacauan. Akhirnya pada tahun 1013 M, Dewan Menteri yang memerintahkan Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu Spanyol sudah terpecah belah dalam banyak sekali negara kecil.[29]

Periode Keempat (1013-1086M)

           Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil dibawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-mulukuth-Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Sevile, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar adalah Abbadiyah di seville. Pada abad ini umat Islam di spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada diantara pihak-pihak yang bertingkai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik islam itu, untuk pertama kalinya, orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun, kehidupan politik tidak stabil namun, kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari istana ke istana lainnya.[30]

Periode kelima (1086-1248M)

Pada periode ini, umat islam Spanyol di bawah kekuasan Barbar Afrika Utara. Mula-mula Barbar dipimpin oleh Yusuf bin Tasyifin mendirikan daulah Murabitin kemudian datang ke Spanyol untuk menolong umat Islam Spanyol mengusir umat Kristen yang menyerang Sevilla pada tahun 1086 M. Tetapi kemudian menggabungkan Muluk at-Thawaif  ke dalam dinasti yang dipimpinnya sampai tahun 1143 M, ketika dinasti ini melemah digantikan oleh dinasti Barbar lain yaitu dinasti Muwahidin (1146-1235 M).[31]

Dinasti Muwahidin (1146-1235 M) datang ke Andalusia dipimpin oleh Abd al-Mu’min. Pada masa itu, putranya  Abu Ya’kub Yusuf bin Abd al-Mu’min (1163-1184 M) Andalusia mengalami masa kejayaan.[32] Kota-kota muslim penting, Cordova, Almeria, dan Granada, jatuh ke bawah kekuasaannya. Untuk jangka beberapa dekade, dinasti ini mengalami banyak kemajuan. Kekuatan-kekuatan Kristen dapat dipukul mundur. [33]

Akan tetapi sepeninggalan Abu Ya’kub Yusuf bin Abd al-Mu’min, al-Muwahidin mengalami kelemahan tidak lama setelah itu, Muwahhidun mengalami keambrukan. Pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa.  Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahhidun menyebabkan penguasanya memilih meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara tahun 1235 M. Dalam kondisi demikian, umat islam tidak mampu bertahan dari serangan-serangan Kristen yang semakin besar. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh tahun 1248 M. Seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.[34]

Periode keenam (1248-1492 M)

Pada periode ini, Islam hanya berkuasa didaerah Granada, dibawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492 M). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman An-Nasir. Akan tetapi secara politik, dinasti ini hanya berkuasa diwilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir, karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad  merasa tidak senang kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai pengganti raja. Dia memberontak dan berusaha merampas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad ibn Sa’ad. Kemudian Abu Abdullah meminta bantuan kepada Ferdenand dan Isabella untuk menjatuhkan kekuasaan Muhammad ibn Sa’ad. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta.[35]

Tentu saja, Ferdenand dan Isabella yang mempersatukan dua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu cukup merasa puas. Keduanya ingin merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen dan pada akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdenand dan Isabella, kemudian hijrah ke afrika utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol tahun 1492 M.[36]

Gerakan kerajaan Kristen Gradana melakukan pemaksaan orang Islam untuk memeluk Kristen, buku-buku tentang Islam dibakar. Umat Islam setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini.[37]

 

PENUTUP

Andalusia (Spanyol), sebuah negeri yang meninggalkan jejak begitu besar dalam sejarah umat Islam pada awal perkembangan Islam di dunia Eropa. Tentu hal ini menyita banyak perhatian besar dari berbagai khalayak umat Islam. Dikatakan demikian, karena penguasaan Islam terhadap semenanjung Iberia lebih khusus Andalusia (Spanyol), telah menunjukkan bahwa Islam telah tersebar ke negara Eropa.

Mulai dari tahapan awal proses masuknya Islam, dimana wilayah Spanyol diduduki oleh khalifah-khalifah dalam setiap dinasti-dinasti yang didirikan dalam setiap periodenya. Tentu, hal ini banyak memiliki peranan yang sangat penting dan besar dalam perkembangan umat Islam. Dimana  pada akhirnya Islam pernah berjaya di Spanyol dan berkuasa selama tujuh setengah abad. Suatu masa kekuasaan dalam waktu yang sangat lama untuk mengembangkan Islam.

Namun, di balik usaha keras umat Islam mempertahankan kejayaan pada masa sekian abad itu, umat Islam menghadapi kesulitan yang amat berat. Dimana pada suatu ketika, umat Islam diterpa serangan-serangan penguasa Kristen yang sampai-sampai umat Islam tidak kuasa menahan serangan-serangan penguasa Kristen yang semakin kuat itu. Sehingga pada akhirnya Islam menyerahkan kekuasaannya dan semenjak itu berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol.

Demikianlah Islam di Spanyol (Andalusia), walaupun pada akhirnya berakhir dengan kekalahan, namun Islam muncul sebagai suatu kekuatan budaya dan sekaligus menghasilkan cabang-cabang kebudayaan dalam segala ragam dan jenisnya. Banyak sekali kontribusi Islam bagi kebangunan peradaban dan kebudayaan baru Barat. Sumbangan Islam itu  telah menjadi dasar kemajuan Barat terutama dalam bidang-bidang politik, ekonomi, sains dan teknologi, astronomi, filsafat, kedokteran, sastra, sejarah dan hukum.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Amir, Syamsul Munir, M.A., Drs., Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2010)

Atlas Indonesia dan Dunia (Surabaya: CV Pustaka Agung Harapan)

Fadil, M.Ag., Drs. Pasang Surut Peradaban islam dalam Lintas sejarah (Malang: Sukses offset, 2008)

Himayah, Ahmad Mahmud, Al-Andalus Hal Tau’du ?. Terjemahan: Kebangkitan Islam di Andalusia, Sabaruddin (Jakarta: Gema Insani, 2003)

Hitty, Philip K, History of The Arabs; From The Earliest Times to The Present, terjemahan: History of The Arabs, R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. (Cet. II; New York: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2008)

Karim, M. Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta: Bagaskara, 2007)

Mughni,Syafiq A., Dinamika Intelektual Islam Pada Abad Kegelapan (Surabaya: LPAM, 2002)

Naufal, Jejak Kejayaan Islam di Sisilia, Situs Resmi Daarut-Tauhid. http://www.daarut-tauhiid.com

Nizar, Samsul, Prof. Dr. H.M. Ag, Sejarah Pendidikan Islam (Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia (Jakarta: Kencana, 2008)

Sunanto, Dr. Hj. Musyrifah. Sejarah Islam Klasik.(Jakarta: Prenada Media, 2003).,

Syalabi, A.Prof. Dr., Mausu’ah al-Tarikh al-Islamiy wa al-Hadharah al-Islamiyah. Terjemahan: Sejarah dan Kebudayaan Islam, Muhammad Labib Ahmad (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003)

Syafi’I, A. Drs. H dan Sabil Huda, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Bandung: Armico, 1987)

Thomson, Ahamad dan ‘Ata’ Ur Rahman, Muhammad, Islam Andalusia, Sejarah Kebangkitan  dan Keruntuhan. (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004)

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006)

[1] Dr. Badri Yatim, MA. Sejarah Peradaban Islam (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2010, cetakan 22), h. 88

[2] Ibid.,

[3] A. syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam,Jilid 2, (Jakarta:Pustaka Alhusna, 1983, cetakan pertama), h.154.

[4] Dr. Badri Yatim, MA. Ibid., h. 88

[5] Philip K Hitti, Diterjemahkan oleh Cecep Lukman Yasin, History of the Arabs (Jakarta: Serambi, 2008), h. 627

[6] Philip K Hitti, h. 627

[7] Dr. Badri Yatim, MA Ibid, h. 89

[8] Philip K Hitti, h. 628

                [9] Dr. Badri Yatim, M.A. h. 89

[10] A. Syalabi. h. 161

[11] Philip K Hitti, h. 628

[12] Dr. Badri Yatim, M.A. h. 90

[13] Ahmad Thomsin, Islam Andalusia, Sejarah kebangkitan dan keruntuhan, (Jakarta: Gaya Media Pratama,2004, Cetakan Pertama). h. 27

[14] Harun, Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Jilid 1, (Jakarta: UI Press, 1985, Cetakan kelima), h. 62

[15] Dr. Badri Yatim, M.A. op. cit., h. 90

[16] Thomas W. Arnold, Sejarah da’wah Islam,( Jakarta: Wijaya, 1983), h.118

[17] Dr. Badri Yatim, M.A. op. cit., h. 91

[18] A. Syalabi. h. 158

[19] Dr. Badri Yatim, M.A. h. 91

[20] Prof. Dr. Hj. Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik.(Jakarta: Prenada Media, 2003)., h. 119

[21] Dr. Badri Yatim, M.A., h. 94

[22] David Wassenstein, Politics and Society in Islamic Spain: 1002-1086,(New Jersey: Princeton University Press, 1985), h. 15-16.

[23] Dr. Badri Yatim, M.A., h. 94

[24] Ibid., h. 96

[25] Ibid.,

[26] Ahmad Syalabi, mausu’ah al Tarikh al Islami wa al Hadhaath al Islamiyah, jilid 4, (Kairo: Maktabah Al-Nahdhah Al Mishriyah: 1979) h. 41:50.

[27] Dr. Badri Yatim, M.A., h. 96

[28] Ibid.,

[29] W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam: kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), h. 217-218.

[30] Dr. Badri Yatim, M.A., h. 98

[31] Prof. Dr. Hj. Musyrifah Sunanto., h. 121

[32] Ibid.,

[33] Dr. Badri Yatim, M.A., h. 99

[34] Ahmad Syalabi, op.cit., h 76

[35] Harun Nasution, op.cit., h.82

[36] Dr. Badri Yatim, MA, op. cit., h. 100

[37] Prof. Dr. Hj. Musyrifah Sunanto., h. 123

Proses Masuknya Islam Di Andalusia (Spanyol)

Proses Masuknya Islam Ke Andalusia : proses, masuknya, islam, andalusia, Proses, Masuknya, Islam, Andalusia, (Spanyol)

Proses Masuknya Islam Di Andalusia (Spanyol)

Proses Masuknya Islam Ke Andalusia : proses, masuknya, islam, andalusia, Proses, Masuknya, Islam, Andalusia, (Spanyol)

Proses Masuknya Islam Di Spanyol

Proses Masuknya Islam Ke Andalusia : proses, masuknya, islam, andalusia, Proses, Masuknya, Islam, Spanyol

Perkembangan Islam Di Andalusia

Proses Masuknya Islam Ke Andalusia : proses, masuknya, islam, andalusia, Perkembangan, Islam, Andalusia

Sejarah Masuknya Islam Di Eropa

Proses Masuknya Islam Ke Andalusia : proses, masuknya, islam, andalusia, Sejarah, Masuknya, Islam, Eropa

DOC) Sejarah Peradaban Islam Di Andalusia (Spanyol).docx | Alvin Najmi - Academia.edu

Proses Masuknya Islam Ke Andalusia : proses, masuknya, islam, andalusia, Sejarah, Peradaban, Islam, Andalusia, (Spanyol).docx, Alvin, Najmi, Academia.edu

Perkembangan Islam Di Andalusia

Proses Masuknya Islam Ke Andalusia : proses, masuknya, islam, andalusia, Perkembangan, Islam, Andalusia

Sejarah Singkat Masuknya Islam Di Spanyol – Goreng

Proses Masuknya Islam Ke Andalusia : proses, masuknya, islam, andalusia, Sejarah, Singkat, Masuknya, Islam, Spanyol, Goreng

1 SEJARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI SUMATERA (Suatu Kajian Terhadap Tokoh Dan Lembaganya)

Proses Masuknya Islam Ke Andalusia : proses, masuknya, islam, andalusia, SEJARAH, PERKEMBANGAN, PENDIDIKAN, ISLAM, SUMATERA, (Suatu, Kajian, Terhadap, Tokoh, Lembaganya)

Sejarah Peradaban Islam Di Andalusia, Rianp

Proses Masuknya Islam Ke Andalusia : proses, masuknya, islam, andalusia, Sejarah, Peradaban, Islam, Andalusia,, Rianp

Daulah Umayyah II (Andalusia)

Proses Masuknya Islam Ke Andalusia : proses, masuknya, islam, andalusia, Daulah, Umayyah, (Andalusia)