Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Tengah

Sruntul (Srunthul) adalah nama dari salah satu seni pertunjukan tradisional Jawa yang berupa dramatari yang berasal dari Jawa Tengah. Drama Tari Sruntul biasanya dibawakan oleh sekitar 18 pemain yang meliputi 2 orang sebagai Waranggana, 6 orang pemusik dan selebihnya adalah pemain.Berikut daftar kesenian tradisional khas Jawa Tengah yang wajib kamu ketahui untuk memperkaya pengetahuan. Yuk, simak! 18 Kesenian Tradisional Khas Jawa Tengah 1. Ketoprak. Kesenian tradisional khas Jawa Tengah yang pertama adalah Ketoprak yang merupakan pentas sandiwara dari Kota Surakarta.Nah, itulah 11 alat musik tradisional Jawa Tengah yang populer hingga ke luar negeri. Sebagai salah satu warisan budaya, alat musik tradisonal harus tetap kita lestarikan di tengah semakin beragamnya alat musik modern maupun alat musik yang berasal dari luar negeri.kehadiran seni pertunjukan Topeng sejak masa Majapahit. Beberapa istilah yang kemudian melekat dalam sistem identitas seni pertunjukan Topeng antara lain disebutkan seperti tekes, shori, serta raket (Pitono, 1965: 51). Sementara itu di Jawa Tengah seni pertunjukan Topeng tidak dapat dilepaskan dari peran salah seorangBentuk-bentuk kesenian tradisional rakyat yang terdapat di Jawa Tengah diantaranya seperti kethoprak, tayub, srandul, tembang dolanan, ebeg, laisan, angguk, begalan, dan masih banyak lagi. Berikut ini uraian singkat macam-macam kesenian tradisional rakyat yang terdapat di Jawa Tengah.

18 Kesenian Tradisional Khas Jawa Tengah Terlengkap, Sudah

Daftar kesenian tradisional khas Jawa Timur selanjutnya, dalam kategori seni pertunjukan adalah Ketoprak. Namun, Ketoprak di sini bukan lah jenis makanan, melainkan sebuah pertunjukan seni. Dalam pertunjukannya, Ketoprak mengangkat tema-tema yang umumnya berasal dari sejarah Jawa ataupun cerita-cerita legenda.Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).Seni pertunjukan (Bahasa Inggris: performing art) adalah karya seni yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. performance biasanya melibatkan empat unsur: waktu, ruang, tubuh si seniman dan hubungan seniman dengan penonton.. Meskipun seni pertunjukan bisa juga dikatakan termasuk di dalamnya kegiatan-kegiatan seni mainstream seperti teater, tari, musik dan sirkusPenyusunan konsep perencanaan dan perancangan Kompleks Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Tengah di Kota Surakarta dilatar belakangi oleh beberapa hal sebagai berikut. Seni pertunjukan tradisional Jawa Tengah merupakan salah satu aset negara yang dapat memperkaya khasanah budaya Indonesia yang perlu dilestarikan. Di balik menurunnya minat masyarakat terhadap kesenian tersebut masih ada

18 Kesenian Tradisional Khas Jawa Tengah Terlengkap, Sudah

Mengenal 11 Alat Musik Tradisional dari Jawa Tengah

Ing Jawa, mligine Jawa Tengah lan Jawa Wetan, kesenian iku akehbanget jenise, nanging sing amug dingerteni sebageyan wong ya mung sing sing umum-umum wae kayata ludruk, tari remo, wayang. Nanging satenane kesenian Jawa iku kaperang dadi pirang-pirang bab. Kayata seni sastra, seni arsitektur, lan seni pertunjukan.Kamu mungkin pernah melihat, di Indonesia banyak sekali ragam pertunjukan musik tradisional yang dikombinasikan dengan tarian dan teater. Seperti Tari Jaipongan di Jawa Barat, seni tari ini telah berkembang dan memiliki kekhasan tersendiri, tidak hanya saja gerak tariannya tetapi komposisi musiknya itu sendiri.Perlombaan tersebut diikuti dan diramaikan oleh beberapa grup dari Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Periode Masa Kini. Pada kurun waktu 1980-1990an, Ketoprak tumbuh menjadi ketoprak plesetan. Pertunjukan dikemas lebih bebas lagi dalam hal cerita, dialog, serta tokoh-tokoh yang dimainkan.Alat musik tradisional khas Jawa Tengah disertai dengan gambar dan penjelasannya adalah informasi yang mengulas tentang kesenian musik di daerah propinsi berbasis suku Jawa. Ulasan ini mencakup beberapa aspek, yaitu membahas sedikit sejarah, fungsi, cara memainkan dan dari apa alat musik tersebut dibuat oleh masyarakat setempat pada masa lalu.Bobo.id - Ludruk merupakan seni pertunjukan tradisional yang berasal dari Jawa Timur.. Bukan hanya menghibur karena lawakannya, ludruk juga merupakan tempat curahan hati masyarakat. Yuk, kita berkenalan lebih jauh dengan kesenian ini!. BACA JUGA: Ketoprak yang Ini Bukan Makanan, Melainkan Kesenian Jawa! Asli Jawa Timur. Ludruk adalah salah satu jenis kebudayaan asli dari Jawa Timur.

Kurobas Cup 2015 Eng Sub Loncat Jongkok Reset Modem Indihome Subscene 2 Days 1 Night Citra Aloe Vera Jung Hye Sung Instagram Pt Keong Nusantara Abadi Pekerjaan Yang Menghasilkan Barang Reproduksi Lumut Kerak Adji Bayu Cipta Baground Hijau Daun

Seni tradisional Banyumasan

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Kesenian tradisional Banyumas adalah kekayaan budaya benda maupun tak benda yang tumbuh dan berkembang di wilayah bekas Keresidenan Banyumas, meliputi Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, dan Kabupaten Banjarnegara. Sesuai dengan letak geografisnya, kesenian-kesenian di wilayah itu mendapatkan pengaruh dari pusat kebudayaan keraton Mataram Yogyakarta, Surakarta, dan Sunda. Namun seiring perkembangan zaman, pengaruh-pengaruh dari luar Banyumas itu hanya memperkaya khasanah saja, sebab kesenian-kesenian Banyumas memiliki karakternya sendiri, yaitu sebuah entitas kebudayaan ngapak. Kekhasan seni tradisi Banyumas bahkan menyebarkan pengaruh terhadap budaya sekitar, antara lain ke wilayah bekas keresidenan Kedu dan Pekalongan.[1][2][3][4]

Ebeg

Ebeg adalah jenis tarian rakyat yang berkembang di wilayah Banyumasan. Varian dari jenis kesenian ini di daerah lain dikenal dengan nama kuda lumping, dan jaran kepang. Ada juga yang menamakannya jathilan (Yogyakarta) dan reog (Jawa Timur). Tarian ini menggunakan ebeg yaitu anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda berwarna hitam atau putih dan diberi kerincingan. Penarinya mengenakan celana panjang dilapisi kain batik sebatas lutut dan berkacamata hitam, mengenakan mahkota dan sumping ditelinganya. Pada kedua pergelangan tangan dan kaki dipasangi gelang-gelang kerincingan sehingga gerakan tangan dan kaki penari ebeg selalu dibarengi dengan bunyi kerincingan. Penari terdiri dari dua orang berperan sebagai penthul-tembem (penari topeng yang lebih sering melucu menggoda penonton), seorang berperan sebagai pemimpin atau dalang, 7 orang lagi sebagai penabuh gamelan. Jadi satu grup ebeg dapat beranggotakan 16 orang atau lebih. Semua penari menggunakan alat bantu ebeg, kecuali penthul-tembem. Ebeg termasuk jenis tari massal, pertunjukannya memerlukan tempat yang cukup luas seperti lapangan atau pelataran/halaman rumah. Waktu pertunjukan umumnya siang hari dengan durasi antara 1 – 4 jam. Peralatan untuk gending pengiring yang dipergunakan antara lain kendang, saron, kenong, gong, dan terompet. Selain gendhing dan tarian, ada juga ubarampe (sesaji) yang selalu disediakan berupa: bunga-bungaan, pisang raja dan pisang mas, kelapa muda, jajanan pasar, dan lain-lain. Untuk mengiringi tarian ini selalu digunakan lagu-lagu irama Banyumasan seperti ricik-ricik, gudril, blendrong, lung gadung, eling-eling (cirebonan). Yang unik, disaat saat kerasukan/mendem para pemainnya biasa memakan pecahan kaca (beling) atau barang tajam lainnya, mengupas kelapa dengan gigi, makan padi dari tangkainya, bekatul, bara api, dan lain-lain, sehingga menunjukkan kekuatannya Satria. Demikian pula pemain yang manaiki kuda kepang menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya. Biasanya dalam pertunjukan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongsai a la Banyumas.

Laisan

Laisan adalah jenis kesenian yang melekat pada kesenian ebeg. Laisan dilakukan oleh seorang pemain pria yang sedang kesurupan. Badannya ditindih dengan lesung terus dimasukkan ke dalam kurungan, biasanya kurungan ayam. Dalam kurungan itulah Laisan berdandan seperti wanita. Setelah terlebih dulu dimantra-mantara, kurunganpun dibuka, dan munculah pria tersebut dengan mengenakan pakaian wanita lengkap. Laisan muncul di tengah pertunjukan ebeg. Pada pertunjukan ebeg komersial, salah seorang pemain biasanya melakukan thole-thole yaitu menari berkeliling arena sambil membawa tampah untuk mendapatkan sumbangan. Laisan, di wilayah lain biasa disebut sintren.

Lengger-Calung

Kesenian tradisional lengger-calung tumbuh dan berkembang di wilayah ini. Sesuai namanya, tarian lengger-calung terdiri dari lengger (penari) dan calung (gamelan bambu), gerakan tariannya sangat dinamis dan lincah mengikuti irama calung. Gerakan khas tarian lengger antara lain geyol, gedheg, dan lempar sampur. Dahulu, penari lengger adalah pria yang berdandan seperti wanita, tetapi kini umumnya ditarikan oleh wanita cantik, sedangkan penari prianya hanyalah sebagai badut pelengkap yang berfungsi untuk memeriahkan suasana. Badut biasanya hadir pada pertengahan pertunjukan. Jumlah penari lengger antara 2 sampai 4 orang, mereka harus berdandan sedemikian rupa sehingga kelihatan sangat menarik, rambut disanggul, leher sampai dada bagian atas biasanya terbuka, sampur atau selendang biasanya dikalungkan dibahu, mengenakan kain/jarit dan stagen. Lengger menari mengikuti irama khas Banyumasan yang lincah dan dinamis dengan didominasi oleh gerakan pinggul sehingga terlihat sangat menggemaskan. Peralatan gamelan calung terdiri dari gambang barung, gambang penerus, dhendhem, kenong dan gong yang semuanya terbuat dari bambu wulung (hitam). Yang tidak terbuat dari bambu hanyalah gendang, seperti gendang pada umumnya. Dalam penyajiannya calung diiringi vokalis yang lebih dikenal sebagai sinden. Satu grup calung minimal memerlukan 7 orang anggota, terdiri dari penabuh gamelan dan penari/lengger.[5]

Angguk banyumasan

Tarian jenis ini sudah ada sejak abad ke-17, dibawa oleh para penyebar agama Islam yang datang dari wilayah Mataram-Bagelen. Tarian ini disebut angguk karena penarinya sering memainkan gerakan mengangguk-anggukan kepala. Kesenian angguk yang bercorak Islam ini mulanya berfungsi sebagai salah satu alat untuk menyiarkan agama Islam. Sayangnya jenis kesenian ini sekarang semakin jarang dipentaskan. Angguk dimainkan sedikitnya oleh 10 orang penari anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun. Pakaian para penari umumnya berwarna hitam lengan panjang dengan garis-garis merah dan kuning di bagian dada/punggung sebagai hiasan. Celana panjang sampai lutut dengan hiasan garis merah, tanpa alas kaki, mengenakan kaos kaki panjang sebatas lutut, serta memakai topi pet berwarna hitam. Perangkat musiknya terdiri dari kendang, bedug, tambur, kencreng, 2 rebana, terbang (rebana besar) dan angklung. Syair lagu-lagu Tari Angguk diambil dari kitab Barzanji, berbahasa bahasa Arab. Tetapi akhir-akhir ini gerak tari dan syairnya mulai dimodifikasi dengan menyisipkan gerak tari serta bahasa khas Banyumasan tanpa mengubah corak aslinya. Bentuk lain dari kesenian angguk adalah aplang. Bedanya bila angguk dimainkan oleh remaja pria, maka aplang atau daeng dimainkan oleh remaja putri.

Wayang Kulit Gagrag Banyumasan

Sebagaimana masyarakat Jawa pada umumnya, masyarakat Banyumasan juga gemar menonton pertunjukan wayang kulit. Pertunjukan wayang kulit di wilayah Banyumas cenderung mengikuti pedalangan gagrag atau gaya Banyumasan. Seni pedalangan gagrag Banyumasan sebenarnya mirip gaya Yogya-Solo bercampur Kedu, baik dalam hal cerita, suluk maupun sabetannya. Bahasa yang dipergunakan pun tetap mengikuti bahasa pedalangan layaknya, hanya bahasa para punakawan diucapkan dengan bahasa Banyumasan. Nama-nama tokoh wayang umumnya sama, hanya beberapa nama tokoh yang berbeda seperti Bagong (Solo) menjadi Bawor atau Carub. Jika dalam punakawan Yogya-Solo, Bagong merupakan putra bungsu Ki Semar, dalam versi Banyumas menjadi anak tertua. Tokoh Bawor adalah maskotnya masyarakat Banyumas.

Ciri utama dari wayang kulit gagrag Banyumasan adalah napas kerakyatannya yang kental, dan dalang memang berupaya menampilkan realitas dinamika kehidupan yang ada di masyarakat. Tokoh pedalangan untuk Wayang Kulit Gagrag Banyumasan yang terkenal saat ini antara lain Ki Sugito Purbacarito, Ki Sugino Siswacarito, dan Ki Suwarjono.

Gending Banyumasan

Gending khas lagu-lagu Banyumasan sangat mewarnai berbagai kesenian tradisional Banyumasan, bahkan dapat dikatakan menjadi ciri khasnya, apalagi dengan berbagai hasil kreasi barunya yang mampu menampilkan irama Banyumasan serta dialek Banyumasan. Ciri-ciri khas lainnya antara lain mengandung parikan yaitu semacam pantun berisi sindiran jenaka, iramanya yang lebih dinamis dibanding irama Yogya-Solo bahkan lebih mendekati irama Sunda. Syairnya umumnya mengandung nasihat, humor, menggambarkan keadaan daerah Banyumas serta berisi kritik-kritik sosial kemasyarakatan. Lagu-lagu gending Banyumasan dapat dimainkan dengan gamelan biasa maupun gamelan calung bambu. Seperti irama gending Jawa pada umumnya, irama gending Banyumasan mengenal juga laras slendro dan pelog.[6]

Begalan

Begalan adalah jenis kesenian yang biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara perkawinan yaitu saat calon pengantin pria beserta rombongannya memasuki pelataran rumah pengantin wanita. Disebut begalan karena atraksi ini mirip perampokan yang dalam bahasa Jawa disebut begal. Yang menarik adalah dialog-dialog antara yang dibegal dengan sipembegal biasanya berisi kritikan dan petuah bagi calon pengantin dan disampaikan dengan gaya yang jenaka penuh humor. Upacara ini diadakan apabila mempelai laki-laki merupakan putra sulung. Begalan merupakan kombinasi antara seni tari dan seni tutur atau seni lawak dengan iringan gending. Sebagai layaknya tari klasik, gerak tarinya tak begitu terikat pada patokan tertentu yang penting gerak tarinya selaras dengan irama gending. Jumlah penari 2 orang, seorang bertindak sebagai pembawa barang-barang (peralatan dapur), seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok. Barang-barang yang dibawa antara lain ilir, ian, cething, kukusan, saringan ampas, tampah, sorokan, centhong, siwur, irus, kendhil dan wangkring. Barang bawaan ini biasa disebut brenong kepang. Pembegal biasanya membawa pedang kayu. Kostum pemain cukup sederhana, umumnya mereka mengenakan busana Jawa. Dialog yang disampaikan kedua pemain berupa bahasa lambang yang diterjemahkan dari nama-nama jenis barang yang dibawa, contohnya ilir yaitu kipas anyaman bambu diartikan sebagai peringatan bagi suami-isteri untuk membedakan baik buruk. Centhing, tempat nasi artinya bahwa hidup itu memerlukan wadah yang memiliki tatanan tertentu jadi tidak boleh berbuat semau-maunya sendiri. Kukusan adalah alat memasak atau menanak nasi, ini melambangkan bahwa setelah berumah tangga cara berpikirnya harus masak/matang. Selain menikmati kebolehan atraksi tari begalan dan irama gending, penonton juga disuguhi dialog-dialog menarik yang penuh humor. Biasanya usai pertunjukan, barang-barang yang dipikul diperebutkan para penonton. Sayangnya pertunjukan begalan ini tidak boleh dipentaskan terlalu lama karena masih termasuk dalam rangkaian panjang upacara pengantin.[7]

Rengkong

Rengkong adalah kesenian yang menyajikan bunyi-bunyian khas serupa suara kodok mengorek secara serempak yang dihasilkan dari permainan pikulan bambu. Pikulan bambu tersebut berukuran besar dan kuat tetapi ringan karena berbahan dasar bambu tua. Biasanya menggunakan bambu tali dengan panjang sekitar 2,6 meter. Pada kedua ujung bambu dibuat lubang persegi panjang selebar 1 cm, sekeliling bambu melintasi lubang tersebut diraut sebagai tempat bertengger tali penggantung ikatan padi. Dua ikat padi seberat ± 15 kg digayutkan dengan tali ijuk mengalungi sonari (badan rengkong bambu di tempat yang diraut). Di tengah masing-masing ikatan padi ada sunduk (tusuk) bambu sepanjang hampir 2 meter. Ujung atas sunduk bambu dimasukkan ke badan bambu rengkong dekat gantungan tali ijuk. Cara memainkannya, pikulan bambu rengkong yang berisi muatan padi diletakkan pada bahu kanan (dipikul). Pemikul mengayun-ayunkan ke kiri dan ke kanan dengan mantap dan teratur. Tali ijuk dengan beban padi yang menggantung pada badan bambu rengkong pun bergerak-gerak, gesekan tali ijuk yang keras inilah yang menimbulkan suara berderit-derit nyaring. Kalau ada beberapa rengkong yang dimainkan serempak maka akan timbul suara yang mengasyikan, khas alam petani. Bila dimainkan dengan berbaris berarak-arakan maka suasananya akan lebih semarak. Kesenian tradisional para petani ini biasanya diadakan pada pesta perayaan panen atau pada hari-hari besar nasional.

Kesenian lainnya di Wilayah Banyumasan

Kesenian - kesenian lainnya (termasuk kesenian serapan) yang tumbuh berkembang di wilayah Banyumasan antara lain adalah:

Bongkel, adalah musik tradisional Banyumasan yang mirip dengan angklung, hanya terdiri dari satu jenis instrumen dengan empat bilah berlaras slendro. Nada-nadanya 2 (ro), 3 (lu), 5 (mo), 6 (nem). Buncis, merupakan perpaduan antara seni musik dengan seni tari yang dimainkan oleh 8 orang pemain. Dalam pertunjukannya diiringi dengan perangkat musik angklung. Para pemain buncis selain menjadi penari juga menjadi pemusik serta vokalis. Aksimuda adalah kesenian bernapas Islam yang disajikan dalam bentuk atraksi pencak silat yang digabung dengan tari-tarian. Salawatan Jawa menjadi salah satu seni musik bernapaskan Islam dengan perangkat musik berupa trebang jawa. Dalam pertunjukannya kesenian ini menyajikan lagu-lagu yang diambil dari kitab Barzanzi. Cowongan/ Nini Cowong merupakan upacara meminta hujan. Upacara ini dilakukan bila hujan tidak turun dalam waktu yang sudah cukup lama. Wujud Nini Cowong seperti jaelangkung. Ujungan, menampilkan atraksi agak mengerikan karena pemainnya saling sabet-sabetan dengan menggunakan rotan.

Lihat pula

Kabupaten Banyumas Kabupaten Cilacap Kabupaten Purbalingga Kabupaten Banjarnegara Banyumas Banyumasan Wayang Kulit Gagrag Banyumasan

Pranala luar

^ Situs resmi Kabupaten Cilacap, diakses 8 Feb 2015 ^ Situs resmi Kabupaten Banyumas Diarsipkan 2020-06-24 di Wayback Machine., diakses 8 Feb 2015 ^ Situs resmi Kabupaten Banjarnegara, diakses 8 Feb 2015 ^ Situs resmi Kabupaten Purbalingga, diakses 8 Feb 2015 ^ Tabloid Pamor, diakses 8 Feb 2015 ^ Sangu Turu, diakses 8 Feb 2015 ^ Wisata dan Budaya, diakses 8 Feb 2015 Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Seni_tradisional_Banyumasan&oldid=18085724"

KESENIAN JAWA TENGAH

Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Tengah : pertunjukan, tradisional, tengah, KESENIAN, TENGAH

CONTOH KESENIAN DAERAH

Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Tengah : pertunjukan, tradisional, tengah, CONTOH, KESENIAN, DAERAH

Tari Gambyong | ANTARA Foto

Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Tengah : pertunjukan, tradisional, tengah, Gambyong, ANTARA

Wayang Orang

Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Tengah : pertunjukan, tradisional, tengah, Wayang, Orang

Pengertian Seni Teater, Ciri-Ciri, Fungsi, Unsur, Dan Jenis-jenisnya Yang Perlu Diketahui - Ragam Bola.com

Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Tengah : pertunjukan, tradisional, tengah, Pengertian, Teater,, Ciri-Ciri,, Fungsi,, Unsur,, Jenis-jenisnya, Perlu, Diketahui, Ragam, Bola.com

Regenerasi Penari Prajuritan | ANTARA Foto

Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Tengah : pertunjukan, tradisional, tengah, Regenerasi, Penari, Prajuritan, ANTARA

Kesenian Tradisionat Dapat Berf Ungsi Untuk

Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Tengah : pertunjukan, tradisional, tengah, Kesenian, Tradisionat, Dapat, Ungsi, Untuk

Narasi Tari Pendet

Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Tengah : pertunjukan, tradisional, tengah, Narasi, Pendet

Alat Musik Tradisional Jawa Tengah

Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Tengah : pertunjukan, tradisional, tengah, Musik, Tradisional, Tengah

Ragam Budaya Indonesia: TARI TRADISIONAL YOGYAKARTA

Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Tengah : pertunjukan, tradisional, tengah, Ragam, Budaya, Indonesia:, TRADISIONAL, YOGYAKARTA

DOC) TARIAN TRADISIONAL DI INDONESIA | Dedy Agusmayadi - Academia.edu

Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Tengah : pertunjukan, tradisional, tengah, TARIAN, TRADISIONAL, INDONESIA, Agusmayadi, Academia.edu