Tujuan P3k Adalah

13. Salah satu tujuan P3K adalah … a. Meringankan keuangan b. Mengurangi korban jiwa c. Menyelamatkan harta benda d. Membawa korban pada tim medis terdekat e. Mencegah kematian. 14. Sebuah balok diukur ketebalannya dengan jangka sorong. Skala yang ditunjukkan dari hasil pengukuran adalah sebagai berikut.Tujuan P3K adalah..... a. Mengurangi rasa sakit b. Mencegah cidera tambah parah c. Menunjang upaya penyembuhan d. Sebagai pengobatan e. a, b, dan c benar 48. Salah satu cara pertolongan pertama pada penderita yang pingsan seharusnya adalah..... a. Diberi minum dan makanan b. Dikipasi supaya dingin c. Dipijat supaya sadar d.asti wulandari modul pembelajaran sanitasi hygiene & keselamatan kerja smk berdasarkan kurikulum 2013 x tata boga universitas negeri yogyakarta modul pembelajaranAtt Iv Lengkap.pdf [9qgxy5rw8zln]. OPERATE ELECTRICAL, ELECTRONIC AND CONTROL SYSTEMS HARI RABU TANGGAL 02 APRIL 2018, JAM KE-5Tujuan P3K adalah untuk menyelamatkan nyawa, meringankan penderita korban seperti meringankan rasas nyeri, mencegah cedera/penyakit bertambah parah seperti mencegah pendarahan, mempertahankan daya tahan korban, menunjang upaya penyembuhan, mencarikan pertolongan lebih lanjut.

Latihan Soal Dokter Kecil 2017 [on23qdj333l0]

Tujuan P3K adalah : a. Mencegah cidera bertambah parah b. Menunjang upaya penyembuhan Pedoman yang harus di pegang oleh pelaku P3K adalah : a. Penolong mengamankan diri sendiri lebih dahulu sebelum bertindak b. Amankan korban dari gangguan di tempat kejadian sehingga bebas dari bahayaTujuan P3K adalah sebagai berikut: 1. Menolong jiwa penderita 2. Mencegah penyakit atau kecelakaan menjadi lebih parah 3. Mengurangi rasa sakit 2. Orang-orang yang dapat memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan harus memenuhi persyaratan: 1. Memiliki pengetahuan mengenai P3K 2.Dokter apa benar tujuan p3k adalah sebagai sarana untuk memberikan pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan. Apakah wajib kotak p3k ini ada di rumah dan di mobil? 40 Views. 0 Balasan.Penulis buku yang berjudul " Buku Panduan Pramuka Penggalang" ini mempunyai nama lengkap Susilo,S.Pd. Lahir di desa Pematang Serai, sebuah desa kecil yang berada di ujung kecamatan Tanjung Pura, tanggal 7 Juni 1985. Di desa kecil tersebutlah beliau mengecap pendidikan pertamanya yaitu di SDN Pematang serai. Setelah tamat melanjutkan di MTs Tarbiyah Waladiyah Pulau Banyak.…

Latihan Soal Dokter Kecil 2017 [on23qdj333l0]

Modul-sanitasi-hygiene-dan-keselamatan-kerja.pdf

Tujuan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan adalah memberikan pertolongan darurat sebelum pertolongan atau perawatan lebih lanjut, tujuan P3K adalah sebagai berikut; menyelamatkan jiwa korban. mengurangi penderitaan korban. mencegah penyakit/cedera yang diderita korban semakin parahPengertian P3K. P3K adalah singakatan dari Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan. Artinya adalah pertolongan sementara terhadap kecelakaan atau cedera kepada korban sebelum memperoleh pertolongan dari dokter atau ahli medis yang lain.yang bukan termasuk tujuan P3K adalah. answer choices . menyelamatkan nyawa. meringankan penderitaan korban. mencegah cedera bertambah parah. menunjang keselamatan pengendara. Tags: Question 14 . SURVEY . 180 seconds . Q. undang-undang yang mengatur syarat-syarat keselamatan kerja adalah . . .Tujuan P3K adalah : Pelatihan dan pendidikan praktis untuk menangani sikorban kecelakaan dengan tepat, cepat dan benar. menyelamatkan jiwa sikorban kecelakaan; pencegahan pada perusakan organ; memberi bantuan pertolongan secara spontan dengan tepat. Prinsip P3K . Bergerak cepat, tepat, benar dan hati-hati; Mempertimbangkan situasi dan kondisiSebutkan lima tujuan p3k - 8748264 Berikut ini ialah merupakan beberapa tujuan dari P3K:. Menyelamatkan nyawa atau mencegah kematian dengan memperhatikan kondisi dan keadaan yang mengancam korban

Latihan Daya Tahan Dapat Dilakukan Dengan Apa Yang Dimaksud Dengan Buku Fiksi Qolqolah Adalah Sebutkan Jenis Jenis Teks Eksposisi Soal Tpa Bappenas Pdf Sebutkan Penyebar Islam Di Pulau Jawa Yang Di Kenal Dengan Walisongo! Modus Dari Histogram Berikut Adalah Ruas Garis Adalah Sange Itu Apa Ucapan Sholat Subuh Apa Saja Hal-hal Yang Harus Diutamakan Dalam Tolak Peluru

Modul-sanitasi-hygiene-dan-keselamatan-kerja.pdf [j0vm6j8kyp0x]

ASTI WULANDARI

MODUL PEMBELAJARAN

SANITASI HYGIENE & KESELAMATAN KERJA

SMK

Berdasarkan Kurikulum 2013

X Tata Boga

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

MODUL PEMBELAJARAN

Oleh: ASTI WULANDARI

SMK

X Tata Boga UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2014

Berdasarkan Kurikulum 2013

KATA PENGANTAR Salah satu upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan Kegiatan Pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) perlu disiapkan materi atau bahan pendidikan berupa modul. Bahan ajar dalam modul ini ditujukan sebagai sumber belajar bagi siswa dan bahan ajar bagi guru, sebagai pendukung berlangsungnya pembelajaran Kurikulum 2013. Sumber belajar, khususnya berupa modul dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan semakin diperlukan. Berkaitan dengan hal-hal tersebut, maka kami berupaya menyusun modul ini dengan judul : Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja. Penyusunan modul ini diperuntukkan untuk kepentingan peserta didik dan guru serta sebagai salah satu acuan dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar dalam lingkup Sekolah Menengah Kejuruan Jurusan Tata Boga. Akhirnya, kepada semua pihak yang terkait dengan penyusunan modul ini disampaikan terima kasih dan semoga modul ini bermanfaat bagi peserta didik dan bagi fasilitator di lingkungan Sekolah Menengah Kejuruan bidang keahlian Tata Boga. Aamiin. Yogyakarta, Maret 2014

Penyusun

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

i

DAFTAR ISI Kata Pengantar ..........................................................................................................................................i Daftar Isi ..................................................................................................................................................... ii Daftar Gambar......................................................................................................................................... iv Daftar Tabel ............................................................................................................................................. vi Prasyarat .................................................................................................................................................. vii Petunjuk Penggunaan Modul Bagi Siswa .................................................................................. viii Petunjuk Penggunaan Modul Bagi Guru atau Fasilitator ...................................................... ix Kompetensi ................................................................................................................................................x Peta Kedudukan Modul ...................................................................................................................... xii BAB I PERANAN, RUANG LINGKUP DAN PERSYARATAN HYGIENE BIDANG MAKANAN Kegiatan Belajar 1 .......................................................................................................................... 1 Kegiatan Belajar 2 .......................................................................................................................... 5 Kegiatan Belajar 3 ....................................................................................................................... 10 Uji Kompetensi I ........................................................................................................................... 24 BAB II JENIS, STRUKTUR DAN PERKEMBANGBIAKAN MIKROORGANISME Kegiatan Belajar 1 ....................................................................................................................... 29 Kegiatan Belajar 2 ....................................................................................................................... 37 Uji Kompetensi II ......................................................................................................................... 48 BAB III RESIKO HYGIENE DI TEMPAT KERJA Kegiatan Belajar 1 ....................................................................................................................... 51 Kegiatan Belajar 2 ....................................................................................................................... 56 Kegiatan Belajar 3 ....................................................................................................................... 60 Uji Kompetensi III ........................................................................................................................ 69 BAB IV MIKROORGANISME PENYEBAB KERACUNAN MAKANAN Kegiatan Belajar 1 ....................................................................................................................... 73 Kegiatan Belajar 2 ....................................................................................................................... 77 Kegiatan Belajar 3 ....................................................................................................................... 86 Uji Kompetensi IV ........................................................................................................................ 93

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

ii

BAB V BAHAN PEMBERSIH DAN BAHAN SANITER Kegiatan Belajar 1 ........................................................................................................................97 Kegiatan Belajar 2 ..................................................................................................................... 104 Kegiatan Belajar 3 ..................................................................................................................... 116 Uji Kompetensi V ....................................................................................................................... 121 BAB VI MEMBERSIHKAN PERALATAN DAN RUANG Kegiatan Belajar 1 ..................................................................................................................... 123 Kegiatan Belajar 2 ..................................................................................................................... 140 Kegiatan Belajar 3 ..................................................................................................................... 147 Uji Kompetensi VI ...................................................................................................................... 155 BAB VII KESELAMATAN KERJA Kegiatan Belajar 1 ..................................................................................................................... 159 Kegiatan Belajar 2 ..................................................................................................................... 164 Kegiatan Belajar 3 ..................................................................................................................... 177 Uji Kompetensi VII .................................................................................................................... 189 BAB VIII KESEHATAN KERJA Kegiatan Belajar 1 ..................................................................................................................... 191 Kegiatan Belajar 2 ..................................................................................................................... 195 Kegiatan Belajar 3 ..................................................................................................................... 208 Uji Kompetensi VIII ................................................................................................................... 213 EVALUASI DAFTAR PUSTAKA KUNCI JAWABAN GLOSARIUM

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

iii

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Hygiene dalam pengolahan makanan.................................................................... 14 Gambar 2. Contoh lingkungan dapur yang memenuhi persyaratan hygiene .............. 16 Gambar 3. Contoh penyimpanan basah...................................................................................... 19 Gambar 4. Penyimpanan makanan matang .............................................................................. 19 Gambar 5. Struktur dasar sel bakteri .......................................................................................... 38 Gambar 6. Struktur jamur ................................................................................................................ 41 Gambar 7. Struktur ragi .................................................................................................................... 42 Gambar 8. Kerusakan daging dan telur karena bakteri ....................................................... 62 Gambar 9. Kerusakan makanan pada roti karena jamur ................................................... 62 Gambar 10. Deterjen ........................................................................................................................ 106 Gambar 11. Yodosfor........................................................................................................................ 103 Gambar 12. QAC ................................................................................................................................. 103 Gambar 13. Desinfektan.................................................................................................................. 110 Gambar 14. Three Zone Diswashing Machine ....................................................................... 136 Gambar 15. Single Tank Diswashing Machine ....................................................................... 137 Gambar 16. Perlengkapan Membersihkan Peralatan ......................................................... 142 Gambar 17. Penanganan Luka Terpotong ............................................................................... 170 Gambar 18. Standar pakaian kerja di dapur........................................................................... 178 Gambar 19. Cempal ........................................................................................................................... 179 Gambar 20. Alat pemadam genggam ......................................................................................... 179 Gambar 21. Water Fire Extingusher ........................................................................................... 180 Gambar 22. Gases Fire Extingusher............................................................................................. 180 Gambar 23. Halon Extingusher ..................................................................................................... 181 Gambar 24. Powder Extingusher.................................................................................................. 181 Gambar 25. Foam Extingusher...................................................................................................... 182 Gambar 26. Alat pemadam beroda............................................................................................. 183 Gambar 27 Selimut pemadam ...................................................................................................... 183 Gambar 28. Kotak PPPK .................................................................................................................. 184

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

iv

Gambar 29. Simbol atau tanda keamanan............................................................................... 186 Gambar 30.Penyesuaian tempat kerja denganukuran tubuh pria ................................ 205 Gambar 31. Penyesuaian tempat kerja dengan ukuran tubuh wamita....................... 206

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

v

DAFTAR TABEL Tabel 1. Larangan dan anjuran bagi prnjamah makanan ................................................... 14 Tabel 2. Bakteri yang dimanfaatkan dalam bahan makanan ............................................ 30 Tabel 3. Bakteri yang merugikan kesehatan manusia ......................................................... 31 Tabel 4. Macam-macam miktosin ................................................................................................. 34 Tabel 5. Resiko hygiene berupa penyakit .................................................................................. 52 Tabel 6. Bakteri penyebab keracunan ........................................................................................ 80 Tabel 7. Makanan pembewa virus, protozoa dan parasit ................................................... 82 Tabel 8. Contoh desinfektan berdasarkan jenis kotoran .................................................. 111 Tabel 9. Jumlah toilet untuk pengunjung pria dan wanita ............................................... 199 Tabel 10. Jumlah toilet untuk tenaga kerja ............................................................................. 199 Tabel 11. Jumlah tempat cuci tangan ........................................................................................ 200

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

vi

PRASYARAT Prasyarat yang harus dimiliki oleh peserta didik sebelum mempelajari modul ini adalah sudah memiliki pengetahuan tentang hidup sehat dan pentingnya makanan yang aman dan sehat.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

vii

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL BAGI SISWA 1. Keberhasilan belajar dengan modul tergantung dari kedisiplinan dan ketekunan dalam memahami dan mematuhi langkah-langkah belajarnya. 2. Belajar dengan modul ini dilakukan secara mandiri dan kelompok dalam jam pelajaran ataupun di luar jam pelajaran. 3. Dalam modul ini tidak semua materi dijelaskan secara rinci dan bukan merupakan satu-satunya sumber belajar sehingga siswa boleh mencari sumber-sumber lain untuk lebih memahami materi pelajaran. 4. Langkah-langkah berikut perlu diketahui dan diikuti untuk belajar dengan modul ini, yaitu: 

Baca dan pahami tujuan pembelajaran dan uraian materi yang terdapat dalam modul ini.

Bila dalam mempelajari modul ini mengalami kesulitan, diskusikan dengan teman-teman yang lain, dan apabila belum terpecahkan bisa ditanyakan kepada guru.

Kerjakan juga tugas, soal latihan dan kegiatan yang ada pada kegiatan belajar untuk lebih memahami materi yang disampaikan.

Setelah merasa memahami materi yang terdapat dalam modul, kerjakan secara mandiri tes dalam setiap kegiatan belajar guna evaluasi keberhasilan belajar kalian.

Periksalah hasil latihan dan tes kalian dengan kunci jawaban yang ditampilkan dalam modul ini. Perhatikan umpan balik di setiap akhir kegiatan dalam modul ini. Apabila tes formatif mencapai 80% maka kalian dapat melanjutkan kegiatan belajar selanjutnya, apabila belum mencapai 80% kalian bisa mempelajari kembali materi yang ada.

Demi keberhasilan belajar kalian, maka dalam mempelajari modul ini, urutan kegiatan harus diikuti dengan benar. Setiap satu bab dalam modul ini digunakan untuk 1 Kompetensi Dasar (KD) dan setiap Kegiatan Belajar digunakan untuk pembelajaran dalam 1 kali tatap muka Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

viii

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL BAGI GURU ATAU FASILITATOR 1. Membantu peserta didik dalam merencanakan proses belajar 2. Membantu menjelaskan kepada peserta didik melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahapan belajar 3. Membantu peserta didik dalam memahami materi pembelajaran 4. Menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai materi pembelajaran 5. Mengorganisasi kegiatan belajar kelompok 6. Melaksanakan penilaian 7. Menjelaskan

bagian-bagian

yang

perlu

dibenahi

dan

merencanakan

pembelajaran selanjutnya 8. Mencatat pencapaian kemajuan peserta didik

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

ix

KOMPETENSI Modul pembelajaran ini merupakan modul yang disusun sebagai sumber belajar dan bahan ajar bagi peserta didik dan guru SMK Jurusan Jasa Boga. Modul pembelajaran ini digunakan untuk : Kelas

: X (Sepuluh)

Semester

: I (Satu) dan II (Dua)

Mata Pelajaran

: Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

Kompetensi Inti

:

K1

: Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

KI 2

: Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia

KI 3

: Memahami dan menerapkan pengetahuan factual, konseptual, dan procedural dalam pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora

dengan

wawasan

kemanusiaan,

kebangsaan,

kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab phenomena dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk memecahkan masalah KI 4

: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya

di

sekolah

secara

mandiri,

dan

mampu

melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

x

Kompetensi Dasar

:

1.1 Mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2.1 Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam menemukan

dan

memahami

berbagai

aspek

terkait

dengan

pemahaman sanitasi, hygiene dan keselamatan kerja 2.2 Menunjukkan perilaku amaliah (jujur , disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan pekerjaan 2.3 Menunjukan perilaku cinta damai dan toleransi dalam membangun kerjasama dan tanggungjawab dalam implementasi kesehatan dan keselamatan kerja. 3.1 Mendeskripsikan peranan, ruang lingkup dan persyaratan hygiene bidang makanan 3.2 Mendeskripsikan

jenis-jenis,

struktur

dan

perkembangbiakan

mikroorganisme 3.3 Menjelaskan resiko hygiene (keracunan dan kerusakan makanan) di tempat kerja 3.4 Mendeskripsikan mikroorganisme penyebab keracunan makanan 3.5 Menjelaskan bahan pembersih dan bahan saniter 3.6 Menjelaskan cara membersihkan peralatan dan ruang 3.7 Menjelaskan keselamatan kerja meliputi kecelakaan kerja, api dan kebakaran dan alat pelindung kerja 3.8 Mendeskripsikan kesehatan kerja meliputi persyaratan ruang kerja dan penyakit akibat kerja 4.1 Menerapkan hygiene perorangan (personal hygiene) 4.2 Mengidentifikasi

struktur

mikroorganisme

melalui

pengamatan

berdasarkan jenisnya 4.3 Mengidentifikasi kerusakan makanan 4.4 Menemukan faktor penyebab keracunan makanan Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

xi

4.5 Membedakan daya kerja bahan pembersih berdasarkan konsentrasi larutan 4.6 Membersihkan peralatan dan ruang kerja 4.7 Mengoperasikan peralatan keselamatan kerja 4.8 Menilai kesehatan area kerja

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

xii

PETA KEDUDUKAN MODUL

SANITASI HYGIENE & KESELAMATAN KERJA

Hygiene Bidang Makanan

Mikroorganisme

Resiko Hygiene

Mikroorganisme Penyebab Keracunan Makanan

Bahan Pembersih dan Bahan Saniter

Cara Membersihkan Peralatan dan Ruang

Keselamatan Kerja

Kesehatan Kerja

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

xiii

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

BAB I

Peranan, Ruang Lingkup dan Persyaratan Hygiene Bidang Makanan

INDIKATOR : 1. Mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam menemukan dan memahami berbagai aspek terkait dengan pemahaman sanitasi, hygiene dan keselamatan kerja 3. Menunjukkan perilaku amaliah (jujur , disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan pekerjaan 4. Menunjukan perilaku cinta damai dan toleransi dalam membangun kerjasama dan tanggungjawab dalam implementasi kesehatan dan keselamatan kerja. 5. Mendeskripsikan peranan hygiene bidang makanan 6. Menjelaskan ruang lingkup hygiene bidang makanan 7. Menjelaskan persyaratan hygiene bidang makanan 8. Menerapkan hygiene perorangan (personal hygiene)

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

Kegiatan Belajar 1 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Mendeskripsikan pengertian hygiene 4. Mendeskripsikan peranan hygiene bidang makanan

B. MATERI Sudah sering kita mendengar istilah hygiene. Apabila kita mendengar kata tersebut, yang terlintas adalah sesuatu tentang kebersihan. Dalam mengolah suatu makanan, kebersihan sangat dibutuhkan untuk kesehatan konsumen. “Bersih pangkal sehat”, slogan yang sudah tidak asing bagi kita. Lalu apa arti hygiene sebenarnya, dan bagaimana peranan hygiene dalam bidang makanan? Pengertian Hygiene Kata “hygiene” berasal dari bahasa Yunani yang artinya ilmu untuk membentuk dan menjaga kesehatan. Dalam sejarah Yunani, Hygiene berasal dari nama seorang Dewi yaitu Hygea (Dewi pencegah penyakit). Dalam buku The The Theory of Catering disebutkan tentang hygiene sebagai berikut. Hygiene is the study of health and the

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

1

prevention of the dease yang artinya hygiene adalah ilmu tentang kesehatan dan pencegahan suatu penyakit. Istilah yang saling berdekatan artinya, yaitu hygiene dan sanitasi. Hygiene lebih menitikberatkan pada segi kesehatan, tidak menimbulkan penyakit. Dengan kata lain bebas dari kuman penyakit. Adapun sanitasi lebih menitikberatkan pada kebersihan, dengan pengertian tidak terdapat kotoran. Jadi, barang yang tampaknya bersih, belum tentu bebas dari kuman penyakit dan aman bagi kesehatan. Sanitasi juga diartikan sebagai kesehatan lingkungan. Karena hygiene dan sanitasi saling berhubungan, maka harus dilaksanakan bersamaan. Jadi pengertian hygiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu dan lingkungannya, antara lain kegiatan mencuci tangan, mencuci piring, membuang bagian makanan yang rusak, dan lain-lain. Peranan Hygiene Dalam Bidang Makanan Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar atau primer bagi manusia. Tujuan mengkonsumsi makanan bukan lagi sekedar mengatasi rasa lapar, tetapi semakin kompleks. Konsumen semakin sadar bahwa pangan merupakan sumber utama pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi, seperti protein, karbohidrat, vitamin dan mineral untuk menjaga kesehatan tubuh. Masalah kualitas dalam makanan adalah penting. Kualitas dapat diupayakan dengan memperbaiki aroma, tekstur, suasana dan penampilan. Hal yang tidak kalah penting adalah tentang sanitasi dan hygiene yang merupakan suatu sistem yang harus dilakukan oleh semua penyelenggara makanan. Hygiene mempunyai peranan dalam tahap- tahap pengolahan makanan, antara lain : a. Perencanaan menu b. Pembelian bahan c. Penerimaan barang d. Penyimpanan e. Pengeluaran barang, f.

Persiapan pengolahan

g. Pengolahan h. Kegiatan menjaga makanan sebelum disajikan Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

2

i.

Kegiatan penyajian

j.

Kegiatan pencucian dan perawatan peralatan dan ruang

C. RANGKUMAN

 Hygiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu dan lingkungannya  Hygiene mempunyai peranan penting dalam bidang makanan yakni untuk mencapai kesehatan tubuh. Hygiene berperan dalam proses pengolahan makanan mulai dari perencanaan menu, pembelian bahan, penerimaan barang, penyimpanan, pengeluaran barang, persiapan pengolahan, pengolahan, kegiatan menjaga makanan sebelum disajikan, kegiatan penyajian, sampai pada kegiatan pencucian dan perawatan peralatan dan ruang.

D. TUGAS

Identifikasikan kegiatanmu sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, selama 3 hari. Manakah yang termasuk kegiatan sanitasi hygiene serta frekuensi atau berapa kali hal tersebut Anda lakukan? Tuliskan hasil identifikasi sesuai dengan format berikut : No Hari/Tanggal

Kegiatan sanitasi hygiene

Frekuensi

1

Mandi Menyau halaman…

2 x sehari 1 x sehari

Senin/19 Agt ‘13

Dst… Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

3

E. TES Jawablah soal uraian di bawah ini : 1. Apakah yang dimaksud dengan hygiene? 2. Sebutkan perbedaan sanitasi dan hygiene ! 3. Sebutkan 7 contoh kegiatan hygiene dalam proses pengolahan makanan atau proses memasak !

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

4

Kegiatan Belajar 2 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan, gotong royong dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Mendeskripsikan ruang lingkup hygiene bidang makanan

B. MATERI Kita tahu bahwa hygiene akan sangat mempengaruhi kualitas makanan, menentukan apakah makanan itu aman atau tidak untuk dikonsumsi. Dalam menjaga hygiene suatu makanan, maka akan melibatkan beberapa hal. Untuk menghasilkan makanan yang aman dikonsumsi (hygiene) tidak hanya diperlukan bahan makanan yang hygiene dan berkualitas, namun dalam proses pengolahan hygiene harus dijaga. Mulai dari sisi bahan, alat, orang yang mengolah makanan dan lain-lain. Hygiene dalam bidang makanan mempunyai cakupan atau lingkup yang mendukung terciptanya hygiene dalam bidang makanan. Apa sajakah lingkup hygiene di bidang makanan?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

5

Ruang Lingkup Hygiene di Bidang Makanan Ruang lingkup hygiene bidang makanan terdiri dari : 1. Personal hygiene Personal hygiene disebut juga hygiene perorangan adalah upaya pribadi (personal) untuk menjaga kesehatannya dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan dan kerapian serta kesehatan dirinya. Sikap bersih perilaku petugas penyelenggara makanan agar makanan yang ditangani tidak tercemar oleh petugas penyelenggara makanan. Tujuan personal hygiene adalah menghindari tercemarnya makanan yang ditimbulkan oleh penyelenggara makanan serta untuk menjaga kesehatan jasmani dan produktivitas kerja personal hygiene. Personal hygiene mencakup :  Kebersihan tubuh (rambut, tangan, kuku, gigi, mulut, kaki, hidung, telinga, mata, kumis, jenggot),  Kebersihan pakaian, dan  Kesehatan jasmani 2. Hygiene di tempat kerja Hygiene di tempat kerja (dapur) adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan di tempat kerja, misal dengan lingkungan dapur yang bersih, peralatan yang mudah dibersihkan dan tidak berkarat, adanya tempat sampah yang memadai, dan lain-lain. Hygiene ditempat kerja juga dikenal sebagai hygiene lingkungan kerja artinya usaha yang dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit yang disebabkan lingkungan kerja (dapur). Tujuan hygiene di tempat kerja adalah untuk menghindari terjadinya kecelakaan kerja yang fatal, kerusakan dan keracunan makanan yang timbul akibat tidak bersihnya lingkungan kerja.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

6

Hygiene di tempat kerja meliputi :  Area dapur (ventilasi, lantai, dinding, cerobong asap, penerangan, lokasi, dan lain-lain),  Peralatan dapur (peralatan masak),  Perabot kerja di dapur (meja, rak, tempat penyimpanan bahan, tempat sampah, dan lain-lain),  Fasilitas-fasilitas di dapur (toilet, tempat cuci tangan, tempat cuci peralatan). 3. Hygiene makanan Hygiene makanan adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan makanan agar makanan memiliki rasa yang enak, aroma yang sedap, penyajian yang indah, dan juga makanan yang bersih dan aman dimakan. Hygiene makanan juga diartikan sebagai salah satu usaha pencegahan yang menitik beratkan pada kegiatan dan tindakan yang perlu diambil untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat mengganggu atau merusak kesehatan mulai dari sebelum makanan diproduksi, selama dalam proses pengolahan, penyiapan, pengangkutan, pemasaran sampai pada saat dikonsumsi. Tujuan hygiene makanan adalah untuk menurunkan kemungkinan adanya resiko penularan penyakit atau gangguan kesehatan yang dapat disebabkan atau ditularkan melalui makanan. Hal hal yang mencakup hygiene makanan adalah :  Kebersihan peralatan makan,  Kebersihan penyimpanan bahan makanan,  Kebersihan penyimpanan makanan matang,  Kebersihan proses pemindahan makanan,  Kebersihan proses penyajian makanan.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

7

C. RANGKUMAN

 Ruang lingkup hygiene di bidang makanan ada 3, yaitu : personal hygiene, hygiene di tempat kerja, hygiene makanan

 Personal hygiene ialah sikap bersih perilaku petugas penyelenggara makanan agar makanan yang ditangani tidak tercemar oleh petugas penyelenggara makanan  Hygiene di tempat kerja ialah usaha yang dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit yang disebabkan lingkungan kerja (dapur)  Hygiene makanan ialah salah satu usaha pencegahan yang menitik beratkan pada kegiatan dan tindakan yang perlu diambil untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat

mengganggu atau merusak kesehatan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

8

D. TUGAS 1. Buatlah kelompok dengan anggota masing-masing 4 orang 2. Secara berkelompok, berdasarkan hasil pekerjaan tugas sebelumnya tentang mengidentifikasi kegiatan sehari-hari yang termasuk kegiatan sanitasi hygiene, identifikasikan kembali kegiatan-kegiatan tersebut dan kelompokkan sesuai ruang lingkup hygiene 3. Catatlah hasil diskusi sesuai format berikut : No Kegiatan

Ruang Lingkup Hygiene

1

Mandi

Personal hygiene

2

Menyapu halaman

Hygiene Lingkungan

Dst… 4. Komunikasikan hasil diskusi di depan kelas

E. TES Jawablah soal uraian di bawah ini : 1. Sebutkan dan jelaskan ruang lingkup hygiene ! 2. Sebutkan 5 contoh personal hygiene yang biasa kalian lakukan sehari-hari ! 3. Sebutkan contoh hygiene lingkungan dan hygiene makanan ! masing-masing 5 contoh 4. Apakah tujuan dari : a. Personal hygiene b. Hygiene lingkungan c. Hygiene makanan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

9

Kegiatan Belajar 3 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan, santun, gotong royong dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Mendeskripsikan persyaratan hygiene bidang makanan 4. Menerapkan hygiene perorangan (personal hygiene)

B. MATERI Hygiene di bidang boga akan tercapai apabila semua lingkup hygiene (personal hygiene, hygiene di tempat kerja dan hygiene makanan) terpenuhi. Apabila ada salah satu dari lingkup hygiene tidak terpenuhi maka tidak ada jaminan bahwa makanan yang dihasilkan aman dan layak untuk dikonsumsi. Agar hygiene di bidang makanan terpenuhi maka persyaratan tentang lingkup hygiene harus terpenuhi pula. Apa saja persyaratan-persyaratan tersebut ?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

10

Persyaratan Hygiene di Bidang Makanan 1. Persyaratan Bagi Personal hygiene Persyaratan bagi personal hygiene meliputi : a. Kebersihan tubuh  Kulit Kulit merupakan salah satu bagian penting dari tubuh yang dapat melindungi tubuh dari berbagai kuman atau trauma. Perawatan kulit dapat dilakukan dengan mandi minimal dua kali sehari yang bermanfaat untuk menghilangkan atau membersihkan bau badan, keringat dan sel yang mati, merangsang sirkulasi darah, serta membuat rasa nyaman.  Kuku Tangan dan Kaki Menjaga kebersihan kuku merupakan salah satu aspek penting dalam mempertahankan perawatan diri karena kuman dapat masuk ke dalam tubuh melalui kuku. Perawatan memotong kuku jari tangan dan jari kaki dapat mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam kuku yang panjang.  Rambut Rambut merupakan bagian dari tubuh yang memiliki fungsi sebagai proteksi serta pengatur suhu. Melalui rambut perubahan status kesehatan diri dapat diidentifikasi. Rambut barmanfaat mencegah infeksi daerah kepala. Untuk menjaga supaya rambut bersih dan tidak berketombe dianjurkan minimal dua hari sekali keramas (cuci rambut) dengan samphoo.  Gigi dan Mulut Gigi dan mulut harus dipertahankan kebersihannya sebab melalui organ ini kuman dapat masuk. Menyikat gigi bertujuan untuk menghilangkan plak yang dapat menyebabkan gigi berlubang dan menyebabkan sakit gigi. Sebagaimana kita ketahui gigi berfungsi disamping untuk keindahan juga untuk mengunyah makanan. Oleh karena itu, makanan yang tidak dibersihkan dan menempel di gigi dapat menjadi sarang penyakit. Dianjurkan untuk menyikat gigi minimal dua kali dalam sehari.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

11

 Jenggot dan kumis Pekerja yang memiliki kumis dan jenggot selalu menjaga kebersihan dan kerapiannya. Akan lebih baik jika kumis atau jenggot tersebut dicukur bersih.  Menjaga kebersihan dan kesehatan mata, hidung, telinga, dan organ lainnya. b. Kebersihan pakaian Pakaian seragam dapur yang dipergunakan di dapur hotel maupun restoran. Pakaian dapur yang lengkap terdiri dari : a. Topi (hat) Topi dibuat untuk menjaga agar rambut yang rontok tidak jatuh ke makanan yang sedang diolah dan juga untuk menghisap keringat yang timbul di kepala. b. Kacu (necktie) Kacu dililitkan di leher untuk menghisap keringat yang ditimbul di bagian leher sehingga tidak jatuh ke dalam makanan c. Baju kemeja dengan dada berlapis dua (double breasted) Kemeja (baju panjang) berguna untuk melindungi lengan dari percikan barang panas selama bekerja di dapur. Bagian dada dibuat berlapis dengan tujuan untuk melindungi dada dari pengaruh panas dan dingin. d. Celemek (apron) Celemek dipergunakan hingga ke lutut disamping untuk melindungi bagian kaki dan bada bagian bawah dari percikan barang panas juga untuk menjaga agar celana atau pakaian bawah tidak cepat kotor. e. Celana panjang Bertujuan untuk melindungi kaki dan badan bagian bawah lainnya dari pengaruh panas. f.

Sepatu bertumit rendah Sepatu untuk dapur dibuat dari bahan kulit dan tidak boleh bertumit tinggi. Sepatu berguna untuk melindungi kaki dari panas dan barang tajam, alas dari kulit atau karet untuk melindungi terpeleset atau terjatuh. Tumit tinggi mempercepat kelelahan selama bekerja. Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

12

Gambar 1. Pakaian Kerja di dapur Pakaian dapur dibuat dengan warna putih dengan tujuan : 

Agar setiap kotoran yang melekat pada pakaian tersebut segera diganti atau dicuci

Dengan memakai pakaian putih menyebabkan orang bekerja lebih berhatihati dan menjaga kebersihan diri serta lingkungan

Beberapa persyaratan perlu diperhatikan dalam merancang dan memilih bahan untuk pakaian dapur seperti : 

Bahan yang kuat (strong)

Bersifat melindungi (protective)

Mudah dicuci (washable)

Ringan dan nyaman (light and comfortable)

Warna serasi (putih)

c. Kesegaran jasmani Agar tetap sehat dan dapat berproduksi dengan baik, perlu tidur dan istirahat yang cukup, makan dan minum secara teratur, olah raga teratur, udara lingkungan yang segar, dan menghindari rasa cemas.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

13

Tabel dibawah ini menunjukkan apa yang dilarang dan dianjurkan dalam menjaga kebersihan diri sendiri.

Tabel1. Larangan dan anjuran bagi penjamah makanan DILARANG           

Memegang rambut/bersisir Merokok ditempat pengolahan Mengukur suhu dengan tangan Membiarkan peralatan kotor Membalut luka dengan sembarangan Mencicipi masakan dengan jari Menggunakan banyak perhiasan Membuang sampah sembarangan Membiarkan makanan terbuka Batuk tanpa menutup mulut Kuku jari panjang

DIANJURKAN            

Menggunakan seragam lengkap Mencuci tangan sebelum menangani makanan Merokok diluar bangunan atau ruang khusus Mengukur suhu dengan alat Membersihkan peralatan Membalut luka dengan benar Mencicipi makanan dengan sendok. Menggunakan perhiasan seadanya Membuang sampah pada tempatnya Menyimpan makanan dalam ruang tertutup Batuk dengan menutup mulut Kuku jari pendek

Gambar 2. Hygiene dalam pengolahan makanan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

14

2. Persyaratan Hygiene di tempat kerja Persyaratan hygiene di tempat kerja meliputi : a. Area Dapur  Dapur harus cukup ventilasinya agar asap dapat keluar dengan leluasa. Bersihkan ventilasi ceiling, pintu dan jendela secara teratur, agar selalu dalam keadaan bersih.  Lantai harus selalu dibersihkan dan tidak boleh licin  Dinding bersih dan berwarna cerah  Platfon cukup tinggi, bersih dan dilengkapi dengan cerobong asap  Memiliki saluran air yang cukup, tidak mudah tersumbat dan mudah dibersihkan  Penerangan cukup terang dan mampu menerangi setiap sudut dapur  Pintu dan jendela ditutup dengan kain kassa untuk mencegah masuknya serangga b. Peralatan Dapur  Peralatan harus terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, mudah kering sendiri dan tidak berkarat  Lapisan permukaan alat tidak mudah larut dalam asam/basa atau garam yang basa digunakan dalam makanan  Tidak boleh menggunakam peralatan yang terbuat dari timah hitam, tembaga, antimony, cadmium, seng  Tutup wadah harus menutup sempurna c. Perabot Kerja di Dapur  Tersedia dua jenis tempat sampah, yakni sampah basah dan sampah kering. Sampah harus dibuang setiap hari dan tempatnya dibersihkan  Meja dapur untuk kerja terbuat dari bahan yang licin, tidak mudah rusak, mudah dibersihkan  Pengaturan barang di dapur ditata sedimikian rupa agar mudah dibersihkan dan tidak terkontaminasi

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

15

d. Fasilitas-fasilitas di Dapur Dalam menunjang hygiene dalam bidang makanan, di perlukan fasilitas-fasilitas lain di dapur, misal :  Toilet di lingkungan dapur harus selalu bersih dan tidak mengeluarkan bau  Tempat mencuci tangan :  Letaknya di dekat dapur, di ruang makan, dekat pintu di bagian luar kamar kecil  Air di tempat cuci tangan harus mengalir dari kran dan tersedia serbet serta sabun  Tempat cuci peralatan lainnya :  Tersedia bak untuk mencuci alat-alat yang kotor dengan air dan sabun  Tempat untuk mengeringkan peralatan dan lemari untuk menyimpan peralatan yang sudah bersih.

Gambar 3. Contoh lingkungan dapur yang memenuhi persyaratan hygiene 3. Persyaratan Hygiene makanan Persyaratan hygiene makanan meliputi : a. Kebersihan alat makan Alat makan dibersihkan dengan sabun khusus untuk mencuci alat makan dan air hangat.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

16

b. Kebersihan penyimpanan bahan makanan Penyimpanan bahan makanan merupakan salah satu kegiatan yang memegang peranan penting dalam proses pengadaan makanan. Penyimpanan bahan makanan yang tidak tepat akan mempengaruhi proses pengolahan makanan itu sendiri. Adapun tujuan dari penyimpanan bahan makanan adalah sebagai berikut :  Memelihara dan mempertahankan mutu bahan makanan  Melindungi bahan makanan dari kerusakan, kebusikan atau gangguan lain sehingga lebih awet  Melayani kebutuhan jenis dan jumlah bahan makanan pada waktu yang tepat dan mutu yang terjamin Penyimpanan bahan makanan meliputi :  Penyimpanan kering Penyimpanan kering digunakan untuk menyimpan bahan makanan kering dan tahan lama seperti beras, kacang-kacangan, tepung-tepungan, biji-bijian, dan lain-lain. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyimpanan kering, antara lain: 

Ruang penyimpanan kering, tidak lembab, cukup penerangan, dan tidak terkena sinar matahari langsung

Suhu ruangan penyimpanan berkisar 19°C-21°C

Semua bahan makanan diletakkan diatas rak bertingkat dengan ditata rapi menurut jenis bahan makanan

Bahan makanan yang memiliki bau tajam, diletakkan secara terpsah dari bahan makanan yang mudah menyerap bau.

Metode penyimpanan memperhatikan prinsip FIFO (first in first out) yakni bahan yang pertama kali masuk, maka bahan tersebut yang pertama kali dikeluarkan untuk diolah.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

17

 Penyimpanan basah Penyimpanan basah digunakan untuk menyimpan bahan makanan yangsegar dan mudah rusak. Biasanya berasal darikelompok bahan makanan seperti daging, ikan, ayam, telur, susu, buah, sayur, dan lain-lain. Penyimpanan basah dapat dilakukan di ruang pendingin. Menurut suhunya ruang pendingin dibagi menjadi 3 bagian : 

Deep Freezer, yaitu ruang pendingin dengan temperature sangat randah antara -40°C s/d -50°C, berfungsi untuk menyimpan daging, ungags, ikan, dll dalam jangka waktu lama

Cold Room, yaitu ruang pendingin dengan temperatur rendah antara -17°C s/d -28°C, berfungsi untuk menyimpan daging, ungags, udang, dll dlam jangka waktu yang agak lama

Chill Room, yaitu ruang pendingin dengan temperature antara 0°C s/d 8°C, untuk menyimpan bahan makanan yang cepat rusak seperti buah sayuran, juga untuk menyimpan makanan matang dan disajikan dalam keadaan dingin.

Hal yang harus diperhatikan dalam proses penyimpanan secara basah adalah : 

Suhu penyimpanansesuai dengan jenis bahan makanan

Bila sudahterbentuk bunga es, segera dicairkan

Semua bahan makanan yang disimpan dibersihkan terlebih dahulu dan dibungkus dengan plastic atau alumunium foil

Memisahkan bahan makanan yang berbau tajam

Memisahkan bahan makanan mentah dan matang

Mencairkan bahan makanan yang beku sebelum diolah

Tidak menyimpan bahan makanan ke dalam lemari pendingin lagi bila makanan sudah dicairkan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

18

Gambar 4. Contoh penyimpanan basah c. Kebersihan dalam pengolahan bahan makanan Keberihan dalam tahap pengolahan sangat terkait dengan hygiene personal dan tempat kerja. d. Kebersihan penyimpanan makanan matang  Rak-rak penyimpanan bahan makanan/makanan harus mudah dipindah menggunakan roda penggerak untuk kepentingan proses pembersihan.

Gambar 5. Penyimpanan makanan matang e. Kebersihan proses pemindahan makanan  Alat pengangkut/roda/kereta makanan dan minuman harus tertutup sempurna, dibuat dari bahan kedap air, permukaannya halus dan mudah dibersihkan.  Menggunaan alat pengambil makanan f.

Kebersihan proses penyajian makanan Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

19

C. RANGKUMAN

 Syarat personal hygiene :  Kebersihan tubuh: menjaga kebersihan kulit, kuku, rambut, gigi, mulut, jenggot, kumis, mata, hidung, telinga, dan anggota tubuh lainnya  Kebersihan pakaian : menjaga kebersihan seragam yang meliputi topi (hat), kacu (necktie), baju kemeja, celemek (apron), celana panjang, sepatu bertumit rendah  Kesehatan jasmani : tidur dan istirahat yang cukup, makan dan minum secara teratur, olah raga teratur, udara lingkungan yang segar, dan menghindari rasa cemas  Syarat hygiene di tempat kerja :  Area Dapur : menjaga kebersihan dan standarisasi ventilasi, lantai, dinding, cerobong asap, saluran air, penerangan, pintu dan jendela.  Peralatan Dapur yang aman dan mudah dibersihkan  Perabot Kerja di Dapur : tersedia dua jenis tempat sampah, meja dapur untuk kerja terbuat dari bahan yang licin, tidak mudah rusak, mudah dibersihkan, pengaturan barang di dapur ditata sedimikian rupa

 Fasilitas-fasilitas di Dapur : toilet, tempat mencuci tangan, tempat cuci peralatan memenuhi standar hygiene 

Syarat hygiene makanan : menjaga kebersihan alat makan, penyimpanan bahan makanan (penyimpanan basah dan kering), dalam pengolahan bahan makanan, penyimpanan makanan matang, proses pemindahan makanan, dan proses penyajian makanan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

20

D. TUGAS

1. Secara individu, anda diminta untuk mengamati teman sebangku anda. Apakah sudah memenuhi beberapa persyaratan personal hygiene? Catat hasilnya. 2. Secara bekelompok anda diminta untuk mengamati hygiene dapur di lingkungan sekolah. Diskusikan hasil pengamatan dan buatlah laporannya sesuai format berikut : Laporan Survey Hygiene Lingkungan Hari/ Tanggal

:

Tempat

:

No Hal-hal yang Diamati

Hasi Pengamatan

E. TES

Jawablah soal uraian di bawah ini : 1. Sebutkan dan jelaskan syarat personal hygiene di tempat kerja ! 2. Sebutkan dan jelaskan syarat hygiene di tempat kerja ! 3. Sebutkan dan jelaskan syarat hygiene makanan !

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

21

F. Lembar Kerja Praktik

Praktik Mencuci Tangan dengan Sabun 1. Bahan : a. Air mengalir b. Sabun cuci tangan 2. Alat : a. Handuk kecil b. Kran 3. Prosedur : a. Basahi tangan terlebih dahulu dengan air mengalir b. Berisabun secukupnya c. Gosok kedua telapak tangan dengan punggung tangan d. Gosok sela-sela jari ledua tangan e. Gosok kedua telapak tangan dengan jari-jari rapat f.

Jari-jari tangan dirapatkan, sambil digosokkan ke telapak tangan. Tangan kiri ke kanan dan sebaliknya.

g. Gosok ibu jari secara berputar dalam genggaman tangan kanan. Lakukan tangan sebaliknya h. Gosokkan kuku jari kanan memutar ke telapak tangan kanan. Lakukan sebaliknya i.

Basuh dengan air

j.

Keringankan tangan menggunaan handuk

k. Matikan kran air dengan handuk

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

22

Lakukan seperti gambar dibawah ini :

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

23

Uji Kompetensi I I. Pilihlah jawaban yang paling tepat ! 1. Upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu dan lingkungannya disebut dengan … a. Sanitasi

c. Kesehatan kerja

b. Hygiene

d. Keselamatan kerja

2. Berikut yang bukan merupakan peranan hygiene dalam bidang makanan adalah… a. Mempercantik hidangan b. Menghindari

c. Makanan aman dan sehat untuk makanan

terkontaminasi bakteri

dikonsumsi d. Makanan terhindar dari kotoran dan debu

3. Berikut yang bukan termasuk garis besar ruang lingkup hygiene adalah… a. Personal hygiene

c. Hygiene kendaraan

b. Hygienen makanan

d. Hygiene lingkungan

4. Berikut yang termasuk ruang lingkup personal hygiene adalah… a. Menjaga kebersihan pakaian kerja b. Menyimpan bahan makanan di tempat yang sesuai

c. Menyimpan makanan matang di tempat tertutup dan bersih d. Menjaga kebersihan alat makan

5. Berikut yang termasuk ruang lingkup hygiene lingkungan adalah… a. Mencuci

tangan

sebelum c. Menyimpan makanan matang di

mengolah makanan b. Memakai bersih

pakaian

tempat tertutup dan bersih kerja

yang d. Menjaga

kebersihan

dapur

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

24

peralatan

6. Berikut adah tujuan dari hygiene lingkungan atau hygiene di tempat kerja adalah… a. Menghindari makanan tercemar c. Menghindari bakteri

karena

penjamah

bakteri

makanan tidak mencuci tangan terlebih dahulu b. Menghindari rusak

makanan

yang

akibat

ditularkan

oleh

penjamah makanan d. Menghindari

bahan

tercemar

kerusakan

dan

makanan

keracunan makanan yang timbul

dalam

akibat tidak bersihnya lingkungan

salah

penyimpanan

kerja

7. Usaha pencegahan untuk membebaskan makanan atau minuman dari segala bahaya yang dapat merusak kesehatan disebut dengan… a. Hygiene makanan

c. Personal hygiene

b. Hygiene lingkungan

d. Hygiene Perorangan

8. Yang termasuk ruang lingkup hygiene makanan adalah… a. Mencuci

tangan

sebelum c. Menjaga kebersihan area kerja

mengolah makanan b. Memakai

pakaian

d. Melakukan penyimpanan makanan kerja

yang

dengan bersih dan benar

bersih 9. Berikut yang bukan termasuk pakaian kerja yang harus dikenakan oleh penjamah makanan adalah… a. Apron, kemeja kerja

c. Sepatu bertumit rendah, celana

b. Topi, dasi

panjang d. Sepatu bertumit tinggi, apron

10. Berikut adalah hal yang dilarang dilakukan bagi penjamah makanan pada saat melakukan pengolahan makanan adalah… a. Menggunakan perhiasan seadanya

c. Mengukur suhu dengan tangan d. Membuang sampah pada tempatnya

b. Batuk dengan menutup mulut Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

25

11. Berikut adalah hal yang dianjurkan bagi penjamah makanan pada saat melakukan pengolahan makanan adalah… a. Mengukur suhu dengan tangan b. Mencicipi masakan dengan jari

c. Menyimpan makanan dalam ruang tertutup d. Batuk tanpa menutup mulut

12. Syarat area dapur yang memenuhi hygiene di tempat kerja adalah… a. Dinding berwarna gelap

c. Pintu dan jendela dibiakan terbuka

b. Platfon rendah

d. Ventilasi dan sirkulasi udara cukup

13. Berikut adalah persyaratan peralatan dapur yang memenuhi persyaratan hygiene lingkungan atau hygiene di tempat kerja adalah… a. Peralatan

harus

terbuat

dari

bahan yang mudah dibersihkan b. Lapisan permukaan alat mudah larut dalam asam/basa

c. menggunakam

peralatan

yang

peralatan

yang

terbuat dari seng d. menggunakam

terbuat dari timah hitam

14. Berikut ini adalah prinsip penyimpanan bahan makanan yang benar… a. Menyimpan beras di chill room

c. Menyimpan sayuran di freezer

b. Menyimpan bahan kering di suhu

d. Menyimpan tepung di cold room

ruangan 15. Tempat penyimpanan yang tempat untuk bahan kering seperti beras, tepung, kacang-kacangan adalah… a. Penyimpanan kering

c. Chill room

b. Freezer

d. Cold room

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

26

II. Jawablah soal uaraian di bawah ini ! 1. Apakah yang dimaksud dengan hygiene? 2. Sebutkan ruang lingkup hygiene ! 3. Jelaskan persyaratan personal hygiene, hygiene lingkungan dan hygiene makanan !

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

27

BAB 2

Jenis, Struktur dan Perkembangbiakan Mikroorganisme

INDIKATOR : 1. Mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam menemukan dan memahami berbagai aspek terkait dengan pemahaman sanitasi, hygiene dan keselamatan kerja 3. Menunjukkan perilaku amaliah (jujur , disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan pekerjaan 4. Menunjukan perilaku cinta damai dan toleransi dalam membangun kerjasama dan tanggungjawab dalam implementasi kesehatan dan keselamatan kerja. 5. Menjelaskan jenis, struktur, dan perkembangbiakan mikroorganisme 6. Mengidentifikasi struktur mikroorganisme melalui pengamatan berdasarkan jenisnya

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

Kegiatan Belajar 1 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Mendeskripsikan pengertian mikroorganisme 4. Mendeskripsikan jenis mikroorganisme

B. MATERI Kalau mendengar kata bakteri, langsung terbayang di kepala kita makhluk kecil penyebab penyakit. la menyerang tubuh kita dan menggerogoti kesehatan dengan dayanya yang cenderung negatif. Bakteri ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan

di

bidang

makanan,

dan

kesehatan

manusia. Apa

sebenarnya

mikroorganisme itu sendiri? Apa saja jenisnya? Pengertian Mikroorganisme Mikroorganisme merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil . Setiap sel tunggal mikroorganisme memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas kehidupan antara lain dapat dapat mengalami pertumbuhan, menghasilkan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

29

energi dan bereproduksi dengan sendirinya. Mikroorganisme ini juga tidak memerlukan tempat yang besar, mudah ditumbuhkan dalam media buatan, dan tingkat pembiakannya relatif cepat. Oleh karena aktivitasnya tersebut, maka setiap mikroorganisme memiliki peranan dalam kehidupan, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan.

Jenis Mikroorganisme Jenis mikroorganisme dibagi menjadi : 1. Bakteri Bakteri

biasanya

menyebabkan

penyakit

pada

manusia.

Dalam

perkembangannya bakteri membutuhkan makanan, udara yang lembab, dan pada temperatur

yang

tepat.

Dalam

kehidupan

manusia

bakteri

ada

yang

menguntungkan namun ada pula yang merugikan. Berikut ini beberapa contoh bakteri yang bersifat menguntungkan dan merugikan. Bakteri bermanfaat dalam produksi bahan makanan, antara lain : Tabel 2. Bakteri yang Dimanfaatkan dalam Bahan Makanan Nama

Bahan Baku

Produk/Makanan

Jenis Bakteri yang Berperan

Yakult

Susu

Lactobacillus casei

Yoghurt

Susu

Lactobacillus bulgaricus

Nata de coco

Sari air kelapa

Acetobacter xylinum

Mentega

Susu

Streptococcuslactis

Asam cuka

Alkohol

Acetobacter

Terasi

Ikan

Loctobacillus sp.

Asinan buah-buahan

Buah-buahan

Loctobacillus sp.

Asam butirat

-

Clostridium bitricum

Asam propionat

-

Propioni bactericum

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

30

Sedangkan bakteri yang bersifat merugikan bagi manusia, antara lain : Tabel 3. Bakteri yang merugikan bagi kesehatan manusia Nama Bakteri

Penyakit

Tempat Infeksi

Clostridium tetani

Tetanus

Otot

Diplococcus pneumonia

Pneumonia (paru)

Paru

Klebsiella pneumoniae

Paru-paru

Mycobacterium tuberculosis

TBC

Paru

Mycobacterium leprae

Lepra

Kulit

Salmonella typhosa

Tipus

Usus halus

Shigella dysentriae

Disentri

Kelenjar darah

Staphylococcus aereus Vibrio comma

Pencernaan Kolera

Usus halus

Bakteri juga dapat merusak bahan makanan, seperti :  Acetobacter, mengubah etanol (alkohol) menjadi asam cuka sehingga merugikan perusahaan anggur.  Pseudomonas cocovenenans, menghasilkan racun asam bongkrek pada tempe bongkrek.  Clostridium botulinum, menghasilkan racun botulinum pada makanan kaleng yang sudah rusak.  Leuconostoc mesentroides, menyebabkan makanan berlendir.  Streptomyces venezuelae, menghasilkan antibiotik kloromisetin.  Bacillus brevis, menghasilkan antibiotik tiromisin.  Pseudomonas denitrificans dan Propioni bacterium, menghasilkan vitamin B12.  Flavobacterium Achromobacter, membusukkan telur  Lactobacillus, membusukkan sayuran, buah dan umbi-umbian  Staphylococcus dan Achromobacter, membusukkan daging dan ikan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

31

2. Virus Organisme hidup yang paling kecil adalah virus. Ada beberapa virus yang tidak bisa dilihat, walaupun sudah menggunakan mikroskop. Biasanya virus ini menyebar lewat media air dan makanan. Sebagai contoh :  Virus hepatitis Virus hepatitis adalah virus yang menyerang hati atau lever. Virus hepatitis A dan E menyebar lewat air dan makanan mudah berkembang di lingkungan yang tidak bersih atau memiliki sanitasi yang buruk.  Virus Polio Polio disebabkan oleh virus yang termasuk genus enterovirus, famili Picornavirus yang menyebabkan penderitanya lumpuh layu. Virus ini tahan terhadap pengaruh fisik dan bahan kimia. Virus ini juga dapat hidup dalam tinja penderita selama 90-100 hari. Virus ini dapat bertahan lama pada air limbah dan air permukaan, bahkan dapat sampai berkilo-kilometer dari sumber penularan. Virus ini biasa menyebar lewat makanan atau susu.  Penyakit campak Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh virus paramiksovirus. Penyakit ini menular dari ludah si penderita. Masa inkubasi penyakit ini adalah 10-14 hari. Penyakit ini gejalanya adalah panas, hidung berlendir, batuk, tenggorokan sakit, nyeri pada otot dan mata menjadi merah. Pada puncaknya penderita akan merasakan sakit, ruam di seluruh tubuh dan suhu badan yang tinggi. Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian vaksin campak ketika masih bayi.  Virus Influenza Virus influenza adalah virus yang mengakibatkan flu, virus ini sangat mudah menular dan ditularkan melalui udara dengan batuk atau bersin. Virus influenza juga bisa menular melalui tangan yang bersentuhan dengan orang yang terkena influenza. Virus bisa masuk kedalam tubuh dengan sentuhan tangan ke mata dan mulut, oleh karena itu mencuci tangan sangat penting sebelum mengkonsumsi makanan. Sedangkan virus yang menguntungkan lebih banyak dimanfaatkan pada bidang rekayasa genetika. Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

32

3. Parasit Parasit adalah hewan renik yang dapat menurunkan produktivitas hewan yang ditumpanginya. Parasit dapat menyerang manusia dan hewan, seperti menyerang kulit manusia. Parasit akan menggunakan jaringan organisme lainnya untuk kebutuhan nutrisi mereka. Sebagai contoh Endamoeba histolytica adalah parasit yang hidup di air, minyak, buah atau sayuran dan makanan yang lain. Contoh lain parasit adalah cacing kremi, cacing pita, cacing tambang, cacing cambuk, cacing gelang yang biasa menyerang anak –anak. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit melalui makanan yang tercemar oleh: protozoa (Entamoeba histolytica); toxoplasma gondii penyebab toxoplasmosis; trematoda, cacing pada daging sapi dan kambing; cesroda atau cacing pita pada daging babi dan sapi; nematoda, cacing penyebab trichinosis akibat infeksi daging mentah. Pada umumnya parasit tumbuh disebabkan karena rendahnya sanitasi. Akan merugikan manusia apabila parasit masuk ketubuh manusia dan mengambil nutrisi. 4. Jamur Jamur disebut juga dengan fungi. Jamur pada umumnya adalah jasad yang berbentuk benang, multiseluler, tidak berkhlorofil. Peranan jamur dalam alam sangat besar, ada yang merugikan, berbahaya dan ada yang menguntungkan. Jamur yang menguntungkan misalnya volvariella volvacea (jamur merang) yang

berguna

sebagai

bahan

Rhizopus dan Mucor berguna

dalam

pangan

berprotein

industri

bahan

tinggi.

makanan,

Ada yaitu

juga dalam

pembuatan tempe dan oncom. Biasanya jamur tidak menyebabkan penyakit, tetapi menyebabkan kerusakan pada makanan. Namun, apabila bahan makanan yang sudah tercemar jamur yang merugikan dan dikonsumsi oleh tubuh manusia pada akhirnya akan membahayakan kesehatan manusia tersebut. Sebagai contoh, jamur yang ditemukan pada permukaan daging, bisa dibuang bagian daging tersebut tanpa harus membuang semua daging. Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

33

Beberapa jenis jamur yang mengkontaminasi makanan dapat memproduksi racun disebut dengan mikotoksin. Mikotoksin juga ditemukan dalam susu, daging, dan produk olahannya serta kacang-kacangan dan serealia. Mikotoksin tidak terpengaruh oleh perlakuan pasteurisasi dan tetap dapat ditemukan dalam produk seperti yogurt, keju, dan krim. Beberapa jenis mikotoksin beserta karakteristiknya disajikan pada tabel berikut : Tabel 4. Macam-macam mikotoksin JENIS MIKOTOKSIN

SUMBER PANGAN

SPESIES UMUM YANG MEMPRODUKSI

Aflatoksin

Jagung, kacang tanah, kurma, susu dan produknya

Aspergillus flavus Aspergillus parasiticus

Patulin

Penicillium expansum

Cycloplazonicacid

Jus apel, buah pomme yg rusak Keju, jagung, kc. tanah,

Deoksinivalenol

Sereal

Toksin T-2 Ergotamin Fumonisin Okratoksin

Sereal Rye (sejenis gandum) Jagung Jagung, sereal,biji kopi

Panitrem A Sterigmatocystin Tenuazonic acid Zearalenon

Kenari Sereal, biji kopi,keju Pasta tomat Jagung, gandum

Aspergillus flavusPenicillium Aurantiogriseum Fusarium graminerumFusarium culmorum Fusariumsporotrichiodes Claviceps purpurea Fusarium moniliforme Penicillium verrucosumAspergillus achraceus Penicilliumaurantigriseum Aspergillus versicolor Alternaria tenuis Fusarium graminerum

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

34

5. Ragi Ragi atau sering disebut yeast atau khamir dapat menimbukan keuntungan sekaligus dapat menyebabkan kerusakan pada makanan. Ragi biasanya bereaksi jika ada karbondioksida. Beberapa khamir dapat tumbuh pada susu kental manis yaitu atau roti bahkan ada yang dapat tumbuh pada sirup. Bebarapa jenis ragi penyebab kerusakan antara lain Torulla, Rhodotorulla dan Hansenulla yang dapat mengakibatkan perubahan warna. Ragi juga ada yang menguntungkan, biasanya digunakan dalam pembuatan minuman alcohol dan pembuatan roti.

C. RANGKUMAN

 Mikroorganisme merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil, mengalami pertumbuhan, menghasilkan energi dan

bereproduksi.

Mikroorganisme

ada

yang

merugikan

dan

yang

menguntungkan.  Jenis mikroorganisme ada 5, yakni : bakteri, virus, parasit, jamur, ragi.

D. TUGAS 1. Diskusikan bersama kelompokmu tentang contoh lain keuntungan dan kerugian mikroorganisme di bidang pangan 2. Presentasikan hasil diskusi di depan kelas 3. Kelompok lain menanggapi dan memberikan pertanyaan kepada kelompok yang sedang presentasi di depan kelas 4. Setiap kelompok mencatat hasil diskusi 5. Guru memandu jalannya diskusi 6. Hasil diskusi diserahkan kepada guru mata pelajaran Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

35

E. TES Jawablah soal uraian di bawah ini : 1. Apa yang dimaksud dengan mikroorganisme? 2. Sebutkan dan jelaskan jenis mikroorganisme ! 3. Sebutkan contoh bakteri menguntungkan dan merugikan ! (masing-masing 3 macam) 4. Sebutkan contoh virus dan penyakit yang ditimbulkan ! (3 macam) 5. Sebutkan 3 contoh parasit yang dapat merugikan manusia ! 6. Sebutkan 3 contoh jamur yang ada dalam bahan makanan yang dapat memproduksi racun merugikan bagi manusia ! 7. Sebutkan 3 contoh ragi yang dapat merugikan manusia !

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

36

Kegiatan Belajar 2 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungankerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Mendeskripsikan strutur mikroorganisme 4. Mengidentifikasi perkembangbiakan mikroorganisme

B. MATERI Kita telah mengetahui beragam jenis mikroorganisme, baik yang menguntungkan dan merugikan. Setiap jenis mikroorganisme mempunyai bentuk, struktur, cara tumbuh, dan perkembangbiakan yang berbeda-beda. Seperti apa struktur dan perkembangbiakan mikroorganisme?

Struktur Mikroorganisme 1. Bakteri Struktur bakteri terbagi menjadi dua yaitu: a. Struktur dasar (dimiliki oleh hampir semua jenis bakteri) Meliputi : dinding sel, membran plasma, sitoplasma, ribosom, DNA, dan granula penyimpanan.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

37

 Dinding sel tersusun dari peptidoglikan yaitu gabungan protein dan polisakarida.  Membran plasma adalah membran yang menyelubungi sitoplasma tersusun atas lapisan fosfolipid dan protein.  Sitoplasma adalah cairan sel.  Ribosom adalah organel yang tersebar dalam sitoplasma, tersusun atas protein dan RNA.  Granula penyimpanan, karena bakteri menyimpan cadangan makanan yang dibutuhkan. b. Struktur tambahan (dimiliki oleh jenis bakteri tertentu) Meliputi kapsul, flagelum, pilus, fimbria, klorosom, Vakuola gas dan endospora.

Gambar 6. Struktur dasar sel bakteri  Kapsul atau lapisan lendir adalah lapisan di luar dinding sel pada jenis bakteri tertentu, bila lapisannya tebal disebut kapsul dan bila lapisannya tipis disebut lapisan lendir. Kapsul dan lapisan lendir tersusun atas polisakarida dan air.  Flagelum atau bulu cambuk adalah struktur berbentuk batang atau spiral yang menonjol dari dinding sel.  Pilus dan fimbria adalah struktur berbentuk seperti rambut halus yang menonjol dari dinding sel, tersusun

dari protein dan hanya terdapat pada

bakteri gram negatif. Fimbria adalah struktur sejenis pilus pendek daripada pilus.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

38

tetapi lebih

 Klorosom adalah struktur yang berada tepat dibawah membran plasma dan mengandung pigmen klorofil dan pigmen lainnya untuk proses fotosintesis.  Vakuola gas terdapat pada bakteri yang hidup di air dan berfotosintesis.  Endospora adalah bentuk istirahat (laten) dari beberapa jenis bakteri gram positif dan terbentuk didalam sel bakteri jika kondisi tidak menguntungkan bagi kehidupan bakteri. Dinding endospora yang tebal tersusun atas protein dan menyebabkan endospora tahan terhadap kekeringan, radiasi cahaya, suhu tinggi dan zat kimia. Jika kondisi lingkungan menguntungkan endospora akan tumbuh menjadi sel bakteri baru. Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannnya dengan mahluk hidup lain yaitu :  Organisme multiselluler  Prokariot (tidak memiliki membran inti sel )  Umumnya tidak memiliki klorofil  Memiliki ukuran tubuh yang bervariasi antara 0,12 s/d ratusan mikron umumnya memiliki ukuran rata-rata 1 s/d 5 mikron  Memiliki bentuk tubuh yang beraneka ragam  Hidup bebas atau parasite  Yang hidup di lingkungan ekstrim seperti pada mata air panas,kawah atau gambut dinding selnya tidak mengandung peptidoglikan  Yang hidupnya kosmopolit di berbagai lingkungan dinding selnya mengandung peptidoglikan 2. Virus Kita dapat merasakan kalau tubuh kita sakit karena terserang virus tanpa dapat diketahui bagaimana virus tersebut masuk kedalam tubuh hal ini karena ukuran virus sangat kecil. Virus berukuran lebih kecil dari pada bakteri. Virus bersifat aseluler (tidak mempunyai sel), Hanya memiliki satu macam asam nukleat (RNA dan DNA). Tubuh virus terdiri atas: kepala, kulit (selubang atau kapsid), isi tubuh, dan serabut ekor.  Kepala Kepala virus berisi DNA dan bagian luarnya diselubungi kapsid. Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

39

 Kapsid Kapsid adalah selubang yang berupa protein. Kapsid terdiri atas selubang yang berupa protein.  Isi tubuh Isi tubuh yang sering disebut virion. Adalah bahan genetik yakni asam nukleat (DNA atau RNA), contoh adalah sebagai berikut.  Virus yang isi tubuhnya RNA dan bentuknya menyerupai kubus antara lain, polyomyelitis, virus radang mulut dan kuku, dan virus influenza.  Virus yang isi tubuhnya RNA, protein, lipida, dan polisakarida, contohnya paramixovirus.  Virus yang isi tubuhnya terdiri atas RNA, protein, dan banyak lipida, contohnya virus cacar.  Ekor Ekor virus merupakan alat penancap ketubuh organisme yang diserangnya. Ekor virus terdiri atas tubus bersumbat yang di lengkapi benang/ serabut.

Gambar 7. Struktur Virus Ukuran virus beraneka ragam, diameternya bervariasi antara 20 nanometer hingga 300 nanometer. Bentuk virus juga bermacam-macam, misalnya berbentuk seperti bola (isometrik), bentuk tangkai memanjang/filamen, dan bentuk seperti berudu katak (mempunyai bentuk seperti kepala dan ekor). Untuk memudahkan identifikasi, bentuk virus dikelompokkan menjadi empat kelompok utama. Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

40

 Virus bentuk spiral  Virus bentuk ikosahedron  Virus berpelindung  Virus bentuk kompleks 3. Parasit Parasit mempunyau struktur yang cukup lengkap, terutama pada bagian pencernaan, yang terdiri dari : a. Mulut b. Faring c. esofagus (kerongkongan) d. kelenjar kalsiferous usus e. anus Parasit juga mempunyai pembuluh darah, sistem ekskresi, dan sistem saraf. 4. Jamur Struktur jamur atau fungi antara lain : nucleus, dinding sel dan hifa. Jamur tidak memiliki klorofil, sel pada jamur ada yang uniseluler, ada pula yang mutiseluler. Jamur multiseluler terbentuk dari rangkaian sel membentuk benang seperti kapas, yang disebu benang hifa. Hifa ada yang berfungsi sebagai pembentuk alat reproduksi. Kumpulan hifa membentuk jaringan benang yang dikenal sebagai miselium. Miselium inilah yang tumbuh menyebar diatas substrat dan berfungsi sebagai penyerap makanan dari lingkungannya.

Gambar 8. Struktur jamur

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

41

5. Ragi Struktur ragi atau khamir, antara lain : a. Dinding sel, terdiri :  Glukan/selulosa khamir  Mannan /polisakarida khamir  Protein  Khitin  Lipid b. Membran sitoplasma c. Nukleus (inti sel) d. Vakuola e. Mitokhondria f.

Chlamydospore

Gambar 9. Struktur ragi Bentuk khamir dapat berbentuk bulat oval, seperti jeruk, silindris, segitiga, memanjang seperti miselium sejati atau meselium palsu,ogival yaitu bulat panjang dengan salah satu ujung runcing, segitiga melengkung,dan lain-lain. Perkembangbiakan Mikroorganisme

1. Bakteri Bakteri umumnya melakukan reproduksi atau berkembang biak secara aseksual (vegetatif = tak kawin) dengan membelah diri. Pembelahan sel pada bakteri adalah pembelahan biner yaitu setiap sel membelah menjadi dua. Reproduksi bakteri secara seksual yaitu dengan pertukaran materi genetik dengan bakteri lainnya. Pertukaran materi genetik disebut rekombinasi genetik atau rekombinasi DNA.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

42

Rekombinasi genetik dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu: a. Transformasi adalah pemindahan sedikit materi genetik, bahkan satu gen saja dari satu sel bakteri ke sel bakteri yang lainnya. b. Transduksi adalah pemindahan materi genetik satu sel bakteri ke sel bakteri lainnnya dengan perantaraan organisme yang lain yaitu bakteriofage (virus bakteri). c. Konjugasi adalah pemindahan materi genetik berupa plasmid secara langsung melalui kontak sel

dengan membentuk struktur seperti jembatan diantara

dua sel bakteri yang berdekatan.

Umumnya terjadi pada bakteri gram negatif.

2. Virus Perkembangbiakan virus sering disebut dengan replikasi/sintesa protein. Untuk berkembang biak virus memerlukan tempat atau lingkungan yang hidup. Oleh karena itu, virus menginfeksi sel bakteri, sel hewan, atau sel tumbuhan untuk bereproduksi. Ada dua macam cara virus menginfeksi bakteri, yaitu secara litikan dan secara lisogeni. Pada infeksi secara litik, virus akan menghancurkan sel induk setelah

berhasil

melakukan

reproduksi,

sedangkan

pada

infeksi

secara

lisogenik,virus tidak menghancurkan sel bakteri tetapi virus berintregasi dengan DNA sel bakteri, sehingga jika bakteri membelah atau berkembang biak virus pun ikut membelah. 3. Parasit Jenis mikroorganisme parasite pada umunya tumbuh dari telur-telurnya akan menetas dalam jangka waktu 1 minggu kemudian tumbuh jadi larva. Apabila menetas pada tempat yang cocok, maka parasit ini akan merugikan inang yang ditumpanginya. Karena parasite akan mengambil sari makanan dari inangnya yang dibutuhkan untuk tumbuh. Oleh karena itu inangnya akan kehilangan gizinya. Hingga akhirnya parasite berkembangbiak pada habitat tersebut dengan bertelur hingga inang yang ditumpanginya mati karena kehabisan nutrisi.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

43

4. Jamur a. Jamur uniseluler berkembang biak dengan cara seksual dan dengan cara aseksual. Pada perkembangbiakannya yang secara seksual jamur membentuk tunas, sedangkan secara aseksual jamur membentuk spora askus. b. Jamur multiseluler berkembangbiak dengan cara aseksual, yaitu dengan cara memutuskan benang hifa (fragmentasi), membentuk spora aseksual yaitu zoospora, endospora dan konidia. Sedangkan perkembangbiakan secara seksual melalui peleburan antara inti jantan dan inti betina sehingga terbentuk spora askus atau spora basidium. 5. Ragi Ragi melakukan proses perkembangbiakan dengan cara : a. Pembelahan b. Budding (tunas) Pertunasan yaitu suatu proses penonjolan protoplasma keluar dari dinding sel seperti pembentukan tunas, pembesaran, dan akhirnya pelepasan diri menjadi sebuah sel khamir baru c. Pembelahan tunas Mula-mula timbul suatu gelembung kecil dari permukaan sel induk. Gelembung ini secara bertahap membesar, dan setelah mencapai ukuran yang sama dengan induknya terjadi pengerutan yang melepaskan tunas dari induknya. d. Sporuilasi : spora aseksual, spora seksual Batas aktivitas air khamir terendah untuk pertumbuhan berkisar antara 0,880,94. Selain itu banyak kamir yang bersifat osmofilik yakni dapat tumbuh pada medium dengan aktivitas air relative rendah, yaitu 0,62-0,65. Kisaran suhu untuk pertumbuhan kebanyakan khamir yaitu suhu optimum 25 – 30 derajat celcius dan suhu maksimum 34 –47 derajat celcius

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

44

C. RANGKUMAN

 Bakteri

a. Struktur : Struktur dasar (dinding sel, membran plasma, sitoplasma, ribosom, DNA, dan granula penyimpanan), Struktur tambahan (kapsul, flagelum, pilus, fimbria, klorosom, Vakuola gas dan endospora) b. Perkembangbiakan : aseksual (vegetatif = tak kawin) dengan membelah diri  Virus a. Struktur : Kepala, kapsid, isi tubuh, ekor b. Perkembangbiakan : replikasi/sintesa protein  Jamur a. Struktur : nucleus, dinding sel dan hifa b. Perkembangbiakan : Jamur uniseluler (seksual dan aseksual), Jamur multiseluler ngan cara aseksual (fragmentasi)  Parasit a. Struktur : system pencernaan (Mulut, Faring, sofagus/kerongkongan, kelenjar kalsiferous usus, anus), pembuluh darah, sistem ekskresi, dan sistem saraf a. Perkembangbiakan : telur-larva-tumbuh dengan mengambil nutrisi dari inang yang ditumpanginya  Ragi a. Struktur : Dinding sel, Membran sitoplasma, Nukleus (inti sel), Vakuola, Mitokhondria, Chlamydospore b. Perkembangbiakan : Pembelahan, Budding (tunas), Pembelahan tunas, Sporuilasi : spora aseksual, spora seksual

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

45

D. TUGAS 1. Bagilah kelasmu menjadi 5 kelompok 2. Masing-masing kelompok mempunyai tugas berbeda-beda Kelompok 1 : mendiskusikan tentang perkembangbiakan bakteri Kelompok 2 : mendiskusikan tentang perkembangbiakan virus Kelompok 3 : mendiskusikan tentang perkembangbiakan parasit Kelompok 4: mendiskusikan tentang perkembangbiakan jamur Kelompok 5 : mendiskusikan tentang perkembangbiakan ragi Catatlah hasil diskusi, buatlah diagram perkembangbiakan miroorganisme untuk memperjelas dan video jika ada. 3. Presentasikan hasil diskusi di depan kelas 4. Kelompok lain menanggapi dan memberikan pertanyaan kepada kelompok yang sedang presentasi di depan kelas 5. Setiap kelompok mencatat hasil diskusi 6. Guru memandu jalannya diskusi 7. Hasil diskusi diserahkan kepada guru mata pelajaran

E. TES

Jawablah soal uraian di bawah ini : 1. Sebutkan struktur dan cara perkembangbiakan bakteri ! 2. Sebutkan struktur dan cara perkembangbiakan virus ! 3. Sebutkan struktur dan cara perkembangbiakan parasit ! 4. Sebutkan struktur dan cara perkembangbiakan jamur ! 5. Sebutkan struktur dan cara perkembangbiakan ragi !

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

46

F. Lembar Kerja Praktik

Praktik Pengamatan Struktur Mikroorganisme Langkah kerja : 1. Carilah gambar struktur mikrorganisme berikut : a. Saccharomyces Serevicae b. Chlamydia Psittaci c. Leptospira Interrogans d. Toxoplasma Gondii e. Empusa Muscae f.

Oxyuris Vermicularis

2. Berdasarkan gambar struktur mikroorganisme yang sudah didapat, analisislah dan kelompokkan mikroorganisme tersebut berdasarkan jenisnya 3. Buatlah laporan praktikum No

1

Nama

Gambar

Mikroorganisme

mikroorganisme

2

Saccharomyces Serevicae Chlamydia Psittaci

3

Leptospira Interrogans

4

Toxoplasma Gondii

5

Empusa Muscae

6

Oxyuris Vermicularis

struktur Jenis mikroorganise

4. Presentasikan hasil praktikum di depan kelas

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

47

Uji Kompetensi II I. Pilihlah jawaban yang paling tepat ! 1. Berikut ini yang bukan merupakan ciri mikroorganisme adalah… a. Memiliki ukuran yang sangat kecil

c. Tingkat pertumbuhan relatif cepat

b. Mengalami

d. Tumbuh dan tidak berkembangbiak

pertumbuhan

dan

perkembangbiakan 2. Berikut yang bukan termasuk mikroorganisme adalah… a. Tikus

c. Virus

b. Bakteri

d. Fungi

3. Bakteri Lactobacillus Bulgericus berperan positif pada produk… a. Mentega

c. Cuka

b. Terasi

d. Yoghurt

4. Bakteri Mycobacterium Tubercolusis adalah bakteri penyebab penyakit… a. Kholera

c. Disentri

b. TBC

d. Tetanus

5. Berikut bukan termasuk jenis parasit adalah… a. Cacing pita

c. Cacing kremi

b. Cacing tambang

d. Clostridium bacterium

6. Mikroorganisme yang mempunyai ciri-ciri jasadnya berbentuk benang dan tidak berklorofil adalah… a. Virus

c. Jamur

b. Ragi

d. Parasit

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

48

7. Virus yang dapat mengakibatkan penderita menjadi lumpuh dan kaki mengecil adalah… a. Virus campak

c. Virus Polio

b. Virus hepatitis

d. Virus Influenza

8. Virus yang disebabkan karena sanitasi yang buruk dan biasa ditularkan melalui air dan makanan serta menyebabkan penyakit hati adalah… a. Virus hepatitis

c. Virus Polio

b. Virus Influenza

d. Virus campak

9. Mikroorganisme yang sering disebut dengan yeast. Ada yang bersifat merugikan karena menyebabkan kerusakan makanan. Ada pula yang menguntungkan dalam proses fermentasi. Mikroorganisme tersebut adalah… a. Virus

c. Jamur

b. Bakteri

d. Ragi

10. Berikut yang bukan merupakan struktur dasar bakteri adalah… a. Hifa

c. Membran plasma

b. Dinding sel

d. Sitoplasma

11. Mikroorganisme yang mempunyai struktur paling lengkap. Karena mempunyai system pencernaan, pembuluh darah, ekskresi hingga system syaraf adalah… a. Virus

c. Jamur

b. Ragu

d. Parasit

12. Struktur khas dari jamur yang tidak dimiliki mikroorganisme lain adalah… a. Nukleus

c. Dinding sel

b. Hifa

d. Klorofil

13. Mikroorganisme yang berkembangbiak dengan bertelur dan mengambil maknana dari inang yang ditumpanginya adalah… a. Virus

c. Jamur Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

49

b. Ragi

d. Parasit

14. Mikroorganisme yang berkembangbiak dengan cara membelah tunas adalah… a. Virus

c. Jamur

b. Ragi

d. Parasit

15. Berikut yang bukan merupakan cara berkembangbiak jamur adalah… a. Memutuskan

benang

(fragmentasi)

hifa

c. Bertelur d. Membentuk spora

b. Tunas II. Lengkapilah tabel di bawah ini !

No

Mikroorganisme

1

Bakteri

Struktur

Cara Perkembangbiakan

Contoh : 2

Virus Contoh :

3

Jamur Contoh :

4

Parasit Contoh :

5

Ragi Contoh :

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

50

BAB 3

Resiko Hygiene di Tempat

INDIKATOR : 1. Mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam menemukan dan memahami berbagai aspek terkait dengan pemahaman sanitasi, hygiene dan keselamatan kerja 3. Menunjukkan perilaku amaliah (jujur , disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan pekerjaan 4. Menunjukan perilaku cinta damai dan toleransi dalam membangun kerjasama dan tanggungjawab dalam implementasi kesehatan dan keselamatan kerja. 5. Menjelaskan resiko hygiene (keracunan dan kerusakan makanan) di tempat kerja) 6. Mengidentifikasi kerusakan makanan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

Kerja

Kegiatan Belajar 1 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungankerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Mendeskripsikan tentang resiko hygiene

B. MATERI Makanan adalah kebutuhan pokok manusia yang dibutuhkan setiap saat dan memerlukan pengelolaan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi tubuh. Oleh karena itu, makanan yang kita konsumsi haruslah makanan yang hygiene dan bernutrisi. Makanan harus terhindar dari pencemaran dari faktor-faktor lingkungan. Jika makanan yang kita konsumsi tidak sehat atau tidak menerapkan hygiene dan sanitasi makanan, maka berbagai resiko akan timbul (Resiko Hygiene) Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Resiko Hygiene ? 1. Pengertian Resiko Hygiene Resiko

hygiene

adalah

resiko

akibat

gangguan

kesehatan

yang

diakibatkan oleh rendahnya kualitas kebersihan yang mencakup kebersihan perorangan (personal hygiene), kebersihan area kerja, dan kebersihan makanan. Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

51

Resiko hygiene dapat menimbulkan dampak negatif yang berakibat pada penyakit yang ditularkan melalui makanan dan minuman, penyakit tersebut dikenal dengan food and water borne disease. Penyakit yang ditularkan oleh mikroorganisme yang ada di makanan dan minuman, biasanya berupa penyakit infeksi. Faktor makanan dan minuman selain dapat menyebabkan penyakit yang bersifat infektif, dapat pula menyebabkan penyakit gangguan yang bukan bersifat infektif. Penyakit gangguan tersebut dapat berupa alergi, botulisme, kanker, dan penyakit yang dapat ditularkan oleh binatang diantaranya tuberkulosis. Faktor makanan dan minuman sebagai penyebab penyakit yang berhubungan dengan penyakit gangguan kesehatan, seperti pada tabel di bawah ini : Tabel 5. Resiko hygiene berupa penyakit No Penyakit/ Gangguan Kesehatan 1

Faktor

Penyebab

dari

Makanan/

Minuman

Alergi, seperti gatal-gatal, Seafood atau makanan yang berbahan hasil sesak

napas,

dan

mata laut, seperti terasi dan kerupuk udang

sembap 2

Botulisme

Makanan

dan

minuman

mengandung

clostridium botulinum yang ditandai dengan wadah kaleng yang menggelembung 3

Kanker

Makanan

yang

mengandung

jamur

aflatoxine. Makanan dan minuman yang mengandung

zat

pewarna

berbahan

rodamine B 4

Tubercolosis

Susu sapi yang mengandung mycobacterium tubercolosa.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

52

2. Identifikasi Resiko Hygiene a. Pengaruh ekonomi Prosedur hygiene yang tidak dilaksanakan dengan tepat dapat berpengaruh terhadap faktor ekonomi seperti :  terjadinya keracunan makanan  Kehilangan konsumen setelah terjadinya keracunan makanan/ penurunan pendapatan  Bangkrut/ kehilangan usaha  Berdampak terhadap industri lain yang sejenis/ berada dalam induk usaha yang sama b. Penyebaran Penyakit, seperti :  Infeksi hepatitis  Trichinosis  Disentri  Demam tipoid c. Kerusakan, pembusukan, dan pemborosan makanan Prosedur hygiene yang tidak tepat akan membuat makanan cepat mengalami kerusakan dan pembusukan sehingga akan terjadi pemborosan makanan. d. Keracunan Makanan Keracunan makanan disini dapat disebabkan karena adanya pencemaran makanan oleh bakteri atau dapat juga karena racun yang terdapat dalam bahan makanan itu sendiri.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

53

3. Pencegahan Resiko Hygiene Untuk pencegahan resiko hygiene, harus memerhatikan kualitas fisik dan biologis dari pengolahan makanan dan minuman. a. Kualitas Fisik Kualitas fisik ini meliputi kebersihan tempat pengolahan makanan (dapur), kebersihan tempat pembuangan kotoran (sampah), kebersihan tempat cuci peralatan dapur, dan kebersihan toilet, juga tersedianya tempat pembuangan air limbah atau air bekas cucian peralatan dapur. Di samping itu juga, harus bebas dari faktor binatang pembawa penyakit (tikus, lalat dan kecoak). b. Kualitas Biologis Kualitas biologis ini meliputi kebersihan makanan sehingga bebas dari mikroorganisme dan racun yang berbahaya, serta tidak dihinggapi lalat dan kecoak.

C. RANGKUMAN

 Resiko hygiene adalah resiko akibat gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh rendahnya kualitas kebersihan yang mencakup kebersihan perorangan (personal hygiene), kebersihan area kerja, dan

kebersihan makanan  Macam macam resiko hygiene: pengaruh ekonomi, penyebaran penyakit,

kerusakan,

pembusukan,

dan

pemborosan

makanan,

keracunan makanan  Untuk pencegahan resiko hygiene, harus memerhatikan kualitas fisik dan biologis dari pengolahan makanan dan minuman.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

54

D. TUGAS Carilah contoh resiko hygiene yang pernah terjadi di lingkungan sekitar Anda. Anda juga dapat menambahkan contoh resiko hygiene dari informasi berita media radio, televisi, koran, internet, dll. Tuliskan hasil identifikasi ke dalam format berikut : No

Contoh Resiko Hygiene

E. TES Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Apakah yang dimaksud dengan resiko hygiene? 2. Apa saja resiko hygiene yang mungkin timbul dalam bidang pangan? 3. Bagaimana cara mencegah terjadinya resiko hygiene dalam bidang pangan?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

55

Kegiatan Belajar 2 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungankerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Mendeskripsikan pengertian kerusakan makanan

B. MATERI Salah satu resiko yang ditimbulkan akibat tidak diterapkannya sanitasi hygiene makanan (resiko hygiene) adalah kerusakan makanan. Kerusakan makanan adalah awal mula resiko hygiene yang nantinya dapat memicu kerugian lainnya baik dari segi ekonomis maupun kesehatan konsumen. Seperti apa yang dimaksud dengan kerusakan makanan?

Pengertian Kerusakan Makanan Kerusakan makanan adalah penyimpangan-penyimpangan pada bahan makanan yang melewati batas sehingga bahan makanan tersebut tidak dapat diterima secara normal oleh panca indera manusia dan parameter lain.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

56

Ciri-ciri Kerusakan Makanan Makanan merupakan bahan organik yang mudah rusak. Kerusakan makanan dapat dilihat dari adanya perubahan pada makanan tersebut. Perubahan yang terjadi pada makanan dapat dilihat melalui panca indera dan alat ukurnya. Ciri ciri kerusakan makanan, antara lain : a. Adanya perubahan konsistensi Perubahan konsistensi, misal dari kental menjadi lebih encer. b. Perubahan rasa Perubahan dari rasa yang enak dan wajar menjadi rasa yang kurang enak dan tidak semestinya. c. Perubahan bau Misalnya dari aroma khasnya berubah menjadi aroma yang busuk d. Perubahan kemasan Perubahan kemasan yang semula rapi, menjadi penyok, bocor, dll. Tanda-tanda kerusakan berdasarkan kelompok makanan, misalnya : a. Buah-buahan dan sayuran rusak, terlihat busuk, berubah warna dan rasa dan berlendir b. Daging dan hasil olahnya mengalami pembusukan, ditandai dengan perubahan warna, bau, tekstur dan berlendir. Bau asing yang bukan khas daging, terbentuk lendir & perubahan warna menjadi pucat/kadang kehijauan. c. Ikan dan hasil olahnya yang mengalami kerusakan juga ditandai dengan perubahan warna, bau, tekstur dan berlendir, bau asam maupun bau busuk, insang berwarna abu-abu atau kehijauan, mata tenggelam, daging mudah terlepas dari tulang, jika ditekan dengan jari akan membekas d. Kerusakan pada susu dan hasil olahnya ditandai dengan penggumpalan, lendir, tengik, dan perubahan rasa. Bau dan rasa asam, terbentuk lendir, bau tengik, busuk atau bau ragi, rasa pahit. e. Makanan kaleng yang mengalami kerusakan ditandari dengan makanan yang berbau busuk, berwarna hitam, biasanya kaleng menjadi kembung. Kaleng

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

57

menjadi kembung karena terbentuknya gas hidrogen, terbentuknya warna hitam, pemudaran warna, atau terjadi pengaratan kaleng, pengembunan pada tutup dan bagian dasar kaleng, penyok pada bagian sepanjang smabungan, penyimpangan bau, berbentuk buih, atau cairan pengisi kaleng menjadi kental.

Faktor Penyebab Kerusakan Makanan 1. Mikroorganisme 2. Biologis 3. Kumiawi 4. Fisik 5. Enzimatis

C. RANGKUMAN

 Kerusakan makanan adalah penyimpangan-penyimpangan pada bahan makanan yang melewari batas sehingga bahan makanan tersebut tidak dapat diterima secara normal oleh panca indera manusia dan parameter lain.  Ciri-ciri kerusakan makanan : adanya perubahan konsistensi, perubahan rasa, perubahan bau, perubahan kemasan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

58

D. TUGAS Carilah contoh kerusakan makanan yang pernah terjadi di kehidupan sehari-hari Anda. Tuliskan contoh kerusakan makanan ke dalam format berikut : No

Contoh Kerusakan Makanan

E. TES Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Apakah yang dimaksud dengan kerusakan makanan? 2. Sebutkan ciri-ciri kerusakan makanan!

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

59

Kegiatan Belajar 3 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Mendeskripsikan macam-macam kerusakan makanan 4. Mengidentifikasi kerusakan makanan

B. MATERI

Kita semua tahu bahwa kerusakan mudah sekali timbul, apabila kita tidak dapat melakukan perlakuan bahan makanan dengan benar. Makanan merupakan bahan organik yang mudah rusak karena banyak hal. Berdasarkan penyebabnya, kerusakan makanan terdiri dari beberapa macam. Apa saja macam-macam kerusakan makanan tersebut?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

60

Macam-macam Kerusakan Makanan Berdasarkan faktor penyebabnya, kerusakan makanan dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam : 1. Kerusakan Mikrobiologis a. Bakteri Bakteri berkembang biak dengan membelah diri menjadi dua bagian atau disebut juga mitosis. Pada temperatur 30°C hingga 41°C jumlahnya akan bertambah dua kali lipat setiap 15 menit dan dalam 5 jam menjadi 1 juta. Bakteri akan berhenti berkembang biak pada temperatur di atas 74°C dan di bawah 4°C. Pada temperatur dingin bakteri akan beristirahat. Bakteri patogen berkembang biak pada suhu 37°C sama dengan suhu tubuh manusia. Bakteri ini dapat tertularkan melalui makanan yang tersentuh oleh tangan kotor, lap kotor dan berdebu, meja dan peralatan dapur yang kotor. Cara menghindari penyebab kerusakan makanan karena bakteri, antara lain :  Bahan-bahan makanan, seperti milk, butter, margarine yoghurt, cheese dapat disimpan pada temperatur 4°C.  Telur disimpan pada temperatur –6°C hingga 7°C.  Buah-buahan dan sayur-sayuran disimpan pada temperatur 10°C.  Daging disimpan pada temperatur 5°C hingga 8°C.  Seafood dapat disimpan pada temperatur 2°C hingga 5°C. Untuk ”danger zone” (zona bahaya) 37°C hingga 69°C di mana bakteri bisa berkembang secara cepat dengan kelipatan dua. Beberapa jenis bakteri perusak makanan antara lain adalah :  Pseudomonas, dapat merusak protein dan zat lemak dalam makanan Tanda kerusakan : timbulnya bau yang kurang sedap pada daging atau pada telur yang rusak.  Achromabacteriaceae, dapat merusak susu Tanda kerusakannya : timbulnya lendir

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

61

Gambar 10. Kerusakan Daging dan Telur Karena Bakteri b. Kerusakan Makanan Karena Jamur Beberapa jenis jamur yang sering menyebabkan kerusakan adalah :  Mucorales  Aspergillus glacus  Aspergillus flavus Bahan makanan yang dapat mengalami kerusakan oleh jamur adalah:  Kacang-kacangan yang sudah kering, jahe, merica, roti, jeruk, apel manisan, sirop, jam, jelly, kopra, kacang tanah, dll Tanda kerusakannya adalah :  Timbulnya warna hitam pada roti  Timbulnya noda hitam pada buah-buahan (apel, jeruk)  Timbulnya warna coklat kehitaman pada makanan  Terbentuknya racun aflatoxin pada kopra dan kacang tanah

Gambar 11. Kerusakan Bahan Makanan Pada Roti Karena Jamur

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

62

c. Kerusakan Makanan karena Khamir Tanda kerusakan bahan makanan karena khamir :  Terjadinya fermentasi sehingga terbentuk alkohol  Terjadinya perubahan warna pada bahan makanan 2. Kerusakan makanan biologis Yaitu kerusakan makanan yang disebabkan oleh berbagai jenis serangga atau binatang pengerat. Contoh kerusakannya adalah adanya gigitan serangga dan binatang pengerat Contoh serangga dan binatang pengerat penyebab kerusakan : Ulat, lalat, kecoa, semut, tikus, dll 3. Kerusakan makanan kimiawi Yaitu kerusakan makanan karena reaksi makanan pada bahan makanan. Bagaimana itu terjadi dan apa yang bisa dilakukan untuk pencegahannya, meliputi hal-hal sebagai berikut :  Minyak goreng menjadi tengik karena mengalami oksidasi. Maka minimalisir kontak antara minyak dan udara  Bahan makanan berprotein tinggi (susu, daging, telur) akan menggumpal jika dipanaskan atau mengalami proses denaturasi  Sayuran yang terkena matahari menjadi layu dan warnanya menjadi pucat 4. Kerusakan Mekanik Terjadi karena benturan mekanis seperti benturan karena bahan itu sendiri atau dengan media atau alat. Contoh :  Terjadi ketika buah dipanen dengan pengangkutan atau penanganan lain sehingga terjadi luka/patah/memar misal :  Mangga, durian dipanen dengan galah bambu  Umbi-umbian sobek karena alat penggali  Rusak karena pengangkutan (tertindih satu sama lain)  Bahan jatuh dari pengangkutan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

63

 Proses kerusakan : sel pecah  isi sel keluar  terjadi aktivitas enzim Luka memar  mikroba mudah masuk  substrat sesuai  aktivitas 5. Kerusakan Fisik Yaitu kerusakan makanan yang disebabkan karena terjadinya perubahan fisik makanan atau karena pelakuan fisik. Contoh kerusakan :  Casehardening adalah suatu keadaan dimana bahan makanan mengalami pengeringan pada permukaan karena pemberian suhu awal yang tinggi  Chilling injury atau freezing injury : kerusakan karena pendinginan dan pembekuan 6. Kerusakan enzimatis Yaitu kerusakan yang terjadi karena enzim yang terdapat dalam makanan menyebabkan terjadinya reaksi kimia yang mampu menguraikan senyawa kimia tertentu dalam bahan makanan. Bahan makanan yang mengalami kerusakan enzimatis disebut juga proses autolisis. Beberapa tanda-tanda dari kerusakan enzimatis adalah :  Pisang : dagingnya menjadi lembut sekali, aromanya menjadi keras  Sayuran : timbul bau yang tidak sedap  Ikan atau daging : lembek, berlendir, dan menimbulkan bau yang tidak sedap

Pencegahan Kerusakan Makanan Untuk mencegah agar makanan tidak rusak, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Gunakan bahan baku yang baik dan berkualitas 2. Bersihkan semua alat sebelum digunakan 3. Cuci tangan sebelum dan sesudah bekerja

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

64

4. Masaklah makanan dengan baik untuk membunuh mikroorganisme di dalamnya 5. Simpanlah makanan di tempat yang sesuai Kerusakan non mikro lebih mudah dicegah dengan penanganan dan penyimpanan yang tepat. Kerusakan mikro secara umum disebabkan oleh : 1. Suhu penyimpanan yang tidak tepat 2. Waktu penyimpanan yang tidak tepat 3. Ventilasi dalam ruang penyimpanan tidak tepat 4. Berbagai bahan makanan dicampur selama penyimpanan sehingga terjadi kontaminasi silang 5. Sanitasi yang tidak memadai Metode penyimpanan yang tepat juga dipengaruhi oleh jenis bahan makanan yang disimpan. Berdasarkan mudah tidaknya mengalami kerusakan makanan dibedakan menjadi 3 yaitu : 1. Bahan makanan sangat mudah rusak (perishable food product) Contoh : daging, ikan, susu, telur, kerang, dll. Membutuhkan penyimpanan pada suhu rendah 2. Bahan makanan agak mudah rusak (semi perishable food product) Umur simpan agak lama serta kecepatan kerusakan lebih lambat Contoh : Kacang-kacangan, apel, kentang dan mentimun 3. Bahan makanan yang tidak mudah rusak (non perishable food product) Paling tahan terhadap kerusakan. Biasanya untuk pengemasan hanya membutuhkan bahan yang rapat dan kuat Contoh : semua bentuk bahan makanan kering seperti tepung , biji-bijian, kacangkacangan kering, gula, dll

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

65

C. RANGKUMAN

 Macam macam kerusakan makanan: 1. Kerusakan mikrobiologis, karena bakteri, jamur, khamir 2. Kerusakan makanan biologis, disebabkan oleh berbagai jenis serangga atau binatang pengerat 3. Kerusakan makanan kimiawi, karena reaksi makanan pada bahan makanan 4. Kerusakan mekanis, karena benturan mekanis 5. Kerusakan fisik, karena terjadinya perubahan fisik makanan atau karena pelakuan fisik 6. Kerusakan enzimatis, karena enzim yang terdapat dalam makanan

menyebabkan terjadinya reaksi kimia yang mampu menguraikan senyawa kimia tertentu dalam bahan makanan.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

66

D. TUGAS 1. Buatlah kelompok dengan anggota masing-masing 4 orang 2. Secara berkelompok, berdasarkan hasil pekerjaan tugas sebelumnya tentang mencari contoh kerusakan makanan yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Kelompokkan contoh kerusakan makanan tersebut berdasarkan penyebab kerusakannya. 3. Catatlah hasil diskusi sesuai format berikut : No Contoh Kerusakan

Jenis Kerusakan Makanan

Makanan 1 2 Dst… 4. Komunikasikan hasil diskusi di depan kelas

E. TES Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Berdasarkan penyebab kerusakannya, sebutkan dan jelaskan macam-macam kerusakan makanan! 2. Sebutkan contoh kerusakan makanan mikrobiologis! 3. Sebutkan contoh kerusakan makanan biologis! 4. Sebutkan contoh kerusakan makanan kimiawi! 5. Sebutkan contoh kerusakan makanan mekanis! 6. Sebutkan contoh kerusakan makanan fisik! 7. Sebutkan contoh kerusakan makanan enzimatis!

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

67

F. Lembar Kerja Praktik Praktik Mengidentifikasi Kerusakan Makanan Bahan : Roti kadaluarsa, buah busuk, susu kadaluarsa, nasi basi, ikan busuk, telur busuk, minyak goreng lama Alat : Pisau, talenan Cara Kerja : 1. Amatilah kerusakan makanan yang terjadi 2. Telitilah penyebab kerusakan yang terjadi pada makanan tersebut 3. Buatlah laporan praktikum, sesuai dengan format berikut : No

Makanan

Penyebab

Kerusakan Jenis Kerusakan

Makanan 1

roti kadaluarsa

2

buah busuk

3

susu kadaluarsa

4

nasi basi

5

ikan busuk

6

telur busuk

7

minyak goreng lama

4. Presentasikan hasil diskusi di depan kelas

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

68

Uji Kompetensi III I. Pilihlah jawaban yang paling tepat ! 1. Gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh rendahnya kualitas kebersihan, baik personal hygiene, kebersihan tempat kerja, maupun kebersihan makanan disebut… a. Kecelakaan kerja

c. Resiko hygiene

b. Kerusakan makanan

d. Sanitasi hygiene

2. Yang bukan termasuk resiko hygiene adalah a. Keracunan makanan

c. Kerugian secara ekonomi

b. Munculnya penyakit

d. Menaikkan

popularitas

usaha

makanan 3. Penyimpangan-penyimpangan pada bahan makanan yang melewati batas sehungga bahan makanan tersebut tidak dapat diterima secara normal oleh panca indera disebut dengan… a. Kecelakaan kerja

c. Resiko hygiene

b. Kerusakan makanan

d. Sanitasi hygiene

4. Berikut yang termasuk ciri-ciri kerusakan makanan, kecuali… a. Makanan

atau

minuman

kental menjadi encer b. Susu bubuk menggumpal

yang c. Kemasan makanan kaleng rapid an utuh d. Kulit buah keriput

5. Berikut yang bukan termasuk perubahan pada makanan sebagai ciri-ciri kerusakan makanan adalah… a. Perubahan rasa dan warna

c. Perubahan kemasan

b. Perubahan bau

d. Perubahan harga

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

69

6. Telur yang encer dan busuk termasuk kerusakan makanan yang disebabkan oleh… a. Virus

c. Enzim

b. Bakteri

d. Mekanik

7. Warna hitam pada roti termasuk yang disebabkan oleh… a. Virus

c. Enzim

b. Jamur

d. Mekanik

8. Kacang-kacangan yang rusak karena terkena gigitan ulat disebut dengan kerusakan makanan… a. Mikrobiologis

c. Kimiawi

b. Biologis

d. Mekanik

9. Minak goreng yang dibiarkan terbuka (tidak tertutup) lama-lama akan menjadi tengik. Hal ini termasuk jenis kerusakan makanan… a. Mikrobiologis

c. Kimiawi

b. Biologis

d. Mekanik

10. Berikut ini yang termasuk kerusakan makanan mekanik adalah… a. Buah yang busuk karena benturan c. Daging berbau busuk b. Susu kental manis berubah warna

d. Roti yang berjamur

menjadi kekuningan 11. Apabila sayuran disimpan di freezer maka bahan makanan tersebut akan mengalami kerusakan… a. Mikrobiologis

c. Fisik

b. Biologis

d. Enzimatis

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

70

12. Hal ang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan makanan adalah… a. Menyimpan beras dan tepungtepungan pada suhu dingin b. Menyimpan ikan dan daging pada suhu ruang

c. Menggunakan

bahan

makanan

yang baik dan berkualitas d. Semua bahan makanan disimpan, dicampur

jadi

satu

di

dalam

tempat penyimpanan 13. Berikut yang termasuk jenis kerusakan makanan secara kimiawi adalah… a. Telur menggumpal karena proses denaturasi

c. Telur busuk d. Terdapat noda hitam pada jeruk

b. Umbi tidak utuh karena sober terkena alat penggali 14. Pisang menjadi lembut sekali dan beraroma keras atau tajam adalah ciri kerusakan makanan secara… a. Bakteri

c. Enzimatis

b. Khamir

d. Fisik

15. Agar ayam, daging dapat bertahan lama, maka penyimpanan yang tepat adalah pada… a. Chill room

c. Suhu ruang

b. Freezer

d. Cold room

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

71

II. Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Sebutkan contoh resiko hygiene di biadang pangan yang kalian ketahui ! 2. Lengkapilah tabel di bawah ini ! No

Macam-macam Kerusakan

Penjelasan

Contoh

Makanan 1

Kerusakan Makanan Mikrobiologis

2

Kerusakan Makanan Biologis

3

Kerusakan Makanan Kimiawi

4

Kerusakan Makanan Mekanis

5

Kerusakan Makanan Fisik

6

Kerusakan Makanan Enzimatis

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

72

BAB 4

Mikroorganisme Penyebab Keracunan Makanan

INDIKATOR : 1. Mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam menemukan dan memahami berbagai aspek terkait dengan pemahaman sanitasi, hygiene dan keselamatan kerja 3. Menunjukkan perilaku amaliah (jujur , disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan pekerjaan 4. Menunjukan perilaku cinta damai dan toleransi dalam membangun kerjasama dan tanggungjawab dalam implementasi kesehatan dan keselamatan kerja. 5. Menjelaskan mikroorganisme penyebab keracunan makanan 6. Menemukan faktor penyebab keracunan makanan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

Kegiatan Belajar 1 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungankerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Mendeskripsikan pengertian keracunan makanan

B. MATERI Makanan adalah hal paling penting untuk kehidupan manusia. Kesehatan manusia ditentukan oleh apa yang dia makan, dan bagaimana pola makannya. Apabila kita kurang teliti mengkonsumsi makanan, tanpa memperhatikan kebersihan dan kesehatan makanan, maka hal terburuk adalah terjadinya keracunan makanan. Apa sebenarnya keracunan makanan? Mengapa hal ini dapat terjadi?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan

73

Pengertian Keracunan Makanan Keracunan makanan adalah suatu keadan abnormal dalam tubuh yang terjadi karena masuknya racun ke dalam tubuh yang terjadi karena masuknya racun ke dalam tubuh melalui makanan. Keracunan makanan juga dapat diartikan sebagai suatu penyakit yang disebabkan oleh makanan yang terkontaminasi oleh bakteri yang menghasilkan toksin atau racun atau oleh adanya tambahan pada makanan yang bersifat racun. Keracunan makanan dapat terjadi dimana-mana, sekalipun di hotel atau restoran. Hal ini terjadi karena makanan yang diterima dan diolah mengandung racun dan mengalami pengotoran. Keracunan makanan bisa terjadi karena : 1. Penjamah dan penjamahan makanan (food handling) Yaitu orang-orang yang bertugas mengurus makanan dan minuman, baik itu orangorang yang mempersiapkan, mengolah, menyimpan, mengangkut, dan menyajikan makanan dan minuman (food contamination) atau mencemari peralatan makan dan minum. Dan dengan banyaknya orang yang menangani makanan, maka akan mengakibatkan terjadinya kontaminasi oleh bakteri atau kuman terhadap makanan. 2. Kebersihan makanan Yang dimaksud dengan kebersihan makanan adalah makanan bebas dari faktorfaktor lingkungan yang dapat menyebabkan terjadinya pencemaran. Banyak faktor-faktor luar yang dapat mencemari makanan, sehingga makanan tersebut menjadi tidak bersih, faktor tersebut antara lain adalah : a. Adanya pemalsuan makanan b. Ikut sertanya kuman penyebab penyakit selama prosessing atau pengolahan dan penyajian c. Tumbuh dan kembangnya kuman penyakit pada makanan yang kurang diperhatikan cara penyimpanannya. Penyimpanan makanan yang kurang memenuhi syarat akan menyebabkan makanan akan menjadi cepat busuk, terutama bahan makanan yang mengalami pencemaran oleh bakteri.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

74

3. Alat-alat makanan dan minuman yang digunakan Pencemaran makanan dapat disebabkan karena kebersihan peralatan dan minuman kurang mendapat perhatian sehingga dapat menimbulkan penyakit atau menularkannya kepada arang lain. Untuk mencegah terjadinya keracunan makanan, perlu diperhatikan hal-hal berikut : 1. Setiap individu harus memiliki pengetahuan dasar tentang ilmu hygiene dan sanitasi makanan 2. Menjaga kesehatan dan kebersihan perorangan (personal hygiene) 3. Senantiasa menerapkan prosedur hygiene baik hygiene perorangan, hygiene di tempat kerja, maupun hygiene makanan 4. Memeliara kebersihan pakaian, rambut, kuku tangan, telinga, dan kulit 5. Bila perlu, menyuntik diri dengan vaksin cholera, typus, atau disentri.

C. RANGKUMAN

 Keracunan makanan adalah suatu keadan abnormal dalam tubuh yang terjadi karena masuknya racun ke dalam tubuh yang terjadi karena masuknya racun ke dalam tubuh melalui makanan

 Keracunan makanan dapat terjadi karena factor : dari penjamah makanan (food handing) tidak menerapkan personal hygiene, factor kebersihan makanan, serta kebersihan alat makan dan alat minum

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

75

D. TUGAS Carilah contoh kasus keracunan makanan. Anda dapat menambahkan contoh keracunan makanan dari informasi berita media radio, televisi, koran, internet, dll. Tuliskan hasil identifikasi ke dalam format berikut : No

Contoh Kasus Keracunan Makanan

E. TES

Jawablah soal uraian dibawah ini! 1. Apa yang dimaksud dengan keracunan makanan? 2. Apa saja yang dapat menyebabkan keracunan makanan terjadi? 3. Apa yang harus kita lakukan untuk mencegah terjadinya keracunan makanan?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

76

Kegiatan Belajar 2 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungankerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Mendeskripsikan mikroorganisme penyebab keracunan makanan

B. MATERI Salah satu penyebab keracunan, salah satunya adalah karena mikroorganisme. Mikroorganisme yang mengkontaminasi makanan menyebabkan terjadinya kerusakan makanan. Kerusakan makanan tersebut akan menyebabkan keracunan bagi yang mengkonsumsinya.

Mikroorganisme Penyebab Keracunan Makanan 1. Bakteri a. Clostridium botulinum Bakteri Clostridium botulinum menghasilkan racun yang mencegah transmisi impuls saraf ke otot . Mual, muntah dan kram perut adalah gejala umum yang ditimbulkannya. Efek dimulai pada syaraf di kepala sehingga menyebabkan penglihatan kabur/ganda dan kesulitan menelan, kemudian

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

77

menyebar ke punggung sehingga menyebabkan kelumpuhan otot lengan, otot pernapasan, dan mungkin juga otot kaki. Gejala ini biasanya muncul 4-36 jam setelah menelan toksin, tetapi bisa memakan waktu hingga delapan hari. Makanan

kaleng

(keracunan botulinum).

Selain

adalah itu,

sumber botulisme

utama juga

dapat

botulisme bersumber

dari makanan bayi, yang dapat berakibat fatal bagi kelompok usia ini. Cara terbaik untuk mencegah botulisme adalah mengikuti petunjuk yang benar dalam menyiapkan dan menyajikan makanan di rumah. Makanan yang terkontaminasi sering memiliki bau busuk, meskipun tidak selalu demikian. Botulisme adalah kedaruratan medis yang harus segera mendapatkan perawatan. Dengan tersedianya antitoksin, 90% lebih pasien botulisme dapat diselamatkan. b. Salmonella gastro Bakteri ini dapat menyebar dari orang ke orang dan dari hewan ke orang. Makanan yang biasanya mengandung salmonella adalah daging, daging unggas, susu dan telur. Salmonella sering ditularkan melalui kontak dengan kotoran atau pakan ternak atau melalui makanan yang terkontaminasi kotoran hewan.

Buah

dan

sayuran

yang

tidak

dicuci

dengan

bersih

juga

dapat menyebarkan bakteri ini. Gejala yang disebabkan oleh salmonella termasuk mual, kram perut dan diare. Pada kasus yang parah, ada lendir dan darah pada tinja. Gejala awal biasanya muncul 12 sampai 24 jam setelah menelan makanan yang terkontaminasi. Keracunan ini biasanya tidak serius dan berlangsung selama dua sampai lima hari. Namun, salmonellosis bisa berakibat fatal pada bayi, lansia dan pasien yang sakit parah. Pada kasus yang sangat jarang, salmonella bisa menembus aliran darah sehingga menyebabkan artritis, penyakit jantung, infeksi tulang dan masalah perut jangka panjang.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

78

Perawatan infeksi yang disebabkan oleh salmonella melibatkan banyak minum untuk mengganti cairan yang hilang karena diare. Jika korban kehilangan terlalu banyak cairan, dia harus dirawat di rumah sakit untuk mendapatkan infus. Antibiotik dan obat anti-diare mungkin diberikan untuk mengontrol gejala yang parah. c. Escherichia coli Kebanyakan strain Escherichia coli (E. coli) adalah bakteri bermanfaat yang hidup dalam sistem pencernaan. Mereka tidak menyebabkan penyakit. Namun beberapa strain E. coli dapat menyebabkan efek keracunan pada tubuh. Salah satu strain yang paling ditakuti adalah E. coli 0157 yang menghasilkan racun yang disebut toksin Shiga. Racun ini merusak sel-sel dinding usus sehingga menimbulkan perdarahan. Toksin E. coli 0157 juga memecah sel darah merah, menyebabkan anemia dan menurunkan jumlah trombosit. Pada 10% kasus, keracunan E. coli berlanjut sehingga menyebabkan kerusakan ginjal dan organ penting lainnya. Risiko kematian terutama tinggi pada anak-anak dan lansia. E. coli 0157 memiliki masa inkubasi antara 1-3 hari. Waktu tersebut dibutuhkan bakteri untuk melakukan perjalanan ke usus besar dan berkembang biak di sana ke tingkat yang menyebabkan masalah. Karena bakteri terutama memengaruhi usus besar, gejala utama adalah sakit perut dan diare. E. coli 0157 jarang menyebabkan muntah, meskipun penderita merasakan sakit perut dan diare hebat sehingga ada bintik-bintik darah segar di tinjanya. Berbeda dengan jenis keracunan makanan lainnya, E. coli 0157 sangat gigih dan membutuhkan waktu seminggu atau lebih sebelum diare mereda.

Keracunan E. coli timbul karena mengkonsumsi daging, khususnya daging sapi cincang. Jika daging tidak matang sepenuhnya, bakteri dapat bertahan hidup dan berkembang biak di dalam tubuh kita bila dikonsumsi. Hanya perlu 10 bakteri hidup dalam burger atau sosis untuk dapat menyebabkan keracunan makanan E. coli. Bakteri ini juga dapat menyebar melalui makanan atau air yang tercemar kotoran hewan.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

79

Selain bakteri-bakteri di atas, masih banyak jenis bakteri yang dapat menimbulkan keracunan pada manusia, seperti pada tabel berikut : Tabel 6. Bakteri penyebab keracunan Jenis Bakteri & Penyakit

Waktu Inkubasi

Clostridium botulinum(Botulism)

12-36 jam, atau lebih lama atau lebih pendek

Intoksikasi (staphylococcus

1-7 jam, biasanya 2-4 jam

Aereus) Salmonella (Salmonellosis)

12-36 jam

Infeksi clostridium perfringes

8-24 jam, rata-rata 12 jam

Campylobacter

2-3 hari tapi bisa 7-10 hari

Infeksi vibrio para haemolyticus

2-48 jam, biasanya 12 jam

Infeksi Escherichia col

Tipe invasif : 8-24 jam, rata-rata 11

Enteropatogenik

jam; tipe enterksigenik: 8-44 jam, rata-rata 26 jam

Bacillus cereus

8-16 jam atau 1,5 - 5 jam

Shigellosis (infeksi shigella sonnei, S.

1-7 hari, biasanya kurang dari 4 hari

flexneri, S.dysentriae,S.bodyii) Yrsiniosis (Yersinia

24-36 jam atau lebih

pseudotuberculosis, Y. enterocolitica) Sterptococcus pygenes

1-3 hari

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

80

2. Virus Beberapa virus dapat menyebabkan ganggun pencernaan dan ciri-cirinya hampir sama dengan yang ditimbulkan oleh bakteri. Sebagian virus menyerang jaringan sel yang lain, misalnya jaringan saraf, melalui aliran darah. Transmisi virus yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan dapat melalui aerosol atau kontak langsung dengan orang yang terinfeksi. Contoh : a. Enterovirus diketahui menyebar melalui rute fekal-oral b. virus

polio

(dapat menyebabkan gangguan

pencernaan, demam dan

kelumpuhan) menyebar melalui rute fekal-oral c. virus hepatitis B tersebar melalui kontak langsung dan transfusi darah. d. Rotavirus juga merupakan virus yang penting dan secara sporadis dapat menyebabkan diare akut, demam dan seing kali muntah-muntah. Virus ini telah dilaporkan dapat menyebar melalui air. 3. Rickettsiae Rickettsiae adalah bakteri yang berukuran kecil. Rickettsia berbeda dengan virus karena mikroorganisme ini mempunyai DNA dan RNA mempunyai beberapa struktur yang dimiliki bakteri. Coxiella burnetii, penyebab demam Q, ditimbulkan oleh mikroorganisme ini adalah sakit kepala dan demam. Penularannya melalui susu dari sapi yang terinfeksi. C. burnetii telah dilaporkan relatif tahan panas dan dapat membentuk spora, sehingga kemungkinan bisa terdapat pada susu pasteurisasi jika susu tersebut berasal dari sapi yang terinfeksi. 4. Prion Prion menyebabkan penyakit degeneratif pada sistem syaraf pusat pada hewan dan manusia. Penyakit scrapie pada kambing merupakan penyakit yang ditimbulkan oleh prion. Penyakit yang sama juga telah ditemukan pada sapi, bovine spongiform encephalopathy (BSE). Prion tersebar melalui pakan dan penularan terhadap manusia kini mendapat perhatian yang serius. Prion sangat resisten terhadap panas, lebih tahan daripada spora bakteri dan merupakan bentuk protein yang abnormal dari inang. Pencegahan penularan melalui pencegahan pemberian

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

81

pakan dari bahan-bahan yang terinfeksi dan pencegahan konsumsi daging dan bagian-bagian hewan yang terinfeksi. 5. Protozoa dan parasit Giardia, Cryptosporidium, Balantidium, Entamoeba dan protozoa lainnya serta parasit seperti cacing pita, dapat menginfeksi melalui air dan makanan. Beberapa spesies dapat bertahan pada lingkungan untuk beberapa minggu dan dapat klorinasi. Gejala-gejala yang ditimbulkan dapat sama dengan gejala gangguan perut yang ditimbulkan oleh bakteri dan penularannya melalui rute fekal-oral. Pada tabel berikut disajikan makanan-makanan yang dapat menjadi pembawa virus, protozoa dan parazit serta metode pengontrolan : Tabel 7. Makanan pembawa virus, protozoa dan parazit Organisme

Makanan yang dapat terinfeksi

Waktu inkubasi

Gejala penyakit

Pencegahan

Poliomyelitis

Susu minuman, Makanan olahan

5-35 hari

Demam, untah-muntah, sakit kepala, nyeri otot dan lumpuh

Virus hepatitis

Susu dan minuman, Kerangkerangan mentah, salad

10-50 hari, rata-rata 25 hari

Kulit kuning, kehilangan nafsu makan, gangguan pencernaan

Kebersihan individu; kecukupan panas ma-kanan olahan; desenti-feksi air; pencegahan kontak makanan den-gan lalat Pemasakan kerang-kerangan kerangan, kecukupan panas makanan olah-an, susu, perebusan air atau desinfeksi air,kebersihan individu

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

82

Lanjutan… Entamoeba Histolytica (disentri amoeba)

Air yang terkontaminasi limbah,makan makanan basah yang terkontaminasi feses

Beberapa hari sampai 4 minggu

diare

Perlindungan suplai air,sanitasi selama pengolahan, jamban yang memadai

Taenia saginata (cacing pita)

Daging sapi mentah atau setengah matang yang mengandudung larva

Beberapa minggu

Sakit perut bagian bawah, perasaan lapar, lelah

Diphyllobothri um latum (cacing pita)

Daging sapi mentah atau setengah matang yang mengan dung larva

2-6 minggu

Gejala awal tidak ada, tetap penderita lanjut mengalami anemia

Penyembelihan sapi dan penyediaan daging sapi dibawah pengawasan dinas kesehatan, daging dimasak matang Ikan dimasak matang, hindari konsumsi ikan asap mentah

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

83

C. RANGKUMAN

Mikroorganisme penyebab keracunan makanan : 1. Bakteri (Clostridium botulinum, Salmonella gastro, Escherichia coli, dll)

2. Virus (Enterovirus, virus polio, virus hepatitis B, Rotavirus) 3. Rickettsiae 4. Prion 5. Protozoa

dan

parasite

(Giardia,

Cryptosporidium,

Balantidium,

Entamoeba, cacing pita, dll)

D. TUGAS 1. Buatlah kelompok dengan anggota masing-masing 4 orang 2. Secara berkelompok, berdasarkan hasil pekerjaan tugas sebelumnya mencari contoh kasus keracunan makanan, identifikasikan kembali kasus-kasus tersebut. Manakah yang temasuk keracunan makanan karena mikroorganisme. Dan jenis mikroorganisme penyebabnya 3. Catatlah hasil diskusi sesuai format berikut : No Kasus Keracunan Karena Jenis Mikroorganisme

Mikroorganisme

Penyebab Keracunan

Dst… 4. Komunikasikan hasil diskusi di depan kelas

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

84

E. TES Jawablah soal uraian dibawah ini! 1. Sebutkan jenis mikroorganisme yang dapat menimbulkan keracunan makanan! 2. Sebutkan contoh bakteri yang dapat menimbulkan keracunan makanan ! 3. Sebutkan contoh virus yang dapat menimbulkan keracunan makanan !

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

85

Kegiatan Belajar 3 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Menemukan faktor penyebab keracunan makanan

B. MATERI Keracunan makanan ternyata juga tidak hanya disebabkan karena makanan yang terkontaminasi mikroorganisme dan masuk kedalam tubuh. Masih banyak lagi penyebab yang dapat memicu keracunan makanan. Apa saja faktor yang dapat menyebabkan keracunan makanan selain mikroorganisme?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

86

Faktor Non Mikroorganisme Penyebab Keracunan Makanan Selain karena mikroorganisme, keracunan makanan juga dapat disebabkan karena halhal berikut: 1. Keracunan Makanan Secara Kimiawi Yaitu keracunan pangan yang dsebabkan karena terdapatnya bahan-bahan kimia beracun dalam pangan yang ikut masuk ke dalam tubuh. Banyak zat kimia yang bisa menjadi suatu racun bila dikonsumsi dalam jumlah yang besar. Bahan kimia tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui bahan makanan yang dikonsumsi baik secara sengaja ditambahkan ke dalam makanan, maupun secara tidak sengaja terdapat di dalam bahan makanan. Jenis-jenis bahan kimia tersebut antara lain : a. Residu Pestisida Pestisida secara sengaja digunakan untuk membunuh serangga yang mengganggu tanaman pertanian. Akan tetapi bila penggunaanya terlalu banyak penanganan bahan makanannya tidak tepat, maka komponen berbahaya yang terdapat dalam pestisida tersebut dapat masuk dan tertimbun dalam tubuh manusia, dan mengakibatkan terjadinya gangguan kesehatan. Beberapa senyawa yang terdapat dalam pestisida adalah :  Organoklorin : digunakan untuk membasmi nyamuk dan bersifat merusak syaraf  Senyawa organopospor : dapat menyebabkan sesak nafas, pengeluaran lendir pada saluran pernafasan, kejang, dan berhentinya saluran pernafasan  Karbonat : sifat meracuninya sama dengan senyawa organoposporus  Fumigen : digunakan untuk melindungi biji-bijian pangan dan bersifat merusak jaringan hati dan ginjal. b. Residu Obat-obatan Contoh residu obat-obatan yang dapat menyebabkan keracunan adalah ;  Hormon Residu hormon dapat berasal dari produk-produk hewani yang biasanya diternakkan seperti daging, susu, telur, ayam potong, dsb. Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

87

 Antibiotik Residu

antibiotik

juga

bisa

berasal

dari

produk

hewani

yang

pemeliharaannya digunakan antibiotik untuk mengatasi infeksi. Akibat yang ditimbulkan dari residu antibiotik pada produk hewani adalah :  Menaikkan perkembangan bakteri yang resisten  Menjadi sumber pembawa bakteri resisten dan menaikkan infeksi, misalnya salmonella  Menumpuknya bakteri resisten pada manusia c. Logam Berbahaya Logam berbahaya yang dapat menimbulkan keracunan adalah :  Keracunan zinck (seng), dapat berasal dari makanan yang disimpan dalam kaleng atau kemasan seng  Keracunan antimon, dapat berasal dari makanan yang bersifat asam yang disimpan dalam kaleng yang berlapis email  Keracunan tembaga dapat berasal dari maknan atau minuman yang dikemas menggunakan kertas atau karton yang dilapisi tembaga  Keracunan merkuri dapat terjadi pada seseorang secara tidak sengaja mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung merkuri d. Zat Additive Yaitu senyawa atau campuran senyawa yang ditambahkan ke dalam produk pangan dengan tujuan untuk memperbaiki nilai gizi, menaikkan daya simpan, dan membantu proses pengolahan. Beberapa jenis zat additive yang dapat bersifat racun bila dikonsumsi manusia dalam jumlah berlebihan adlaah :  Pewarna sistetis (buatan) Yang termasuk pewarn sintetis adalah :  Rhodamin untuk warna merah  Metanil yellow untuk warna kuning Walupun pewarna ini mempunyai banyak kelebihan, tetapi penggunaanya sudah dilarang karena dapat menimbulkan keracunan kronik

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

88

 Zat pemanis Jenis pemanis yang biasa digunakan adalah :  Sakarin, dengan kemanisan 300-400 kali gula pasir. Pemanis ini dapat menyebabkan terjadinya pembentukan tumor.  Siklamat, memiliki tingkat kemanisan 30-60 kali gula pasir. Pemanis ini dapat menyebabkan atau berfungsi sebagai promotor terbentuknya sel kanker.  Jenis zat additive lain yang juga dapat menimbulkan keracunan makanan bila ditambahkan ke dalam makanan dalam jumlah berlebih adalah :  Nitrit  Niacin  MSG ( Monosodium Glutamat) 2. Keracunan Makanan Secara Biologi Yaitu keracunan pangan yang disebabkan karena mengkonsumsi bahan makanan yang secara alami sudah mengandung racun dan bersifat membahayakan. Bahan makanan yang secara alami sudah mengandung racun tersebut adalah : a. Ubi kayu yang pahit Jenis racun yang dihasilkan adalah HCL (asam cianida) b. Kentang mentah hijau Jenis racun yang dihasilkan adalah solanin c. Beberapa jenis jamur Jenis racunnya adalah mikotoxin d. Kacang tanah yang berjamur Jenis racunnya adalah aflatoxin e. Ikan scromboid (tuna dan macarel) yang terinfeksi Dapat menimbulkan keracunan dengan gejala sakit kepala, diare, mual-mual, muntah, kesulitan menelan dan gatal-gatal pada kulit. f.

Ikan puffer (blowgish, ballonfish) Dapat menimbulkan keracunan dengan gejala atau akibat terjadinya kumpulan pusat syaraf

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

89

C. RANGKUMAN

 Faktor Non Mikroorganisme Penyebab Keracunan Makanan 1. Keracunan Makanan Secara Kimiawi a. Residu Pestisida b. Residu Obat-obatan. Cont : Residu hormon, antibiotik c. Logam Berbahaya. Cont : Keracunan zinck (seng), antimon, tembaga d. Zat Additive. Cont : Pewarna sistetis, zat pemanis, jenis zat additive lain 2. Keracunan Makanan Secara Biologi. Cont : Ubi kayu yang pahit, kentang mentah hijau

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

90

D. TUGAS

1. Buatlah kelompok dengan anggota masing-masing 4 orang 2. Secara berkelompok, carilah sumber lain tentang factor penyebab keracunan makanan. Anda dapat mencari dari informasi berita media radio, televise, koran, internet, dll. 3. Tuliskan hasil identifikasi ke dalam format berikut : No Kasus Keracunan Makanan

4.

Faktor Penyebab Keracunan

Komunikasikan hasil diskusi di depan kelas

E. TES

Jawablah soal uraian dibawah ini! 1. Sebutkan

dan

jelaskan

faktor

penyebab

keracunan

makanan

non

mikroorganisme ! 2. Bahan kimia apa saja yang dapat menyebabkan keracunan makanan, sebutkan contohnya ! 3. Sebutkan contoh penyebab keracunan makanan secara biologis !

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

91

F. Lembar Kerja Praktik

Praktik Menemukan Faktor Penyebab Keracunan Makanan 1. Bersama kelompoknu, lakukanlah survey di tempat penjualan makanan jajanan atau tempat pengolahannya yang menurut kalian disinyalir mempergunakan bahan makanan yang kurang baik, pengolahan yang tidak hygiene, atau hal lain yang memungkinkan terjadinya keracunan makanan. 2. Amatilah mulai dari penggunaan bahan baku hingga penjualan makan tersebut, tulislah hal-hal yang menurut kalian mempunyai kemungkinan untuk timbulnya keracunan makanan. 3. Tulislah laporan praktikum dalam format berikut : Cont : Hasil Pengamatan Kemungkinan Penyebab Keracunan Makanan Tempat : Usaha jajanan Bakso Tusuk No Tahapan Pengolahan

Hal yang makanan

1

Ditambahkan papaya busuk dan pewarna oren pada saus Bakso terpapar debu di pinggir jalan

2

Pembuatan saus Penjualan Dst…

dapat

memicu

keracunan

4. Paparkan hasil pengamatan kalian di depan kelas

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

92

Uji Kompetensi IV

I. Pilihlah jawaban yang paling tepat ! 1. Keadaan abnormal dalam tubuh yang terjadi karena masuknya racun ke dalam tubuh, yang terjadi karena masuknya racun melalui makanan disebut dengan… a. Resiko hygiene

c. Keracunan makanan

b. Kerusakan makanan

d. Kecelakaan kerja

2. Berikut merupakan factor yang dapat menyebabkan keracunan makanan, kecuali… a. Penjamah

makanan

menerapkan hygiene sanitasi b. Makanan tidak bersih

tidak c. Makanan terkontaminasi bahan kimia

dari

alat

pengolahan

makanan d. Harga bahan makanan

3. Bakteri penyebab keracunan yang biasa terdapat dalam makanan kaleng adalah… a. Salmonella Gastro

c. E Coli

b. Clostridium batulinum

d. Bacillus Cereus

4. Virus yang dapat menyebabkan keracunan hingga menyebabkan gangguan pencernaan, demam, hingga kelumpuhan adalah… a. Virus Polio

c. Vorus H5N1

b. Virus hepatitis

d. Rotavirus

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

93

5. Mikroorganisme yang juga menyebabkan penyakit pada hewan (sapi, kambing), dan pada manusia dapat ditularkan melalui konsumsi daging adalah… a. Clostridium batulinum

c. E.Coli

b. Prion

d. H5N1

6. Mikroorganisme penyebab keracunan makanan yang dapat menyebabkan diare atau disentri amoeba adalah… a. Taenia Saginata

c. E Coli

b. Salmonella

d. Entamoeba Histolytica

7. Bakteri yang dapat menyebabkan keracunan namun juga dapat bermanfaat bagi pencernaan apabila dalam jumlah tertentu adalah… a. Taenia Saginata

c. E Coli

b. Salmonella

d. Entamoeba Histolytica

8. Bakteri yang biasanya terdapat pada kotoran hewan terutama kotoran ayam yang melekat pada kulit telur adalah… a. Taenia Saginata

c. E Coli

b. Salmonella

d. Entamoeba Histolytica

9. Berikut yang termasuk keracunan makanan karena bahan kimia adalah… a. Keracunan karena mengkonsumsi c. Keracunan karena mengkonsumsi makanan

terkontaminasi

mikroorganisme

d. Keracunan karena mengkonsumsi

b. Keracunan karena mengkonsumsi makanan

singkong yang mengandung HCL jengkol yang mengandung racun

terkontaminasi

pestisida

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

94

10. Berikut yang merupakan logam berbahaya bahan pembuat peralatan masak, yang dapat menyebabkan keracunan makanan adalah… a. Antimon

c. Seng

b. Stainles Steel

d. Merkuri

11. Ubi kayu atau singkong dapat menyebabkan keracunan, apabila mengandung… a. Afatoxin

c. Solanin

b. Mikotoxin

d. Asam Cianida

12. Berikut ini zat pemanis yang dilarang untuk digunakan karena dapat membahayakan kesehatan konsumen adalah… a. Gula pasir

c. Gula palem

b. Siklamat

d. Gula jawa

13. Kentang berwarna hijau dapat menyebabkan keracunan, karena mengandung… a. Afatoxin

c. Solanin

b. Mikotoxin

d. Asam Cianida

14. Berikut ini termasuk keracunan makanan secara biologis adalah… a. Makanan

yang

dikonsumsi

terkontaminasi bakteri b. Makanan

yang

dikonsumsi

terkontaminasi merkuri

c. Makanan

yang

mengandung

zat

dikonsumsi pewarna

berbahaya d. Kentang

yang

dikonsumsi

berwarna hijau 15. Berikut ini adalah cara mencegah terjadinya keracunan makanan kecuali… a. Membeli bahan makanan yang mahal

c. Menyimpan

bahan

makanan

dengan benar

b. Menjaga kebersihan makanan

d. Memilih bahan makanan yang berkualitas dan masih segar

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

95

II. Jawablah soal uaraian di bawah ini ! 1. Apakah yang dimaksud dengan keracunan makanan? 2. Lengkapilah tabel di bawah ini : No 1

2

Faktor Penyebab Keracunan Mikroorganisme a. ….. b. ….. c. …..dst Non Miroorganisme a. …. b. …. c. ….dst

Contoh Keracunan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

96

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

BAB 5

Bahan Pembersih dan Bahan Saniter

INDIKATOR : 1. Mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam menemukan dan memahami berbagai aspek terkait dengan pemahaman sanitasi, hygiene dan keselamatan kerja 3. Menunjukkan perilaku amaliah (jujur , disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan pekerjaan 4. Menunjukan perilaku cinta damai dan toleransi dalam membangun kerjasama dan tanggungjawab dalam implementasi kesehatan dan keselamatan kerja. 5. Menjelaskan bahan pembersih dan bahan saniter 6. Membedakan daya kerja bahan pembersh berdasarkan konsentrasi larutan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

Kegiatan Belajar 1 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Menjelaskan pengertian bahan pembersih dan bahan saniter

B. MATERI Menjaga kebersihan adalah salah satu gaya hidup yang menerapkan hygiene dan sanitasi. Lingkungan kerja yang bersih, akan membuat kinerja kita di dapur atau lingkungan kerja lebih nyaman dan produktif. Untuk membersihkan area dapur kita memerlukan bahan pembersih dan bahan saniter. Apa sebenarnya yang dimaksud bahan pembersih dan bahan saniter?

Pengertian Bahan Pembersih dan Bahan Saniter Bahan

pembersih

adalah

bahan

kimia

yang

digunakan

untuk

membersihkan noda dan kotoran yang melekat pada perabotan, perkakas, mesin, kain pembersih dan peralatan pengolahan pangan. Sedangkan saniter berguna untuk mereduksi jumlah mikroorganisme patogen dan perusak di dalam pengolahan pangan dan fasilitas serta perlengkapan persiapan makanan.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

97

Saniter adalah senyawa-senyawa yang dapat membunuh sekian persen mikroorganisme yang telah diujicoba sebelumnya dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Prinsip umum  Tujuan pembersihan adalah menghilangkan sisa makanan dan debu  Tujuan sanitasi adalah mengurangi jumlah mikroorganisma hidup  Sanitasi tidak selalu membunuh spora  Agar efektif, sanitasi harus dilakukan setelah pembersihan Hygiene yang baik membutuhkan pembersihan yang efektif dan teratur untuk menghilangkan sisa makanan yang mungkin mengandung patogen. Hygiene yang baik juga membutuhkan langkah sanitasi untuk memastikan bahwa terjadi pengurangan jumlah patogen/mikroorganisme sampai pada tingkat yang aman. Terkadang aplikasi di bidang industri, langkah pembersihan dan sanitasi dikombinasikan menjadi satu dengan menggunakan suatu “detergent pembersih”. Bebarapa langkah praktis dalam pembersihan dan sanitasi yang umum diterapkan di bidang industri adalah :  Menyimpan makanan agar tidak tercemar oleh bahan kimia  Menghilangkan kotoran  Dibilas  Dibersihkan, biasanya dengan deterjen  Dibilas  Disanitasi  Dibilas dengan air bersih  Dikeringkan Prosedur pembersihan pada industri makanan dan katering Prosedur pembersihan dibutuhkan pada  Permukaan kerja yang kontak dengan makanan  Peralatan makanan  Alat-alat pembersih (alat pengepel, sikat, ember)  Seluruh area dapur dan kantin Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

98

Di industri pangan dan katering, prosedur pembersihan dan sanitasi harus tersedia pada setiap tempat dan peralatan yang berhubungan dengan makanan. Pemakaian bahan kimia yang aman  Selalu mengikuti instruksi pemasok  Jangan mencampur bahan kimia kecuali sudah dinyatakan aman oleh pemasok  Jangan pernah mencampur senyawa asam dan basa (reaksi eksotermis)  Hipokhlorit jangan dicampur dengan asam (pelepasan gas chlorin)  Bahan-bahan nitrogenous (dapat membentuk persenyawaan explosif) Pengendalian hama Patogen dapat tersebar melalui kecoa, lalat, tikus. Harus ada prosedur yang tepat untuk menjauhkan hama dari area pengolahan dan penanganan makanan. Serangga, hama dan hawan-hewan rumah memainkan peranan dalam penyebaran penyakit. Industri makanan dan katering harus mencari saran profesional dari satu perusahaan yang menyelenggarakan jasa seperti itu. Pesan penting bagi rumah  Permukaan kerja / alat harus bersih agar hasil sanitasi dapat memuaskan  Pembersihan semakin baik bila disertai dengan deterjen yang sederhana  Sanitasi dapat dilakukan dengan menggunakan air panas atau larutan hipokhlorit.  Permukaan lantai dan alat yang telah dibersihkan harus kering  Bahan-bahan kimia harus disimpan secara aman Pesan penting bagi industri katering dan makanan  Permukaan lantai yang bersih adalah penting untuk memastikan sanitasi yang memuaskan  Fasilitas/peralatan harus mudah dibersihkan  Efisiensi dari desinfektan tergantung dari komposisi bahan kimia, waktu dan suhu  Masing-masing desinfektan memiliki keunikan Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

99

 Segala kegiatan pembersihan / sanitasi harus sesuai dengan prosedur  Bahan-bahan kimia harus digunakan dan disimpan dengan aman  Pembersihan harus selalu termonitor  Permukaan lantai yang bersih adalah penting untuk memastikan sanitasi yang memuaskan  Fasilitas/peralatan harus mudah dibersihkan  memiliki keunikan  Segala kegiatan pembersihan / sanitasi harus sesuai dengan prosedur  Bahan-bahan kimia harus digunakan dan disimpan dengan aman  Pembersihan harus selalu termonitor Faktor-faktor yang mempengaruhi pada saat pembersihan  Waktu  Suhu  Konsentrasi bahan pembersih  Pergerakan mekanik (penggosokan) Pembersihan memakan waktu, terutama jika menggunakan bahan kimia. Perendaman tanpa pengadukan memakan waktu paling lama. Suhu adalah faktor penting karena makin tinggi suhu mempercepat reaksi kimia dan melunakkan sisa lemak, membuatnya lebih mudah untuk diemulsifikasikan. Hal hal yang perlu diperhatikan penting pada proses pembersihan sebelum sanitasi a. Sisa makanan Hal yang paling penting adalah bahwa sisa makanan yang mengandung protein dapat menginaktifkan hipochlorit - desinfektan dan membuatnya tidak efektif.  Melindungi mikroorganisma  Menyediakan makanan bagi mikroba  Mengurangi efektifitas disinfektan  Mengurangi efisiensi alat (mis. alat penghantar panas)

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

100

b. Metode sanitasi  Suhu Tinggi  Penguapan  Kimia  Air panas Panas sedang, yaitu 74-90°C, biasa digunakan dalam industri pangan dan katering sebagai metode sanitasi. Alat-alat dan perlengkapan masak yang kecil dapat dimasukkan ke dalam tangki air panas. Perendaman yang baik adalah 80 °C selama 2 menit. Air pada suhu ini dapat menyebabkan luka bakar, maka gunakan keranjang, rak, atau alat lain. Alat penguapan digunakan dalam industri. Alat ini sangat efektif, tetapi berbahaya bagi personel yang tidak ahli menggunakannya; alat ini juga dapat merusak lantai beton, minyak pelumas dan komponen peralatan lainnya apabila tidak digunakan secara benar. c. Prinsip desinfeksi kimia Sebelum disanitasi dengan bahan kimia, permukaan makanan harus bersih, sebab sisa-sisa makanan dapat mengurangi keefektifan sanitasi. Desinfektan yang berasal dari ekstrak pinus tidak boleh digunakan di area penanganan makanan karena tidak efektif dan desinfektan tersebut dapat menodai makanan. Suatu desinfektan harus  Tidak beracun bagi manusia  Memiliki aktifitas antimikrobiologi yang besar (patogen dan organisma pengganggu)  Mampu membunuh, tidak hanya membatasi pertumbuhan mikroorganisma  Tidak menodai makanan atau minuman

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

101

C. RANGKUMAN

 Saniter adalah senyawa-senyawa yang dapat membunuh sekian persen mikroorganisme yang telah diujicoba sebelumnya dalam jangka waktu yang telah ditentukan.  Bahan

pembersih

adalah

bahan

kimia

yang

digunakan

untuk

membersihkan noda dan kotoran yang melekat pada perabotan, perkakas, mesin, kain pembersih dan peralatan pengolahan pangan  Prinsip umum :  Tujuan pembersihan adalah menghilangkan sisa makanan dan debu  Tujuan sanitasi adalah mengurangi jumlah mikroorganisma hidup  Sanitasi tidak selalu membunuh spora  Agar efektif, sanitasi harus dilakukan setelah pembersihan

D. TUGAS Carilah contoh merk bahan pembersih maupun saniter yang digunakan di rumahmu, maupun yang pernah Anda ketahui ! Tuliskan tugas dengan format berikut : No

Contoh Merk Bahan

Contoh Bahan Saniter

Pembersih

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

102

E. TES

Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Apakah perbedaan bahan pembersih dan bahan saniter? 2. Bagaimana prinsip pembersihan dan sanitasi? 3. Hal apa saja yang harus kita perhatikan dalam pembersihan dan sanitasi di bidang makanan? 4. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi pembersihan?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

103

Kegiatan Belajar 2 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungankerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Mendeskripsikan macam macam bahan pembersih dan saniter

B. MATERI Pada proses pembersihan perabot,peralatan maupun area dapur, terkadang kita membutuhkan macam-macam bahan pembersih maupun saniter. Di pasaran, juga sudah beredar macam-cam pembersih dengan fungsinya masing masing dan keunggulan yang berbeda-beda. Apa sajakah macam macam bahan pembersih dan saniter yang dapat kita gunakan dalam bidang makanan ?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

104

Macam-macam Bahan Pembersih dan Saniter 1. Detergen Bahan pembersih ini membuat sisa-sisa dari makanan berlemak dapat larut dan dapat dibersihkan. Deterjen dari segi sifat keasamannya bisa digolongkan menjadi:  Alkali (anionik) deterjen, digunakan untuk bahan organik (kotoran), lemak/ minyak, protein, karbohidrat  Asam (kationik) deterjen, digunakan untuk bahan anorganik (kotoran): kerak air (garam berkalsium, magnesium), lapisan mineral lain (besi, sulfat), sisa makanan yang kaya mineral (milkstone) Pemilihan detergen tergantung pada: 

Bahan subtansi yang akan dibersihkan

Bahan dasar dari barang yang akan dicuci

Kontak cairan dengan tangan

Alat pencuci dengan mesin cuci

Pengaruh bahan kimia detergent terhadap tingkat kesadaran air pencuci Selama

pemanasan,

protein,

lemak

dan

karbohidrat

terurai

atau

terpolimerisasi menjadi bentuk campuran yang sulit larut dan dibersihkan. Fungsi menggunakan campuran klorin dengan alkali adalah untuk membersihkan protein terurai dengan memisahkan uraian protein agar lebih mudah dihilangkan dengan detergen. Hampir semua detergen adalah bahan pencuci, tetapi hanya sedikit sekali atau bahkan tidak ada yang bersifat bactericidal (pembunuh bakteri). Pemakaian gabungan antara detergen yang mengandung hypochlorite yang bersifat pembersih dengan desinfektan dapat menjadi lebih sempurna baik dalam bentuk cair atau bubuk. Campuran ini akan sangat berguna bagi tempat pengolahan makanan skala kecil atau rumah tangga yang memiliki sarana pencucian terbatas. Untuk itu perlu diketahui bahwa detergent yang dianggap baik haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

105

Mempunyai daya pembasuh yang baik yaitu kemampuan untuk membasuh alat-alat dengan baik pada seluruh permukaan.

Mempunyai daya emusifikasi yang baik yaitu kemampuan untuk mencairkan lemak sisa makanan menjadi cairan sehingga terlepas dari peralatan yang dicuci.

Mempunyai daya dissolving yang baik yaitu kemampuan untuk melarutkan protein sehingga terbawa dalam pencucian.

Mempunyai daya dislopilasi yaitu kemampuan mencerai beraikan partikel padat menjadi bagian yang kecil dan mudah dilarutkan air pembersih.

Mempunyai daya dispesion yaitu kemampuan fungsi ganda baik pada air sadah maupun

tidak sadah.

Mempunyai daya rinsing bilas yang bersih yaitu kemampuan terbilas air pada peralatan yang dicuci.

2. Detergen Sintetis Kegunaan umum detergent sintetis akan sama halnya dengan detergent lain dalam menetraliser derajat basah dan cukup efektif untuk membersihkan kotoran dilantai, dinding, langit-langit serta perabot dan peralatan makan. Detergent dengan kadar basa yang kuat dapat digunakan untuk membuang lemak yang menempel atau menggumpal.

Gambar 10. Deterjen 3. Detergen mesin cuci Harus berkadar basa tinggi, tetapi yang digunakan untuk mencuci secara manual (dengan tangan haruslah bahan yang netral serta lembut sehingga tidak merusak tangan) Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

106

4. Sabun Sabun adalah detergent sederhana yang bisa digunakan untuk mencuci tangan. Sabun kurang baik dibandingkan dengan detergent kerena mempunyai daya larut yang kuat terhadap basa. Dalam air yang sadah sabun dapat menyebabkan noda dan sulit berbusa, karena buih sabun yang terjadi mudah pecah dan hilang. 5. Desinfektan: a. Desinfektan oksidasi 1) Khlorin Dioksida Merupakan desifektan yang baik untuk keperluan pembersihan dapur, dengan harga yang cukup murah dan sedikit sisa bau, bilamana digunakan dalam takaran yang tepat. Desinfektan ini mempunyai tingkat pemusnah bakteri yang luas termasuk dalam membunuh spora, dan merupakan desinfektan. Desinfektan ini dapat menjadi tidak aktif karena adanya zat organik jadi permukaan yang akan disanitasi harus bersih dan setelah digunakan harus dibilas untuk mencegah terjadinya korosi (karat). Larutan yang kuat dapat menyebabkan karatan pada aluminiun. Persenyawaan klorin dapat digunakan secara luas, karena sangat efektif melawan semua patogen. Mereka sangat cepat bereaksi, tetapi persenyawaan tersebut korosif, tidak stabil dan mudah mengiritasi. Hipoklorit adalah sanitaiser yang paling banyak digunakan dalam industri makanan. 2) Yodosfor Yodofor lebih efektif terhadap virus dibandingkan sanitaiser lain dan bersifat stabil. Persenyawaan tersebut memiliki spektrum membunuh yang luas dan bekerja dengan baik pada suhu dingin dan hangat, tetapi bersifat korosif dan keras. Yodofor sangat bermanfaat dalam pembersihan dan disinfeksi peralatan dan permukaan-permukaan serta sebagai antiseptik kulit, karena tidak bersifat iritasi. Oleh karena itu senyawa yodofor direkomendasikan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

107

untuk

pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan reduksi mikroorganisme

pada permukaan tangan karyawan sebagai larutan pencelup tangan dimana tangan karyawan merupakan sumber kontaminasi ikroorganisme yang perlu dikendalikan secara terus menerus. Bahan ini merupakan campuran antara iodine dengan deterjent. Mempunyai kecenderungan menjadi tiada aktif karena zat organisme. Juga kurang efektif dalam membunuh spora dibanding dengan hypochlorit. Bahan ini lebih mahal serta meningalkan sisa bau.

Gambar 11. Yodosfor b. Desinfektan non-oksidasi 1) Quarternary Ammonium Compound (QAC) QAC sangat efektif dalam melawan bakteri gram prositif. Namun tidak efektif melawan virus, spora. Stabil, tidak korosif dan tidak merusak kulit manusia (lebih aman untuk pembersihan manual). Perlu dicatat bahwa pemakaian yang tidak tepat dapat mencegah terjadinya fermentasi.

Gambar 12. QAC Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

108

2) Amphoteric surfactan Desinfektan ini mengandung detergent dan bactericidal. Sifat toksis rendah, relative tidak korosif, tidak berasa dan tidak berbau, merupakan disinfektan yang efektif bila digunakan sesuai dengan pedoman dari pabriknya. Pada umumnya tentu saja akan menjadi tidak aktif bila ada zat organic. 3) Phonelic desinfectan Ada beberapa jenis desinfektan ini yaitu putih, cairan jernih dan cairan larutan yang mempunyai jarak aktif baktericidal sama dengan hypochlorit dan iodophor. Bahan ini tahan terhadap zat organic tetapi menjadi tidak aktif oleh plastic dan karet. Beberapa merk memiliki bau yang kuat dan dapat meniggalkan bau pada makanan. Bahan ini tidak boleh digunakan dalam pencucian peralatan makan kecuali digunakan di luar tempat pengolahan makanan tidak boleh digunakan. Bahan-bahan kimia yang membunuh mikroorganisme dapat berbahaya bagi manusia yang mengoperasikannya. Sangat disarankan untuk

mengikuti

kecocokannya

instruksi

dengan

pemasok

produk

mengenai

pembersih

lain.

konsentrasi

dan

Kejadian

yang

membahayakan dapat terjadi ketika orang mencampur larutan hipokhlorit (bahan pemutih rumah tangga) dengan asam, terutama “descalant”. Dapat terjadi pelepasan gas beracun tinggi khlorin. Penting untuk tidak memberikan desinfektan secara berlebih karena akan menjadi tidak efektif. Karenanya bahan kimia harus selalu diawasi pemakaiannya secara benar dan disimpan di tempat aman yang jauh dari jangkauan anak. Bahan-bahan kimia tidak boleh disimpan pada kontainer bekas makanan atau minuman, seperti botol minuman atau kaleng makanan.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

109

Gambar 13. Desinfektan Faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas desinfektan: 

Waktu kontak

Suhu

Konsentrasi

pH

Jenis kotoran

Kecocokan dengan deterjen

Suatu desinfektan dinilai efektif sebagai pembersih permukaan, bila dapat membunuh 5-log dari 5 bakteri berbeda dalam waktu 5 menit atau memiliki kekuatan membunuh yang sama seperti 100 ppm chlorine. Suhu dapat meningkatkan kecepatan membunuh, tetapi persenyawaan khlorin dapat membusuk pada suhu sekitar 60 °C, sedangkan iodophors sekitar 48 °C. Keberadaan tanah dapat menurunkan aktifitas persenyawaan khlorin dan iodine. Suatu desinfektan harus sesuai dengan jenis bahan pembersih kimia yang digunakan.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

110

Tabel 8. Contoh desinfektan berdasarkan jenis kotoran Jenis Kotoran

Sifat kelarutan

Kemudahan untuk larut

Perubahan karena pemanasan

Detergen terbaik

Protein

Tidak larut

Sulit

Terurai, Lebih lengket

Basa Klorin

Lemak

Tidak larut

Sulit

Polimerisasi, lebih sulit dibersihkan

Basa

Karbohidrat

Larut

Mudah

Karamelisasi, lebih sulit dibersihkan

Basa

Mineral/garam

Bervariasi

Bervariasi

Umumnya mudah

Asam

6. Bahan pembersih Lainnya Berikut adalah bahan pembersih yang merupakan campuran dari beberapa jenis bahan pembersih da nada pula bahan pembersih yang spesifik digunakan untuk membersihkan peralatan tertentu. a. Vim Bleanch. Jenis bubuk gosok yang mengandung detergen dan bahan chloran organik untuk melepaskan kotoran-kotoran yang sulit dihilangkan dengan memekai pembersih biasa. b. Nobla Liquid. Detergen cair serbaguna yang memiliki daya bersih istimewa. Mampu membersihkan hasil cucian denagn memuaskan. c. Sumazon Super. Detergen cair digunakan untuk mesin cuci peralatan, cocok untuk berbagai kualitas air, pemakaiannya harus dilengkapi dengan alat khusus pengatur sumatik (sumazon), untuk bagian cuci awal pada diswashing machine. d. Sumabrite. Jenis sabun cair sebagai bahan pembantu untuk suatu proses pengeringan peralatan yang di cuci dengan mesin cuci dan berfungsi untuk membuat agar hasil cucian lebih cemerlang, diletakan pada bagian ke tiga, untuk tahap final rinse pada dishwashing machine.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

111

e. Sumargrill (SU 896). Jenis cairan sebagai bahan pembersih khusus untuk melepaskan kotoran jenis lemak, minyak, maupun kotoran bekas - bekas gosong yang menempel di peralatan masak, dioleskan dengan memakai kapas. f. Sumaschlor (SU 357). Detergen yang dikombinasikan dengan bahan chlor an-organik untuk pembersih kotoran sekaligus membunuh kuman yang ada g. Sumascale (SU 471). Jenis campuran detergen dan bahan kimia asaam dipakai utnuk menghilangkan kerak akibat tingginya kesadahan air. h. Dimone Pine. Jenis bahan pembersih dari campuran detergen dan desinfektan dipergunakan untuk membersihkan area lantai dapur dari kotoran maupun kuman yang berbahaya i. Brulinceide 502 (Amstrip 502). Jenis cair sebagai bahan pembersih dan dapat menghilangkan bau amis khususnya untuk membersihkan peralatan yang habis digunakan di bagian di bagian butcher. j. Formula 105 (Amstrip 501). Jenis sabun cair untuk bahan pencucian yang dipergunakan untuk bilas manual pada bak air pertama maupun kedua sebelum dicuci di dishwashing machine. k. Formula 473 (Amstrip 508). Detergen jenis powder ini sangat baik untuk glassware dari kemungkinan kotoran yang sulit di hilangkan seperti flek flek hitam. Peredaman dilakukan lebih kurang 10 menit sebelum dicuci di diswashing machine. l. Formula 508 (Amstrip 508). Detergen jenis cair ini untuk menghilangkan kerak - kerak yang menempel pada peralatan seperti seoerti oan frying, oven dan lain - lain. Gunakan dengan memakai alat bantu dan kapas sebab akan terasa gatal - gatal bilamana terkena kulit tangan (lengan). m. Silver Cleaner (Amstrip 513). Jenis cair sebagian bahan pembersih untuk jenis silver ware dan dapat membuat peralatan cemerlang. n. Carbonide (Amstrip 514). Jenis cair sebagai bahan pembersih lantai bagian dapur o. Divoluxe (Amstrip). Jenis powder, untuk bahan pembersih alat yang terbuat dari perak, dibersihkan dengan cara menggiling dengan menggunakan alat seperti Burnishing Machine. Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

112

p. Aluminium Clleaner (Amstrip 517). Jenis cair bahan pembersih khusus untuk penggunaan peralatan yang menggunakan bahan aluminium dengan cara menggosok memakai kapas. q. Solitaaire (Amstrip 520). Jenis sabun cair yang memprgunakan pot washer untuk membersihkan peralatan kitchen utensil dengan cara solitaire melalaui pipa bersamaan dengan air untuk mengatur porses cuci r. Jus Lemon dan Garam . Lemon telah lama digunakan untuk membersihkan, itulah sebabnya mengapa begitu banyak produsen pembersih alat rumah tangga memberikan aroma lemon pada produknya. Selain itu campuran jus lemon dan garam dapur, adalah kombinasi sempurna untuk membersihkan alat-alat memasak. s. Cuka. Bahan ini dapat menetralkan bau hewan peliharaan yang tertinggal di karpet dan jok. Selain itu, cairan ini dapat pula membersihkan kaca jendela, pot kopi dan menghilangkan noda membandel di pakaian t. Minyak Goreng. Tambahkan sedikit minyak goreng ke kain lembut dan gunakan untuk menggosok furnitur rotan. u. Baking Soda. Taruh baking soda di atas sikat gigi bekas tambahkan sedikit air maka bahan ini suda bisa membersihkan katup kran air, pembuka kaleng dan juga noda di karpet. v. Pasta gigi. Berikan sedikit pasta gigi ke kain lembut, maka bahan ini sudah dapat digunakan untuk memoles alat-alat makan yang bernoda dan perlengkapan lainnya yang terbuat dari stainless steel. w. Teh. Teh sangat cocok untuk menghapus noda karat pada alat masak Anda. Caranya cukup Anda seduh teh di dalam panci lalu rendam benda-benda berkarata itu selama beberapa jam. Setelah itu Anda dapat dengan mudah menghapus noda karatnya. x. Glycerin. Bahan ini dapat menghilangkan noda tetesan lilin di meja atau furnitur Anda. Cukup celupkan kapan atau kain lembut ke dalam glycerin lalu usapkan ke tetesan lilin tersebut.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

113

C. RANGKUMAN

1. Detergen : Alkali (anionik) deterjen, Asam (kationik) deterjen 2. Detergen Sintetis 3. Detergen mesin cuci 4. Sabun 5. Desinfektan: a. Desinfektan oksidasi 1) Khlorin Dioksida 2) Yodosfor b. Desinfektan non-oksidasi 1) Quarternary Ammonium Compound (QAC) 2) Amphoteric surfactan 3) Phonelic desinfectan 6. Bahan pembersih Lainnya : Vim Bleanch, Nobla Liquid, Sumargrill, Sumaschlor, Silver Cleaner, Aluminium Clleaner, Jus Lemon dan Garam, Cuka, Baking Soda,dll

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

114

D. TUGAS 1. Buatlah kelompok dengan anggota masing-masing 4 orang 2. Secara berkelompok, berdasarkan hasil pekerjaan tugas sebelumnya tentang mencari contoh merk bahan pembersih dan bahan saniter, identifikasikan kembali merk-merk bahan pembersih dan bahan saniter dan kelompokkan sesuai dengan jenisnya 3. Catatlah hasil diskusi sesuai format berikut : No Merk Bahn Pembersih/ Saniter

Jenis

Dst… 4. Komunikasikan hasil diskusi di depan kelas

E. TES

Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Sebutkan macam-macam bahan pembersih dan bahan saniter ! 2. Sebutkan contoh desinfektan ! 3. Apa sajakah yang mempengaruhi keefektifan desinfektan? 4. Sebutkan syarat deterjen yang baik untuk pembersihan ! 5. Sebutkan bahan pembersih lainnya yang Anda ketahui dapat digunakan sebagai bahan pembersih !

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

115

Kegiatan Belajar 3 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Membedakan daya kerja bahan pembersih berdsarkan konsentrasi larutan

B. MATERI Kita sudah mengenal macam macam bahan pembersih peralatan, perabot, dan ruangan. Setiap bahan pembersih mempunyai kelebihan dan kekurangan masing masing. Ada beberapa hal yang mempengaruhi daya kerja bahan pembersih salah satunya adalah konsentrasi larutan Daya Kerja Bahan Pembersih Berdasarkan Konsentrasi Larutan Agar proses pembersihan mendapatkan hasil yang maksimal, kita perlu menggunakan bahan pembersih dengan tepat. Berikut adalah factor yang mempengaruhi daya kerja bahan pembersih : 1. Waktu 2. Suhu 3. Konsentrasi larutan 4. Pergerakan mekanik (penggosokan)

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

116

Pembersihan memakan waktu, terutama jika menggunakan bahan kimia. Perendaman tanpa pengadukan memakan waktu paling lama. Suhu adalah faktor penting karena makin tinggi suhu mempercepat reaksi kimia dan melunakkan sisa lemak, membuatnya lebih mudah untuk diemulsifikasikan. Faktor yang sangat menonjol adalah konsentrasi larutan. Konsetrasi larutan merupakan cara untuk menyatakan hubungan kuantitatif antara zat terlarut dan pelarut. Dalam ini zat terlarut adalah bahan pembersih dan pelarut adalah air. Larutan dikatakan encer apabila jumlah zat terlarut sangat sedikit, dan dikatakan pekat jika jumlah zat terlarut sangat banyak. Apabila bahan pembersih hanya membutuhkan konsentrasi larutan yang rendah untuk dapat membersihkan suatu peralatan, artinya daya kerja bahan pembersih tinggi. Sebaliknya semakin membutuhkan konsentrasi larutan yang tinggi, maka dapat dikatakan daya kerja bahan pembersih semakin rendah.

C. RANGKUMAN

 Konsetrasi larutan merupakan cara untuk menyatakan hubungan kuantitatif antara zat terlarut dan pelarut.  Apabila bahan pembersih hanya membutuhkan konsentrasi larutan yang rendah untuk dapat membersihkan suatu peralatan, artinya daya

kerja

bahan

pembersih

tinggi.

Sebaliknya

semakin

membutuhkan konsentrasi larutan yang tinggi, maka dapat dikatakan daya kerja bahan pembersih semakin rendah.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

117

D. TUGAS 1. Bersama dengan kelompokmu, diskusikan tentang faktor yang mempengaruhi daya kerja bahan pembersih 2. Presentasikan hasil diskusi kelompokmu di depan kelas 3. Kelompok lainnya menyimak dan mengajukan pertanyaan 4. Catatlah hasil diskusi, dan serahkan kepada guru tau fasilitator

E. TES Jawablah soal uraian berikut ! 1. Sebutkan faktor apa saja yang mempengaruhi daya kerja bahan pembersih! 2. Apakah yang dimaksud dengan konsentrasi larutan? 3. Mengapa konsentrasi larutan sangat mempengaruhi daya kerja bahan pembersih?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

118

F. Lembar Kerja Praktik

Praktik Membedakan Daya Kerja Bahan Pembersih dan Bahan Saniter Bahan : 2 macam merk sabun khusus cuci peralatan dapur 2 macam merk detergen 2 macam merk desinfektan Air Alat : Sendok 9 buah Kom 9 buah Sisa makanan yang berlemak Cara Kerja : 1. Celupkan masing-masing sendok kedalam sisa makanan yang berlemak 2. Tempatkan masing-masing sendok ke dalam kom. 3. Isi masing-masing kom dengan air 200 cc 4. Berilah nama masing-masing kom dengan A1, A2, A3, B1, B2, B3, C1, C2, C3. Nama kom untuk membedakan bahan pembersih yang akan dilarutkan. A1 : merk ke 1 sabun khusus cuci peralatan dapur A2 : merk ke 2 sabun khusus cuci peralatan dapur A3 : merk ke 3 sabun khusus cuci peralatan dapur B1 : merk ke 1 detergen B2 : merk ke 2 detergen B3 : merk ke 3 detergen C1 : merk ke 1 desinfektan C2 : merk ke 2 desinfektan C3 : merk ke 3 desinfektan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

119

5. Tuangkan bahan pembersih kedalam kom masing-masing sebanyak 20 gr. Aduk. Apabila baan pembersih berupa bubuk dapat dicairkan terlebih dahulu. 6. Tunggu selama 10 menit 7. Angkat bersamaan sendok yang ada dalam masing-masing kom 8. Catatlah hasilnya dalam kolom di bawah ini No

Kode

Bahan Pembersih

1

A1

Sabun cuci merk…

2

A2

Sabun cuci merk…

3

B1

Detergent merk…

4

B2

Detergent merk…

5

C1

Desinfektan merk…

6

C2

Desinfektan merk…

Hasil

9. Jawablah pertanyaan di bawah ini : a. Sabun cuci yang mana yang mampu membersihkan sisa makanan paling baik? b. Detergen yang mana yang mampu membersihkan sisa makanan paling baik? c. Desinfektan yang mana yang mampu membersihkan sisa makanan paling baik? d. Dari praktik yang telah dilakukan, urutkan daya kerja bahan pembersih mulai dari yang paling baik. 10. Presentasikan hasil laporan praktikum di depan kelas

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

120

Uji Kompetensi V I. Pilihlah jawaban yang paling tepat ! 1. Berikut ini adalah letak perbedaan bahan pembersih dan saniter adalah… a. Bahan

pembersih

berbentuk

padat, saniter cair b. Bahan

pembersih

c. Bahan pembersih adalah air, saniter adalah bahan kimia

adalah

deterjen, saniter adalah sabun

d. Bahan pembersih untuk membersihkan noda,

saniter

untuk

mereduksi

mikroorganisme pathogen 2. Alkali (anionic) detergen berfungsi untuk membersihkan… a. Sisa makanan yang kaya mineral

c. Kerak air

b. Lemak/minyak

d. Lapisan besi

3. Berikut merupakan syarat detergen yang baik, kecuali… a. Mudah melarutkan lemak b. Dapat memecah partikel padat

c. Membutuhkan

berulangkali

penggosokan saat pembersihan d. Dapat melarutkan protein

4. Berikut merupakan kelemahan sabun sebagai bahan pembersih adalah… a. Sabun kurang efektif membunuh c. Dalam air sadah, sabun sulit berbusa mikroorganisme b. Sabun tidak melarutkan lemak

d. Sabbun mempunyai daya kerja bahan pembersih yang rendah

5. Berikut ini adalah sifat sifat yang harus ada pada desinfektan, kecuali… a. Tidak beracun

c. Mampu membunuh mikroorganisme

b. Mempunyai busa yang banyak

d. Tidak

menodai

makanan

dan

minuman

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

121

6. Desinfektan yang juga dapat digunakan sebagai antiseptic kulit atau untuk mereduksi mikroorganisme pada permukaantangan adalah… a. Yodosfor

c. QAC

b. Khlorin dioksida

d. Detergen

7. Desinfektan yang kita kenal sebagai pemutih, mempunyai bau yang kuat adalah… a. QAC

c. Pholenic desinfektan

b. Yodosfor

d. Amphteric surfactan

8. Benda-benda yang dapat difungsikan sebagai bahan pembersih, kecuali… a. Baking soda

c. Lemon

b. Bawang putih

d. Pasta gigi

9. Hubungan kuantitatif antara zat terlarut dan pelarut yang mempengaruhi daya kerja bahan pembersih adalah… a. Waktu

c. Konsentrasi larutan

b. Suhu

d. Penggosokan

10. Hal-hal yang mempengaruhi daya kerja bahan pembersih, kecuali… a. Waktu

c. Konsetrasi larutan

b. Suhu

d. Warna bahan pembersih

II. Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Apakah yang dimaksud bahan pembersih dan saniter? 2. Sebutkan dan jelaskan 3 macam bahan pembersih dan saniter!

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

122

BAB 6

Cara Membersihkan peralatan dan Ruang

INDIKATOR : 1. Mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam menemukan dan memahami berbagai aspek terkait dengan pemahaman sanitasi, hygiene dan keselamatan kerja 3. Menunjukkan perilaku amaliah (jujur , disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan pekerjaan 4. Menunjukan perilaku cinta damai dan toleransi dalam membangun kerjasama dan tanggungjawab dalam implementasi kesehatan dan keselamatan kerja. 5. Menjelaskan cara membersihkan peralatan dan ruang 6. Membersihkan peralatan dan ruang

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

Kegiatan Belajar 1 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Menjelaskan cara membersihkan peralatan

B. MATERI Kebersihan dari peralatan yang digunakan di dalam restoran harus dijaga setiap saat dengan berbagai macam cara yang disesuaikan dengan kondisi alat-alat tersebut. Karena factor kebersihan memegang peranan penting di dalam pelaksanaan pengolahan makanan di suatu restoran. Supaya peralatan dapur berfungsi optimal, peralatan ini perlu dipelihara dengan selalu dibersihkan. Membersihkan peralatan mempunyai cara tersendiri. Karena masing-masing alat mempunyai cara yang berbeda dalam membersihkannya. Lalu bagaimana cara membersihkan peralatan?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

123

Cara Membersihkan Peralatan Agar dapat membersihkan dan merawat peralatan dengan benar maka, harus terlebih dahulu mengetahui sifat dari masing-masing bahan. sehingga langsung dibahas tentang cara membersihkan dan memelihara peralatan. Peralatan dapur dikelompokkan berdasarkan pada bahan dasar yang dipergunakan untuk membuat peralatan. Macam-Macam Peralatan: 1. Alat yang dibuat dari besi Besi banyak digunakan untuk membuat wajan. Karena besi mudah berkarat maka perlu dibersihkan dengan air sabun, garam halus, sabut gosok. Untuk jenis besi yang berlapis tergantung dari jenis lapisannya, besi berlapis email dibersihkan dengan air sabun, serbuk vim, sabut halus. Besi berlapis teflon dibersihkan dengan air sabun dan busa halus. Untuk lapisan teflon jangan sekali-kali menggunakan abu gosok dan sabut yang kasar karena lapisan teflon akan mengelupas dan rusak. Untuk menghilangkan bau dan sisa lemak sebaiknya disiram dengan air panas, kemudian dilap dan dikeringkan. 2. Alat dari timah Saringan dan sejenisnya sering terbuat dari bahan timah. Dalam merawat diperlukan cara yang teliti, terutama sisa makanan yang melekat. Untuk mencuci sebaiknya tidak menggunakan sabun, karena soda akan merusak alat dari bahan timah. Jadi cukup menggunakan vim atau abu gosok halus dengan sabut kemudian dibilas dan disiram dengan air panas dan dikeringkan. 3. Alat dari tembaga Alat yang dibuat dari tembaga sangat baik dan mahal.Kelemahannya adalah apabila tidak dibersihkan dengan baik akan terlihat kotor dan tidak menarik. Untuk membersihkannya diperlukan campuran tepung, cuka, serta serbuk perak lalu dicuci air panas dan dikeringkan. 4. Alat dari aluminiun Aluminium dibersihkan dengan air sabun, serbuk gosok halus atau vim, busa, dibilas sampai bersih lalu dikeringkan.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

124

5. Stainless steel Peralatan dari bahan stainless steel sangat baik digunakan. Harganya cukup mahal, namun banyak disukai karena pemeliharaannya mudah. Alat ini dibersihkan dengan air sabun, busa atau spon, dibilas sampai bersih lalu dikeringkan atau dilap. 6. Alat dari bahan kuningan Peralatan dari kuningan yang langsung berhubungan dengan makanan sebaiknya dicuci dengan menggunakan air jeruk nipis, asam, belimbing wuluh, serbuk bata halus, dibilas dan disiram dengan air panas lalu dikeringkan. 7. Alat dari tanah liat Alat dari tanah liat dibersihkan dengan menggunakan sabut, abu gosok dan dibilas dengan air bersih lalu dikeringkan . 8. Alat dari bambu dan kayu Peralatan dari kayu dibersihkan atau dicuci dengan air sabun, serbuk atau abu gosok, sabut ataupun sikat, dibilas dan dikeringkan agar tidak berjamur. 9. Alat dari bahan batu Alat dari batu dibersihkan dengan abu gosok atau vim, sikat dan dibilas sampai bersih, lalu dikeringkan. 10. Alat dari bahan plastik dan melanine Alat ini dibersihkan dengan sabun biasa atau sabun cair, busa lalu dibilas sampai bersih dan dikeringkan. 11. Alat dari bahan kaca, keramik, porselin Alat ini dibersihkan dengan air sabun, vim, sabut hijau atau spon lalu dibilas dan dikeringkan Tujuan dari membersihkan dan memelihara peralatan adalah : 

Agar peralatan yang kotor menjadi bersih kembali dari sisa makanan dan debu.

Menjauhkan diri dari sumber penyakit

Menghemat biaya.

Peralatan menjadi lebih tahan lama masa pakainya.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

125

Peralatan dan perlengkapan dapur adalah semua perlengkapan dan peralatan yang dipergunakan didapur untuk mengolah makanan (Kitchen Equipment & utensil). Dewasa ini banyak sekali dijual dan beredar dipasaran jenis dan macam peralatan yang sering digunakan di dapur. Ada yang terbuat dari tanah liat, bambu, kayu , besi, aluminium, seng, stainless steel, atau plastik. Didalam

pemilihan peralatan dan perlengkapan dapur diperlukan

persyaratan antara lain :  Mudah dibersihkan  Mudah diketahui bahwa alat tersebut sudah bersih  Keras dan tidak menyerap bahan-bahan makanan  Permukaan halus sehingga mudah dibersihkan  Tidak mudah berkarat atau antikarat  Tidak mudah pecah. Apabila beberapa bagian dari peralatan yang sulit dibersihkan terdapat sisasisa makanan yang tertinggal maka akan mudah sekali menjadi tempat bakteri berkembang biak, sehingga dapat mengakibatkan makanan menjadi basi dan dapat menimbulkan keracunan. Demikian pula bahan-bahan yang dipergunakan untuk membuat

peralatan

dapur

tidak

boleh

terbuat

dari

bahan-bahan

yang

mengakibatkan keracunan misalnya besi dan timah hitam. Bahan baku yang digunakan oleh pabrik-pabrik alat penyimpanan makanan, menghidangkan, memasak, melayani dan mencuci peralatan seharusnya berasal dari bahan yang bebas dari bahan yang membahayakan manusia, mampu menahan serangan serangga, tidak dapat mempengaruhi keadaan makanan ataupun minuman, menimbulkan bau busuk dan berpengaruh terhadap warna masakan seperti mangkuk dan bahan-bahan keramik yang telah dikerjakan oleh orang-orang dahulu. Permukaan alat untuk meletakkan makanan sebaiknya mempunyai permukaan yang halus, agar mudah dibersihkan. Solder atau alat untuk mengelas sambungan hendaknya menggunakan logam sejenis yang tahan korosi terhadap bahan bahan baku.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

126

1. Baja Tahan Karat Baja tahan karat yang umum digunakan untuk alat pelayanan makanan terdiri dari 18% chromium, 8% nikel dan 0,08% karbon. Jenis baja tahan karat yang lain adalah mengandung karbon 0,08%. Baja tahan karat mempunyai sifat cemerlang, menarik, mudah dibersihkan, kuat, tidak berkarat, tidak mudah bereaksi dengan asam dan soda. Jadi baja tahan karat tersebut siap digunakan baik di dapur maupun untuk peralatan pelayanan. Baja tahan karat tersebut mempunyai lapisan yang memperbaharui sendiri yang tahan terhadap oksidasi dan korosi. Walaupun begitu warnanya tidak berubah, kenampakan yang cemerlang dengan mudah memperlihatkan kotoran yang ada. 2. Besi Peralatan dari besi saat ini masih banyak digunakan seperti untuk pembuatan periuk, panci, beberapa wajan, tutup kompor, kompor gas dan peralatan yang sejenis. Besi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu: a. Besi polos Besi polos mempunyai sifat : berat, kuat, mudah berkarat, penghantar panas yang baik, mempengaruhi rasa dan warna pada masakan. Besi polos sangat baik untuk membuat wajan di samping cepat panas, masakan yang digoreng tidak melekat diwajan. Namun sebaiknya besi polos tidak digunakan untuk memasak sayur ataupun lauk pauk terutama yang menggunakan santan atau yang berasa asam. Besi polos apabila digunakan akan mengubah dan mempengaruhi rasa dan warna masakan, yaitu warna masakan menjadi kebiruan dan berasa kurang enak. Hal ini disebabkan karena adanya reaksi kimia antara logam dengan bahan dan bumbu yang mendapatkan suhu tinggi. b. Besi berlapis Besi berlapis mempunyai sifat: berat, kuat, tidak mudah berkarat, penghantar panas, tidak mempengaruhi rasa dan warna masakan. Besi berlapis adalah besi yang mendapatkan lapisan tertentu sehingga sifat asli yang kurang baik dari besi akan hilang untuk sementara. Namun bila lapisan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

127

tersebut mengelupas, maka sifat asli dari besi akan timbul kembali seperti mudah berkarat dan berlubang. Dengan melindungi logam besi dan baja dari sifat korosi maka alat tersebut dapat digunakan untuk keperluan memasak, meningkatkan kualitas dari alat tersebut dan mudah untuk dibersihkan. Ada beberapa macam lapisan yang sering digunakan untuk memberi lapisan pada besi atau logam seperti: c. Email acrylic Email acrylic adalah sebuah lapisan organik yang dibuat dari damar-damar sintetis pada sebuah logam. Biasanya pada bagian permukaan. d. Email bakar Email bakar adalah sebuah cat alkyd yang disemprot-kan pada sebuah logam dasar kemudian dibakar dengan panas 93-204 derajat celcius. Bahan seperti cuka, chlorine, bahan pemutih dan alkohol dapat merusak lapisan ini. e. Porselin email Porselin email adalah sebuah campuran antara bahan gelas yang dicampur dengan sebuah logam dasar pada panas 760-817 derajat celcius, sehingga tidak berlubang-lubang dan tidak mudah tergores, tidak mudah berkarat atau bernoda. f. Silicone Silicone adalah suatu lapisan yang merupakan perantara zat (benda) antara benda-benda organic yang berkualitas dan bahan membuat gelas yang disemprotkan pada permukaan dengan membakar alat tersebut akan memberi pelepasan dengan baik. g. Teflon Teflon adalah sebuah campuran damar fluorocarbon yang disemprotkan pada permukaan alat tersebuL kemudian dioven / dibakar pada panas 371399 derajat celcius. Bahan teflon ini mengandung kimia dan larutan-larutan tetapi bahan tersebut dapat dihilangkan dengan dicuci dengan deterjen dan air panas. Alat yang menggunakan lapisan teflon ini jangan sampai terkena goresan benda tajam sebab lapisan teflon akan mudah terkelupas. Lapisan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

128

teflon ini sering pula disebut lapisan anti lengket. Lapisan ini sering gunakan pada alat seperti : wajan dadar, wajan bertelinga dll. Sebagai alat pengaduk sebaiknya terbuat dari bahan kayu. 3. Plastik Plastik sebagai bahan untuk pembuatan peralatan pelayanan makanan sekarang ini banyak disukai. Macam-macam plastik : a. Akrlikik Akrilik digunakan dalam berbagai produk dengan merk Incite., Plexiglass. Lucite digunakan untuk alat-alat makanan Plexsiglass b. Melanine Digunakan dalam pembuatan berbagai piring plastic Boontonware, Texasware, juga digunakan dalam Countertop seperti foemika. c. Fiberglass Menggunakan serabut gelas dalam panas damar yang biasanya suatu polyster. Sebagai contoh penggunaan bahan ini adalah untuk meja counter atau meja penyaji hidangan. d. Nilon Bahan ini sehari-hari seringkali digunakan untuk peralatan yang banyak memerlukan pergeseran. e. Phenolik Biasanya berwarna coklat, digunakan untuk bahan baku pembuatan baki. f. Polyethylene Suatu termoplastik bahan ini biasa digunakakan untuk pembuatan mangkok yang fleksibel, penyimpanan botol, bak sampah dan sebagainya. g. Polypropylene Polypropylene adalah suatu plastik yang tahan terhadap pengaruh panas tinggi, biasanya digunakan sebagai rak mesin cuci dan penerapan yang lain. h. Styrene Styrene mempunyai pengaruh kekuatan yang tinggi, tetapi tidak dapat digunakan pada temperatur lebih dari 71° C. Bahan ini biasanya digunakan untuk pembuatan tutup, lemari pendingin. Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

129

4. Aluminium Aluminium saat ini banyak digunakan karena mempunyai sifat, ringan, warna putih keabuan, pengantar panas yang baik, tidak beracun, tak tahan terhadap soda, chlor, asam, bila lembab lekas bersenyawa dengan zat asam. Masakan yang dimasak dengan menggunakan alat dari aluminium harus segera dituang agar masakan tidak berubah baik rasa maupun warnanya, misalnya masakan sayur asam, acar, masakan telur. Bila masakan ini dibiarkan diatas panel aluminium maka masakan akan berubah menjadi biru atau kebiruan. Selain digunakan untuk peralatan dapur aluminium juga banyak digunakan untuk perkakas, peralatan interior dan eksterior pada kereta dan peralatan

lain.

Noda

aluminium

akan

meminimumkan

oksida

yang

menghitamkan segala sesuatu/ makanan yang menempel. 5. Logam-logam lain Pada waktu-waktu yang lalu, semua peralatan makanan dan peralatan memasak terbuat dari kayu, kecuali peralatan yang mudah terbakar. Sekarang peralatan tersebut masih kita jumpai karena: murah, ringan, kuat, terlihat indah. Peralatan dari kayu tersebut tidak mudah bereaksi dengan makanan. Sifat kayu yang lain adalah cepat dan mudah menyerap cairan dan bau. Dari sifat-sifat tersebut akhir-nya kebanyakan peralatan sekarang banyak terbuat dari logam atau besi tuang dan plastic Membersihkan perabot atau peralatan pengolahan makanan dapat dilakukan menggunakan 2 teknik yaitu : 1. Teknik mencuci peralatan menggunakan tangan (washing by hand) Cara pencucian dengan menggunakan tangan sifatnya sangat sederhana dan tidak memerlukan peralatan yang mahal. Mencuci dengan tangan tetap memerlukan sanitasi, hygiene, dan efisiensi waktu. Peralatan yang diperlukan antara lain :  bak cuci  sponge atau karet busa

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

130

 hand brush atau sikat tangan yang keras dan lembut  soft cutton cloth atau lap katun  keranjang  tempat sampah, untuk sampah organic dan anorganis a. Scraping Memisahkan segala kotoran dan sisa–sisa makanan yang terdapat pada peralatan yang akan dicuci, seperti sisa makanan di atas piring, sendok, panci dll. b. Flushing dan Soaking Mengguyur air diatas peralatan yang akan dicuci sehingga bersih dari noda sisa seluruh permukaan peralatan. Perendaman (soaking) dimaksud kan untuk memberi kesempatan peresapan air kedalam sisa makanan yang menempel atau mengeras, sehingga menjadi mudah untuk dibersihkan atau terlepas dari permukaan alat. Waktu perendaman tergantung dari kondisi peralatan. Penggunaan perendaman dengan air panas (60ºC ) akan lebih cepat dari pada air dingin. Minimal waktu perendaman adalah 30 menit– 60 menit. c. Washing Mencuci peralatan dengan cara menggosok dan melarutkan sisa makanan dengan zat pencuci seperti detergen cair atau bubuk, yang mudah larut dalam air sehingga sedikit kemuingkinan membekas pada alat yang di cuci. Pada tahap ini dapat digunakan sabut, tapas, atau zat penghilang bau yang dipergunakan seperti abu gosok, arang atau air jeruk nipis. Penggunaan sabun biasa sebaiknya harus dihindari, karena sabun biasa tidak dapat melarutkan lemak, akibatnya pembersihan lemak tidak sempurna dan kemungkinan bau. Sabun biasa agak sulit larut dalam air dan bila menempel di peralatan akan menimbulkan bekas (noda) bila peralatan sudah kering. Pada tahap penggosokan ini perlu diperhatikan bagian – bagian peralatan yang perlu dibersihkan lebih cermat yaitu: Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

131

 Bagian perlatan yang terkena makanan (permukaan tempat makanan)  Bagian peralatan yang kontak dengan tubuh (bibir gelas, ujung sendok)  Bagian yang tidak rata (bergerigi, berukir dan berpori) d. Rinsing Mencuci peralatan yang telah digosok detergent sampai bersih dengan cara dibilas dengan air bersih. Pada tahap ini penggunaan air harus banyak, mengalir dan selalu bertukar. Setiap alat yang dibersihkan dibilas dengan cara menggosok– gosok dengan tangan atau sampai terasa kesat (tidak licin). Pembilasan sebaiknya dilakukan dengan air bertekanan yang cukup sehingga dapat melarutkan sisa kotoran atau sisa bahan pencuci. Tekanan air yang digunakan dianjurkan dengan tekanan 15 psi (pound persquare inches) atau tekanan air yang digunakan sama dengan 1,2 kg/cm2. e. Sanitizing Tindakan sanitasi untuk membebaskan peralatan dari mikroorganisme setelah proses pencucian. Peralatan yang selesai dicuci perlu dijamin aman dari mikroba dengan cara sanitasi atau dikenal dengan desinfeksi. Cara desinfeksi yang umum dilakukan adalah beberapa macam yaitu :  Rendam air panas 100ºC selama 2 menit.  Larutkan chlor aktif (50 ppm)  Udara panas (oven)  Sinar ultra violet (sinar pagi 9.00 – 11.00) atau peralatan elektrik yang menghasilkan sinar ultra violet  Uap panas (steam) yang biasanya terdapat pada mesin cuci piring (dishwashing machine)

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

132

f.

Toweling Mengeringkan dengan manggunakan kain atau handuk (towel) dengan maksud menghilangkan sisa- sisa kotoran yang mungkin masih menempel sebagai akibat proses pencucian seperti noda detergent, noda chlor. Sebenarnya kalau proses pencucian berlangsung dengan baik, maka noda – noda itu tidak boleh terjadi. Noda bisa terjadi pada mesin pencuci, yang system desinfeksinya sudah kurang tepat. Prinsip penggunaan lap pada alat yang sudah dicuci bersih sebenarnya

tidak

boleh

karena

akan

terjadi

pencemaran

sekunder

(recontaminasi). Toweling ini dapat digunakan dengan syarat bahwa towel yang digunakan harus steril serta sering diganti unutk sejumlah penggunaan. Yang paling baik adalah sekali pakai (single use). Towel yang sudah digunakan dicuci dan disterilkan dengan outctov sehingga benar – benar steril setiap akan digunakan. Dalam pembersihan peralatan yang menggunakan tindakan sanitasi kering (sinar atau oven), penggunaan towel sebaiknya tidak digunakan. Tujuan mencuci peralatan makanan dan masak dengan menggunakan sarana dan teknis pencucian dapat diuraikan sebagai berikut:  Untuk menghilangkan kotoran-kotoran kasar, dilakukan dengan: 

Scraping atau pemisahan kotoran sebelum dicuci, agar proses mencuci lebih mudah, kotoran kasar tidak menyumbat saluran pembuangan limbah dari bak pencuci.

Pemakain sabut, tapas atau abu gosok, agar kotoran keras yang menempel dapat dilepaskan dari peralatan.

Penggunaan air bertekanan tinggi (15 psi) dimaksud agar dengan tekanan air yang kuat dapat membantu melepaskan kotoran yang melekat.

 Untuk menghilangkan lemak dan minyak, dengan cara : 

Direndam dalam air panas (60ºC ) sampai larut dan segera dicuci, jangan sampai dibiarkan kembali dingin, karena lemak akan kembali membeku.

Direndam dalam larutan detergent (lemon shop) dan bukan sabun, karena sabun tidak melarutkan lemak. Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

133

 Untuk menghilangkan bau amis pada ikan dengan cara :  Melarutkan dengan air perasan jeruk nipis (lemon), dalam larutan pencuci (asam jeruk melarutkan lemak)  Menggunakan abu gosok, arang atau kapur yang mempunyai daya deodorant (anti bau)  Menggunakan detergent yang baik (lemak yang larut akan melarutkan bau amis / bau ikan).  Menggunakan tindakan sanitasi dan desinfeksi untuk membebaskan hama dan kuman dengan cara–cara berikut :  Direndam dalam air panas dengan suhu 80ºC selama 2 menit dan 100ºC selama 1 menit.  Direndam dalam air mengandung chlor 50 ppm selama 2 menit atau dibubuhi kaporit 2 sendok makan dalam 100 liter air.  Ditempatkan pada sinar matahari sampai kering  Ditempatkan pada oven penyimpanan piring.  Pengeringan peralatan yang telah selesai dicuci, dapat dilakukan dengan menggunakan :  Handuk khusus yang bersih dan tidak menimbulkan pengotoran ulang  Lap bersih sekali pakai yang tidak menimbulkan bekasnya  Ditiriskan sampai kering dengan sendirinya. Untuk menguji apakah pencucian itu berlangsung dengan baik dan benar, dilakukan pengukuran kebersihan pencucian dengan cara test kebersihan sebagai berikut:  Dengan menaburkan tepung pada piring yang sudah dicuci dalam keadaan kering. Bila tepungnya lengket pertanda pencucian belum bersih  Menaburkan garam pada piring yang kering. Bila garam yang ditaburkan tadi lengket pada piring, pertanda pencucian belum bersih.  Penetesan air pada piring yang kering. Bila air jatuh pada piring ternyata menumpuk atau tidak pecah pertanda pencucian belum bersih.  Penetesan dengan alcohol, jika tejadi endapan pertanda pencucian belum bersih. Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

134

 Penciuman aroma, bila tercium bau amis pertanda pencucian belum bersih.  Penyinaran. Bila peralatan kelihatannya kusam / tidak cemerlang berarti pencucian belum bersih. Tes kebersihan secara bakteriologis dapat dilakukan dengan cara :  Pengambilan usapan kapas steril (swab) pada peralatan yang disimpan. Nilai kebersihan dihitung dengan angka– angka sebagai berikut:  Angka kuman sebanyak–banyaknya 100/cm dari permukaan alat yang diperiksa.  Angka kuman E Coli harus 0/cm2  Pengambilan usapan kapas steril pada peralatn dilakukan segera setelah pencucian. Hal ini untuk menguji proses pencucian karena semakin lama akan semakin banyak terjadi Pencemaran bakteri yang berasal dari udara dan akan memberikan penyimpangan lebih tinggi dari keadaan yang sebenarnya. Hal lain yang perlu diperhaikan dalam pencucian peralatan :  Makanan yang tersisa pada panci dikeruk dan dikumpulkan pada tempat sampah  Peralatan yang berkerak harus direndam dengan air hangat. Kerak makanan yang mengandung tepung sebaiknya direndam dengan air dingin, sedangkan kerak makanan yang mengandung gula direbus kembali dan digosok pada saat air mendidih. Sementara itu, kerak yang mengandung lemak direndam dengan air panas berisi sabun lalu direbus kembali baru dibersihkan.  Alat pengggorengan seperti wajan yang terbuat dari alumunium dan stainless steel, dicuci dicuci dengan air panas dan sabun. Untuk yang berlapis teflon dibersihkan dengan kain lap lembut pada saat masih panas.  Peralatan yang masih panas sebaiknya dibiarkan dingin dahulu sebelum direndam dengan air dingin  Talam besi untuk membakar roti dan kue tidak dicuci denga air, tetapi dilap bersih lalu diolesi minyak dan disimpan.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

135

2. Teknik mencuci peralatan menggunakan mesin (washing by machine) Washing by Machine adalah proses pencucian semua jenis peralatan yang digunakan direstoran atau hotel yang menggunakan mesin. Mesin yang khusus untuk mencuci segala jenis gelas (glassware), yaitu glass washing machine, sedangkan mesin yang digunakan untuk mencuci hampir semua jenis alat (glass ware, china ware, silver ware) yaitu diswashing machine. Secara garis besar diswashing machine dibagi menjadi 2, yaitu three zone diswashing machine dan single tank diswahing machine. a.

Three Zone Diswashing Machine Dalam proses pencucian mesin ini, dibagi menjadi 3 tahap, yaitu prewashing zone, main washing zone, dan rising zone 1) Pre Washing Zone Bagian ini meruakan proses pencucian pendahuluan dengan cara peralatan yang dicuci, disemprot secara otomatis oleh mesin dengan air panas yang temperaturnya 30˚C-35˚C. Gunanya untuk menghilangkan sisa-sisa maknan yang melekat. 2) Main Washing Zone Bagian ini merupakan proses kelanjutan dari pre washing dengan cara alatalat disemprot dan dicuci dengan sisiten penyemprotan air panas (60˚C70˚C) yang sudah bercampur dengan larutan sabun sehingga alat-alat terbebas dari kotoran. 3) Rinsing Zone Rising zone yaitu proses pembilasan peralatan yang berasal dari pipa-pipa air yang sudah tersedia dan mencapai derajat kepanasan antara 85˚ C-90˚C ditambah dengan bahan pembersih (cleaning supplies)

Gambar 14. Three Zone Diswashing Machine Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

136

b.

Single Tank Diswashing Machine Sistem kerja dalam mesin ini lebih sederhana dibandingkan mesin yang menggunakan tiga zone di dlaam satu unit mesin (three zone diswashing machine). Beberapa ketentuan dari single tank diswashing machine, antara lain sebagai berikut : 1) Pre Washing (Pencucian awal) Pada proses ini dilakukan di luar mesin dengan cara manual, yaitu menyemprot peralatan yanga akan dicuci dengan air panas antara 30˚ C-35˚ C melalui alat khusus yang disebut apraiyer atau degan cara merendam alat-alat sebelu dimasukkan ke dalam mesin. 2) Washing and Rinsing Pada proses washing, air dialirkan melalui pipa-pipa ke dalam mesin antara 60˚ C- 70˚ C yang berfungsi sebagai washing atau pencucian. Pada proses rinsing airnyapun mengalir melalui booster (alat pemanas) sehingga temperatur naik menjadi 85˚ -95˚ C.

Gambar 15. Single Tank Diswashing Machine

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

137

C. RANGKUMAN

 Dalam membersihkan peralatan disesuaikan dengan karakteristik bahan dasar alat tersebut.  Membersihkan perabot atau peralatan pengolahan makanan dapat dilakukan menggunakan 2 teknik yaitu : 1. Teknik mencuci peralatan menggunakan tangan (washing by hand) Scraping, Flushing dan Soaking, Washing, Rinsing, Sanitizing, Toweling 2. Teknik mencuci peralatan menggunakan mesin (washing by machine) Three Zone Diswashing Machine. Single Tank Diswashing Machine

D. TUGAS 1. Bersama

dengan

kelompokmu,

diskusikan

tentang

tahapan-tahapan

pembersihan peralatan 2. Presentasikan hasil diskusi kelompokmu di depan kelas 3. Kelompok lainnya menyimak dan mengajukan pertanyaan 4. Catatlah hasil diskusi, dan serahkan kepada guru tau fasilitator

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

138

E. TES

Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Bagaimanakah cara membersihkan peralatan yang terbuat dari : a. Stainles Steel b. Alumunium c. Plastik d. Kayu e. Teflon f.

Email

2. Sebutkan dan jelaskan macam-macam teknik pencucian peralatan! 3. Sebutkan dan jelaskan tahapan pencucian menggunakan tangan!

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

139

Kegiatan Belajar 2 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungankerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Menjelaskan cara membersihkan ruang

B. MATERI Area atau tempat kerja dalam artian restoran atau dapur, harus memiliki persyaratan sanitasi. Karena lingkungan atau tempat kerja yang kondusif akan menciptakan produktifitas kerja serta memberikan rasa nyaman saat berkerja atau beraktifitas di dalamnya. Oleh karena itu pembersihan perlu kita lakukan. Bagaimana cara yang tepat dalam melakukan pembersihan ruang?

Cara Membersihkan Ruang  Bahan Kimia untuk Pembersihan Area Kerja Bahan kimia untuk pembersihan area kerja, antara lain demon pine, carbonide (amstri 514), prevail, dan heavy cleaner. Demon pine yaitu bahan pembersih dari campuran deterjen dan desinfektan, gunanya untuk membersihkan area lantai dapur dari kotoran maupun kuman berbahaya. Carbonide (amstrip 514), yaitu

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

140

cairan sebagai bahan pembersih, gunanya untuk membersihkan lantai bagian dapur. Prevail gunanya untuk membersihkan toilet, lantai dapur, dan tempat sampah. Heavy duty cleaner gunanya untuk membersihkan lantai dapur dan towel.  Penggunaan Bahan Kimia Pembersih dengan Cara Aman Beberapa jenis bahan pembersih yang digunakan mungkin berbahaya bagi kesehatan. Ada juga bahan pembersih tidak menimbulkan bahaya secara langsung, tetapi jika terus menerus digunakan akan berdampak pada kesehatan. Karena itu, sebaiknya gunakan sarung tangan ketika menggunakan bahan tersebut. Jika tidak menggunakan sarung tangan, tangan menjadi kering dan mungkin kulit tangan akan terkena dermatitis. Karena itu, perhatikan secara sungguh-sungguh panduan pemakaian bahan pembersih. Dalam menggunakan bahan pembersih, gunakan bahan sesuai fungsinya. Ikuti petunjuk penggunaan bahan dan periksa petunjuk khususnya. Ikuti pula aturan waktu penggunaannya. Bila telah selesai digunakan, simpan bahan pembersih di tempat yang aman. Dalam menyimpan bahan pembersih, jangan meletakkan di sembarang tempat, terutama di area yang digunakan anak-anak bermain. Apabila menggunakan penyemprot, arah moncong semprotan jangan diarahkan ke orang lain. Bersihkan barang-barang lain yang tidak sengaja terkena bahan pembersih. Hal yang harus diperhatikan untuk keselamatan dan kesehatan dalam penggunaan bahan pembersih, diantaranya sebagai berikut : a.

Pergunakan alat pelindung yang telah direkomendasikan 1) Gunakan sarung tangan yang sesuai, misalnya jika membersihkan kamar mandi gunakan sarung tangan panjang. 2) Gunakan masker muka jika melakkan pembersihan yang berisiko menimbulkan percikan. 3) Gunakan kacamata debu jika melakukan pembersihan yang berisiko menimbulkan banyak debu

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

141

Gambar 16. Perlengkapan Membersihkan Peralatan b.

Pergunakan bahan pembersih sesuai dengan fungsinya dan sesuai takarannya 1) Jangan mencampur bahan pembersih yang berbeda 2) Jangan menggunakan bahan pembersih berbeda dalam satu peralatan yang sedang dibersihkan. Jika terpaksa, bilaslah sebelum digunakan bahan pembersih lain 3) Gunakan ukuran yang telah ditentukan jika mencairkan bahan pembersih, jangan dikira-kira 4) Cairkan bahan pembersih dengan air dingin, panas atau hangat sesuai petunjuk penggunaan 5) Tambahkan air untuk mengurangi risiko percikan dan mengurangi busa ketika mencair

c.

Simpan bahan pembersih dalam tempat aslinya atau tempat khusus untuk menyimpan bahan tersebut. Semua wadah diberi label dan petunjuk penggunaanya.

d.

Tidak menyimpan bahan pembersih pada tempat minum, seperti gelas dan botol

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

142

e.

Mengetahui teknik pertolongan pertama kali tidak sengaja melakukan kontak langsung dengan bahan pembersih yang berbahaya 1) Jika terkena mata atau kulit, bilas segera dengan air dan segera dibawa ke dokter 2) Jika bahan pembersih tertelan, minum susu atau air sebanyak-banyaknya dan segera hubungi dokter

 Bagian-bagian Ruang yang Harus Dibersihkan Pembersihan area kerja dalam hal ini area kerja dapur, meliputi lantai, dinding, langit-langit ruangan, pembuangan air kotor, serta tempat pembuangan sampah. a. Pembersihan Lantai Lantai dari bahan keramik harus disapu dan dipel setiap hari. Untuk menghindari kecelakaan, usahakan lantai tetap kering dan bersih. Lantai yang dilapisi permadani, harus selalu dibersihkan dengan penyedot debu atau sapu khusus untuk permadani. Dalam membersihkan lanai ini, harus dilakukan secara menyeluruh termasuk tempat-tempat yang tersembunyi, seperti dibawah kursi, lemari, meja, dan sambungan dinding. b. Pembersihan Dinding Dinding harus dibersihkan untuk menghindari sarang laba-laba dan debu. Segera perbaiki jika terjadi kerusakan pada dinding, seperti letaknya miring, bingkai rusak, dan kaca retak. c. Pembersihan Pintu Pintu dapat terbuat dari kayu, besi atau kaca. Pintu harus dijaga kebersihannya dengan cara sebagai berikut :  Membersihkan debu yang melekat pada setiap bagian bingkai atau daun pintu.  Dicuci dengan sabun atau bahan pembersih lainnya dengan menggunakan sponge gosok  Dibilas dengan air bersih menggunakan sponge yang lainnya agar lebih bersih Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

143

 Mengeringkan seluruh bagian pintu menggunakan lap kering d. Pembersihan Ventilasi dan Lampu Ventilasi lampu biasanya tertutup oleh debu-debu halus dan sarang laba-laba, maka ventilasi dan lampu harus selalu dibersihkan dengan menggunakan sapu atau lap kering. e. Pembersihan Mebel Seluruh meja di restoran seperti meja, kursi dan rak perlu dibersihkan dari kotoran yang melekat. Gunakan lap basah untuk membersihkan bekas cairan yang melekat dan dikeringkan dengan lap kering. Periksa kembali tempattempat atau sudut-sudut yang tersembunyi seperti laci bagian dalam, bawah meja dan kursi, agar kecoak atau serangga lainnya tidak bersembunyi di dalamnya.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

144

C. RANGKUMAN

 Bahan Kimia untuk Pembersihan Area Kerja : demon pine, carbonide (amstri 514), prevail, dan heavy cleaner, dll  Penggunaan Bahan Kimia Pembersih dengan Cara Aman  Pergunakan alat pelindung yang telah direkomendasikan  Pergunakan bahan pembersih sesuai dengan fungsinya dan sesuai takarannya  Simpan bahan pembersih dalam tempat aslinya atau tempat khusus  Tidak menyimpan bahan pembersih pada tempat minum, seperti gelas dan botol  Mengetahui teknik pertolongan pertama kali tidak sengaja melakukan kontak langsung dengan bahan pembersih yang berbahaya  Bagian-bagian Ruang yang Harus Dibersihkan : Lantai, Dinding, Pintu, Ventilasi dan Lampu, Mebel

D. TUGAS 1. Bersama

dengan

kelompokmu,

diskusikan

tentang

tahapan-tahapan

pembersihan ruang 2. Presentasikan hasil diskusi kelompokmu di depan kelas 3. Kelompok lainnya menyimak dan mengajukan pertanyaan 4. Catatlah hasil diskusi, dan serahkan kepada guru tau fasilitator

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

145

E. TES Jawablah soal uraian di bawah ini! 1. Sebutkan contoh bahan kimia yang biasa digunakan dalam pembersihan ruang! 2. Bagaimanakah cara aman menggunakan bahan pembersih? 3. Peralatan pelindung apa saja yang hendaknya kita kenakan saat melakukan pembersihan ruang? 4. Bagaimana langkah melakukan pembersihan ruang?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

146

Kegiatan Belajar 3 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Membersihkan peralatan dan ruang

B. MATERI Langkah pembersihan pada peralatan dan ruang kerja (dapur) akan memberikan hasil yang baik dan dapat menghilangkan kotoran dan mikroorganisme patogen yang dapat merugikan. Bagaimana langkah pembersihak peralatan dan ruang yang baik dan benar?

Langkah-langkah Membersihkan Peralatan dan Ruang Beberapa langkah yang harus dilakukan dalam membersihkan area kerja adalah sebagai berikut: 1. Membersihkan debu ( dusting & damp dusting ) Setiap ruangan baik ruangan yang terbuka maupun ruang tertutup beserta perabotannya dapat terkena debu setiap saat. Untuk menjaga kebersihan ruangan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

147

atau perralatannya maka perlu diadakan pembersihan. Teknik pembersihan untuk membersihkan debu ádalah: a. Dusting Dusting berasal dari kata dust yang berati debu. Dusting berarti membersihkan atau menghilangkan debu. Dusting sebaiknya dilakukan sesering mungkin untuk menghindari debu menjadi lengket. Adapun alat pembersih yang diperlukan adalah:  Lap lembut (soft cloth), digunakan untuk menghindari agar permukaan benda yang dibersihkan tidak rusak atau lecet. Cara penggunannya dengan menggosokkan lap tersebut diatas permukaan yang berdebu.  Ember

(bucket),

dipakai untuk mencuci lap supaya bersih dan dapat

digunakan kembali.

Bahan pembersih lain tidak diperlukan, tetapi air dan

sabun cuci diperlukan untuk mencuci lap sebelum disimpan untuk digunakan kembali. b. Dump dusting Dump berarti lembab. Alat yang digunakan untuk teknik dump dusting adalah kain lap yang lembab, yaitu kain basah yang telah diperas airnya. sehingga dapat diartikan bahwa dump dusting adalah membersihkan kotoran atau debu yang sudah melekat dengan menggunakan lap lembab. Kelebihan dump dusting adalah:  Lebih hiegienis, karena debu dan kotoran melekat pada lap dengan baik.  Dapat menghilangkan kotoran yang sudah melekat. Alat pembersih yang diperlukan:  Container /ember  Lap katun (cotton cloth) Bahan pembersih yang diperlukan adalah air bersih. Bahan tambahan lain adalah sabun cuci, digunakan untuk mencuci lap sebellum disimpan.Teknik ini jangan terlau sering dilakukan pada furniture yang terbuat dari kayu beripolitur atau bahan lain yang menyerap air karena air yang masuk kedalam pori-pori kayu akan menyebabkan pelapukan.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

148

Pastikan dinding, pintu, ventilasi, lampu dan mebel bebas dari debu. 2. Menyapu Dalam istilah perhotelan teknik pekerjaan menyapu dikenal dengan istilah “sweeping”. Teknik ini diterapkan untuk membersihkan lantai. Teknik ini sangat efektif untuk membersihkan kotoran yang belum melekat/lengket pada semua jenis lantai kecuali karpet dan permadani. Alat pembersih yang diperlukan  Sapu ( broom )  Sodo ( dustpan )  Tempat sampah ( waste basket ) Prosedur kerja:  Usahakan tidak banyak perlengkapan dalam ruangan yang menghalangi, seperti meletakkan kursi-kursi diatas meja dengan posisi terbalik.  Mulailah menyapu dari sudut terjauh dari pintu masuk.  Peganglah sapu dengan tangan kanan dan sodo dengan tangan kiri.  Kumpulkan sampah dan debu dalam dustpan.  Perhatikan tempat-tempat yang tersembunyi seperti di balik pintu, di sudut ruangan dan sebagainya.  Sampah atau debu yang terdapat pada dustpan buang di tempat sampah.  Bersihkan dustpan dengan lap atau jika perlu dicuci.  Simpan alat-alat dengan benar. 3. Mengepel Mengepel adalah membersihkan kotoran dengan lap lembab yang terdapat pada lantai. Sebelum mengepel, harus dilakukan teknik menyapu terlebih dahulu. Alat pembeersih yang dibutuhkan:  Tangkai pel  Ember  Lap pel

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

149

Bahan pembersih  Air  Pembersih lantai Prosedur kerja:  Celupkan kain pel pada ember yang berisi air bersih  Peras lap pel sehingga kondisi lap tidak terlalu basah.  Pasang atau jepit lap pel pada tangkai pel.  Pekerjaan dilakukan mulai dari sudut terjauh dari pintu masuk.  Pegang tangkai pel dengan kedua tangan, tangan kanan di atas dan tangan kiri di bawah.  Gosokkan lap pel maju mundur dengan langkah mundur.  Jika lap pel sudah kotor, lepaskan dari penjepit, kemudian cuci dengan air yang tersedia pada ember. Bila air pada ember telah kotor, ganti dengan air yang bersih.  Lakukan kembali mengepel, sampai seluruh lantai telah bersih.  Setelah selesai, ember dan kain lap, dicuci kemudian keringkan dan simpan. 4. Membersihkan kaca Alat pembersih yang digunakan untuk membersihkan kaca adalah:  Penggosok kaca (glass wiper)  Botol semprotan (bottle spayer)  Lap katun (cotton cloth/cleaning rag) Bahan pembersih  Air  Spritus atau amoniak  Produk baru lainnya

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

150

Prosedur kerja:  Isi botol semprotan dengan air dan spritus atau amoniak. Kadar spritus 20%.  Semprotkan larutan pada kaca atau cermin dari bagian atas, setengah dari seluruh permukaan.  Keringkan dengan lap katun.  Lakukan hingga seluruh permukaan kaca telah bersih.  Apabila masih kotor, semprot sekali lagi dan ulangi dengan cara yang sama. 5. Menyikat lantai Menyikat lantai atau brushing floor , karena alat yang digunakan adalah sikat. Alat pembersih yang diperlukan adalah:  Sikat lantai  Ember  Sapu air  Tangkai pel  Kain pel  Sodo (dust pan) Bahan pembersih:  Air  Sabun cair  Bubuk pembersih Prosedur kerja:  Persiapan  Buat larutan antara air dan sabun cair dalam 1 ember.  Atur semua peralatan pada posisi yang benar agar pelaksanaan menyikat dapat dilakukan dengan lancar. Ruangan telah disapu terlebih dahulu.  Pelaksanaan  Mulai bekerja dari sudut yang terjauh dari pintu masuk.  Celupkan sikat lantai ke dalam ember yang berisi larutan. Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

151

 Gosokkan sikat dengan gerakan maju mundur.  Bersihkan sisa larutan yang tertinggal pada lantai denggan sapu air ( floor squeezer).  Lakukan hingga seluruh lantai tergosok dengan merata.  Bilas lantai dengan air bersih menggunakan lap pel.  Tunggu lantai hingga kering.  Penggudangan/penyimpanan alat Cuci semua alat pembersih. Simpan dalan kondisi kering. 6. Membersihkan Peralatan Peralatan dibersihkan sesuaidengan karakteristik masing masning dengan melalui tahapan : scraping, flushing dan Soaking, washing, rinsing, sanitizing, dan toweling

C. RANGKUMAN

Langkah membersihkan peralatan dan ruang : 1. Membersihkan debu ( dusting & damp dusting ) a. Dusting b. Dump dusting 2. Menyapu 3. Mengepel 4. Membersihkan kaca 5. Menyikat lantai 6. Membersihkan Peralatan (scraping, flushing dan Soaking, washing, rinsing, sanitizing, dan toweling)

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

152

D. TUGAS 1. Bersama

kelompok praktik, buatlah

perencanaan praktik melakukan

pembersihan dapur mulai dari peralatannya, hingga ruang secara keseluruhan. Bahan dan alat serta prosedurnya. 2. Tuliskan perencanaan sesuai dengan format berikut : A. Alat No

Nama Alat

Jumlah

Nama Bahan

Jumlah

B. Bahan No

C. Prosedur dan Alokasi Waktu No

Kegiatan

Waktu

E. TES

Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Bagaimanakah langkah langkah yang benar dalam pembersihan peralatan dan ruang dapur? 2. Bahan apa saja yang diperlukan untuk melakukan pembersihan peralatan dan ruang dapur? 3. Alat apa saja yang diperlukan untuk melakukan pembersihan peralatan dan ruang dapur?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

153

F. Lembar Kerja Praktik

Bahan : Bahan Pembersih lantai, kaca, deterjen, bahan pembersih peralatan, air,dll Alat

:

Lap, kain pel, sapu, kemoceng, ember, spons, napkin,dll Prosedur : 1. Lakukanlah pembersihan pada dapur di sekolah kalian, lakukanlah pembagian pekerjaan masing-masing kelompok dan buatlah perencaan terlebih dahulu sebelum melakukan praktik seperti pada tugas sebelumnya. 2. Lakukanlah pembersihan sesuai prosedur yang benar : a. Membersihkan debu ( dusting & damp dusting ) b. Menyapu c. Mengepel d. Membersihkan kaca e. Menyikat lantai f.

Membersihkan Peralatan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

154

Uji Kompetensi VI

I. Pilihlah jawaban yang paling tepat ! 1. Berikutyang bukan merupakan persyaratan perlengkapan dapur agar mudah dibersihkan adalah… a. Anti karat

c. Mudah

b. Menyerap bahan-bahan makanan

diketahui

kotor

atau

bersihnya alat tersebut d. Permukaan halus

2. Tujuan melakukan pembersihan, kecuali… a. Bebas dari sisa makanan dan debu

c. Peralatan lebih tahan lama

b. Terhindar dari penyakit

d. Meningkatkan cita rasa makanan

3. Berikut adalah cara melakukan pembersihan pada peralatan yang terbuat dari timah, kecuali… a. Menggunakan abu gosok

c. Menggunakan sabun

b. Menggunakan air panas

d. Menggunakan sabut

4. Cara membersihkan teflon adalah… a. Dicuci menggunakan sabun cuci c. Menggunakan abu gosok menggunakan spons halus

d. Cukup dilap dengan kain

b. Dicuci dalam keadaan teflon masih panas

5. Cara membersihkan peralatan yang terbuat dari alumunium, kecuali… a. Dicuci menggunakan sabun cuci

c. Menggunakan spons

b. Menggunakan soda

d. Menggunakan air panas jika sisa makanan berminyak

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

155

6. Yang dimaksud tahap rinsing dalam proses pencucian adalah… a. Perendaman

c. Pengeringan

b. Pembilasan

d. Pembuangan sisa makanan

7. Berikut adalah tahapan proses pembersihan/pencucian yang benar… a. Scraping-Flushing/Soaking-

c. Scraping-Flushing/Soaking-

Rinsing-Washing-Sanitazing-

Washing-Rinsing-Sanitazing-

Toweling

Toweling

b. Washing-Scraping-

d. Flushing/Soaking-Scraping-

Flushing/Soaking-Rinsing-

Washing-Rinsing-Sanitazing-

Sanitazing-Toweling

Toweling

-

8. Yang dimaksud tahap Pre Washing pada pencucian menggunakan mesin adalah… a. Pengeringan

c. Perendaman/penyemprotan

b. Pembilasan

dengan air untuk membuang sisa makanan d. Penggosokan dengan sabun

9. Yang bukan merupakan tahap pembersihan menggunakan Three Zone Diswashing Machine adalah… a. Toweling Zone

c. Main Diswashing Zone

b. Pre Washing Zone

d. Rinsing Zone

10. Berikut merupakan cara aman menggunakan bahan pembersik kimia, kecuali… a. Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan b. Bahan pembersih jangan dicairkan

c. Jangan mencampur bahan pembersih yang berbeda d. Menyimpan bahan pembersih di tempat khusus

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

156

II. Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Bagaimanakah cara membersihkan peralatan yang terbuat dari alumunium dan Stainles Steel? Jelaskan ! 2. Jelaskan secara singkat tahapan pembersihan dapur secara keseluruhan !

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

157

BAB 7

Keselamatan Kerja (Kecelakaan Kerja, Api dan Kebakaran, Alat Pelindung Kerja)

INDIKATOR : 1. Mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam menemukan dan memahami berbagai aspek terkait dengan pemahaman sanitasi, hygiene dan keselamatan kerja 3. Menunjukkan perilaku amaliah (jujur , disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan pekerjaan 4. Menunjukan perilaku cinta damai dan toleransi dalam membangun kerjasama dan tanggungjawab dalam implementasi kesehatan dan keselamatan kerja. 5. Menjelaskan keselamatan kerja 6. Menjelaskan kecelakaan kerja, api dan kebakaran 7. Membersihkan alat pelindung kerja 8. Mengoperasikan peralatan keselamatan kerja

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

Kegiatan Belajar 1

A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Menjelaskan pengertian keselamatan kerja 4. Menjelaskan pengertian kecelakaan kerja

B. MATERI

Dapur merupakan tempat yang sangat rentan terhadap kecelakaan karena di dapur terdapat banyak peralatan dan perlengkapan yang sangat membahayakan. Maka kita harus selalu memperhatikan keselamatan dalam bekerja. Apa yang sebenarnya dimaksud dengan keselamatan da kecelakaan kerja?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

159

Keselamatan Kerja Keselamatan kerja mengandung pengertian perlindungan atau pencegahan terhadap suatu kecelakaan. Keselamatan kerja adalah upaya agar pekerja selamat di tempat kerja sehingga terhindar dari kecelakaan , juga untuk menyelamatkan peralatan serta hasil produksinya. Syarat-syarat keselamatan kerja: 1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan 2. Membuat jalan penyelamatan apabila terjadi suatu kejadian berbahaya 3. Memberi pertolongan pertama pada kecelakaan (PPPK) 4. Memelihara kebersihan dan ketertiban kerja 5. Memberi peralatan pelindung kerja kepada para pekerja 6. Mempertimbangkan factor-faktor kenyamanan kerja, yaitu penerangan dan kebersihan udara 7. Mengusahakan kesesuaian antara pekerjaan, perkakas kerja, lingkungan, cara dan proses kerja 8. Mengamankan daerah-daerah bahan dan sumber-sumber yang berbahaya dengan pengamanan yang sesuai Kecelakaan Kerja Kecelakaan kerja adalah suatu kecelakaan yang terjadi pada saat seseorang melakukan pekerjaan. Kecelakaan kerja merupakan peristiwa yang tidak direncanakan yang disebabkan oleh suatu tindakan yang tidak berhati-hati atau suatu keadaan yang tidak aman atau kedua-duanya. Kecelakaan kerja terjadi pada seseorang karena pegawai bertindak tidak hati-hati dan sering membuat keadaan yang tidak aman. Kecelakaan kerjadapat mengakibatkan seseorang menjadi cacat atau luka.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

160

Suatu kecelakaan kerja dapat terjadi karena faktor-faktor berikut : 1. Keadaan pekerja sendiri (human factor/human error) Seperti sifat, mental, kebiasaan buruk, keterampilan yang kurang menunjang, 2. Mesin dan alat-alat kerja (machine and tools condition) Misal karena digunakannya peralatan dan material yang membahayakan, seperti material kasar dan konstruksi yang kurang sempurna. Bukan saja sifat-sifat dari mesin dan peralatan produksi itu sendiri, tetapi tata letak (layout) juga dapat menunjang keselamatan kerja. Misalnya: alat kontrol suhu yang tidak berfungsi. Oleh karena itu pihak manajemen harus memberikan perhatian terhadap kondisi mesin dan peralatan serta layout yang baik agar tercapai lingkungan kerja yang aman. 3. Keadaan lingkungan kerja (work environment) Lingkungan kerja sangat mempengaruhi morale (suasana kerja) para karyawan, baik lingkungan kerja fisik maupun lingkungan kerja yang bersifat rohani. Dalam hal ini lingkungan kerja fisik yang baik akan mempertinggi produktivitas kerja, disamping mengurangi kelelahan, yang berarti dapat menaikkan produksi, sehingga biaya persatuan menjadi efisien. Faktor-faktor lingkungan kerja fisik yang perlu mendapat perhatian antara lain adalah: 

Penerangan cahaya

Ventilasi untuk sirkulasi udara segar

Pemeliharaan rumah tangga (house keeping) misalnya: lantai bersih, ruangan wangi, suasana menyenangkan dan taman yang indah. Keadaan lingkungan fisik yang tidak baik akan menimbulkan hal yang sebaliknya. Misalnya: tata letak ruangan yang terlalu sempit akibat plant layout yang salah, penempatan peralatan kerja yang tidak menyenangkan dan tidak menimbulkan gairah kerja yang baik.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

161

C. RANGKUMAN

 Keselamatan kerja adalah upaya agar pekerja selamat di tempat kerja

sehingga

terhindar

dari

kecelakaan

,

jugauntuk

menyelamatkan peralatan serta hasil produksinya.  Kecelakaan kerja merupakan peristiwa yang tidak direncanakan yang disebabkan oleh suatu tindakan yang tidak berhati-hati atau suatu keadaan yang tidak aman atau kedua-duanya.

D. TUGAS Carilah contoh kasus kecelakaan kerja di dapur. Anda dapat menambahkan contoh keracunan makanan dari informasi berita media radio, televisi, koran, internet, dll. Tuliskan hasil identifikasi ke dalam format berikut : No

Contoh Kasus Kecelakaan Kerja

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

162

E. TES Jawablah soal uraian dibawah ini : 1. Apakah yang dimaksud dengan keselamatan kerja? 2. Apakah yang dimaksud dengan kecelakaan kerja? 3. Faktor apa saja yang dapat memicu terjadinya kecelakaan kerja?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

163

Kegiatan Belajar 2 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungankerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Menjelaskan kecelakaan kerja, api dan kebakaran

B. MATERI Kecelakan di dapur bisa bermacam-macam, mulai dari hal yang ringan hingga kecelakaan yang fatal pun bias terjadi. Mulai dari tergores pisau hingga kebakaran besar. Lalu apa sajakah kecelakaan kerja yang dapat terjadi di dapur? Kecelakaan Kerja, Api dan Kebakaran 1. Macam-macam Kecelakaan Kerja a. Terjatuh Beberapa prinsip atau cara kerja yang perlu diperhatikan untuk mencegah luka karena terjatuh antara lain sebagai berikut :

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

164

 Lantai Kecelakaan terjatuh pada lantai disebabkan oleh lantai yang licin tidak rata, atau lantai dengan perintang untuk mencegah kecelakaan terjatuh pada lantai maka ketiga penyebab tadi perlu dihindari. Tindakan pencegahan yang perlu dilakukan adalah :  Penerangan yang cukup Penerangan lampu harus menerangi secara merata setiap pojok dalam ruangan sehingga setiap bagian, semua perlengkapan yanga ada dalam ruangan tersebut dapat dilihat.  Pungut setiap barang yang terjatuh Barang-barang, kotoran, ataupun sampah lainnya yang terjatuh sebaiknya segera dipungut, benda-benda ini dapat menjadi penghalang bahkan menjadi penyebab terjatuh. Pada lantai yang permukaanya keras maka benda yang basah atau terbentuk seperti bola, silinder akan menjadikan tergelincir pada waktu terinjak.  Jangan menggeletakkan barang dilantai Peralatan yang tidak digunakan atau barang yang tidak digunakan jangan dibiarkan tergeletak di lantai. Peralatan yang tidak dipergunakan sebaiknya tidak diletakkan di ppot washer.  Pintu dan laci sebaiknya segera ditutup kembai setelah mengambil barang Pintu dan laci meja serta oven akan menjadi penghalang jika dibiarkan terbuka atau menjorok keluar  Lantai harus tetap dijaga agar tetap kering Bersihkan dan keringkan segera setiap cairan yang tumpah ke lantai, terutama pada lantai dengan permukaan keras. Air, minyak, saos harus segera dibersihkan karena akan melicinkan lantai yang keras.  Berilah tanda pada lantai yang masih basah karena dibersihkan Lantai-lantai yang berada di dapur atau tempat lainnya yang sedang dibersihkan atau masih basah perlu diberi tanda yang mudah dilihat atau mudah dimengerti

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

165

 Taburkan garam pada lantai bekas minyak Ini dilakukan di dapur jika ada minyak yang terpercik atau jatuh/tumpah di lantai. Setelah minyak dilap dengan kain, maka pada bekas minyak tersebut ditaburi garam. Tindakan ini hanya tindakan sementara karena bekas minyak masih cukup berbahaya dan menyebabkan terpeleset.  Tangga rumah (stairs) Pada hotel yang bertingkat, disamping menggunakan lift sebagai alat untuk naik dan turun ke lantai berikutnya juga terdapat tangga permanen atau tangga rumah. Tingkat kemiringan ini mempunyai hubungan yang erat dengan kemungkinan timbulnya kecelakaan. Semakain terjal tangga rumah mempunyai kecenderungan semakin berbahaya dalam pemakaiannya. Tindakan pencegahan yang perlu dilakukan adalah :  Lengkapi dengan alat pengaman Pada tangga rumah denga permukaan keras mungkin perlu dilengkapi atau ditempeli karet pengaman atau bahkan pengaman lainnya. Karet pengaman perlu diganti bila sudah tidak dapat berfungsi lagi.  Penerangan yang cukup Lampu penerangan pada tangga rumah sangat perlu. Lampu penerangan tidak boleh menimbulkan bayang-bayang dan perlu dipasang sedemikian rupa sehingga membantu pemakaian yang naik maupun yang turun.  Bebas dari barang licin Benda-benda yang licin seperti kulit buah, sayur serta barang lainnya tidak boleh berada dalam tangga karena sangat berbahaya  Penggunaan titian pegangan Pada tangga rumah biasanya dipasang titian pegangan yang berfungsi sebagai pegangan dan dapat dipegang waktu naik dan turun. Titian pegangan ini dipergunakan untuk meyakinkan langkah.  Lapisi tangga dengan karpet

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

166

 Tangga pemanjat Tangga pemanjat umumnya dipergunakan di hotel adalah tangga pemanjat berkaki dua dan berkaki empat, guna tangga ini adalah untuk mengambilatau meletakkan barang pada tempat yang lebih tinggi dan lebih rendah dari tempat kita berdiri. Ukuran tangga juga bermacam-macam sesuai dengan kegunaanya. Tindakan yang perlu dilakukan guna pencegahan adalah :  Menggunakan tangga yang sesuai Untuk mengambil atau meletakkan barang pada rak yang lebih tinggi maka pergunakan tangga yang sesuai tingginya dengan tujuan  Tempat tangga pada jarak yang sesuai Jarak kaki tangga dan kaki rak perlu diperhitungkan. Jarak terlalu dekat maka badan akan kehilangan keseimbangan pada waktu menarik barang dari atas tangga lebih-lebih jika menggunakan tamgga berkaki dua maka makin dekat jarak kaki tangga denga rak maka makin besar pula kemiringan untuk jatuh.  Periksa kedudukan tangga Kaki tangga harus berdiri dengan aman diatas lantai, tidak goyang dan tidak ada kemungkinan terpeleset, jangan memasang tangga dekat pintu yang kemungkinan buka atau dekat orang lalu lalang. Kondisi fisik disebabkan karena terjatuh :  Patah tulang  Terkilir atau keseleo  Pingsan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

167

b. Terluka benda tajam Ada beberapa jenis luka yang dapat terjadi pada kulit yang disebabkan oleh benda tajam diantaranya :  Luka iris Adalah luka yang ditimbulkan karena irisan benda tajam. Bentuk luka memanjang dengan tepi luka berbentuk garis lurus.  Luka robek Ialah luka terbuka yang ditimbulkan oleh goresan luka yang tidak terlalu tajam berbentuk luka biasa tidak teratur.  Luka tusuk Ialah luka yang ditimbulkan oleh tusukan benda tajam atau runcing. Bentuk luka biasanya sempit dan agak dalam. Benda yang dapat menimbulkan luka ini dikelompokkan menjadi :  Peralatan memotong  Mesin  Tulang dan duri kulit  Barang-barang beku  Barang pecah Beberapa prinsip atau cara kerja yang perlu diperhatikan untuk menghindari terjadinya luka karena teriris/terpotong antara lain sebagai berikut : a. Selalu menggunakan pisau yang tajam. Pisau yang tajam lebih aman daripada pisau tumpul, karena tekanan dan tenaga yang diperlukan pada saat digunakan lebih kecil, dan tidak mudah selip. b. Selalu menggunakan alas (telenan) sewaktu memotong. Jangan memotong dengan menggunakan alas dari logam. Akan lebih baik apabila di bawah telenan diletakkan handuk/kain tebal,agar telenan tidak mudah bergeser/terpeleset. c. Berkonsentrasi penuh pada waktu bekerja dengan pisau atau alat pemotong lainnya, tidak sembrono atau sambil bergurau. d. Pemotongan dilakukan dengan memperhatikan jarak yang aman, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

168

e. Menggunakan pisau

hanya

untuk pekerj aan pemotong-an, tidak

menggunakannya untuk keperluan lain, misalnya untuk membukatutup botol. f. Apabila pisau terjatuh, jangan coba-coba untuk me-nangkapnya. Biarkan pisau jatuh, dan jagajarak/men-jauh dari tempat jatuhnya pisau. g. Jangan menaruh pisau di dalam bak cuci, di dalam air, atau di tempat-tempat lain sehingga pisau tidak dapat dilihat dengan jelas. h. Bersihkan pisau dengan hati-hati setelah digunakan, dengan mengarahkan sisi pisau yang tajam menjauh dari tubuh. i. Apabila tidak dipergunakan, simpan pisau di tempat yang aman, misalnya di rak atau tempat pisau khusus lainnya. j. Selalu berhati-hati sewaktu membawa pisau. Bawalah pisau di bagian samping tubuh, dengan

ujung meng-hadap ke bawah, dan sisi tajam

menjauhi tubuh. Akan lebih baik jika membawa pisau dalam sarung atau selubung pisau. Peringatkan orang-orang di sekitar Anda, jika Anda melewati mereka dengan membawa pisau di tangan. k. Barang-barang yang mudah pecah, misalnya mangkuk, piring, dan peralatan gelas lainnya ditempatkan di tempat khusus, terpisah dari area pengolahan. l. Jangan meletakkan barang-barang yang mudah pecah di dalam bak perendam. m. Apabila ada barang yang pecah, gunakan sapu untuk membersihkan serpihannya, jangan dibersihkan dengan tangan. n. Pembuangan pecahan kaca harus pada tempat khusus, jangan dicampur dengan sampah lainnya. o. Apabila ada barang yang pecah di dalam ember atau bak, pengambilan pecahan dilakukan setelah ember atau bak dibuang airnya. p. Apabila membuka karton atau pengemas lain yang ada paku atau isi staplernya, maka logam- logam tersebut dikumpulkan pada wadah tertentu dan segera dibuang. q. Apabila teriris atau terluka potong kecil lainnya, segera dirawat dengan obat-obat pertolongan pertama yang memadai untuk mencegah infeksi.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

169

Gambar 17. Penanganan Luka Terpotong Beberapa prinsip atau cara kerja yang perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya luka oleh mesin atau peralatan lain-nya antara lain sebagai berikut: a. Jangan sekali-kali menggunakan peralatan elektris/mekanik apa pun tanpa mengetahui dengan pasti cara pengoperasiannya. b. Jangan sekali-kali mengambil atau memindahkan makanan dari peralatan yang sedang bejalan/beroperasi, baik dengan tangan maupun dengan peralatan lain misalnya sendok atau garpu. c. Matikan sumber listrik pada peralatan pada waktu membersihkan atau membongkar peralatan tersebut. Pastikan tombol mesin ada pada posisi mati (off), sebelum menghidupkan sumber listrik pada peralatan. d. Jangan menyentuh atau menangani peralatan elektris jika tangan dalam kondisi basah, atau jika berada pada lingkungan berair e. Gunakan pakaian yang pas di badan, dan hindari pakaian yang kedodoran/berumbai-umbai, agar tidak tersangkut pada mesiri/peralatan. Gunakan peralatan untuk aktivitas yang memang dikhususkan untuk peralatan tersebut.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

170

c. Luka bakar Luka bakar dapat terjadi karena sentuhan kulit dengan api langsung, air panas, matahari ataupun oleh zat kimia. Beberapa prinsip atau cara kerja yang perlu diperhatikan untuk menghindari terjadinya luka bakar antara lain sebagai berikut.  Selalu berasumsi bahwa panci pemasak dalam kondisi panas, sehingga kita harus menggunakan alas pada waktu memegang panci tersebut.  Menggunakan alas/lap kering untuk memegang panci panas. Penggunaan lap basah akan menghasilkan uap panas yang dapat menyebabkan luka bakar  Pegangan panci pemasak diarahkan menjauhi lorong/ tempat lalu lalang, sehingga tidak tersenggol orang yang melewatinya. Pegangan panci hendaknya juga jauh dari sumber api, baik kompor gas, maupun kompor minyak tanah.  Pengisian panci pemasak tidak boleh penuh, sehingga tidak meluap sewaktu mendidih  Minta pertolongan orang lain apabila harus memindahkan wadah berisi makanan panas yang cukup berat.  Berhati-hati sewaktu membuka panci perebus atau peralatan lain yang mengeluarkan uap

panas, serta melaku-kannya dalam jarak yang aman

(jarak antara tubuh de-ngan peralatan tersebut).  Apabila kompor gas yang digunakan tidak dilengkapi dengan pemantik otomatis, maka klep gas harus ada dalam keadaan tertutup sewaktu korek api/sumber api lainnya dinyalakan.  Pekerja sebaiknya mengenakan pakaian dengan lengan panjang untuk melindungi diri dari percikan/tumpahan makanan/minyak panas. Alas kaki hendaknya terbuat dari kulit yang kuat, dan tertutup pada bagian jarijarinya.  Makanan yang akan digoreng harus ditiriskan terlebih dahulu, agar tidak terbentuk percikan minyak panas sewaktu digoreng.  Selalu memperingatkan orang-orang di sekitar Anda, apabila Anda melalui mereka dengan membawa barang-barang yang panas.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

171

d. Ledakan gas Tindakan yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya ledakan gas ialah :  Ketahuilah bau gas yang dipergunakan Gas yang digunakan sebagai bahan bakar seperti karbit, elpiji dan sejenisnya mempunyai bau yang khas. Seriap karyawan yang menggunakan gas tersebut harus mengenali betul bau khas tersebut sehingga mudah pula mengetahui apabila ada saluran yang bocor  Periksa selalu keadaan pipa gas Keadaan pipa gas harus selalu diperiksa setiap saat terutama pipa-pipa yang terbuat dari plastic karet dan bahan lentur lainnya.  Pergunakan pilot light Pilot light harus berfungsi dengan baik dan selalu dinyalakan terlebih dahulu.  Putuskan hubungan secara total Pada saat alat-alat tidak dipakai, maka sebaiknya salura gas dimatikan secara total. Kran LPG harus tertutup dan regulator dilepas, karena saluran pada tabung sudah ada pengamannya.  Ikuti petunjuk e. Kecelakaan listrik Arus listrik tidak dapat dilihat dengan mata sehingga sangat sulit membedakan apakah apakah suatu benda mengandung muatan listrik atau tidak. Suatu alat mungkin sudah dirancang atau dipasang sedemikian rupa sehingga aman bagi si pemakai. Tindaka yang perlu diambil guna mencegah terjadinya kecelakaan kerja karena arus listrik, antara lain :  Perhatikan tegangan  Perhatikanalat sambung  Sekering hanya untuk orang yang berwenang  Periksa keadaan kabel penghubung  Pastikan sekitar alat penyambung kering dan bersih  Perhatikan gejala aneh  Putuskan hubungan listrik apabila alat tidak digunakan  Ikuti petunjuk Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

172

Bentuk kecelakaan yang mungkin timbul akibat arus listrik :  Shock  Pengacauan denyut jantung hingga kematian  Luka bakar  Kebakaran f.

Kecelakaan bahan kimia Bahan kimia yang dapat menyebabkan kecelakaan di area dapur dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok :  Bahan kimia dalam makanan Menyebabkan keracunan bahan makanan. Misal karena toxin, jamur, senyawa asam biru dalam singkong,dll  Bahan kimia dalam pengolahan makanan Bahan ini diperlukan dan dicampurkan dalam makanan. Akan menimbulkan keracunan makanan apabila digunakan melebihi dosis. Misal soda kue, pewarna, asam citrun, dll.  Bahan kimia pembersih Hal ini disebabkan karena makanan terkontaminasi oleh bahan kimia yang fungsinya sebagai pembersih peralatan, sehingga menimbulkan keracunan bagi yang mengkonsumsi. Tindakan pencegahan :  Pengenalan bahan kimia dengan baik  Memberikan tanda yang jelas bada bahan kimia agar tidak tertukar  Jangan mencoba-coba  Simpan pada tempat yang aman

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

173

2. Api dan Kebakaran Beberapa prinsip atau cara kerja yang perlu diperhatikan untuk menghindari terjadinya kebakaran antara lain sebagai ber-ikut. 

Mengetahui tempat penyimpanan dan cara menggunakan alat pemadam kebakaran.

Menggunakan jenis bahan pemadam kebakaran yang tepat menurut sumber apinya. Ada tiga jenis penyebab kebakaran yang masing-masing memerlukan bahan pemadam kebakaran yang berbeda pula, yaitu sebagai berikut:  Klas A, yaitu sumber kebakaran yang berasal dari kayu, kertas, pakaian, plastik dan bahan-bahan mudah ter-bakar lainnya. Jenis alat pemadam kebakaran jenis ini ditandai dengan simbol A.  Klas B, yaitu sumber kebakaran yang berasal dari minyak, gemuk (grease), bensin, pelarut organik, serta bahan kimia mudah terbakar lainnya.  Klas C, yaitu sumber kebakaran yang berasal dari peralatan elektris, kabelkabel, motor, dan sebagainya.

Jangan memadamkan api yang berasal dari minyak atau perlatan listrik dengan menggunakan air, atau pemadam kebakaran klas A, karena hanya akan menyebarkan api.

Sediakan garam atau baking soda di tempat yang mudah terjangkau, untuk memadamkan kebakaran dari api kompor atau tungku.

Jangan meninggalkan minyak goreng di atas tungku atau kompor menyala tanpa pengawasan.

Aktivitas merokok hanya boleh dilakukan pada tempat khusus, dan jangan meninggalkan puntung yang masih menyala di sembarang tempat.

Jika mendengar alarm tanda bahaya kebakaran dan masih ada waktu, tutup dan matikan semua aliran gas serta listrik, sebelum meninggalkan gedung yang terbakar.

Jaga agar pintu keluar darurat tidak terhalang oleh benda apa pun.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

174

C. RANGKUMAN

 Macam-macam kecelakaan Kerja : terjatuh (patah tulang, terkilir atau keseleo, pingsan), terluka benda tajam (luka iris, luka robek, luka tusuk), luka bakar, ledakan gas, kecelakaan listrik (shock, pengacauan denyut jantung hingga kematian, luka bakar, kebakaran), kecelakaan bahan kimia (bahan kimia dalam makanan, bahan kimia dalam pengolahan makanan, bahan kimia pembersih)  Api dan kebakaran Hal yang perlu diperhatikan untuk menghindari terjadinya kebakaran antara lain sebagai berikut. 

Mengetahui tempat penyimpanan dan cara menggunakan alat pemadam kebakaran.

Menggunakan jenis bahan pemadam kebakaran yang tepat menurut sumber apinya.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

175

D. TUGAS

1. Buatlah kelompok dengan anggota masing-masing 4 orang 2. Secara berkelompok, berdasarkan hasil pekerjaan tugas sebelumnya mencari contoh kasus kecelakaan kerja, identifikasikan kembali kasus-kasus tersebut. Apa kemungkinan factor penyebabnya, cara mencegah, dan penanganannya. Catatlah hasil diskusi sesuai format berikut : No Kasus

Faktor Penyebab

Cara Pencegahan

kecelakaan

Cara Penanganan

kerja

Dst… 3. Komunikasikan hasil diskusi di depan kelas

E. TES

Jawablah soal uraian di bawah ini : 1. Sebutkan dan jelaskan macam-macam kecelakaan kerja ! 2. Sebutkan hal apa saja yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja terjatuh di dapur! 3. Sebutkan hal-hal apa saja yang dapat dilakukan untuk menghindari luka teriris atau terpotong karena benda tajam saat bekerja di dapur! 4. Sebutkan hal dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya kebakaran di dapur!

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

176

Kegiatan Belajar 3 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Menjelaskan macam-macam alat pelindung kerja 4. Mengoperaikan peralatan keselamatan kerja

B. MATERI Untuk menjaga keselamatankerja dan menekan tingginya resiko terjadinya kecelakaan kerja, di lingkungan kerja telah disediakan macam-macam peralatan keselamatan kerja. Baik peralatan yang harus digunakan saat bekerja da nada pula peralatan yang digunakan apabila terjadi kecelakaan kerja dengan tujuan untuk meminimalisir kerugian yang timbul dari kecelakaan yang terjadi. Apa saja peralatan pelindungan kerja?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

177

Alat Pelindung Kerja 1. Pakaian Pelindung Pakaian pelindung yaitu pakaian seragam dapur yang dipergunakan di dapur hotel maupun restoran. Pakaian dapur yang lengkap terdiri dari : a. Topi (hat) b. Kacu (necktie) c. Baju kemeja dengan dada berlapis dua (double breasted) d. Celemek (apron) e. Celana panjang f.

Sepatu bertumit rendah

Gambar 18. Standar Pakaian Kerja di Dapur 2. Cempal atau sarung tangan Cempal berguna untuk mengangkat panci, wajan, dandang, atau piranti lain yang panas dan membutuhkan cempal. Cempal berukuran kurang lebih 15 x 15 cm, supaya kita benat-benar tidak kena panas. Sebaiknya cempal dibuat setebal mungkin dan terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar. Bahan pembuatannya dapat dari sisa-sisa kain perca yang dilapis atau dijahit beberapa kali hingga cukup tebal. Ada juga yang dirajut atau dikait. Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

178

Bentuk cempal bermacam-macam ada segi empat, segi tiga, bentuk hati, untuk menjaga agar cempal siap pakai, kita meletakkannya sedemikian rupa supaya mudah terjangkau. Sarung tangan untik menhindari kompor minyak tumpah, kena panas minyak, karena bahan kimia, dll.

Gambar 19. Cempal 3. Alat Pemadam Kebakaran a. Air Hanya untuk kebakaran yang bersumber darikayu, kertas, bahan kain, dan orang yang boleh dipadamkan dengan air. b. Alat pemadam genggam (Fire Extinguisher) Alat pemadam jenis ini sesuai untuk digunakan di dapur pengolahan terutama untuk kebakaran yang disebabkan oleh lemak/ minyak dan aliran listrik serta gas. Alat jenis ini harus tersimpan pada tempat dengan penandaan yang jelas, mudah terjangkau dan terlihat. Semua karyawan harus bisa mengoperasikan dan mengetahui cara penggunaan alat ini.

Gambar 20. Alat Pemadam Genggam

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

179

Macam-macam Fire Extinguisher :  Water Fire Extinguisher

Gambar 21. Water Fire Extinguisher

Air adalah salah satu agen api yang paling umum digunakan pemadam. Alat pemadam ini menggunakan air sebagai baham pemadam. Jenis pemadam ini cocok untuk memadamkan api yang membakar kertas dan kayu. Dan tidak boleh digunakan pada area-area yang terdapat peralatan yang menggunakan listrik atau cairan kimia organik yang tidak larut didalam air.  Gases Fire Extinguisher (CO2 - Carbon dioxide)

Gambar 22. Gases Fire Extinguisher

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

180

Jenis pemadam ini menggunakan CO2 (karbon dioksida) sebagai bahan pemadam. Jenis pemadam ini digunakan untuk area dimana terdapat peralatan elektronik sehingga peralatan tersebut tidak rusak. Jenis pemadan CO2 ini juga tidak boleh digunakan untuk kebakaran bahan logam atau metal.  Halon extinguishers

Gambar 23. Halon extinguishers

Alat pemadam ini menggunakan gas Halon sebagai bahan pemadam. Alat pemadam jenis ini digunakan dimana terdapat kemungkinan minyak dan bahan mudah terbakar. Tapi jenis pemadan ini tidak biasa digunakan untuk area-area dimana terdapat peralatan elektronik.  Powder extinguishers

Gambar 24. Powder extinguishers Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

181

Jenis pemadam ini mengandung serbuk kering yang bersifat inert seperti serbuk. Sangat tidak disarankan untuk digunakan pada area yang terdapat peralatan produksi atau instrument produksi yang sangat bernilai,karena serbuk-serbuk pemadam dapat merusak komponen-komponen peralatan tersebut.

 Foam extinguishers

Gambar 25. Foam extinguishers

Jenis pemadam ini menggunakan bahan kimia yang dapat membentuk busa yang stabil dan didorong dengan karbon dioksida pada saat keluar dari tabung. Jenis pemadam ini dapat digunakan pada area dimana jenis pemadam air tidak bisa digunakan. Seperti pada area yang terdapat minyak yang tidak bisa bercampur dengan air.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

182

c. Alat pemadam beroda Alat pemadam ini biasa digunakan di perusahaan besar

Gambar 26. Alat Pemadam Beroda d. Selimut pemadam Selimut pemadam ini cocok untuk memadamkan api kecil pada individu (baju) dan peralatan kecil dan sedang.

Gambar 27. Selimut Pemadam e. Pasir Cocok untuk memadamkan api kecil

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

183

4. P3K (first aid) Pertolongan pertama pada kecelakaan adalah suatu perawatan yang segera (immediete) dan sementara untuk menolong penderita yang mengalami cedera yang mendadak (emergency), penyakit yang tiba-tiba sebelum penderita dibawa kerumah sakit. PPPK adalah pertolongan pertama yang diberikan pada penderita, akibat suatu kecelakaan atau sakit yang mendadak. Setiap orang berhak memberikan pertolongan pada orang lain dalam keadaan darurat, terlebih lagi bila orang tersebut sudah tidak berdaya. Namun sebenarnya hanya orang yang terlatih dalam PPPK yang paling tepat dalam memberikan pertolongan.

Gambar 28. Kotak PPPK 1. Tujuan P3K adalah sebagai berikut: a. Menolong jiwa penderita b. Mencegah penyakit atau kecelakaan menjadi lebih parah c. Mengurangi rasa sakit d. Orang-orang yang dapat memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan harus memenuhi persyaratan:  Memiliki pengetahuan mengenai P3K  Memiliki pengertian dan simpati  Cekatan  Mempunyai inisiatif  Mampu memutuskan tindakan selanjutnya 2. Peraturan umum P3K adalah sebagai berikut: a. Pindahkan penderita dari tempat berbahaya b. Usahakan pertolongan terpenting dahulu yaitu kesulitan perafasan, pendarahan yang berat dan shock Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

184

c. Penderita yang tidak sadar dimiringkan atau miringkan kepala penderita kesamping d. Penderita yang tidak sadar tidak boleh diberikan sesuatu melalui mulut, hal tersebut juga berlaku bagi penderita pendarahan dan muntah-muntah e. Penderita tidak boleh diberi perangsang yang mengandung alkohol yang dapat berakibat kurang baik terhadap pusat-pusat vital f. Tenangkan penderita dengan baik, hal ii membantu kepercayaan penderita yang merupakan salah satu pertolongan g. Organisasi penonton yang tidak tahu apa-apa untuk membantu, misalnya menelpon dokter atau ambulan h. Perlakukan penderita sebaik mungkin i. Penting berfikir cepat untuk menolong penderita segera mendapat pemeriksaan dan pertolongan dokter atau pengangkutan ke rumah sakit Setiap ruang kerja atau ruang dapur dilengkapi dengan almari obat yang isinya antara lain :  Mercorochrom  Obat luka  Plester  Obat Gosok  Obat pusing  Kapas  Pembalut  Gunting 5. Simbol atau tanda Sebagai upaya menghindari kecelakaan kerja dan gangguan keselamatan kerja, sebaiknya dipasang tanda-tanda atau symbol. Simbol ini merupakan tanda larangan, peringantan, perintah dna anjuran. Selain itu symbol ini dibuat dlaam wara-warna khusus dan mempunyaiarti tertentu. Contoh :

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

185

Gambar 29. Simbol atau tanda keamanan

C. RANGKUMAN

Alat pelindung kerja : 1. Pakaian Pelindung 2. Cempal atau sarung tangan 3. Alat Pemadam Kebakaran : air, alat pemadam genggam, alat pemadam beroda, selimut pemadam, pasir 4. P3K (first aid) 5. Simbol atau tanda

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

186

D. TUGAS 1. Bersama dengan kelompokmu, diskusikan tentang cara mengoperasikan peralatan keselamatan kerja. a. Kelompok 1 mendiskusikan tentang cara mengoperasikan/ menggunakan uniform b. Kelompok 2 mendiskusikan tentang cara mengoperasikan alat pemadam kebakaran genggam c. Kelompok 3 mendiskusikan tentang cara mengoperasikan alat pemadam kebakaran beroda d. Kelompok 4 mendiskusikan tentang cara menggunakan selimut pemadam api e. Kelompok 5 mendiskusikan tentang penggunakan obat-obatan PPPK 2. Presentasikan hasil diskusi kelompokmu di depan kelas 3. Kelompok lainnya menyimak dan mengajukan pertanyaan 4. Catatlah hasil diskusi, dan serahkan kepada guru tau fasilitator

E. TES

Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Apa sajakah pakaian pelindung kerja yang harus dikenakan saat bekerja di dapur? 2. Sebutkan dan jelaskan alat pelindung kerja sebagai pemadam kebakaran! 3. Sebutkan obat-obatan yang biasa ada dalam kotak PPPK !

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

187

F. Lembar Kerja Praktik Praktik Cara Menggunakan Fire Extinguisher Bahan : Api menyala Alat

:

Fire Extinguisher Prosedur : 1. Pull atau Tarik Pin hingga segel putus atau terlepas. Pin berada diatas Tabung A.P.A.R (Alat Pemadam Api) Pin juga berfungsi sebagai pengaman handleatau pegangan dari penekanan Alat Pemadam Api yang tidak disengaja. 2. Aim atau Arahkan nozzle atau ujung hose Alat Pemadam Api yang kita pegang ke arah pusat api. 3. Squeeze atau Tekan handle atau Pegangan Untuk

mengeluarkan

atau

menyemprotkan

isi

tabung.

Pada

beberapa

merk handle penyemprot terletak Dibagian ujung hose. 4. Sweep atau Sapukan nozzle yang kita pegang ke arah Kiri dan Kanan api, agar media yang disemprotkan merata mengenai api yang sedang terbakar

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

188

Uji Kompetensi VII

I. Pilihlah jawaban yang paling tepat ! 1. Yang dimaksud upaya agar pekerja selamat di tempat kerja dan terhindar dari kecelakaan adalah… a. Kecelakaan kerja

c. Kesehatan kerja

b. Resiko kerja

d. Keselamatan kerja

2. Peristiwa yang tidak direncanakan karena tidak hati-hati atau keadaan tidak aman disebut dengan… a. Kecelakaan kerja

c. Kesehatan kerja

b. Resiko kerja

d. Keselamatan kerja

3. Hal berikut yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja, kecuali… a. Tergesa-gesa

c. Dipasang cerobong asap

b. Tata letak barang tidak teratur

d. Kelelahan

4. Jenis luka yang mungkin timbul oleh tusukan benda tajam atau runcing adalah… a. Luka iris

c. Luka tusuk

b. Luka robek

d. Luka terpotong

5. Jenis luka yang ditimbulkan oleh goresan luka yang tidak terlalu tajam… a. Luka iris

c. Luka tusuk

b. Luka robek

d. Luka terpotong

6. Berdasarkan penyebabnya, jenis kebakaran karena berasal dari kayu, kertas, plastik termasuk jenis kebakaran… a. Kelas A

c. Kelas C

b. Kelas B

d. Kelas D

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

189

7. Berikut yang bukan merupakan penyebab kecelakaan kerja terjatuh adalah… a. Lantai yang licin

c. Penerangan yang kurang

b. Memakai sepatu karet dan berhak d. Kedudukan tangga pemanjat tidak rendah

sesuai

8. Baju atau kemeja chef dibuat berlapis dua dengan tujuan… a. Melindungi tubuh dari radiasi c. Kebih mudah dalam pemakaian panas atau cipratan minyak

d. Memberi kesan elegan

b. Estetika 9. Alat pelindung diri yang biasa digunakan untuk melapisi tangan saat mengambil peralatan masak yang masih panas adalah… a. Scraft

c. Cempal

b. Napkin

d. Apron

10. Berikut ini merupakan alat pemadam kebakaran, kecuali… a. Fire Extinguisher

c. Air

b. Fire Blanket

d. Minyak

II. Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Bagaimanakah cara mencegah kecelakaan kerja yang terjadi akibat : a. Ledakan gas b. Kecelakaan listrik c. Bahan kimia 2. Sebukan dan jelaskan macam-macam alat pemadam kebakaran!

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

190

BAB 8

Kesehatan Kerja (Persyaratan Ruang Kerja dan Penyakit Akibat Kerja)

INDIKATOR : 1. Mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu dalam menemukan dan memahami berbagai aspek terkait dengan pemahaman sanitasi, hygiene dan keselamatan kerja 3. Menunjukkan perilaku amaliah (jujur , disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan pekerjaan 4. Menunjukan perilaku cinta damai dan toleransi dalam membangun kerjasama dan tanggungjawab dalam implementasi kesehatan dan keselamatan kerja. 5. Menjelaskan kesehatan kerja 6. Menjelaskan persyaratan ruang 7. Menjelaskan penyakit akibat kerja 8. Menilai kesehatan kerja

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

Kegiatan Belajar 1 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Menjelaskan pengertian kesehatan kerja

B. MATERI Agar dapat melakukan pekerjaan dengan produktif, seorang harus mempunyai kesehatan kerja yang baik. Apabila bekerja dengan kondisi sehat, maka akan memberikan banyak keuntungan baik bagi pekerja itu sendiri, konsumen maupun keuntungan secara sinansial. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan kesehatan kerja?

Kesehatan Kerja Yang dimaksud dengan kesehatan atau sehat adalah ilmu yang mengajarkan cara-cara untuk mempertahankan kesehatan jasmani, rohani dan sosial untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. 1. Kesehatan pribadi (personal hygiene) Hygiene pribadi atau perorangan mengarah pada individu, kebiasaan-kebiasaan dan kebersihan pribadi, sebab tubuh biasanya mengeluarkan uap lembab secara Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

191

konstan melalui kelenjar keringat yang berada di seluruh tubuh. 2. Kesehatan Lingkungan Kesehatan lingkungan adalah usaha-usaha pengendalian atau pengawasan keadaan lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan atau yang dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan perkembangan fisik, kesehatan dan daya tahan hidup manusia. Kesehatan kerja adalah suatu keadaan para pekerja/masyarakat pekerja dimana kondisi jasmani dan rohani dalam keadaan bebas dari berbagai macam penyakit yang diakibatkan oleh berbagai macam faktor pekerjaan dan lingkungan kerja. Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang kompleks, yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar kesehatan itu sendiri. Banyak factor yang mempengaruhi kesehatan, baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat, antara lain: keturunan, lingkungan, perilaku, dan pelayanan kesehatan. Keempat faktor tersebut saling berpengaruh satu sama lainnya, bilamana keempat faktor tersebut secara bersama-sama mempunyai kondisi yang optimal, maka status kesehatan akan tercapai secara optimal. Dalam dunia industri, kesehatan juga sangat berpengaruh sekali terhadap pencapaian tujuan/hasil. Karena hasil kerja seseorang akan ditentukan oleh kondisi kesehatan tiap-tiap individu (masyarakat) itu sendiri. Tujuan dari kesehatan kerja adalah:  Agar para pekerja/masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehataan setinggi tingginya, baik fisik maupun mental, baik individual maupun sosial dengan usahausaha preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit/gangguan-ganguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit umum.  Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja.  Perawatan dan mempertinggi efisiensi dan produktifitas tenaga kerja.  Pemberantasan kelelahan kerja dan meningkatkan kegairahan serta kenikmatan kerja.  Perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-produk perusahaan.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

192

C. RANGKUMAN

 Kesehatan

kerja

adalah

suatu

keadaan

para

pekerja/masyarakat pekerja dimana kondisi jasmani dan rohani dalam keadaan bebas dari berbagai macam penyakit yang diakibatkan oleh berbagai macam faktor pekerjaan dan lingkungan kerja.  Tujuan dari kesehatan kerja adalah:  memperoleh derajat kesehataan setinggi tingginya  Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja.  Perawatan dan mempertinggi efisiensi dan produktifitas tenaga kerja.  Pemberantasan kelelahan kerja dan meningkatkan kegairahan serta kenikmatan kerja.  Perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-produk perusahaan.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

193

D. TUGAS 1. Bersama dengan kelompokmu, diskusikan tentang : Mengapa kesehatan sangat dibutukan pada saat bekerja di dapur? 2. Presentasikan hasil diskusi kelompokmu di depan kelas 3. Kelompok lainnya menyimak dan mengajukan pertanyaan 4. Catatlah hasil diskusi, dan serahkan kepada guru tau fasilitator

E. TES Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Apakah yang dimaksud dengan kesehatan kerja? 2. Mengapa kesehatan kerja sangat dibutuhkan?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

194

Kegiatan Belajar 2 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungankerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Menjelaskan persyaratan ruang kerja

B. MATERI Demi terciptanya kesehatan kerja bagi para pekerja, maka lingkungan juga harus mendukung terciptanya kesehatan kerja. Ruang kerja harus dalamkeadaan bersih dan nyaman untuk bekerja. Bagaimana persyaratan ruang kerja yang baik dan dapat menciptakan kesehatan kerja ?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

195

Persyaratan Ruang Kerja 1. PERSYARATAN LOKASI DAN BANGUNAN a. Lokasi Rumah makan dan restoran terletak pada lokasi yang terhindar dari pencemaran yang diakibatkan antara lain oleh debu, asap, serangga dan tikus. b. Bangunan 1) Umum  Bangunan dan rancang bangun harus dibuat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Terpisah dengan tempat tinggal. 2) Tata ruang  Pembagian ruang minimal terdiri dari dapur, gudang, ruang makan, toilet, ruang karyawan dan ruang administrasi.  Setiap ruangan mempunyai batas dinding serta ruangan satu dan lainnya dihubungkan dengan pintu.  Ruangan harus ditata sesuai dengan fungsinya, sehingga memudahkan arus tamu, arus karyawan, arus bahan makanan dan makanan jadi serta barang-barang lainnya yang dapat mencemari terhadap makanan. 3) Konstruksi  Lantai : 

Lantai dibuat kedap air, rata, tidak licin dan mudah dibersihkan.

Pertemuan lantai dengan dinding harus conus atau tidak boleh membuat sudut mati

 Dinding : 

Permukaan dinding sebelah dalam harus rata, mudah dibersihkan.

Konstruksi dinding tidak boleh dibuat rangkap.

Permukaan dinding yang terkena percikan air harus dibuat kedap air atau dilapisi dengan bahan kedap air dan mudah dibersihkan seperti porselen dan sejenisnya setinggi 2 (dua) meter dari lantai

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

196

 Ventilasi Ventilasi alam harus memenuhi syarat sebagai berikut : 

Cukup menjamin peredaran udara dengan baik.

Dapat menghilangkan uap, gas, asap, bau dan debu dalam ruangan.

Ventilasi buatan diperlukan bila ventilasi alam tidak dapat memenuhi persyaratan.

 Pencahayaan : 

Intensitas pencahayaan setiap ruangan harus cukup untuk melakukan pekerjaan pengolahan makanan secara efektif dan kegiatan pembersihan ruang.

Di setiap ruangan kerja seperti gudang, dapur, tempat cuci peralatan dan tempat pencuci tangan, intensitas pencahayaan sedikitnya 10 foot candle.

Pencahayaan/penerangan harus tidak menyilaukan dan tersebar merata sehingga sedapat mungkin tidak menimbulkan bayangan yang nyata.

 Atap Tidak bocor, cukup landai dan tidak menjadi sarang tikus dan serangga lainnya.  Langit-langit : 

Permukaan rata, berwarna terang serta mudah dibersihkan.

Tidak terdapat lubang-luban

Tinggi langit-langit sekurang-kurangnya 2,4 meter.

 Pintu 

Pintu dibuat dari bahan yang kuat dan mudah dibersihkan.

Pintu dapat ditutup dengan baik dan membuka ke arah luar.

Setiap bagian bawah pintu setinggi 36 cm dilapisi logam

Jarak antara pintu dan lantai tidak lebih dari 1 cm.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

197

2. PERSYARATAN FASILITAS SANITASI a. Air Bersih 1) Harus sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia yang berlaku 2) Jumlahnya cukup memadai untuk seluruh kegiatan dan tersedia pada setiap tempat kegiatan. b. Air Limbah 1) Sistem pembuangan air limbah harus baik, saluran terbuat dari bahan kedap air, tidak merupakan sumber pencemaran, misalnya memakai saluran tertutup, septick tank dan riol. 2) Sistem perpipaan pada bangunan bertingkat harus memenuhi persyaratan menurut Pedoman Plumbing Indonesia. 3) Saluran iar limbah dari dapur harus dilengkapi perangkap lemak (grease trap). c. Toilet 1)

Letak tidak berhubungan langsung (terpisah) dengan dapur, ruang persiapan makanan, ruang tamu dan gudang makanan.

2)

Di dalam toilet harus tersedia jamban, peturasan dan bak air.

3)

Toilet untuk wanita terpisah dengan toilet untuk pria.

4)

Toilet untuk tenaga kerja terpisah dengan toilet untuk pengunjung.

5)

Toilet dibersihkan dengan detergent dan alat pengering

6)

Tersedia cermin, tempat sampah, tempat abu rokok serta sabun.

7)

Luas lantai cukup untuk memelihara kebersihan.

8)

Lantai

dibuat

kedap

air,

tidak

licin,

mudah

dibersihkan

dan

kelandaiannya/ kemiringannya cukup. 9)

Ventilasi dan penerangan baik.

10) Air limbah dibuang ke septick tank, roil atau lubang peresapan yang tidak mencemari air tanah. 11) Saluran pembuangan terbuat dari bahan kedap air.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

198

12) Tersedia tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan bak penampung dan saluran pembuangan. 13) Di dalam kamar mandi harus tersedia bak dan air bersih dalam keadaan cukup. 14) Peturasan dilengkapi dengan air mengalir. 15) Jamban harus dibuat dengan type leher angsa dan dilengkapi dengan air penggelontoran yang cukup serta sapu tangan kertas (tissue). 16) Jumlah toilet untuk pengunjung pria dan wanita sebagai berikut : Tabel 9. Jumlah toilet untuk pengunjung pria dan wanita Jumlah tempat duduk -150 151-350 351-950 951-1500 Tiap tambah 1000 oang ditambah

Luas bangunan (m2) -250 251-500 501-750 751-1000 -

Wanita WC

Bak cuci

WC

1 2 4 4 1

1 2 2 2 1

1 2 2 3 1

Pria Bak cuci 1 2 2 3 1

Ket

17) Jumlah toilet untuk tenaga kerja sebagai berikut : Tabel 10. Jumlah toilet untuk tenaga kerja Wanita Wanita +-20 21-40 41-70 71-100 101-140 141-180 Setiap penambahan 40-100

Pria 1-25 25-50 51-100 Setiap Penambahan 50-100 -

Pria

WC

Bak cuci

WC

Bak cuci

1 2 3 4 -

1 2 3 4 -

1 2 3 1

2 3 5 2

2 3 5 1

5 6 1

5 6 1

-

-

-

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

Peturasan

199

18) Diberi tanda/tulisan pemberitahuan bahwa setiap pemakai harus mencuci tangan dengan sabun sesudah menggunakan toilet. d. Tempat Sampah 1) Tempat sampah dibuat dari bahan kedap air, tidak mudah berkarat. Mempunyai tutup dan memakai kantong plastik khusus untuk sisa-sisa bahan makanan dan makanan jadi yang cepat membusuk. 2) Jumlah dan volume tempat sampah disesuaikan dengan produk sampah yang dihasilkan pada setiap tempat kegiatan. 3) Tersedia pada setiap tempat/ruang yang memproduksi sampah. 4) Sampah sudah harus dibuang dalam waktu 24 jam dari rumah makan dan restoran. 5) Disediakan tempat pengumpul sementara yang terlindung dari seranga, tikus atau hewan lain dan terletak di tempat yang mudah dijangkau oleh kendaraan pengangkut sampah. e. Tempat Cuci Tangan 1) Jumlah tempat cuci tangan untuk tamu disesuaikan dengan kapasitas tempat duduk sebagai berikut : Tabel 11. Jumlah tempat cuci tangan Kapasitas tempat duduk

Jumlah tempat cuci tangan (buah) 1-60 orang 1 61-120 orang 2 121-200 orang 3 Setiap penambahan 150 orang ditambah 1 buah 2) Apabila tidak tersedia fasilitas seperti butir (1) di atas dapat disediakan :  Sapu tangan kertas (tissue) yang mengandung alcohol 70%  Lap dengan suhu 43,3°C  Air hangat dengan suhu 43,3°C 3) Tersedia tempat cuci tangan khusus untuk karyawan dengan kelengkapan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

200

seperti tempat cuci tangan pada butir (1) yang jumlahnya disesuaikan dengan banyaknya karyawan sebagai berikut : f.

Tempat mencuci Peralatan 1) Terbuat dari bahan yang kuat, aman, tidak berkarat dan mudah dibersihkan. 2) Air untuk keperluan pencucian dilengkapi dengan air panas dengan suhu 40 °C – 80 °C dan air dingin yang bertekanan 15 psi (1,2 kg/cm2). 3) Tempat pencucian peralatan dihubungkan dengan saluran pembuangan air limbah. 4) Bak pencucian sedikitnya terdiri dari 3 (tiga) bilik/bak pencuci yaitu untuk mengguyur, menyabun dan membilas.

g. Tempat Pencuci Bahan Makanan 1) Terbuat dari bahan yang kuat, aman, tidak berkarat dan mudah dibersihkan. 2) Bahan makanan dicuci dengan air mengalir atau air yang mengandung larutan Kalium Permanganat 0,02%. 3) Tempat pencucian dihubungkan dengan saluran pembuangan air limbah. h. Fasilitas Penyimpanan Pakaian (Locker) Karyawan 1) Terbuat dari bahan yang kuat, aman, mudah dibersihkan dan tertutup rapat. 2) Jumlah locker disesuaikan dengan jumlah karyawan. 3) Locker ditempatkan di ruangan yang terpisah dengan dapur dan gudang. 4) Locker untuk pria dan wanita dibuat terpisah.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

201

i.

Peralatan Pencegahan Masuknya Serangga dan Tikus 1) Tempat penyimpanan air bersih harus tertutup sehingga dapat menahan masuknya tikus dan serangga termasuk juga nyamuk aedes Aegypti serta Albopictos. 2) Setiap lubang pada bangunan harus dipasang alat yang dapat mencegah masuknya serangga (kawat kassa berukuran 32 mata per inchi) dan tikus (teralis dengan jarak 2 cm). 3) Setiap persilangan pipa dan dinding harus rapat sehingga tidak dapat dimasuki serangga.

3. PERSYARATAN DAPUR, RUANG MAKAN DAN GUDANG MAKANAN a. Dapur 1) Luas dapur sekurang-kurangnya 40% dari ruang makan atau 27% dari luas bangunan. 2) Permukaan lantai dibuat cukup landai ke arah saluran pembuangan air limbah. 3) Permukaan langit-langit harus menutup seluruh atap ruang dapur, permukaan rata, berwarna terang dan mudah dibersihkan. 4) Penghawaan dilengkapi dengan alat pengeluaran udara panas maupun baubauan/exhauster yang dipasang setinggi 2 (dua) meter dari lantai dan kapasitasnya disesuaikan dengan luas dapur. 5) Tungku dapur dilengkapi dengan sungkup asap (hood), alat perangkap asap, cerobong asap, saringan dan saluran serta pengumpul lemak. 6) Semua tungku terletak di bawah sungkup asap (hood). 7) Pintu yang berhubungan dengan halaman luar dibuat rangkap, dengan pintu bagian luar membuka ke arah luar. 8) Daun pintu bagian dalam dilengkapi dengan alat pencegah masuknya serangga yang dapat menutup sendiri.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

202

9) Ruangan dapur terdiri dari :  Tempat pencucian peralatan  Tempat penyimpanan bahan makanan  Tempat pengolahan  Tempat persiapan  Tempat administrasi 10) Intensitas pencahayaan alam maupun buatan minimal 10 foot candle (fc) 11) Pertukaran udara sekurang-kurangnya 15 kali per jam untuk menjamin kenyamanan kerja di dapur, menghilangkan asap dan debu. 12) Ruang dapur harus bebas dari serangga, tikus dan hewan lainnya. 13) Udara di dapur tidak boleh mengandung angka kuman lebih dari 5 juta/gram 14) Tersedia

sedikitnya

meja

peracikan,

peralatan,

lemari/fasilitas

penyimpanan dingin, rak-rak peralatan, bak-bak pencucian yang berfungsi dan terpelihara dengan baik. 15) Harus dipasang tulisan “Cucilah tangan anda sebelum menjamah makanan dan peralatan” di tempat yang mudah dilihat. 16) Tidak boleh berhubungan langsung dengan jamban/WC, peturasan/urinoir kamar mandi dan tempat tinggal. b. Ruang Makan 1) Setiap kursi tersedia ruangan minimal 0,85m². 2) Pintu yang berhubungan dengan halaman dibuat rangkap, pintu bagian luar membuka ke arah luar. 3) Meja, kusi dan taplak meja harus dalam keadaan bersih. 4) Tempat untuk menyediakan//peragaan makanan jadi harus dibuat fasilitas khusus yang menjamin tidak tercemarnya makanan. 5) Rumah makan dan restoran yang tidak mempunyai dinding harus terhindar dari pencemaran. 6) Tidak boleh mengandung gas-gas beracun sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 7) Tidak boleh mengandung angka kuman lebih dari 5 juta/gram. Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

203

8) Tidak boleh berhubungan langsung dengan jamban/WC, peturasan/urinoir, kamar mandi dan tempat tingal. 9) Harus bebas dari serangga, tikus dan hewan lainnya. 10) Lantai, dinding dan langit-langit harus selalu bersih, warna terang 11) Perlengkapan set kursi harus bersih 12) Perlengkapan set kursi tidak boleh mengandung kutu busuk/kepinding dan serangga pengganggu lainnya. c. Gudang Bahan Makanan 1) Jumlah bahan makanan yang disimpan disesuaikan dengan ukuran gudang. 2) Gudang bahan makanan tidak boleh untuk menyimpan bahan lain selain makanan. 3) Pencahayaan gudang minimal 4 foot candle pada bidang setinggi lutut. 4) Gudang dilengkapi dengan rak-rak tempat penyimpanan makanan. 5) Gudang dilengkapi dengan ventilasi yang menjamin sirkulasi udara. 6) Gudang harus dilengkapi dengan pelindung serangga dan tikus.

4.

PENATAAN RUANG KERJA Tata letak peralatan harus disesuaikan dengan manusia sebagai pekerjanya.

Peralatan

harus

didekatkan

dengan

orang

yang

sering

menggunakannya dan pertimbangkan bagaimana pekerja dengan mudah menjangkaunya tanpa harus membungkuk atau meregangkannya. Berdasarkan ukuran tubuh manusia, maka peralatan dapur dirancang sesuai dengan tinggi tubuh manusia. Panjang lengan berhubungan dengan jarak jangkauan untuk penempatan peralatan yang dibutuhkan. Besar tubuh manusia digunakan sebagai pertimbangan untuk tata letak penataan antara satu alat dengan alat yang lainnya. Setiap peralatan mempunyai karakteristik yang berbeda. Oven, lemari es, microwave, dan salamander memiliki pintu yang sering dibuka, sehingga harus dipikirkan penempatannya. Kompor, oven, atau alat-alat pemanas lainnya akan mempengaruhi suhu ruangan di dapur. Begitu pula dengan alat-alat lainnya yang juga memiliki karakteristik masing-masing. Dengan demikian, karakteristik Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

204

tersebut menghendaki penataan dan penempatan yang tepat supaya tidak menghambat, bahkan dapat memperlancar pekerjaan di dapur. Penempatan oven dengan meja kerja harus dapat memberikan keleluasaan untuk membuka pintu oven karena benda tersebut panas, maka jarak yang disarankan dari pintu tersebut sebanyak 135 cm. Jarak antara satu meja dengan meja lainnya di mana hitungan tersebut dapat dipergunakan untuk bekerja. Dengan kemungkinan karyawan dapat lewat mengangkat barang disediakan lebar 135 cm. Pada ruangan yang biasa dilewati dengan kereta dorong maka dibuat jarak 150 cm. Tata letak dan alur kerja perlu dipikirkan untuk menghindari pemborosan waktu, tenaga, dan bahan-bahan. Penataan yang tepat sangat berguna untuk : (1) mengurangi terjadinya kecelakaan di tempat kerja, (2) mengurangi terjadinya kesakitan dalam bekerja, dan (3) meningkatkan kinerja dan produktivitas Alur kerja yang baik untuk bekerja di dapur harus seperti ban berjalan, menghemat waktu, dan tenaga sehingga tercipta suatu kerja yang efektif dan efisien.

Gambar 30. Penyesuaian tempat kerja dengan ukuran tubuh pria (dalam inchi/2,54 cm per inchi)

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

205

Gambar 31. Penyesuaian tempat kerja dengan ukuran tubuh wanita (dalam inchi/2,54 cm per inchi)

C. RANGKUMAN

1. Persyaratan Lokasi dan Bangunan Lokasi, bangunan (tata ruang, konstruksi lantai, dinding, ventilasi, pencahayaan, atap, langit-langit, pintu) 2. Persyaratan Fasilitas Sanitasi Air bersih, air limbah, toilet tempat sampah, tempat cuci tangan, tempat mencuci peralatan, tempat mencuci bahan makanan, loker karyawan, peralatan pencegah masuknya serangga 3. Persyaratan Dapur, Ruang Makan, dan Gudang Makanan 4. Penataan Ruang Kerja Tata letak peralatan harus disesuaikan dengan manusia sebagai pekerjanya. Besar tubuh manusia digunakan sebagai pertimbangan untuk tata letak penataan antara satu alat dengan alat yang lainnya.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

206

D. TUGAS

1. Secara berkelompok, buatlah denah atau sketsa dapur yang memenuhi persyaratan 2. Presentasikan hasil diskusi kelompokmu di depan kelas 3. Kelompok lainnya menyimak dan mengajukan pertanyaan 4. Catatlah hasil diskusi, dan serahkan kepada guru tau fasilitator

E. TES Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Bagaimanakah lokasi yang tepat untuk dapur? 2. Sebutkan dan jelaskan persyaratan konstruksi : a. Lantai b. Dinding c. Ventilasi Sebuah dapur! 3. Sebutkan persyaratan toilet yang baik di dapur! 4. Jelaskan bagaimana penataan ruang kerja (dapur) yang baik dan aman!

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

207

Kegiatan Belajar 3 A. TUJUAN

1. Mensyukuri Karunia Tuhan Yang Maha Esa, melalui menjaga dan melestarikan keutuhan jiwa, raga manusia serta lingkungan kerja sebagai tindakan pengamalan menurut agama yang dianutnya. 2. Memiliki motivasi internal dan menunjukkan rasa ingin tahu, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, ramah lingkungan dalam implementasi sanitasi, hygiene, kesehatan dan keselamatan kerja 3. Menjelaskan penyakit akibat kerja 4. Menilai kesehatan area kerja

B. MATERI

Apabila kesehatan kerja tidak tercipta maka bukan tidak mungkin akan mengakibatkan penyakit akibat kerja. Penyakit akibat kerja tentunya akan merugikan banyak pihak. Baik pekerja itu sendiri maupun kerugian secara finansial. Apa sebenarnya penyakit akibat kerja ?

Penyakit Akibat Kerja 1. Berikut adalah penyakit akibat kerja yang biasanya muncul : a. Penyakit umum, penyakit yang paling banyak adalah penyakit infeksi, penyakit endemik (cacar, kolera) dan penyakit parasit (disebabkan karena cacing), penyakit alat pernapasan seperti flu dan bronchitis. b. Penyakit seperti keracunan bahan kimia, gangguan mental psikologis akibat kerja. Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

208

c. Keadaan gizi buruk pada buruh, yang dikarenakan penyakit endemis dan parasit, kurangnya pengertian tentang gizi, kemampuan pengupahan yang rendah dan beban kerja terlalu besar. d. Lingkungan kerja yang kurang membantu untuk produktivitas optimal tenaga kerja, seperti keadaan suhu, kelembaban dan gerak udara yang memberikan suhu efektif di luar kenikmatan kerja. 2. Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Kerja : a. Kapasitas kerja Kapasitas kerja yang baik seperti status kesehatan kesehatan kerja dan giziyang baik serta kemampuan fisik yang prima sangat diperlukan agar seorang pekerja dapat melakukan pekerjaan dengan baik. b. Beban kerja Beban kerja meliputi beban kerja fisik maupun mental. Akibat kerja yang terlalu berat atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat mengakibatkan seorang pekerja menderita gangguan atau penyakit akibat kerja. c. Lingkungan kerja Kondisilingkungan kerja (misalnya panas, bising, debu, zat-zat kimia) dapat merupakan beban tambahan terhadap pekerja. Beban-beban tambahan tersebut secara sendiri-sendiri atau bersama-sama dapat menimbulkan gangguan atau penyalit akubat kerja. 3. Hal hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyaki akibat kerja: a. Pengenalan lingkungan kerja Pegenalan lingkungan kerja ini biasanya dilakukan dengan cara melihat dan mengenal kondisi tempat kerja. b. Evaluasi lingkungan kerja Merupakan tahap memperbaiki hal-hal yang dianggap mempunyai potensi penyebab munculnya penyakit akibat kerja. c. Pengendalian lingkungan kerja

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

209

Misal dengan memperbaiki desai dan tata letak ruang kerja (dapur), serta penggunaan alat pelindung kerja pada karyawan, dan melengkapi area kerja dengan alat pelindung kerja.

C. RANGKUMAN

 Penyakit akibat kerja Penyakit umum, penyakit yang paling banyak adalah penyakit infeksi, endemik (cacar, kolera) dan penyakit parasit (disebabkan karena cacing), penyakit alat pernapasan seperti flu dan bronchitis, keracunan, gizi buruk,dll  Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Kerja : Kapasitas kerja, beban kerja, lingkungan kerja  Hal hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyaki akibat kerja: Pengenalan lingkungan kerja, evaluasi lingkungan kerja, pengendalian lingkungan kerja

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

210

D. TUGAS Carilah contoh penyakit akibat kerja di dapur. Anda dapat menambahkan contoh penyakit akibat kerja dari informasi buku, berita media radio, televisi, koran, internet, dll. Tuliskan hasil kerja ke dalam format berikut : No

Contoh Kasus Kecelakaan Kerja

E. TES

Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Sebutkan contoh penyakit akibat kerja yang kalian ketahui ! 2. Faktor apa saja yang dapat memicu munculnya penyakit akibat kerja? 3. Bagaimana cara mencegah agar para pekerja di dapur terhindar dari macammacam penyakit akibat kerja

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

211

F. Lembar Kerja Praktik Praktik Menilai Kesehatan Kerja Prosedur : 1. Secara berkelompok amatilah dapur yanga ada di sekolahmu. Apakah sudah memenuhi persayaratan hygiene dan keselamatan kerja? Pedoman persyaratan dapur lihat di materi kegiatan belajar 2 2. Tuliskan hasil pengamatan ke dalam tabel berikut : No 1

2

3 4

Bagian yang diamati Hasil pengamatan Lokasi dan Bangunan : a. Lokasi b. Tata Ruang c. Lantai d. Dinding…. Fasilitas Sanitasi a. Tempat cuci tangan b. Tempat sampah… Gudang Makanan dan Ruang Makan Penataan Ruang Kerja

3. Presentasikan hasil diskusi kelompokmu di depan kelas 4. Kelompok lainnya menyimak dan mengajukan pertanyaan 5. Catatlah hasil diskusi, dan serahkan kepada guru tau fasilitator

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

212

Uji Kompetensi VIII

I. Pilihlah jawaban yang paling tepat ! 1. Suatu keadaan para pekerja/masyarakat pekerja dimana kondisi jasmani dan rohani dalam keadaan bebas dari berbagai macam penyakit disebut… a. Keselamatan kerja

c. Resiko kerja

b. Kesehatan kerja

d. Kebersihan kerja

2. Berikut ini bukan merupakan persyaratan lantai pada rumah makan atau dapur adalah… a. Kedap air

c. Mudah dibersihkan

b. Rata

d. Permukaan kasar

3. Adanya ventilasi pada dapur bertujuan untuk… a. Menghilangkan uap, gas, bau dalam c. Estetika ruangan

d. Sinar matahari dapat masuk

b. Ruangan menjadi terang 4. Berikut persyaratan toilet di sebuah rumah makan atau restoran adalah… a. Menjadi satu dengan dapur b. Toilet

karyawan

dan

c. Terpisah dari dapur toilet d. Menjadi

pengunjung berdampingan

satu

dengan

gudang

makanan

5. Luas dapur yang ideal adalah… a. 40 % dari ruang makan

c. 5 % dari ruang makan

b. 10 % dari ruang makan

d. 80 % dari ruang makan

6. Berikut merupakanpersyaratan fasilitas loker karyawan, kecuali… a. Terbuat dari bahan yang kuat b. Tertutup rapat

c. Jumlahnya sesuai dengan jumlah karyawan d. Berada di dalam dapur

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

213

7. Berikut hal yang dapat dilakukan untuk mencegah masuknya serangga atau tikus ke dalam dapur adalah… a. Kawat kasa dipasang pada tiap c. Tidak perlu ada ventilasi lubang bangunan

d. Jarak antara lantai dan pintu dibuat

b. Tempat penyimpanan air terbuka

cukup longgar

8. Berikut merupakan contoh penataan ruang kerja (dapur) yang benar adalah… a. Penempatan

kompor

setinggu c. Peralatan

lutut karyawan b.

masak

yang

berat

diletakkan pada bagian atas

Oven diletakkan ditempat yang d. Kran air jauh dari kompor dan meja longgar

kerja

9. Berikut ini yang tidak mempengaruhi kesehatan kerja adalah… a. Kapasitas kerja

c. Lingkungan kerja

b. Beban kerja

d. Dilakukan

pemeriksaan kesehatan

karyawan 10. Yang bukan merupakan penyakit akibat kerja adalah… a. Gizi buruk

c. Pusing

b. Keracunan makanan

d. Berkeringat

II. Jawablah soal uraian di bawah ini ! 1. Bagaimanakah cara mencegah terjadinya penyakit akibat kerja?

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

214

EVALUASI A. Teknik Pengujian Teknik pengujian yang direncanakan akan digunakan untuk mengukur kemampuan siswa meliputi : 1. Pengamatan untuk melakukan penilaian pada aspek afektif. Dilihat pada saat proses pembelajaran dan proses mengerjakan tugas. Juga digunakan untuk menilai aspek psikomotor siswa saat melakukan praktikum. 2. Portofolio. Untuk menilai tugas atau hasil praktikum siswa. 3. Tes tertulis digunakan untuk menilai aspek kognitif siswa. B. Strategi Pengujian TUGAS/ PRAKTIKUM

PENGAMATAN

PENENTUAN LULUS/TIDAK LULUS

PORTOFOLIO HASIL TUGAS

PENJELASAN

TES TERTULIS

HASIL TES

C. Instrumen Pengujian Instrumen

pengujianmemuat

hal-hal

yang

perlu

dilaksanakan

dan

diinformasikan kepada peserta sebelum melaksanakan pengujian antara lain : 1. Kesiapam Peserta Kapan siswa siap untuk diuji 2. Materi uji Kompetensi yang siap untuk diujikan 3. Teknik Pengujian Tes teori, pemberian tugas dan prktikum harian pada saat pembelajaran 4. Lama Pengujian Tes tertulis selama 60 menit

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

215

5. Hasil Pengujian a. Jika

belum

berhasil

siswa

mempunyai

kesempatan

mengulangnya kembali b. Hasil pengujian akan dijaga kerahasiaannya

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

216

untuk

KUNCI JAWABAN BAB I Kegiatan Belajar 1 1. Hygiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu dan lingkungannya 2. Perbadaan sanitasi dan hygiene: -

Sanitasi lebih menitikberatkan pada kebersihan, dengan pengertian tidak terdapat kotoran.

-

Hygiene lebih menitikberatkan pada segi kesehatan, tidak menimbulkan penyakit. Dengan kata lain bebas dari kuman penyakit.

3. Contoh kegiatan hygiene dalam proses pengolahan makanan : -

Mencuci tangan sebelum melakukan pengolahan makanan

-

Melakukan pemilihan bahan makanan yang bersih dan berkalitas

-

Melakukan penyimpanan bahan makanan di tempat yang bersih dan sesuai

-

Mencuci alat dan bahan sebelum kegiatan mengolah makanan

-

Menjaga kebersihan selama mengolah makanan

-

Mencuci alat makan sebelum digunakan

-

Menjaga kebersihan selama penyajian makanan hingga makanan siap dihadapan tamu

Kegiatan Belajar 2 1. Ruang lingkup hygiene : Ruang ingkup hygiene ada 3 macam yaitu : a. Hygiene personal Sikap bersih perilaku petugas penyelenggara makanan agar makanan yang ditangani tidak tercemar oleh petugas penyelenggara makanan. b. Hygiene di tempat kerja Usaha yang dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit yang disebabkan lingkungan kerja (dapur).

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

c. Hygiene makanan Salah satu usaha pencegahan yang menitik beratkan pada kegiatan dan tindakan yang perlu diambil untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat mengganggu atau merusak kesehatan. 2. Contoh personal hygiene : a. Mencuci tangan b. Mandi c. Memotong kuku d. Gosok gigi e. Menjaga kebersihan paaian 3. Contoh hygiene Lingkungan : a. Menyapu b. Mengepel lantai c. Membuang sampah d. Mencuci alat e. Mengelap meja Contoh hygiene makanan : a. Selalu menutup makanan matang b. Membersihan dan mencuci baha makanan sebelum diolah c. Menjaga kebersihan pada saat pengolahan makanan d. Menyimpan bahan makanan ditempat yang bersih dan sesuai e. Menjaga kebersihan makanan saat menyajikan 4. Tujuan dari : a. Personal hygiene Menghindari tercemarnya makanan yang ditimbulkan oleh penyelenggara makanan serta untuk menjaga kesehatan jasmani dan produktivitas kerja personal hygiene. b. Hygiene lingkungan Untuk menghindari terjadinya kecelakaan kerja yang fatal, kerusakan dan keracunan makanan yang timbul akibat tidak bersihnya lingkungan kerja.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

c. Hygiene makanan Untuk menurunkan kemungkinan adanya resiko penularan penyakit atau gangguan kesehatan yang dapat disebabkan atau ditularkan melalui makanan.

Kegiatan Belajar 3 1. Syarat personal hygiene : a. Menjaga kebersihan tubuh: menjaga kebersihan kulit, kuku, rambut, gigi, mulut, jenggot, kumis, mata, hidung, telinga, dan anggota tubuh lainnya b. Menjaga kebersihan pakaian : menjaga kebersihan seragam yang meliputi topi (hat), kacu (necktie), baju kemeja, celemek (apron), celana panjang, sepatu bertumit rendah c. Menjaga kesehatan jasmani : tidur dan istirahat yang cukup, makan dan minum secara teratur, olah raga teratur, udara lingkungan yang segar, dan menghindari rasa cemas 2. Syarat hygiene di tempat kerja : a. Area Dapur : menjaga kebersihan dan standarisasi ventilasi, lantai, dinding, cerobong asap, saluran air, penerangan, pintu dan jendela. b. Peralatan Dapur yang aman dan mudah dibersihkan c. Perabot Kerja di Dapur : tersedia dua jenis tempat sampah, meja dapur untuk kerja terbuat dari bahan yang licin, tidak mudah rusak, mudah dibersihkan, pengaturan barang di dapur ditata sedimikian rupa d. Fasilitas-fasilitas di Dapur : toilet, tempat mencuci tangan, tempat cuci peralatan memenuhi standar hygiene 3. Syarat hygiene makanan : Menjaga kebersihan alat makan, penyimpanan bahan makanan (penyimpanan basah dan kering), dalam pengolahan bahan makanan, penyimpanan makanan matang, proses pemindahan makanan, dan proses penyajian makanan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

BAB II Kegiatan Belajar 1 1. Mikroorganisme merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil, mengalami

pertumbuhan,

menghasilkan

energi

dan

bereproduksi.

Mikroorganisme merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil, mengalami pertumbuhan, menghasilkan energi dan bereproduksi. 2. Jenis mikroorganisme : a. Bakteri Mikroorganisme yang biasanya menyebabkan penyakit pada manusia. Bakteri ada yang yang merugikan dan ada yang menguntungkan. b. Virus Organisme hidup yang paling kecil, yang tidak bisa dilihat, walaupun sudah menggunakan mikroskop. c. Parasit Hewan renik yang dapat menurunkan produktivitas hewan yang ditumpanginya. d. Jamur Jasad yang berbentuk benang, multiseluler, tidak berkhlorofil. Jamur ada yang merugikan, berbahaya dan ada yang menguntungkan. 3. Contoh bakteri menguntungkan : Nama Produk/Makanan Yakult Yoghurt Nata de coco

Bahan Baku Susu Susu Sari air kelapa

Jenis Bakteri yang Berperan Lactobacillus casei Lactobacillus bulgaricus Acetobacter xylinum

Contoh bakteri merugikan : Nama Bakteri Clostridium tetani Diplococcus pneumonia Mycobacterium tuberculosis

Penyakit Tetanus Pneumonia (paru) TBC

Tempat Infeksi Otot Paru Paru

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

4. Contoh virus dan penyakit yang ditimbulkan : Nama Virus Virus hepatitis Paramiksovirus Influenza

Penyakit Hepatitis A Campak Flu

5. Contoh parasit yang merugikan manusia : a. cacing kremi b. cacing pita c. cacing tambang 6. Contoh jamur yang ada dalam bahan makanan yang dapat memproduksi racun merugikan bagi manusia JENIS MIKOTOKSIN

SUMBER PANGAN

SPESIES UMUM YANG MEMPRODUKSI

Aflatoksin

Jagung, kacang tanah, kurma, susu dan produknya

Aspergillus flavus Aspergillus parasiticus

Patulin

Jus apel, buah pomme yg rusak Keju, jagung, kc. tanah,

Penicillium expansum

Cycloplazonicacid

Aspergillus flavusPenicillium Aurantiogriseum

7. Contoh ragi yang dapat merugikan manusia contoh ragi yang dapat merugikan manusia a. Torulla b. Rhodotorulla c. Hansenulla

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

Kegiatan Belajar 2 1. Struktur dan perkembangbiakan bakteri a. Struktur : Struktur dasar (dinding sel, membran plasma, sitoplasma, ribosom, DNA, dan granula penyimpanan), Struktur tambahan (kapsul, flagelum, pilus, fimbria, klorosom, Vakuola gas dan endospora) b. Perkembangbiakan : aseksual (vegetatif = tak kawin) dengan membelah diri 2. Struktur dan perkembangbiakan virus a. Struktur : Kepala, kapsid, isi tubuh, ekor b. Perkembangbiakan : replikasi/sintesa protein 3. Struktur dan perkembangbiakan jamur a. Struktur : nucleus, dinding sel dan hifa b. Perkembangbiakan : Jamur uniseluler (seksual dan aseksual), Jamur multiseluler ngan cara aseksual (fragmentasi) 4. Struktur dan perkembangbiakan parasit a. Struktur : system pencernaan (Mulut, Faring, sofagus/kerongkongan, kelenjar kalsiferous usus, anus), pembuluh darah, sistem ekskresi, dan sistem saraf b. Perkembangbiakan : telur-larva-tumbuh dengan mengambil nutrisi dari inang yang ditumpanginya 5. Struktur dan perkembangbiakan ragi a.

Struktur : Dinding sel, Membran sitoplasma, Nukleus (inti sel), Vakuola, Mitokhondria, Chlamydospore

b.

Perkembangbiakan : Pembelahan, Budding (tunas), Pembelahan tunas, Sporuilasi : spora aseksual, spora seksual

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

BAB III Kegiatan Belajar 1 1. Resiko hygiene adalah resiko akibat gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh rendahnya kualitas kebersihan yang mencakup kebersihan perorangan (personal hygiene), kebersihan area kerja, dan kebersihan makanan 2. Macam macam resiko hygiene: a. pengaruh ekonomi b. penyebaran penyakit c. kerusakan, pembusukan, dan pemborosan makanan, keracunan makanan 3. Untuk pencegahan resiko hygiene, harus memerhatikan : o kualitas fisik kebersihan tempat pengolahan makanan (dapur), tempat pembuangan kotoran (sampah), tempat cuci peralatan dapur, dan toilet tempat pembuangan air limbah. o kualitas biologis kebersihan makanan sehingga bebas dari mikroorganisme dan racun yang berbahaya

Kegiatan Belajar 2 1. Kerusakan makanan adalah penyimpangan-penyimpangan pada bahan makanan yang melewari batas sehingga bahan makanan tersebut tidak dapat diterima secara normal oleh panca indera manusia dan parameter lain. 2. Ciri-ciri kerusakan makanan : adanya perubahan konsistensi, perubahan rasa, perubahan bau, perubahan kemasan

Kegiatan Belajar 3 1. Macam-macam kerusakan makanan : a. Kerusakan mikrobiologis, karena bakteri, jamur, khamir b. Kerusakan makanan biologis, disebabkan oleh berbagai jenis serangga atau binatang pengerat c. Kerusakan makanan kimiawi, karena reaksi makanan pada bahan makanan d. Kerusakan mekanis, karena benturan mekanis Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

e. Kerusakan fisik, karena terjadinya perubahan fisik makanan atau karena pelakuan fisik f.

Kerusakan enzimatis, karena enzim yang terdapat dalam makanan menyebabkan terjadinya reaksi kimia yang mampu menguraikan senyawa kimia tertentu dalam bahan makanan.

2. Contoh kerusakan makanan mikrobiologis : a. Telur busuk b. Roti mulai menghitam 3. Contoh kerusakan makanan biologis : a. Kerusakan buah karena ulat b. Kerusakan bahan makanan karena digigit tikus 4. Contoh kerusakan makanan kimiawi : a. Minyak goreng menjadi tengik karena mengalami oksidasi. Maka minimalisir kontak antara minyak dan udara b. Bahan makanan berprotein tinggi (susu, daging, telur) akan menggumpal jika dipanaskan atau mengalami proses denaturasi 5. Contoh kerusakan makanan mekanis : a. Mangga, durian dipanen dengan galah bambu b. Umbi-umbian sobek karena alat penggali 6. Contoh kerusakan makanan fisik : a. bahan

makanan mengalami

pengeringan

pada

permukaan

pemberian suhu awal yang tinggi b. kerusakan bahan makanan karena pendinginan dan pembekuan 7. Contoh kerusakan makanan enzimatis : a. Pisang : dagingnya menjadi lembut sekali, aromanya menjadi keras b. Sayuran : timbul bau yang tidak sedap

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

karena

BAB IV Kegiatan Belajar 1 1. Keracunan makanan adalah suatu keadan abnormal dalam tubuh yang terjadi karena masuknya racun ke dalam tubuh yang terjadi karena masuknya racun ke dalam tubuh melalui makanan 2. Keracunan makanan dapat terjadi karena factor : dari penjamah makanan (food handing) tidak menerapkan personal hygiene, factor kebersihan makanan, serta kebersihan alat makan dan alat minum 3. Mencegah keracunan makanan : a. Setiap individu harus memiliki pengetahuan dasar tentang ilmu hygiene dan sanitasi makanan b. Menjaga kesehatan dan kebersihan perorangan (personal hygiene) c. Senantiasa menerapkan prosedur hygiene baik hygiene perorangan, hygiene di tempat kerja, maupun hygiene makanan d. Memeliara kebersihan pakaian, rambut, kuku tangan, telinga, dan kulit e. Bila perlu, menyuntik diri dengan vaksin cholera, typus, atau disentri.

Kegiatan Belajar 2 1. Jenis mikroorganisme yang dapat menimbulkan keracunan makanan : a. Bakteri b. Virus c. Rickettsiae d. Prion e. Protozoa dan parasit 2. Contoh bakteri yang dapat menimbulkan keracunan makanan : a. Clostridium botulinum b. Salmonella gastro c. Escherichia coli 3. Contoh virus yang dapat menimbulkan keracunan makanan : a. Enterovirus b. virus polio c. virus hepatitis B d. Rotavirus Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

Kegiatan Belajar 3 1. Faktor penyebab keracunan makanan non mikroorganisme : a. Keracunan Makanan Secara Kimiawi Keracunan pangan yang dsebabkan karena terdapatnya bahan-bahan kimia beracun dalam pangan yang ikut masuk ke dalam tubuh b. Keracunan Makanan Secara Biologi Keracunan pangan yang disebabkan karena mengkonsumsi bahan makanan yang secara alami sudah mengandung racun dan bersifat membahayakan. 2. Bahan kimia yang dapat menyebabkan keracunan makanan : a. Residu Pestisida b. Residu Obat-obatan. Cont : Residu hormon, antibiotik c. Logam Berbahaya. Cont : Keracunan zinck (seng), antimon, tembaga d. Zat Additive. Cont : Pewarna sistetis, zat pemanis, jenis zat additive lain 3. Contoh Penyebab keracunan makanan secara biologis : a. Ubi kayu yang pahit Jenis racun yang dihasilkan adalah HCL (asam cianida) b. Kentang mentah hijau Jenis racun yang dihasilkan adalah solanin c. Beberapa jenis jamur Jenis racunnya adalah mikotoxin

BAB V Kegiatan Belajar 1 1. Perbedaan bahan pembersih dan saniter : a. Saniter adalah senyawa-senyawa yang dapat membunuh sekian persen mikroorganisme yang telah diujicoba sebelumnya dalam jangka waktu yang telah ditentukan. b. Bahan pembersih adalah bahan kimia yang digunakan untuk membersihkan noda dan kotoran yang melekat pada perabotan, perkakas, mesin, kain pembersih dan peralatan pengolahan pangan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

2. Prinsip pembersihn dan sanitasi : -

Tujuan pembersihan adalah menghilangkan sisa makanan dan debu

-

Tujuan sanitasi adalah mengurangi jumlah mikroorganisma hidup

-

Sanitasi tidak selalu membunuh spora

-

Agar efektif, sanitasi harus dilakukan setelah pembersihan

3. Hal yang harus kita perhatikan dalam pembersihan dan sanitasi di bidang makanan : a. Sisa makanan b. Metode sanitasi c. Prinsip desinfektan kimia 4. Faktor yang mempengaruhi pembersihan : a. Waktu b. Suhu c. Konsentrasi bahan pembersih d. Pergerakan mekanik (penggosokan)

Kegiatan Belajar 2 1. Macam-macam bahan pembersih : a. Detergen b. Detergen Sintetis c. Detergen mesin cuci d. Sabun e. Desinfektan 2. Contoh desinfektan : 1) Desinfektan oksidasi : Khlorin Dioksida, Yodosfor 2) Desinfektan non-oksidasi: Quarternary Ammonium Compound (QAC), Amphoteric surfactan, Phonelic desinfectan 3. Hal yang mempengaruhi keefektifan desinfektan : a. Waktu kontak b.

Suhu

c.

Konsentrasi

d.

pH Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

e.

Jenis kotoran

f.

Kecocokan dengan deterjen

4. Syarat deterjen yang baik untuk pembersihan : a. Mempunyai daya pembasuh yang baik yaitu kemampuan untuk membasuh alat-alat dengan baik pada seluruh permukaan. b. Mempunyai daya emusifikasi yang baik yaitu kemampuan untuk mencairkan lemak sisa makanan menjadi cairan sehingga terlepas dari peralatan yang dicuci. c. Mempunyai daya dissolving yang baik yaitu kemampuan untuk melarutkan protein sehingga terbawa dalam pencucian. d. Mempunyai daya dislopilasi yaitu kemampuan mencerai beraikan partikel padat menjadi bagian yang kecil dan mudah dilarutkan air pembersih. e. Mempunyai daya dispesion yaitu kemampuan fungsi ganda baik pada air sadah maupun f.

tidak sadah.

Mempunyai daya rinsing bilas yang bersih yaitu kemampuan terbilas air pada peralatan yang dicuci.

5. Bahan pembersih lainnya : Vim Bleanch, Nobla Liquid, Sumargrill, Sumaschlor, Silver Cleaner, Aluminium Clleaner, Jus Lemon dan Garam, Cuka, Baking Soda,dll

Kegiatan Belajar 3 1. Faktor yang mempengaruhi daya kerja bahan pembersih a. Waktu b. Suhu c. Konsentrasi larutan d. Pergerakan mekanik (penggosokan) 2. Konsetrasi larutan merupakan cara untuk menyatakan hubungan kuantitatif antara zat terlarut dan pelarut. 3. Karena apabila bahan pembersih hanya membutuhkan konsentrasi larutan yang rendah untuk dapat membersihkan suatu peralatan, artinya daya kerja bahan

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

pembersih tinggi. Sebaliknya semakin membutuhkan konsentrasi larutan yang tinggi, maka dapat dikatakan daya kerja bahan pembersih semakin rendah.

BAB VI Kegiatan Belajar 1 1. cara membersihkan peralatan yang terbuat dari : a. Stainles Steel Dibersihkan dengan air sabun, busa atau spon, dibilas sampai bersih lalu dikeringkan atau dilap b. Alumunium Dibersihkan dengan air sabun, serbuk gosok halus atau vim, busa, dibilas sampai bersih lalu dikeringkan c. Plastik Dibersihkan dengan air sabun, serbuk gosok halus atau vim, busa, dibilas sampai bersih lalu dikeringkan d. Kayu Dibersihkan atau dicuci dengan air sabun, serbuk atau abu gosok, sabut ataupun sikat, dibilas dan dikeringkan agar tidak berjamur. e. Teflon Diberaihkan dengan sabun menggunakan spons lembut f.

Email

g. Dibersihkan dengan air sabun, busa atau spon, dibilas sampai bersih lalu dikeringkan atau dilap 2. Macam-macam teknik pencucian peralatan : a. Teknik mencuci peralatan menggunakan tangan (washing by hand) Cara pencucian dengan menggunakan tangan sifatnya sangat sederhana dan tidak memerlukan peralatan yang mahal b. Teknik mencuci peralatan menggunakan mesin (washing by machine) Proses pencucian semua jenis peralatan yang digunakan direstoran atau hotel yang menggunakan mesin Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

3. Tahapan pencucian menggunakan tangan a. Scraping b. Flushing dan Soaking c. Washing, Rinsing d. Sanitizing e. Toweling

Kegiatan Belajar 2 1. Bahan kimia yang biasa digunakan dalam pembersihan ruang : demon pine, carbonide (amstri 514), prevail, dan heavy cleaner, dll 2. Cara aman menggunakan bahan pembersih : a. Pergunakan alat pelindung yang telah direkomendasikan b. Pergunakan bahan pembersih sesuai dengan fungsinya dan sesuai takarannya c. Simpan bahan pembersih dalam tempat aslinya atau tempat khusus d. Tidak menyimpan bahan pembersih pada tempat minum, seperti gelas dan botol e. Mengetahui teknik pertolongan pertama kali tidak sengaja melakukan kontak langsung dengan bahan pembersih yang berbahaya 3. Peralatan pelindung yang hendaknya kita kenakan saat melakukan pembersihan ruang : a. Sarung tangan yang sesuai, misalnya jika membersihkan kamar mandi gunakan sarung tangan panjang. b. Masker muka jika melakkan pembersihan yang berisiko menimbulkan percikan. c. Kacamata debu jika melakukan pembersihan yang berisiko menimbulkan banyak debu 4. Langkah melakukan pembersihan ruang : a. Melakukan pembersihan Lantai b. Melakukan pembersihan Dinding c. Melakukan pembersihan Pintu

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

d. Melakukan pembersihan Ventilasi dan Lampu e. Melakukan pembersihan Mebel

Kegiatan Belajar 3 1. Langkah membersihkan peralatan dan ruang : a. Membersihkan debu ( dusting & damp dusting )  Dusting  Dump dusting b. Menyapu c. Mengepel d. Membersihkan kaca e. Menyikat lantai f.

Membersihkan Peralatan (scraping, flushing dan Soaking, washing, rinsing, sanitizing, dan toweling)

2. Bahan yang diperlukan untuk membersihkan peralatan dan ruang : a. Air b. Pembersih lantai c. Spritus d. Sabun cair e. Bubuk pembersih 3. Alat yang diperlukan untuk membersihkan peralatan dan ruang : a. Sapu b. Tempat sampah c. Ember d. Lap pel e. Penggosok kaca f. Botol semprotan g. Lap katun h. Sikat lantai

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

BAB VII Kegiatan Belajar 1 1. Keselamatan kerja adalah upaya agar pekerja selamat di tempat kerja sehingga terhindar dari kecelakaan , jugauntuk menyelamatkan peralatan serta hasil produksinya. 2. Kecelakaan kerja merupakan peristiwa yang tidak direncanakan yang disebabkan oleh suatu tindakan yang tidak berhati-hati atau suatu keadaan yang tidak aman atau kedua-duanya. 3. Faktor yang memicu terjadinya kecelakaan kerja : a. Keadaan pekerja sendiri (human factor/human error) b. Mesin dan alat-alat kerja (machine and tools condition) c. Keadaan lingkungan kerja (work environment) Kegiatan Belajar 2 1. Macam-macam kecelakaan Kerja : a. terjatuh (patah tulang, terkilir atau keseleo, pingsan), b. terluka benda tajam (luka iris, luka robek, luka tusuk), c. luka bakar, d. ledakan gas, e. kecelakaan listrik (shock, pengacauan denyut jantung hingga kematian, luka bakar, kebakaran), f.

kecelakaan bahan kimia (bahan kimia dalam makanan, bahan kimia dalam pengolahan makanan, bahan kimia pembersih)

2. Hal yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja karena terjatuh : a. Penerangan yang kurang b. Lantai yang licin c. Anak tangga yang terlalu tinggi d. Barang yang tercecer di lantai, dll 3. Hal-hal apa saja yang dapat dilakukan untuk menghindari luka teriris atau terpotong karena benda tajam : a. Selalu menggunakan pisau yang tajam b. Selalu menggunakan alas (telenan) sewaktu memotong c. Pemotongan dilakukan dengan memperhatikan jarak yang aman Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

d. Berkonsentrasi penuh pada waktu bekerja dengan pisau atau alat pemotong lainnya, dll. 4. Hal yang dapat menyebabkan kebakaran : a. Mengetahui tempat penyimpanan dan cara menggunakan alat pemadam kebakaran. b. Menggunakan jenis bahan pemadam kebakaran yang tepat menurut sumber apinya, dll

Kegiatan Belajar 3 1. Alat pelindung kerja : a. Topi (hat) b. Kacu (necktie) c. Baju kemeja dengan dada berlapis dua (double breasted) d. Celemek (apron) e. Celana panjang f.

Sepatu bertumit rendah

2. Alat pemadam kebakaran : air, alat pemadam genggam, alat pemadam beroda, selimut pemadam, pasir 3. Obat-obatan yang biasa ada dalam kotak PPPK : a. Mercorochrom b. Obat luka c. Plester d. Obat Gosok e. Obat pusing f.

Kapas

g. Pembalut h. Gunting

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

BAB VIII Kegiatan Belajar 1 1. Kesehatan kerja adalah suatu keadaan para pekerja/masyarakat pekerja dimana kondisi jasmani dan rohani dalam keadaan bebas dari berbagai macam penyakit yang diakibatkan oleh berbagai macam faktor pekerjaan dan lingkungan kerja. 2. Karena :  Untuk memperoleh derajat kesehataan setinggi tingginya  Untuk pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja.  Untuk perawatan dan mempertinggi efisiensi dan produktifitas tenaga kerja.  Untuk pemberantasan kelelahan kerja dan meningkatkan kegairahan serta kenikmatan kerja.  Untuk perlindungan masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-produk perusahaan.

Kegiatan Belajar 2 1. Lokasi yang tepat untuk dapur : terletak pada lokasi yang terhindar dari pencemaran yang diakibatkan antara lain oleh debu, asap, serangga dan tikus. 2. Persyaratan lantai dapur : -

Lantai dibuat kedap air, rata, tidak licin dan mudah dibersihkan.

-

Pertemuan lantai dengan dinding harus conus atau tidak boleh membuat sudut mati

Persyaratan dinding dapur -

Permukaan dinding sebelah dalam harus rata, mudah dibersihkan.

-

Konstruksi dinding tidak boleh dibuat rangkap.

-

Permukaan dinding yang terkena percikan air harus dibuat kedap air atau dilapisi dengan bahan kedap air dan mudah dibersihkan seperti porselen dan sejenisnya setinggi 2 (dua) meter dari lantai

Persyaratan ventilasi dapur -

Cukup menjamin peredaran udara dengan baik.

-

Dapat menghilangkan uap, gas, asap, bau dan debu dalam ruangan.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

-

Ventilasi buatan diperlukan bila ventilasi alam tidak dapat memenuhi persyaratan.

3. Persyaratan toilet : a. Letak tidak berhubungan langsung (terpisah) dengan dapur, ruang persiapan makanan, ruang tamu dan gudang makanan. b. Di dalam toilet harus tersedia jamban, peturasan dan bak air. c. Toilet untuk wanita terpisah dengan toilet untuk pria. d. Toilet untuk tenaga kerja terpisah dengan toilet untuk pengunjung. e. Toilet dibersihkan dengan detergent dan alat pengering f. Tersedia cermin, tempat sampah, tempat abu rokok serta sabun. g. Luas lantai cukup untuk memelihara kebersihan. h. Lantai dibuat kedap air, tidak licin, mudah dibersihkan dan kelandaiannya/ kemiringannya cukup. i. Ventilasi dan penerangan baik. j. Air limbah dibuang ke septick tank, roil atau lubang peresapan yang tidak mencemari air tanah. k. Saluran pembuangan terbuat dari bahan kedap air. 4. Penataan dapur yang baik dan aman Tata letak peralatan harus disesuaikan dengan manusia sebagai pekerjanya. Besar tubuh manusia digunakan sebagai pertimbangan untuk tata letak penataan antara satu alat dengan alat yang lainnya.

Kegiatan Belajar 3 1. Contoh Penyakit akibat kerja Penyakit umum, penyakit yang paling banyak adalah penyakit infeksi, endemik (cacar, kolera) dan penyakit parasit (disebabkan karena cacing), penyakit alat pernapasan seperti flu dan bronchitis, keracunan, gizi buruk,dll 2. Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Kerja Kapasitas kerja, beban kerja, lingkungan kerja 3. Hal hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyaki akibat kerja: Pengenalan lingkungan kerja, evaluasi lingkungan kerja, pengendalian lingkungan kerja Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

UJI KOMPETENSI I I. Pilihan Ganda 1. B

6. D

11. C

2. A

7. A

12. D

3. C

8. D

13. A

4. D

9. D

14. B

5. D

10. C

15. A

II. Essay 1. Hygiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu dan lingkungannya 2. Ruang lingkup hygiene : a. Hygiene personal b. Hygiene di tempat kerja c. Hygiene makanan 3. Persyaratan : a. Syarat personal hygiene : o Menjaga kebersihan tubuh: menjaga kebersihan kulit, kuku, rambut, gigi, mulut, jenggot, kumis, mata, hidung, telinga, dan anggota tubuh lainnya o Menjaga kebersihan pakaian : menjaga kebersihan seragam yang meliputi topi (hat), kacu (necktie), baju kemeja, celemek (apron), celana panjang, sepatu bertumit rendah o Menjaga kesehatan jasmani : tidur dan istirahat yang cukup, makan dan minum secara teratur, olah raga teratur, udara lingkungan yang segar, dan menghindari rasa cemas b. Syarat hygiene di tempat kerja : o Area Dapur : menjaga kebersihan dan standarisasi ventilasi, lantai, dinding, cerobong asap, saluran air, penerangan, pintu dan jendela. o Peralatan Dapur yang aman dan mudah dibersihkan o Perabot Kerja di Dapur : tersedia dua jenis tempat sampah, meja dapur untuk kerja terbuat dari bahan yang licin, tidak mudah rusak, mudah Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

o dibersihkan, pengaturan barang di dapur ditata sedimikian rupa o Fasilitas-fasilitas di Dapur : toilet, tempat mencuci tangan, tempat cuci peralatan memenuhi standar hygiene c. Syarat hygiene makanan : Menjaga

kebersihan

alat

makan,

penyimpanan

bahan

makanan

(penyimpanan basah dan kering), dalam pengolahan bahan makanan, penyimpanan makanan matang, proses pemindahan makanan, dan proses penyajian makanan

UJI KOMPETENSI II I. Pilihan Ganda 1. D

6. C

11. D

2. A

7. C

12. B

3. D

8. A

13. D

4. B

9. D

14. B

5. D

10. A

15. C

II. Essay No 1

2 3

4

Cara Perkembangbiakan Bakteri Struktur dasar (dinding sel, aseksual (vegetatif = tak Contoh: Clostridium membran plasma, kawin) dengan tetani, Diplococcus sitoplasma, ribosom, DNA, membelah diri pneumonia dan granula penyimpanan), Struktur tambahan (kapsul, flagelum, pilus, fimbria, klorosom, Vakuola gas dan endospora) Virus Kepala, kapsid, isi tubuh, replikasi/sintesa protein Contoh: Virus ekor hepatitis, Influenza Jamur nucleus, dinding sel dan hifa Jamur uniseluler (seksual dan aseksual), Contoh : Aspergillus Jamur multiseluler ngan flavus cara aseksual Aspergillus parasiticus (fragmentasi) Mikroorganisme

Struktur

Parasit system pencernaan (Mulut, Contoh : Faring, cacing kremi, cacing sofagus/kerongkongan, pita kelenjar kalsiferous usus,

telur-larva-tumbuh dengan mengambil nutrisi dari inang yang ditumpanginya

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

5

anus), pembuluh darah, sistem ekskresi, dan sistem saraf Dinding sel, Membran Ragi Contoh : Torulla, sitoplasma, Nukleus (inti Rhodotorulla sel), Vakuola, Mitokhondria, Chlamydospore

Pembelahan, Budding (tunas), Pembelahan tunas, Sporuilasi : spora aseksual, spora seksual

UJI KOMPETENSI III I. Pilihan Ganda 1. C

6. B

11. C

2. D

7. B

12. C

3. B

8. B

13. A

4. C

9. C

14. C

5. D

10. A

15. B

II. Essay 1. Contoh resiko hygiene: a. Kerugian ekonomi b. penyebaran penyakit c. kerusakan, pembusukan, dan pemborosan makanan, keracunan makanan 2. Contoh kerusakan makanan :

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

No 1 2

Macam-macam Kerusakan Makanan

Penjelasan

Contoh

Kerusakan Makanan Mikrobiologis Kerusakan Makanan Biologis

karena bakteri, jamur, khamir

Telur busuk, Roti mulai menghitam

3

Kerusakan Makanan Kimiawi

4

Kerusakan Makanan Mekanis

5

Kerusakan Makanan Fisik

6

Kerusakan Makanan Enzimatis

disebabkan oleh Kerusakan buah karena berbagai jenis serangga ulat, atau binatang pengerat Kerusakan bahan makanan karena digigit tikus karena reaksi makanan Minyak goreng menjadi pada bahan makanan tengik, Bahan makanan berprotein tinggi (susu, daging, telur) akan menggumpal jika dipanaskan karena benturan Mangga, durian dipanen mekanis dengan galah bamboo, Umbi-umbian sobek karena alat penggali karena terjadinya bahan makanan perubahan fisik mengalami pengeringan makanan atau karena pada permukaan karena pelakuan fisik pemberian suhu awal yang tinggi, kerusakan bahan makanan karena pendinginan dan pembekuan karena enzim yang Pisang : dagingnya terdapat dalam menjadi lembut sekali, makanan menyebabkan aromanya menjadi keras, terjadinya reaksi kimia Sayuran : timbul bau yang tidak sedap

UJI KOMPETENSI IV I. Pilihan Ganda 1. C

6. D

11. D

2. D

7. C

12. B

3. B

8. B

13. C

4. A

9. B

14. D

5. B

10. B

15. A

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

II. Essay 1. Keracunan makanan adalah suatu keadan abnormal dalam tubuh yang terjadi karena masuknya racun ke dalam tubuh yang terjadi karena masuknya racun ke dalam tubuh melalui makanan. 2. Faktor penyebab keracunan makanan : No 1

Faktor Penyebab Keracunan Mikroorganisme a. Virus b. Bakteri

2

Non Miroorganisme a. Kimiawi b. Biologis

Contoh Keracunan

Virus polio, yang membuat kaki mengecil Keracunan E. Colli, Clostridium botulinum, Salmonella gastro Yang ditandai dengan muntahmuntal, demam tinggi, dsb. Keracunan pestisida dari hasil penyemprotan pada tumbuhan, keracunan obat, dll Keracunan jengkol, singkong yang mengandung HCL, kentang yang mengandung solanin, dll

UJI KOMPETENSI V I. Pilihan Ganda 1. D

6. A

2. B

7. C

3. C

8. B

4. C

9. C

5. B

10. D

II. Essay 1. Bahan pembersih dan bahan saniter a. Saniter adalah senyawa-senyawa yang dapat membunuh sekian persen mikroorganisme yang telah diujicoba sebelumnya dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

b. Bahan pembersih adalah bahan kimia yang digunakan untuk membersihkan noda dan kotoran yang melekat pada perabotan, perkakas, mesin, kain pembersih dan peralatan pengolahan pangan 2. Macam-macam bahan pembersih dan saniter : a. Detergen b. Detergen Sintetis c. Detergen mesin cuci d. Sabun e. Desinfektan. Desinfektan oksidasi : Khlorin Dioksida, Yodosfor. Desinfektan non-oksidasi: Quarternary Ammonium Compound (QAC), Amphoteric surfactan, Phonelic desinfectan

UJI KOMPETENSI VI I. Pilihan Ganda 1. B

6. B

2. D

7. C

3. C

8. C

4. A

9. D

5. B

10. B

II. Essay 1. Cara membersihkan peralatan yang terbuat dari : a. Alumunium Dibersihkan dengan air sabun, serbuk gosok halus atau vim, busa, dibilas sampai bersih lalu dikeringkan b. Stainless Steel Dibersihkan dengan air sabun, busa atau spon, dibilas sampai bersih lalu dikeringkan atau dilap 2. Langkah membersihkan dapur secara keseluruhan : a. Membersihkan debu ( dusting & damp dusting ) b. Menyapu c. Mengepel

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

d. Membersihkan kaca e. Menyikat lantai f.

Membersihkan Peralatan (scraping, flushing dan Soaking, washing, rinsing, sanitizing, dan toweling)

UJI KOMPETENSI VII I. Pilihan Ganda 1. D

6. A

2. A

7. B

3. C

8. A

4. C

9. C

5. B

10. D

II. Essay 1. Cara mencegah kecelakaan kerja yang terjadi akibat : a. Ledakan gas 

Ketahuilah bau gas yang dipergunakan

Periksa selalu keadaan pipa gas

Pergunakan pilot light

Putuskan hubungan secara total

Ikuti petunjuk

b. Kecelakaan listrik 

Perhatikan tegangan

Perhatikanalat sambung

Sekering hanya untuk orang yang berwenang

Periksa keadaan kabel penghubung

Pastikan sekitar alat penyambung kering dan bersih

Perhatikan gejala aneh

Putuskan hubungan listrik apabila alat tidak digunakan

Ikuti petunjuk

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

c. Bahan kimia 

Pengenalan bahan kimia dengan baik

Memberikan tanda yang jelas bada bahan kimia agar tidak tertukar

Jangan mencoba-coba

Simpan pada tempat yang aman

2. Macam-macam alat pemadam kebakaran a. Air Hanya untuk kebakaran yang bersumber darikayu, kertas, bahan kain, dan orang yang boleh dipadamkan dengan air. b. Alat pemadam genggam (Fire Extinguisher) Alat pemadam jenis ini sesuai untuk digunakan di dapur pengolahan terutama untuk kebakaran yang disebabkan oleh lemak/ minyak dan aliran listrik serta gas. c. Selimut pemadam Selimut pemadam ini cocok untuk memadamkan api kecil pada individu (baju) dan peralatan kecil dan sedang. d. Pasir

UJI KOMPETENSI VIII I. Pilihan Ganda 1. B

6. D

2. D

7. A

3. A

8. B

4. C

9. D

5. A

10. D

II. Essay 1. Cara mencegah terjadinya penyakit akibat kerja : a. Pengenalan lingkungan kerja Pegenalan lingkungan kerja ini biasanya dilakukan dengan cara melihat dan mengenal kondisi tempat kerja.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

b. Evaluasi lingkungan kerja Merupakan tahap memperbaiki hal-hal yang dianggap mempunyai potensi penyebab munculnya penyakit akibat kerja. c. Pengendalian lingkungan kerja Misal dengan memperbaiki desai dan tata letak ruang kerja (dapur), serta penggunaan alat pelindung kerja pada karyawan, dan melengkapi area kerja dengan alat pelindung kerja.

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

GLOSARIUM Antimony

: sejenis logam

Cadmium

: logam yang berwarna putih keperakan, lunak dan tahan korosi

Chinaware

: pecah belah yang terbuat dari bahan keramik, porselin atau tembikar

Flusing

: penyemprotan kotoran menggunakan air

Food Handling

: penjamah makanan

Fragmentasi

: pembelahan

Glassware

: peralatan yang terbuat dri bahan kaca

Hand Brush

: sikat

Masa Inkubasi

: waktu dari saat paparan agen menular sampai tandatanda dan gejala penyakit muncul

Multiseluler

: banyak sel

PSI (Pound Persquare Inches) : satuan untuk tekanan Rinsing

: pembilasan

Scaping

: membersihkan sisa makanan

Soaking

: perendaman

Silverware

: peralatan makan yang terbuat dari logam yang dilapisi perak atau stainless steel

Toweling

: pengeringan/pengelapan

Uniseluler

: satu sel

Washing

: pencucian

Zinck

: seng

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

DAFTAR PUSTAKA

Annayanti Budiningsih, 2008. Restoran. Bogor: Yudhistira Anonim. 2010. Melaksanakan Prosedur Sanitasi dan Hygiene di Tempat Kerja. Diunduh dari http://ladsvirgo.blogspot.com/p/modul-sanitasi-hygiene.html pada tanggal 4 September 2013, pukul 14:07 Anonim. 2010. Kesehatan dan Keselamatan Kerja Diunduh dari daincredible.files. wordpress.com/ 2010/ 01/ tugas-ksk-paper- mandiri.docx‎,‎ pada‎ tanggal‎ 2‎ September‎2013,‎pukul‎21:30 . 2010. Pembersihan dan Sanitasi. Diunduh dari staff.unud.ac.id/~nengah.../bab4e38080pembersihan-dan-sanitasi.doc‎‎ pada‎ tanggal‎ 3‎ September‎ 2013,‎ pukul‎ 02:19 . 2010. Sanitasi Hygiene. Diunduh dari http:// file.upi.edu/ Direktori/ PTK/J UR._PEND._KESEJAHTERAAN_KELUARGA/196005041986012-DE_JUWAEDAH/ Sanitasi_Hygiene. pdf pada tanggal 5 September 2013, pukul 03:09 Prihastuti Ekawatiningsih. 2008. Restoran Jilid 1. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional Sugeng Widyatmoko, 2007. Modul Memberi Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan. Yogyakarta : SMKN 2 Godean Kurnia Hindriyarin. 2003. Hand Out Kesehatan, Keselamatan Kerja (K3) Dan Hygiene Sanitasi.Blitar: SMKN 1 Nglegok

Modul Pembelajaran Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja

SANITASI HYGIENE & KESELAMATAN KERJA

Modul Sanitasi Hygiene dan Keselamatan Kerja berisi tentang bagaimana kita sebagai food handling atau orang-orang yang akan menangani makanan mampu menerapkan hygiene dan sanitasi di lingkungan kerja. Agar

produk

yang

dihasilkan

atau

dimasak

tidak hanya unggul dari segi rasa dan penampilannya saja namun kebersihan juga terjamin. Selain itu, dengan membaca modul ini kita akan belajar bagaimana agar merasa nyaman untuk bekerja di area kerja (dapur) karena diterapkannya keselamatan dan kesehatan kerja. Modul ini diperuntukkan bagi siswa Jurusan Tata Boga yang masih pemula yakni siswa kelas X yang telah disusun berdasarkan kurikulum 2013.

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA Karangmalang, Depok, Sleman, Yogyakarta 55281 Website: www.uny.ac.id Telp: 0274-550 844

Apa Manfaat Dari P3k ? - Brainly.co.id

Tujuan P3k Adalah : tujuan, adalah, Manfaat, Brainly.co.id

Penanganan P3K

Tujuan P3k Adalah : tujuan, adalah, Penanganan

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (p3k)

Tujuan P3k Adalah : tujuan, adalah, Pertolongan, Pertama, Kecelakaan, (p3k)

P3k

Tujuan P3k Adalah : tujuan, adalah

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) Di Tempat Kerja

Tujuan P3k Adalah : tujuan, adalah, Pertolongan, Pertama, Kecelakaan, (P3K), Tempat, Kerja

Kelas 9 1 Materi Penjasorkes P3 K

Tujuan P3k Adalah : tujuan, adalah, Kelas, Materi, Penjasorkes

DOC) Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan | Nina Zain - Academia.edu

Tujuan P3k Adalah : tujuan, adalah, Pertolongan, Pertama, Kecelakaan, Academia.edu

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (p3k)

Tujuan P3k Adalah : tujuan, adalah, Pertolongan, Pertama, Kecelakaan, (p3k)

S ?? Web Viewpertolongan Pertama Pada Kecelakaan. Hakikat Dan Prinsip-prinsip P3k. Pengertian P3k. Tujuan P3k

Tujuan P3k Adalah : tujuan, adalah, Viewpertolongan, Pertama, Kecelakaan., Hakikat, Prinsip-prinsip, Pengertian, Tujuan

Sebutkan Tujuan P3k Dalam Kehidupan Sehari Hari - Sebutkan Itu

Tujuan P3k Adalah : tujuan, adalah, Sebutkan, Tujuan, Dalam, Kehidupan, Sehari

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K): Oleh Dr. M. Hanafi Fahlefi Lbs

Tujuan P3k Adalah : tujuan, adalah, Pertolongan, Pertama, Kecelakaan, (P3K):, Hanafi, Fahlefi