Upacara Adat Jawa Dalam Bahasa Jawa

Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, tentu juga memiliki banyak tradisi dan budaya yang unik. Salah satu yang mudah ditemukan adalah tradisi pernikahan. Tiap suku memiliki adat pernikahan yang berbeda-beda dan harus dihormati sebagai keistimewaan budaya Indonesia. Bagi Anda yang berasal dari suku Jawa, tentu Anda ingin mengetahui seperti apa prosesi pernikahan adat Jawa.Dalam pemahaman orang Jawa, bahwa nyawa orang yang telah mati itu sampai dengan waktu tertentu masih berada di sekeliling keluarganya. Ketika salah satu masyarakat suku Jawa meninggal, ritual adat istiadat pun tak lepas mengiringi. Ritual ini dimaksudkan agar orang nan meninggal dapat mendapatkan loka nan baik di akhirat.Ruwatan iku salahsijining upacara adat Jawa sing tujuane kanggo mbebasake manungsa, utawa wilayah saka ancaman bahaya. Inti upacara ruwatan iki sejatine ndonga, nyenyuwun perlindungan marang Gusti Allah saka ancaman bahaya-bahaya umpamane bencana alam lan liyane, uga ndonga nyuwun pengampunan dosa-dosa lan kesalahan-kesalahan sing wis dilakoni, sing isa nyebabake bencana utawa sing dianggepUpacara adat daerah Jawa Timur disertai gambar dan keterangan atau penjelasannya merupakan uraian yang menarik untuk di baca. Hal ini karena ada banyak tradisi di propinsi Jawa Timur yang belum kita ketahui bersama. Mulai dari kebiasaan adat kelahiran, pernikahan sampai kematian, semua ada diatur dan sampai kini masik lestari didaerah tersebut.Prosesi adat pernikahan Jawa yang selanjutnya adalah midodaren. Kata midodaren sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu 'widodari' atau bidadari dalam bahasa Indonesia. Upacara ini dilangsungkan pada malam hari setelah prosesi siraman, yang dimaksudkan menjadikan sang mempelai perempuan secantik Dewi Widodari.

Upacara Kematian Adat Jawa - sirfrancois

Mitoni ialah ritual yang dilakoni masyarakat Jawa saat usia kehamilan memasuki bulan ke-7. Pada usia ini, umumnya janin yang ada di dalam kandungan sudah hampir sempurna. Rasa antusias sekaligus cemas akan menghantui calon orangtua menjelang hari persalinan tiba. Untuk itulah, tradisi Mitoni digelar dengan tujuan menghaturkan doa dan harapan demi keselamatan dan kebaikan sang ibu dan calon bayi.5 Upacara Adat Jawa. 1. Upacara Ruwatan. Ruwatan (pensucian diri )adalah satu upacara tradisional supaya orang terbebas dari segala macam kesialan hidup, nasib jelek dan supaya selanjutnya bisa hidup selamat sejahtera dan bahagia Ruwatan yang paling terkenal adalah Ruwatan Murwakala. Dalam ruwatan ini dipergelarkan wayang kulit dengan cerita Murwakala, dimana orang-orang yang termasuk kategoriUpacara adat Jawa Tengah (Semarang) gambar dan penjelasannya merupakan salah satu informasi terkait budaya asli Indonesia yang harus mendapat perhatian dari masyarakat dan pemerintah. Perhatian terhadap tradisi tradisional bisa bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari melakukan arsip digital, melakukan perlombaan sampai dengan menjadikan kebiasaan tersebut sebagai destinasi wisata bagiTedhak siten iku salah satunggaling upacara adat jawa kagem bocah umuripun 7 selapan utawa 245 dinten, nalika bocah iku wau nembe pisanan ajar mlaku. Selapan yaiku kombinasi 7 dinten ing kalender internasional lan 5 dinten ing kalender Jawa. Selapan iku pendhak 35 dinten pisan.

Upacara Kematian Adat Jawa - sirfrancois

Upacara Ruwatan (Bahasa Jawa) - Guntara.com

Prosesi hajatan pernikahan adat Jawa sebelum hari pernikahan akan diakhiri dengan midodareni. Kata midodareni sendiri berasal dari kata 'widodari' yang dalam bahasa Jawa berarti bidadari. Yang diharapkan dari ritual ini adalah sang pengantin wanita akan secantik bidadari dari surga saat hari pernikahannya esok hari.Sekaten merupakan upacara adat Jawa yang digelar dalam kurun tujuh hari sebagai bentuk peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad. Berdasarkan asal usulnya, kata Sekaten yang menjadi nama upacara tersebut berasal dari istilah Syahadatain, yang dalam Islam dikenal sebagai kalimat tauhid.Contoh Laporan Upacara Adat Nyadran Dalam Bahasa Jawa Atur Pangiring Puji syukur penyerat panjatake marang Gusti Allah SWT paring segala rahmat,hidayah serta inayahnya.Saengga penyerat bisa nyelesaikake karya tulis iki bermanfaat kaleh pemaos.1. Kasada Bromo. Upacara Kasada Bromo memiliki nama lain Yadnya Kasada yaitu upacara yang dilaksanakan oleh suku Tengger yang tinggal di kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur. Masyarakat di sana umumnya adalah pemeluk agama Hindu.Dalam adat jawa upacara pernikahan merupakan hal yang cukup sakral dan unik. Ada banyak tahapan yang harus mereka lalui sebelum sampai ke jenjang pernikahan. ada banyak sekali keunikan pada saat acara nikahan di jawa Seperti bayar tukon , tukar cincin, meletakkan ayam ketika perjalanan ke proses pernikahan, sungkeman, srah-srahan baru temu

Cara Mengatasi Microsoft Office 2016 Unlicensed Product Cara Mengatasi Office 2010 Product Activation Failed Cara Membersihkan Cumi Cara Memasang Otomatis Pompa Air Cara Flash Ulang Lenovo A6000 Plus Cara Menjodohkan Burung Dara Cara Memperbaiki Earphone Cara Mematikan Komputer Orang Lain Dalam Satu Jaringan Cara Buat Bawang Hitam Cara Koneksi Internet Pc Cara Bermain Kasti

Upacara Kematian Adat Jawa

Kematian memang selalu menjadi salah satu momen yang paling menyedihkan dalam setiap perjalanan hidup manusia. Tidak ada satupun cara yang bisa kita sebagai manusia lakukan untuk menghindari momen yang dianggap paling menyedihkan ini. Secara umum pada saat keluarga ataupun kerabat meninggal biasanya cukup hanya di doakan lalu dimakamkan. Namun beberapa suku di Indonesia mempunyai cara,langkah langkah,ritual,maupun adat istiadat yang dilakukan pada saat keluarga/kerabat terdekat meninggal.

Suku Jawa berasal dari Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Semua sendi kehidupan masyarakat suku Jawa tak pernah lepas dari adat istiadat nan memang sudah sangat dipercayai sejak dulu.Masyarakat suku Jawa merupakan masyarakat dengan jumlah populasi terbesar di Indonesia. Jumlahnya mencapai hampir setengah dari holistik populasi masyarakat nan tinggal di Indonesia.

Masyarakat Jawa dikenal memilki budaya yang sangat kental. Sampai era globalisasi saat ini pun adat istiadat masih kerap dijalankan dan ditaati oleh masyarakatnya. Adat istiadat disuku Jawa pun hampir terdapat di setiap momen momen kehidupan manusia. Semenjak dari kelahiran,ulangtahun,perkawinan,hingga kematian memilik adat istiadatnya.

Adat istiadat ini ialah sebuah budaya dan Norma nan telah turun temurun dilakukan oleh sebagian besar masyarakat jawa. Bahkan di masyarakat sekan terdapat keharusan buat melakukannya. Segala usaha akan dilakukan agar mereka bisa melaksanakan adat istiadat ini. Kebanyakan adat istiadat nan ada bersumber dari kepercayaan nenk moyang terdahulu dari masyarakat jawa dan tak bersumber dari agama terutama agama Islam sebagai agama nan banyak dipeluk oleh sebagian besar masyarakat jawa.

Ritual Kematian Adat Jawa

Dalam pemahaman orang Jawa, bahwa nyawa orang yang telah mati itu sampai dengan waktu tertentu masih berada di sekeliling keluarganya. Ketika salah satu masyarakat suku Jawa meninggal, ritual adat istiadat pun tak lepas mengiringi. Ritual ini dimaksudkan agar orang nan meninggal dapat mendapatkan loka nan baik di akhirat. Oleh karena itu kita sering mendengar istilah selametan yang dilakukan untuk orang yang telah meninggal.

Tidak hanya suku Toraja yang memiliki ritual kematian suku Jawa pun juga memiliki ritual kematian. Ketika salah satu masyarakat suku Jawa meninggal, ritual adat istiadat pun tak lepas mengiringi. Ritual ini dimaksudkan agar orang nan meninggal dapat mendapatkan loka nan baik di akhirat.

1. Pemberitahuan

Tentu saja hal yang menjadi langkah pertama yang akan kita lakukan saat mengetahui keluarga/kerabat kita meninggal adalah memberitahukan kabar sedih tersebut ke tetanggga,kerabat,keluarga terdekat. Jenazah yang baru saja meninggal dunia segera ditidurkan secara membujur, menelentang, dan menghadap ke atas. Selanjutnya mayat ditutup dengan kain batik yang masih baru. Kaki dipan tempat mayat itu ditidurkan perlu direndam dengan air, maksudnya agar dipan itu tidak dikerumuni semut atau binatang kecil lainnya. Tikar sebagai alas tempat jenazah dibaringkan perlu diberi garis tebal dari kunyit dengan maksud agar binatang kecil tidak mengerumuni mayat. Terakhir adalah membakar dupa wangi atau ratus untuk menghilangkan bau yang kurang sedap.

Bersamaan dengan hal diatas, beberapa orang terdekat bertugas memanggil seorang modin dan mengumumkan kematian itu kepada para sanak saudara dan tetangga. Pemberitaan juga dilakukan dengan bantuan pengeras suara dari masjid terdekat. Setelah kabar tersiar mereka yang mendengar akan berusaha segera datang ketempat itu untuk membantu menyiapkan pemakaman.

2. Upacara Ngesur Tanah (Geblag)

Upacara ngesur tanah merupakan upacara yang diselenggarakan pada saat hari meninggalnya seseorang. Upacara ini diselenggarakan pada sore hari setelah jenazah dikuburkan. Istilah sur tanah atau ngesur tanah berarti menggeser tanah (membuat lubang untuk penguburan mayat). Makna sur tanah adalah memindahkan alam fana ke alam baka dan wadag semula yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah juga.

Bahan yang digunakan untuk kenduri terdiri atas:

Nasi gurih (sekul wuduk) Ingkung (ayam dimasak utuh) Urap (gudhangan dengan kelengkapannya) Cabai merah utuh Krupuk rambak Kedelai hitam Bawang merah yang telah dikupas kulitnya Bunga kenanga Garam yang telah dihaluskan Tumpeng yang dibelah dan diletakkan dengan saling membelakangi (tumpeng ungkur-ungkuran)

3.Upacara Brobosan

Sebelum jenazah diberangkatkan ke makam dilakukan suatu upacara yang disebut dengan “upacara brobosan”. Upacara brobosan ini bertujuan untuk menunjukkan penghormatan dari sanak keluarga kepada orang tua atau keluarga mereka (jenazah) yang telah meninggal dunia. Upacara brobosan diselenggarakan di halaman rumah orang yang meninggal sebelum dimakamkan dan dipimpin oleh anggota keluarga yang paling tua.  Namun sebelum upacara dilakukan, biasanya diawali dengan beberapa sambutan dan ucapan belasungkawa oleh beberapa pamong desa. Dan semua yang hadir ditempat itu harus berdiri hingga jenazah benar-benar diberangkatkan.

Upacara brobosan tersebut dilangsungkan dengan tata cara sebagai berikut:

1.Peti mati dibawa keluar menuju ke halaman rumah dan dijunjung tinggi ke atas setelah upacara doa kematian selesai.

2.Anak laki-laki tertua, anak perempuan, cucu laki-laki dan cucu perempuan, berjalan berurutan melewati peti mati yang berada di atas mereka (mrobos) selama tiga kali dan searah jarum jam.

3.Urutan selalu diawali dari anak laki-laki tertua dan keluarga inti berada di urutan pertama; anak yang lebih muda beserta keluarganya mengikuti di belakang.

Setelah itu jenazah diberangkatkan dengan keranda yang diangkat oleh anak-anaknya yang sudah dewasa bersama dengan anggota keluarga pria lainnya, sedangkan seorang memegang payung untuk menaungi bagian dimana kepala jenazah berada. Adapun urutan untuk melakukan perjalanan ke pemakaman juga diatur. Yang berada diurutan paling depan adalah penabur sawur (terdiri dari beras kuning dan mata uang), kemudian penabur bunga dan pembawa bunga, pembawa kendi, pembawa foto jenazah, keranda jenazah, barulah dibagian paling belakang adalah keluarga maupun kerabat yang turut menghantarkan. Namun dalam keyakinan orang Jawa, seorang wanita tidak diperkenankan untuk memasuki area pemakaman. Jadi mereka hanya boleh menghantarkan sampai didepan pintu pemakaman saja. Dan mereka yang masuk hanyalah kaum pria tanpa memakai alas kaki.

4.  Upacara Nelung Dina ( Tiga Hari)

Upacara ini merupakan upacara kematian yang diselenggarakan untuk memperingati tiga hari meninggalnya seseorang. Peringatan ini dilakukan dengan kenduri dengan mengundang kerabat dan tetangga terdekat.

Bahan untuk kenduri biasanya terdiri atas:

*Takir pontang yang berisi nasi putih dan nasi kuning, dilengkapi dengan sudi-sudi yang berisi kecambah, kacang panjang yang telah dipotongi, bawang merah yang telah diiris, garam yang telah digerus (dihaluskan), kue apem putih, uang, gantal dua buah.*Nasi asahan tiga tampah, daging lembu yang telah digoreng, lauk-pauk kering, sambal santan, sayur menir, jenang merah

5.Upacara Mitung Dina (Tujuh Hari)

Upacara ini untuk memperingati tujuh hari meninggalnya seseorang.Bahan yang digunakna untuk kenduri biasanya terdiri atas:

*Kue apem yang di dalamnya diberi uang logam, ketan, kolak (semuanya diletakkan dalam satu takir)

*Nasi asahan tiga tampah, daging goreng, pindang merah yang dicampur dengan kacang panjang yang diikat kecil-kecil, dan daging jeroan yang ditempatkan dalam wadah berbentuk kerucut (conthong), serta pindang putih.

6.Upacara Matang Puluh ( Empat Puluh Hari )

Upacara ini untuk memperingati empat puluh hari meninggalnya seseorang. Biasanya peringatannya dilakukan dengan kenduri.

Bahan untuk kenduri biasanya sama dengan kenduri pada saat memperingati tujuh hari meninggalnya, namun ada tambahan sebagai berikut:1. Nasi wuduk2. Ingkung3. Kedelai hitam4. Cabai merah utuh5. Rambak kulit6. Bawang merah yang telah dikupas kulitnya7. Garam8.Bunga kenanga

7.Upacara Nyatus (Seratus Hari)

Upacara ini untuk memperingati seratus hari meninggalnya seseorang. Tata cara dan bahan yang digunakan untuk memperingati seratus hari meninggalnya pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan empat puluh hari.7

8.Upacara Mendhak Pisan(Setahun Pertama)

Upacara mendhak pisan merupakan upacara yang diselenggarakan ketika orang meninggal pada setahun pertama. Tata cara dan bahan yang diigunakan untuk memperingati seratus hari meninggalnya pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan seratus hari.

9.Upacara Mendhak Pindho(Tahun Kedua)

Upacara mendhak pindho merupakan upacara terakhir untuk memperingati meninggalnya seseorang. Tata cara dan bahan yang digunakan untuk memperingati seratus hari meninggalnya pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan mendhak pisan.

10.Upacara Mendhak Katelu(Seribu Hari)

Merupakan peringatan seribu hari bagi orang yang sudah meninggal. Peringatan dilakukan dengan mengadakan kenduri yang diselenggarakan pada malam hari.Bahan yang digunakan untuk kenduri sama dengan bahan yang digunakan pada peringatan empat puluh hari yang ditambah dengan:

*daging kambing/domba becek. Sebelum dimasak becek, seekor domba disiram dengan bunga setaman, lalu dicuci bulunya, diselimuti dengan mori selebar sapu tangan, diberi kalung bunga yang telah dirangkai, diberi makan daun sirih. Keesokan harinya domba diikat kakinya lalu ditidurkan di tanah. Badan domba seutuhnya digambar pola dengan menggunakan ujung pisau. Hal ini dimaksudkan untuk mengirim tunggangan bagi arwah yang mati supaya lekas sampai surga. Setelah itu domba disembelih dan kemudian dimasak becek.

*Sepasang burung merpati dikurung dan diberi rangkaian bunga. Setelah doa selesai dilakukan, burung merpati dilepas dan diterbangkan. Maksud tata cara ini adalah juga untuk mengirim tunggangan bagi arwah agar dapat cepat kembali pada Tuhan. dalam keadaan suci, bersih, tanpa beban.

*Sesaji, terdiri atas tikar bangka, benang lawe empat puluh helai, jodhog, clupak berisi minyak kelapa dan uceng-uceng (sumbu lampu), minyak kelapa satu botol, sisir, serit, cepuk berisi minyak tua, kaca/cermin, kapuk, kemenyan, pisang raja setangkep, gula kelapa setangkep, kelapa utuh satu butir, beras satu takir, sirih dengan kelengkapan untuk menginang, bunga boreh. Semuanya diletakkan di atas tampah dan diletakkan di tempat orang berkenduri untuk elakukan doa.

11. Kol (Kol Kolan)

Kol merupakan peringatan yang dilakukan untuk orang yang sudah meninggal setelah seribu hari. Ngekoli diselenggarakan bertepatan dengan satu tahun setelah nyewu. Saat peringatan ini harus bertepatan dengan hari dan bulan meninggalnya. Ngekoli dilakukan dengan kenduri dengan bahan kenduri: kue apem, ketan, dan kolak. Semuanya diletakkan dalam satu takir. Pisang raja satu tangkep, uang “wajib”, dan dupa.

12.Nyadran

Nyadran adalah hari berkunjung ke makam para leluhur/kerabat yang telah mendahului. Nyadran ini dilakukan pada bulan Ruwah atau bertepatan dengan saat menjelang puasa bagi umat Islam.

13. Lambang-lambang dan Makna yang Terkandung dalam Upacara

1. Sega golong melambangkan kebulatan tekad yang manunggal atau istilah Jawanya “tekad kang gumolong dadi sawiji”. Dalam hal kematian, baik yang mati maupun keluarga yang ditinggalkannya sama-sama mempunyai tujuan yaitu surga.

2. Sega asahan atau ambengan melambangkan suatu maksud agar arwah si mati maupun keluarga yang masih hidup kelak akan berada pada “pembenganing Pangeran”, artinya selalu mendapatkan ampun atas segala dosa-dosanya dan diterima di sisiNya.

3. Tumpeng/nasi gunungan melambangkan suatu cita-cita atau tujuan yang mulia (gegayuhan kang luhur), seperti gunung yang mempunyai sifat besar dan puncaknya menjulang tinggi. Di samping itu didasari pula kepercayaan masyarakat bahwa di tempat yang tinggi itulah Tuhan Yang Maha Kuasa berada, roh manusiapun kelak akan ke sana.

4. Tumpeng pungkur melambangkan perpisahan antara si mati dengan yang masih hidup, karena arwah si mati akan berada di alam yang lain sedangkan yang hidup masih berada di alam dunia yang ramai ini.

5. Sega wuduk dan lauk pauk segar/bumbu lembaran maksudnya untuk menjamu roh para leluhur.

6. Ingkung ayam melambangkan kelakuan pasrah atau menyerah kepada kekuasaan Tuhan. Istilah ingkung atau diingkung mempunyai makna “dibanda” atau dibelenggu.

7. Kembang rasulan atau kembang telon melambangkan keharuman doa yang dilontarkan dari hati yang tulus ikhlas lahir batin. Di samping itu bau harus mempunyai makna kemuliaan.

8.Bubur merah dan bubur putih melambangkan keberanian dan kesucian. Di sampingitu bubur merah untuk memule atau tanda bakti kepada roh dari bapak atau roh laki-laki dan bubur putih sebagai tanda bakti kepada roh dari ibu atau roh perempuan. Secara komplitnya adalah sebagai tanda bakti kepada bapa angkasa ibu pertiwi atau penguasa langit dan bumi, semuadibekteni dengan harapan akan memberikan berkah, baik kepada si mati maupun kepada yang masih hidup.

9.Tukon pasar untuk menghormati “dinten pitu pekenan gangsal” atau hari dan pasaran dengan harapan segala perbuatan dan perjalanan roh si mati maupun yang masih hidup ke semua arah penjuru mata angin akan selalu mendapatkan selamat tanpa halangan suatu apa.

Disamping itu semoga mendapatkan berkahNya hari di mana hari itu diadakan selamatan, misalnya malam Kamis pon, Rabu Wage dan lain sebagainya.

1.Wajib melambangkan suatu niat ucapan terima kasih kepada kaum yang telah “ngujubake” menjabarakan tujuan selamatan itu, dan terima kasih pula kepada semua fihak yang ditujunya, semoga semuanya itu terkabul.

2.Sega punar atau nasi kuning melambangkan kemulian, sebab warna atau cahaya kuning melambangkan sifat kemuliaan. Juga dimaksudkan sebagai jamuan mulia kepada yang dipujinya.

3.Apem melambangkan payung dan tameng, dan dimaksudkan agar perjalanan roh si mati maupun yang masih hidup selalu dapat menghadapi tantangannya dan segala gangguannya berkat perlindungan dari yang maha kuasa dan para leluhurnya.

4.Ketan adalah salah satu makanan  dari beras yang mempunyai sifat”pliket’ atau lekat. Dari kata pliket atau ketan, ke-raket melambangkan suatu keadaan atau tujuan yang tidak luntur atau layu, artinya tidak kenal putus asa.

5.Kolak adalah melambangkan suatu hidangan minuman segar atau untuk “seger-seger” sebagai pelepas dahaga. Disamping itu juga melambangkan suatu keadaan atau tujuan yang tidak luntur atau layu, artinya tidak kenal putus asa.

6.Kambing, merpati dan itik melambangkan suatu kendaraan yang akan dikendarai oleh roh si mati.

7.Materi sajian lain  seperti tikar, benang lawe, jodog, sentir, clupak, minyak klentik, sisir, minyak wangi, cermin, kapas, pisang, beras, gula, kelapa, jarum dan lain sebagainya yang mana hal ini biasanya pada selamatan seribu hari adalah sebagai lambang dari segala perlengkapan hidup manusia sehari-hari, dan semua itu dimaksudkan sebagai bekal roh si mati dalam menjalani kehidupan di alam baka.

14.Lambang Atau Makna Dari Uba Rampe

1.Benang lawe adalah benag putih sebagai lambang tali suci sebagai pengikat atau tali hubugan antara keluarga yang ditinggalkan dengan yang sudah pergi jauh itu.

2.Jodog dan sentir adalah lambang penerang, maksudnya agar roh si mati tadi selalu mendapatkan terang.

3.Clupak berisi minyak dan sumbu melambangkan obor di perjalanan dan semangan yang tinggi.

4.Minyak klentik 1 botol sebagai lambang bekal cadangan jika sewaktu-waktu kehabisan atau lampunya mati. Sebab kebiasaan orang Jawa jaman dulu menggunakan minyak lampu bukan dari minyak tanah seperti sekarang, melainkan denga minyak kelapa atau minyak klentik.

5.Sisir, minyak wangi dan cermin melambangkan sebagai perlengkapanmake up atau untuk “dandan’/menghiasi diri, agar rapi dan wangi, jika perempuan ibarat seperti bidadari, jika laki-laki ibarat sepeti satriya yang tampan.

6.Kapas yang biasa sebagai alas atau isi bantal melambangkan bantal suci.

7.Pisang raja sebagai lambang persembahan kepada yang maha kuasa di samping itu juga sebagai buah segar.

8.Beras, gula kelapa melambangkan makanan beserta lauk dan bumbunya, sebagai bekal hidup di alam kelanggengan.

9.arum dan perlengkapannya sebagai lambang alat pembuat pakaian, maksudnya sebagai bekal untuk membuat pakaian jika sewaktu pakaiannya rusak.

Source : 1 , 2

Bagikan ini:Like this:Like Loading...

Materi Bahasa Jawa Kelas 11 Semester 1 Upacara Adat – IlmuSosial.id

Upacara Adat Jawa Dalam Bahasa Jawa : upacara, dalam, bahasa, Materi, Bahasa, Kelas, Semester, Upacara, IlmuSosial.id

Upacara Adat Dalam Bahasa Jawa – Sekali

Upacara Adat Jawa Dalam Bahasa Jawa : upacara, dalam, bahasa, Upacara, Dalam, Bahasa, Sekali

Upacara Adat Mitoni/ Tingkepan

Upacara Adat Jawa Dalam Bahasa Jawa : upacara, dalam, bahasa, Upacara, Mitoni/, Tingkepan

Makalah Adat Pernikahan Jawa

Upacara Adat Jawa Dalam Bahasa Jawa : upacara, dalam, bahasa, Makalah, Pernikahan

Materi Bahasa Jawa Kelas 11 Semester 1 Upacara Adat – IlmuSosial.id

Upacara Adat Jawa Dalam Bahasa Jawa : upacara, dalam, bahasa, Materi, Bahasa, Kelas, Semester, Upacara, IlmuSosial.id

Tata Cara Adat Jawa "manten" Dalam Bahasa Jawa Part 2 - All About Story

Upacara Adat Jawa Dalam Bahasa Jawa : upacara, dalam, bahasa,

0-0-lingkaran-pgsl

Upacara Adat Jawa Dalam Bahasa Jawa : upacara, dalam, bahasa, 0-0-lingkaran-pgsl

Ini Urutan Upacara Siraman Dalam Pernikahan Adat Jawa

Upacara Adat Jawa Dalam Bahasa Jawa : upacara, dalam, bahasa, Urutan, Upacara, Siraman, Dalam, Pernikahan

PDF) Pranatacara Dalam Bahasa Jawa Sebagai Sumber Kearifan | Anik Muslikah Indriastuti - Academia.edu

Upacara Adat Jawa Dalam Bahasa Jawa : upacara, dalam, bahasa, Pranatacara, Dalam, Bahasa, Sebagai, Sumber, Kearifan, Muslikah, Indriastuti, Academia.edu

Berikut Kami Bagikan Gending Iringan Upacara Pernikahan Adat Jawa Bes…

Upacara Adat Jawa Dalam Bahasa Jawa : upacara, dalam, bahasa, Berikut, Bagikan, Gending, Iringan, Upacara, Pernikahan, Bes…

Kebudayaan Jawa Tengah

Upacara Adat Jawa Dalam Bahasa Jawa : upacara, dalam, bahasa, Kebudayaan, Tengah